Secangkir Coklat Hangat

scangkir coklat hangat

Sal, aku berharap, ketika kau membaca suratku ini, secangkir coklat yang ada di hadapanmu sekarang masih terasa hangat. Sebab hangatnya akan memberimu semangat. Karena manisnya akan melukiskan senyum di wajahmu. Namun yang terpenting adalah, bahwa aku mencampurkan bubuk cinta ke dalamnya sebelum kumengaduknya dengan penuh kasih sayang.

Sal, hanya itu yang bisa kutinggalkan sebelum aku berangkat menunaikan kewajibanku sebagai seorang lelaki. Sebagai seorang suami. Aku sengaja tak membangunkanmu karena masih kulihat guratan lelah di wajahmu. Tidur beberapa saat mungkin akan memberikan waktu istirahat bagi kedua kelopak matamu yang sering terjaga semalaman. Berbaring sejenak mungkin bisa memulihkan tenagamu yang nyaris terkuras semalaman.

Maafkan aku, jika semalam aku asyik dengan mimpiku, sementara dirimu terbangun beberapa kali karena si kecil yang terjaga dari tidurnya lantaran haus atau pipis. Mungkin semalam kau coba membangunkanku beberapa kali, tapi aku bergeming dari tidur nyenyakku. Karenanya, maafkan aku.

Tak pernah sekalipun kau marah kepadaku atas sikapku. Kau hanya menceritakan bahwa dirimu mengantuk karena terjaga semalaman. Kau hanya memberitahukan bahwa kau sudah membangunkanku lalu membiarkanku tidur ketika usahamu itu tidak mendatangkan hasil. Mungkin aku terlalu lelah, mungkin anggapan itu yang ada di dalam pikiranmu sehingga kau rela menggantikan popok si kecil seorang diri tanpa bantuanku.

Aku yakin, secangkir coklat hangat ini tidak sebanding dengan apa yang telah kau lakukan semalam. Aku hanya memerlukan sedikit tenaga untuk memasukkan coklat dan gula ke dalam cangkir yang kecil ini, menuangkan air panas, lalu mengaduk hingga semuanya larut. Aku hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk membuat secangkir coklat hangat ini untukmu. Semantara semalam, kau harus mengeluarkan banyak tenaga untuk membuka popok si kecil, membersihkan tubuhnya, dan mengganti dengan popok yang baru. Kau pun harus melawan kantuk yang menyergap ketika kau harus menyusui buah hati kita. Tak hanya sekali, kau mungkin melakukannya dua kali, tiga kali, atau mungkin lebih.

Terimalah secangkir kopi hangat ini, Sal! Minumlah bersama sebuah puisi yang kutuliskan untukmu.

reguklah isi cangkir ini dengan mesra
maka akan kau rasakan manis asmara
maka akan kau rasakan dinding dadaku yang bergelora saat mengaduknya
dengan penuh cinta

aku tak bisa banyak memberi
atas apa yang kau lakukan sepenuh hati
kuharap kau bahagia selama di sisi diri ini
sebab aku merasakannya hingga tak terperi


Baca Cerita Samara Lainnya :

15 thoughts on “Secangkir Coklat Hangat

  1. Gara Februari 19, 2015 / 20:50

    How sweet πŸ™‚

    • jampang Februari 20, 2015 / 05:29

      begitu yah? πŸ˜€

  2. -n- Februari 20, 2015 / 02:51

    Manis πŸ™‚

    • jampang Februari 20, 2015 / 05:48

      terima kasih πŸ˜€

  3. Pamela Fitrah Februari 20, 2015 / 06:14

    tenang aja bang kau tak sendiri maksudnya si ayah jg suka gt dibangunin tengah malem gak mempan hehehe bedanya eikeh paginya ng0mel2 πŸ˜€ aahh mkin saya hrs lbh sabar lg

    • jampang Februari 20, 2015 / 07:31

      πŸ˜€
      tapi saya nggak pernah bikinin coklat hangat juga koq

  4. ipah kholipah Februari 20, 2015 / 08:14

    so sweeeet πŸ™‚

    • jampang Februari 20, 2015 / 08:22

      tentu saja πŸ˜€

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s