Memiliki Seutuhnya

rumah-impian

Memiliki rumah dan menikah adalah dua dari tiga resolusi saya di tahun 2014. Alhamdulillah, keduanya bisa saya raih. Awal Januari 2014, saya menikah. Lalu di bulan Ramadhan 2014, sebuah rumah sudah menjadi hak milik saya dengan cara berutang.

Menjadikan rumah itu menjadi milik saya seutuhnya menjadi mimpi saya dalam hitungan dua atau tiga tahun ke depan.

Sebelum tahun 2012, saya mulai mencari rumah meskipun jumlah uang di tangan saya masih terbatas. Karenanya, saya tak mungkin membeli secara tunai. Saya akan memanfaatkan suntikan dana dari bank. Begitulah rencana saya saat itu.

Ternyata dari sekian rumah yang saya lihat, tak satu pun yang memenuhi ketentuan bank. Ada yang harganya terjangkau dengan bantuan pinjaman bank, tetapi letaknya di dalam gang kecil, sementara bank mensyaratkan bahwa letak rumah harus di pinggir jalan yang bisa dilalui mobil. Ada rumah yang letaknya di pinggir jalan, namun harganya jauh di atas besarnya dana yang bisa dipinjamkan oleh pihak bank. Saat itu, impian saya tertunda.

Di penghujung tahun 2012, adik saya yang sudah memulai untuk mencicil rumah memberitahukan bahwa ada perumahan baru yang sedang di bangun yang letaknya tak jauh dari lokasi rumah barunya. Dengan penuh semangat, saya pun datang ke lokasi bersama ibu saya dengan mengendarai sepeda motor.

Setelah melihat-lihat, saya jatuh hati ke sebuah rumah yang nantinya akan berlokasi di blok D-1. Bangunannya tidak besar, mungkin yang terkecil di antara rumah-rumah yang akan dibangun, tetapi pekarangannya sangat luas serta bersebelahan dengan. Terlebih lagi, saat saya datang adalah masa poromosi, di mana uang muka bisa dicicil selama enam kali dan cashback sebesar sepuluh juta. Jadilah hari itu, tanggal 24 Desember 2012, saya membayar booking fee.

Sayangnya, proses pembelian rumah tersebut tidak berjalan lancar. Berawal dari saran salah seorang pegawai pemasaran yang meminta agar saya datang ke pameran property di JCC pada tanggal 10 Februari 2013 untuk wawancara sekaligus mendapatkan promo cicilan dengan bunga sebesar 7,49% selama dua tahun pertama.

Ada satu pertanyaan yang mengganjal di hati saya dan akhirnya saya lontarkan kepada pegawai bank di pameran tersebut. “Jika dua tahun pertama bunga cicilannya 7,45% kira-kira berapa persen tingkat bunga di tahun ketiga dan seterusnya?”

“Kalau melihat yang sudah-sudah, pembeli yang dua tahun lalu mendapatkan promo seperti Bapak, sekarang ini bunga cicilannya sekitar 12%,” jawab pegawai bank tersebut.

Seketika semangat saya untuk melanjutkan proses pembelian rumah menjadi menurun. Sebab nantinya, cicilan yang harus saya bayar bisa bertambah besarannya. Namun pembayaran cicilan uang muka tetap saya lakukan.

Beberapa hari setelah saya membayar cicilan uang muka keempat, pegawai pemasaran mengabarkan kepada saya bahwa pihak bank telah menghilangkan semua berkas yang sudah saya lengkapi. Saya harus menyerahkan berkas-berkas tersebut lagi jika ingin proses pembelian dilanjutkan.

Saya kecewa karena merasakan pelayanan yang tidak profesional. Saya memutuskan untuk membatalkan pengajuan kredit secara sepihak.

Kembali, impian saya untuk memiliki rumah harus tertunda lagi. Bahkan saya harus menanggung kerugian karena booking fee yang sudah saya bayar langsung hangus. Namun beberapa orang teman mengatakan bahwa di balik kejadian tersebut ada hikmah yang saya dapatkan. Terhindar dari bunga bank. Mungkin seperti itulah episode yang harus saya lalui untuk bisa memiliki sebuah rumah dengan cara yang lebih baik.

Di bulan Ramadhan tahun 2014, salah seorang tante saya menawarkan rumahnya kepada saya. Sebuah rumah yang dibangun di atas tanah seluas kurang lebih tujuh puluh meter persegi. Terdiri dari dua kamar tidur, satu kamar mandi, dan dapur. Bukan rumah baru. Ada beberapa bagian terutama lantainya yang rusak.

Semula saya menolak. Sebab uang yang terkumpul di tangan saya belum bisa menutupi harga jual rumah tersebut. Namun tante, paman, dan ibu saya tetap ‘memaksa’. Akhirnya saya diberikan keringanan pembayara berupa dua tahap. Pertama, saya membayar sesuai dengan jumlah uang yang saya miliki. Selanjutnya, saya bisa melunasi kekurangannya sebesar kurang lebih seratus lima puluh juta secara sekaligus dalam jangka waktu dua atau tiga tahun ke depan.

Ada dua cara yang bisa saya lakukan untuk melunasu utang tersebut. Menambah penghasilan dan berhemat.

Sebagai PNS, penghasilan yang saya terima hanya bersumber dari gaji. Alhamdulillah, saat ini saya sedang memproses kenaikan pangkat dan golongan yang akan terealisasi per bulan April 2015. Naik pangkat dan naik golongan artinya ada tambahan kenaikan gaji. Berapa besarnya, saya kurang tahu.

Sumber tambahan lainnya adalah dengan melakukan perjalanan dinas seperti yang saat saya ke Semarang dan Surabaya beberapa hari yang lalu. Tapi frekuensinya tidaklah sering. Hanya beberapa kali saja dalam setahun tergantung penugasan yang saya terima.

Mengandalkan royalti dari penjualan buku “Jejak-jejak yang Terserak” sepertinya terlalu berlebihan. Royalti yang seharusnya saya dapatkan dua kali setahun itu tidak terealisasi karena penjualan yang kurang lancar. Padahal, beberapa orang yang sudah membacanya mengatakan bahwa isinya bagus. Mungkin saat buku itu terbit, saya kurang gencar melakukan promosi.

Namun demikian, tiga sumber tambahan penghasilan di atas harus saya syukuri. Sebab bersyukur adalah kewajiban bagi setiap muslim atas nikmat yang Allah Subhanahu Wa Ta’aal berikan. Apapun bentuknya.

Cara lain yang saya lakukan adalah mengurangi jumlah pengeluaran. Saya dan Minyu sudah sepakat untuk hidup hemat. Menunda beberapa keperluan yang memang tidak mendesak. Termasuk mempertahankan apa yang seharusnya sudah di tangan seperti yang akan saya lakukan hari ini.

Pagi ini saya terlambat tiba di kantor. Saya tak ingin menyalahkan macet dan hujan, sebab seharusnya saya bisa berangkat lebih awal. Lebih pagi. Karena terlambat, maka penghasilan saya bulan depan akan dipotong. Saya bisa menghindari pemotongan tersebut jika saya bertahan 30 menit di kantor lebih lama setelah jam pulang sebagai pengganti waktu keterlambatan saya. Seperti itu peraturannya dan itulah yang akan saya lakukan hari ini.

Usaha-usaha yang saya lakukan untuk mewujudkan impian melunasi utang rumah bukanlah sesuatu yang besar dan luar biasa. Tapi saya yakin, jika saya dan Minyu konsisten dengan apa yang kami lakukan, impian tersebut bisa menjadi nyata tepat pada waktunya. Lagi pula cara yang kami tempuh adalah cara yang jauh lebih baik dibanding menyertakan pihak bank. Halal. Bebas dari unsur riba.

Tentu saja, semuanya harus diiringi dengan doa. Usaha tanpa doa adalah kesombongan. Sebaliknya, doa tanpa usaha adalah kesia-siaan. Semoga kami bisa melunasi utang tersebut tepat pada waktunya. Agar rumah yang saat ini kami tempati bisa segera menjadi milik kami seutuhnya.

Aamiin.


Tulisan Terkait Lainnya :

38 thoughts on “Memiliki Seutuhnya

    • jampang Februari 17, 2015 / 11:44

      aamiin. terima kasih, mbak

  1. chocoVanilla Februari 17, 2015 / 10:00

    Wahhh, inspiratif, OmJee. Semoga tercapai cita2nya dg mulus tanpa hambatan, yaaa🙂

    • jampang Februari 17, 2015 / 11:45

      aamiin. terima kasih doanya, oma

  2. wiblackaholic Februari 17, 2015 / 10:06

    Semangat bang….. semoga sebelum 2 tahun bisa selesai urusannya. rumah dengan luas 70m2 didekat rumah saya dengan 2 kamar tidur, 1 ruang tamu, dapur dan kamar mandi harganya 385juta…

    • jampang Februari 17, 2015 / 11:48

      terima kasih, mas.
      di tempat saya lebih mahal, mas😀

  3. itsmearni Februari 17, 2015 / 10:20

    Semangat Mas
    Semua memang berawal dari mimpi🙂

    • jampang Februari 17, 2015 / 11:49

      terima kasih, mbak

  4. ayanapunya Februari 17, 2015 / 11:23

    Nunggu foto rumahnya. Di sini kalau mau beli rumah di tengah kota makin susah. Adanya agak ke luar kota. Saya juga masih nyari-nyari nih

    • jampang Februari 17, 2015 / 11:51

      tadi pagi niatnya mau saya foto, tapi udah buru2, mbak

      agak ke pinggir dikit juga gpp, mbak. asal akses banyak dan lancar

  5. Akhmad Muhaimin Azzet Februari 17, 2015 / 11:46

    Membacanya, saya ikut bahagia, Bang. Ketidakprofesionalan bank menghilangkan berkas justru menjadi jalan untuk mendapatkan rumah dengan cara yang lebih baik. Semoga harapan selanjutnya terkabul ya, Bang. Aamiin…

    • jampang Februari 17, 2015 / 12:38

      iya, mas. salah satu hikmahnya adalah itu. aamiin. terima kasih

  6. Gara Februari 17, 2015 / 11:52

    Ah, memiliki rumah! Semoga saya juga bisa merealisasikannya dalam waktu yang tidak terlalu lama. Di mana lokasinya, Mas? Sama saya penasaran, Mas Jampang ini di direktorat apa sih Mas? :hehe
    Btw, hari ini fleksi ya? *kabur*

    • jampang Februari 17, 2015 / 12:39

      lokasi di kebon jeruk.
      saya dit. TIP
      iya… pulang setengah enam😀

      • Gara Februari 17, 2015 / 13:11

        Wow, keren, direktorat TIP, ahli komputer pula :hehe
        Saya hari ini tidak fleksi (nggak penting ya :haha)

      • jampang Februari 17, 2015 / 16:34

        nggak ahli. cuma bisa main game di komputer aja😛

  7. dani Februari 17, 2015 / 12:43

    Semua memang ada jalannya ya Bang. Sukses giveawaynya.🙂

    • jampang Februari 17, 2015 / 16:34

      iya mas.
      terima kasih

  8. Ryan Februari 17, 2015 / 13:51

    Moga lancar mas nanti.
    Beruntunglah mas. Kalau sampai terus, mungkin akan spt saya. Terjerat bunga besar. Tak bs turun. Sekali coba minta turun hanya dpt 0,25% aja.

    • jampang Februari 17, 2015 / 16:35

      terima kasih, mas.
      kalau kejadian teman saya, mau ngelunasin malah kena pinalti yang jumlahnya lebih besar daripada jumlah tunggakannya.

      aneh yah?

      • Ryan Februari 17, 2015 / 16:41

        Memang mas. Bunga KPR lbh besar di awal. Cicilan kita di awal2 (kl gak salah 2 / 3 tahun) itu buat bunga. Yang buat cicilan cuma dikit banget. Makanya lg mikir ulang mau pindahin. Hahahaha.

      • jampang Februari 17, 2015 / 16:52

        iya. emang begitu.
        kalau ada bank yang lebih bagus ya, pindahin aja😀

      • Ryan Februari 17, 2015 / 17:25

        Cuma mikir biaya admin plus penaltinya mas. Sbnrnya sih dah nemu. Bank syariah. Kalau aku hitung dg sisa kpr ku bs selesai dg waktu lbh singkat.

      • jampang Februari 17, 2015 / 21:44

        nah, pinalti dan biaya adminnya besra banget kan yah?

      • Ryan Februari 17, 2015 / 21:58

        Iya mas. Admin kan krn proses kpr br nya. Ya sm aja sih kyk admin kmrn. Hiks

  9. zilko Februari 17, 2015 / 16:22

    Sukses ya!

    Itu bank yang pertama sungguh tidak profesional ya. Masa semua dokumennya dihilangkan? Ada-ada aja…

    • jampang Februari 17, 2015 / 16:37

      terima kasih, mas.
      waktu itu pihak bank menjelaskan karena ada muitasi/pergantian pegawai, jadinya berkas terselip di mana gitu😦

  10. Pamela Fitrah Februari 18, 2015 / 01:08

    wah abang keren akhirnya udh oya rmg juga Alhamdulillah. saya belum hehehe
    hooo yg berkasnya diilangin sm bank iya inget abang pernah cerita tp akhirnya klo emg udh rejeki gak kemana
    ayuk terus semangat cri duitnya demi anak bini plus cicilan rmh hehe

    saya bru tau loh klo bank gk bs meminjamkan KPR utk rmh2 yg letaknya di gang makasih loh infonya

    • jampang Februari 18, 2015 / 05:40

      terima kasih, mpok

      pas saya tanya CS banknya bilang gitu, mpok. minimal jalannya itu bisa dilalui satu mobil

    • jampang Februari 18, 2015 / 05:40

      aamiin yaa rabbal ‘aalamiin

  11. bunda4R Februari 18, 2015 / 10:44

    Barokallah buat rumah barunya..InsyaAllah bisa dilunasi dalam 2-3 tahun ke depan..

    lokasi dimana tuh, Alhamdulillah bisa dapet rumah dengan harga terjangkau ya..berapa ratus juta pak? *kepo😀

    • jampang Februari 18, 2015 / 11:05

      aamiin.
      lokasi, samping rumah ortu, kebon jeruk😀

      kekurangannya itu adalah kurang lebih 1/3 dari total harga, bund😀

  12. edi padmono Februari 18, 2015 / 12:38

    Kalau saling kompak dalam keluarga dan pandai memilah antara kebutuhan dan keinginan pasti yang ditargetkan akan segera terpenuhi.

    • jampang Februari 18, 2015 / 13:11

      aamiin. semoga Allah memudahkan urusan kami

  13. evrinasp Februari 25, 2015 / 04:26

    mmm waktu dinyatakan 100% itu SK langsung saya sekolahkan di BJB hehehe hasilnya rumah yg dibangun sekarang ini alhamdulillah. perjuangan utk membangun rumah itu unik, ada aja rejekinya, pas gak punya perabotan, tiba2 aja ada yg ngasih katanya buat ngisi rumah, in syaa Allah katanya rejeki utk orang yang membangun rumah ada aja mas. semoga berkah ya rumahnya, terimakasih atas partisipasinya

    • jampang Februari 25, 2015 / 07:34

      alhamdulillah ya mbak. iya, beberapa waktu yang lalu juga ada yang ngasih barang buat nambahin isi rumah😀

      sama-sama, mbak

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s