Dialog Kertas Putih

dialog kertas putih

Hidup tak selamanya indah. Sebab hidup adalah perjuangan. Tak ada kamus sejarah yang mencatat bahwa perjuangan hanya berisi dengan keindahan atau kesenangan. Mengharapkan kesenangan dalam setiap detik perjuangan, ibarat berharap rembulan di siang hari.

Suka dan duka selalu terselip di dalam jejak-jejak kehidupan anak manusia. Bahagia dan sedih selalu membingkai lukisan perjalanan hidup setiap orang. Karenanya, untuk bisa merasakan kebahagiaan di setiap jejak dan bingkai kehidupannya, seseorang harus bisa berdamai dengan suka dan duka, bahagia dan sedih, yang singgah silih berganti.

Adakalanya, ketika sebuah duka atau kesedihan yang datang menyapa, terkadang membuat seseorang terjatuh, lalu terpuruk. Dirinya akan merasa menjadi sosok yang paling sengsara. Dunianya seperti akan kiamat. Dia tidak bisa lagi berdamai dengan dirinya. Tak bisa lagi mencintai dirinya. Jika demikian, maka bagaimana dia bisa berdamai dan mencintai siapa dan apa saja yang berada di sekelilingnya?

Suatu ketika, saya pernah mengalami sebuah kejadian terkait hobi menulis yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Sejak menekuni hobi menulis, saya selalu mendokumentasikan apa yang saya alami dan rasakan dalam bentuk tulisan. Pada suatu masa, ada beberapa orang yang memprotes beberapa tulisan yang saya publikasikan di blog atau sebuah forum diskusi, saya tak ingat dengan pasti, dengan alasan satu dan dua hal.

Mungkin peristiwa tersebut bukanlah peristiwa yang luar biasa. Hanya sebuah kejadian yang mungkin terjadi juga pada diri orang lain. Hanya saja, diri saya yang terlalu membesar-besarkan peristiwa tersebut sehingga membuat saya sakit hati dan patah semangat untuk menulis lagi.  Selama beberapa hari, semangat itu sirna.

Di saat saya tergerak untuk membuat tulisan kembali, tulisan pertama yang saya hasilkan berupa puisi. Sebuah puisi yang lumayan panjang yang menggambarkan apa yang saya rasakan dan apa yang saya lakukan untuk bisa berdamai dengan diri atas apa yang saya alami. Puisi  yang saya buat dengan tujuan untuk menghibur hati saat itu, saya beri judul “Dialog Kertas Putih”.

hari ini…
aku kehilangan kertas putih kembali
aku tak tahu apa yang kini sedang terjadi
namun yang pasti,
aku ingin sekali merangkai kata tentang cerita hati

di tanganku kini,
hanya ada selembar kertas kumal bekas kemarin hari
ah, bukan… tapi bekas kupakai berminggu-minggu yang terlewati
sehingga bila kutulis untaian kalimat menjadi tak berarti
karena hurufnya tak bisa terbaca dengan jelas lagi

Dua bait di atas adalah sebuah penggambaran tentang apa yang saya rasakan. Ada ketakutan dan kekhawatiran jika saya ingin tetap menulis. Takut dan khawatir terhadap pendapatan dan pandangan orang lain terhadap isi tulisan saya. Namun keinginan untuk menulis tetap ada. Tetap kuat.

duh, kemana harus kumencari
kertas putih yang dulu bertebaran mengelilingi diri
memanggilku agar segera menghampiri
mengajak jemariku untuk segera menari
bersama pena yang masih penuh terisi

hiks…
ternyata mereka sudah lama pergi
tanpa kusadari
tertiup angin di pagi, siang, petang, dan malam hari

Akibat dari rasa khawtatir dan ketakutan itu, saya tidak bisa menemukan ide untuk menulis. Padahal sebelumnya tidak begitu. Saya bisa merangkai cerita yang bermula dari ide-ide yang datang. Alirannya seperti terhenti. Mampat.

Kemudian saya menyadari, bahwa penyebab utama mampatnya aliran ide itu adalah diri saya sendiri. Orang lain mungkin bisa saja menjadi faktor penghambat, tetapi mereka berada di luar diri saya. Sementara akal dan pikiran yang saya miliki, sayalah yang memegang kendalinya.

buk…!!
sebuah suara membuatku terkejut setengah mati
kumencoba berkeliling mencari
mungkin ada sesuatu yang berarti
bagi diri

aku bergerak ke kanan dan ke kiri
dan akhirnya kutemukan apa yang kucari
sekumpulan kertas putih bersih dan tersusun rapi
ah, rupanya ia sebuah buku tebal dengan aroma parfum mewangi
tanpa ragu dan pikir panjang lagi
segera kudekati
lantas kubuka sampul indahnya yang menutupi

tiba-tiba terdengar sebuah suara
dalam gema ia berkata :
mendekatlah dan ambillah pena
tulislah semua ide yang ada
di atas diriku yang tak berdaya
ketahuilah bahwa aku punya mata
yang bisa membaca apa yang kau tulis setiap masa
yang bisa menangis bila kau bercerita tentang kisah duka
yang bisa berbinar bila kau berujar tentang cerita bahagia
ketahuilah bahwa aku juga punya telinga
yang mendengar segala ucap untaian kata
yang bisa mendengar bila kau menangis saat terluka
yang bisa mendengar bila kau tertawa saat gembira

masih dalam gema
suara itu berkata :
kertas putihmu yang bertebaran memang sudah tiada
sedang selembar kertas di tanganmu kini sudah kumal dan tak layak guna
sekarang atau esok lusa
bila hadir keinginan dari dalam jiwamu untuk menggoreskan tinta
maka datanglah kepadaku dengan membawa segala apa yang kau punya
karena setiap lembar halamanku akan senantiasa menerima dengan tangan terbuka

Saya kemudian menyadari, masa lalu memang tidak akan bisa terulang. Apa yang sudah terjadi tidak bisa diralat lagi. Tetapi ada esok dan lusa, masa depan, sebagai tempat menggantungkan harapan dan cita-cita.

Mungkin saya memang pernah melakukan kesalahan ketika menulis. Ide yang muncul dari diri saya mungkin terlalu nakal sehingga orang-orang yang peduli dengan diri saya datang memberi teguran. Mereka hadir memberi saran dan masukan. Mereka tidak bermaksud untuk mengamputasi hobi menulis saya. Mereka tidak mengebiri semanga menulis saya. Mereka hanya mengingatkan bahwa ada rambu-rambu yang tidak boleh dilanggar.

yes…!!
aku gembira
kini aku bisa tersenyum ceria
bukan hanya lembaran kertas putih yang sekarang kupunya
tapi sebuah buku tebal dengan halaman berjuta-juta
bila nanti di suatu masa
aku mungkin bercita-cita
atau sekedar angan-angan belaka
menulis sebuah kisah atau cerita
tentang kisah heroik para pejuang islam di semenanjung arabia
atau mungkin cerita dengan latar teknologi canggih seperti film hollywood yang mendunia
atau mungkin kisah yang menggugah emosi dari negeri india
atau bisa juga cerita dengan latar belakang kehidupan pendekar kungfu dari cina
atu mungkin sekedar coretan perjalanan hidup seorang anak manusia di dunia fana
akan aku datangi buku tebal lantas kugoreskan pena yang kupunya

Pada akhirnya, saya tersadar bahwa saya bisa bangkit dari keterpurukan. Saya harus berdamai dengan diri saya dan juga sekeliling saya. Lalu Ide-ide menulis yang sebelumnya tersumbat mulai mengalir lagi. Mungkin belum semua angan-angan di bait terakhir dari puisi saya di atas bisa saya wujudkan. Hanya angan terakhir, yaitu membuat coretan perjalanan hdup seorang anak manusia di dunia ini yang baru terealisasi. Angan yang kemudian terwujudkan dalam coretan-coretan di blog ini. Sebuah blog yang mengabadikan jejak-jejak yang terserak.

“postingan ini untuk mengikuti giveaway echaimutenan”


Tulisan Terkait Lainnya :

43 thoughts on “Dialog Kertas Putih

  1. Dinar Zul Akbar Februari 8, 2015 / 04:33

    Saya suka kertas putih agak keabu-abuan dan kebiru-biruan (baca 500 real)

    • jampang Februari 8, 2015 / 08:29

      bukan lagi putih itu namanya😛

  2. dani Februari 8, 2015 / 06:40

    Mantab Bang. Jadi bikin banyak mikir. Makasih Bang..😀

    • jampang Februari 8, 2015 / 08:29

      terima kasih. sama-sama, mas

  3. Ryan Februari 8, 2015 / 06:48

    Mereka bisa mengatakan apa saja ya mas. Tapi kemudian semua kembali lagi ke kita sendiri ya.

    Makasih mas sharingnya. Moga menang GAnya.

    • jampang Februari 8, 2015 / 08:30

      kira-kira begitu, mas. ada yang bisa diambil dari ucapan oran lain, ada juga yg nggak. pinter2 kita memfilternya

      sama-sama. terima kasih juga doanya

  4. ayanapunya Februari 8, 2015 / 07:42

    Saya masih susah nih buat rajin nulis😦

    • jampang Februari 8, 2015 / 08:31

      cerita pekerjaan aja. kayanya laggi sibuk sama pekerjaan😀

      • ayanapunya Februari 9, 2015 / 07:39

        emang suka nggak ada ide buat nulis, mas

  5. Pamela Fitrah Februari 8, 2015 / 08:39

    saya juga pernah mengalami hal itu sampe mentok pengen nulis apa ujung2nya yaa ngeblog buat curcolan emak2 hahaha

    • jampang Februari 8, 2015 / 09:57

      jadi pasti ada jalan keluar kan, mpok?😀

      • Pamela Fitrah Februari 12, 2015 / 05:39

        ada banget neh jdnya penu;is blog pribadi curcolan emak2 :p

  6. Gara Februari 8, 2015 / 09:48

    Keren banget🙂
    Saya banyak belajar dari tulisan-tulisan Mas. Begitu menggugah orang untuk merenung tentang apa mimpi dan bagaimana kemauan menggapai itu. Kalau Mas membaca tulisan ini dalam suatu pertunjukan, saya yakin saya akan tepuk tangan sampai berdiri. Salut!

    • jampang Februari 8, 2015 / 10:00

      haduhhhh… kalau itu sepertinya terlalu berlebihan, mas

      tapi… terima kasih😀

  7. Rahmat_98 Februari 8, 2015 / 10:50

    Sumpah keren abis bang….
    Membuat saya kembali merenung untuk tetap menghidupkan ide serta mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan.

    Semoga menang dengan GA nya🙂

    • jampang Februari 8, 2015 / 10:53

      terima kasih, bang.
      ayo didokumentasikan juga😀
      biar jadi kenangan

      • Rahmat_98 Februari 8, 2015 / 10:54

        Insha allah bang…
        tetap berusaha menelurkan ide

  8. capung2 Februari 8, 2015 / 10:56

    dalam penulisan, sobat @Jampang mmg multi talenta nih..

  9. Uniek Kaswarganti Februari 8, 2015 / 15:50

    Aku jadi penasaran nih ama tulisan mas Rifki yg diprotes itu hihiiii…
    tetep semangat nulis mas….

    • jampang Februari 9, 2015 / 13:05

      mirip2 sama dengan kategori atau tag “minyu” di blog ini, mbak

  10. alrisblog Februari 8, 2015 / 23:56

    Saya malah sering “buntu” dalam menulis. Kalo lagi bergelora bisa menulis berjam-jam, tapi lagi “layu” bisa setahun gak menulis, kayak blog saya itu, hehe…
    Puisinya keren.

    • jampang Februari 9, 2015 / 13:12

      masing-masing orang beda style seh

      terima kasih

  11. Dyah Sujiati Februari 9, 2015 / 07:52

    Mengharapkan kesenangan dalam setiap detik perjuangan, ibarat berharap rembulan di siang hari. ~> rembulan di siang hari itu ada lho

    • jampang Februari 9, 2015 / 13:14

      ada yah?
      oh iyah… istri saya sering didatangin bulan siang-siang😀

      • Dyah Sujiati Februari 10, 2015 / 19:18

        No, just look the sky when 7-10th every hijriah moon.

      • jampang Februari 10, 2015 / 19:20

        belum pernah ngelihat. tapi beneran itu di tengah hari masih kelihatan bulan?

      • jampang Februari 11, 2015 / 09:54

        kapan-kapan kalau inget😀

  12. rianamaku Februari 9, 2015 / 12:59

    Gara gara lele aku rusak udah jarang nulis, nulis kadang kadang aja pakai telenan.

    semoga ada rejeki bias bisa kembali aktif kaya mas.

    • jampang Februari 9, 2015 / 13:17

      aamiin. semoga lekas fit lagi, mbak

  13. ndop Februari 9, 2015 / 17:23

    Kalau ide nulis aku banyak lo mas. Tapi kapan nulisnya itu yg susah nyari. Soalnya aku orang sibuk yaaa.. HAHAHAHA…

    • jampang Februari 9, 2015 / 22:14

      dicicil dikit2 kalau gitu😀

      • ndop Februari 9, 2015 / 23:55

        Iya haha

      • jampang Februari 10, 2015 / 07:46

        😀

  14. syifna Februari 10, 2015 / 13:47

    T.O.P bgt deh buat Om Jampang😀

    • jampang Februari 10, 2015 / 17:25

      terima kasih, mbak

      • syifna Februari 11, 2015 / 07:03

        sama-sama om😀

      • jampang Februari 11, 2015 / 21:16

        😀

  15. Anton Ardyanto Februari 11, 2015 / 16:47

    Hemm… apakah selembar kertas putih sama sekali tak bermakna tanpa coretan kita? Apakah coretan kita lebih bermakna dibandingkan warna putih kertas.

    Mungkin kita harus bertanya pada diri kita sendiri apakah makna dari coretan kita itu sendiri? Mengapa kita menganggapnya lebih bermanfaat dibandingkan dengan putihnya selembar kertas…

    waduh.. jadi kepanjangan. Nice writing mbak.. berdamai dengan diri sendiri itu memang menyusahkan.. kadang kita berpikir terlalu rumit sehingga tidak melihat bahwa penyelesaiannya sederhana. Khas manusia yang kadang berpikir bahwa dengan berpikir dia akan menemukan penyelesaian, seperti saya ini juga yang nulis rumit2 tapi sebenernya ga pernah tau jawabannya..

    • jampang Februari 11, 2015 / 21:24

      mana yang lebih berarti apakah coretan atau kertas putih, tergantung apa yang ditulis di atas kertas tersebut

    • jampang Maret 7, 2015 / 05:45

      menang yah…. alhamdulillah. terima kasih😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s