Nikahi Mereka dan Jangan Nikahi Mereka

Sepertinya, beberapa coretan saya sebelumnya berbuntut panjang. Beberapa diskusi kecil muncul dari beberapa komentar. Khususnya yang berkaitan dengan pernikahan. Lebih khusus lagi yang menyinggung mahram (haram dinikahi) seperti pada flash fiction berjudul “Kandas” yang menynggung saudara sesusuan serta coretan berjudul “Mertuaku, Ibu Tiriku” yang sedikit mengulas jalan cerita sebuah sinetron yang tayang sekian waktu yang lalu yang kesimpulannya kemudian saya masukkan ke dalam coretan lain berjudul “Arrow”.

Mungkin ada baiknya jika saya membuat sedikit ulasan atau mungkin sharing salah satu bahasan dalam Fiqih Nikah yang membahas tentang siapa saja yang menjadi mahram seseorang sehingga tidak boleh dinikahi dan siapa saja yang bukan mahram dan boleh dinikahi. Kiranya seperti itu akan lebih memberikan manfaat dan menambah pengetahuan bagi yang belum tahu dan menjadi pengingat kembali bagi yang sudah tahu. Setidaknya begitulah saran yang disampaikan oleh salah seorang komentatorr di salah satu coretan saya di atas.

Beberapa waktu yang lalu saya pernah mendownload softcopy dari sebuah baku yang membahas tentang Fiqih Nikah. Buku tersebut ditulis oleh Ustadz Ahmad Sarwat dan bisa di download di webnya yang beralamat http://ustsarwat.com/. Salah satu bab di dalam buku tersebut membahas tentang perempuan atau perempuan yang haram dinikahi. Berikut adalah petikannya.

Mahram adalah sebuah istilah yang berarti wanita yang haram dinikahi. Mahram berasal dari makna haram, yaitu wanita yang haram dinikahi. Sebenarnya antara keharaman menikahi seorang wanita dengan kaitannya bolehnya terlihat sebagian aurat ada hubungan langsung dan tidak langsung.

Hubungan langsung adalah bila hubungannya seperti akibat hubungan faktor famili atau keluarga. Hubungan tidak langsung adalah karena faktor diri wanita tersebut. Misalnya, seorang wanita yang sedang punya suami, hukumnya haram dinikahi orang lain. Juga seorang wanita yang masih dalam masa iddah talak dari suaminya. Atau wanita kafir non kitabiyah, yaitu wanita yang agamanya adalah agama penyembah berhala seperi majusi, Hindu, Budha.

Hubungan mahram ini melahirkan beberapa konsekuensi, yaitu hubungan mahram yang bersifat permanen, antara lain :

  1. Kebolehan berkhalwat (berduaan)Kebolehan bepergiannya seorang wanita dalam safar lebih dari 3 hari asal ditemani mahramnya.
  2. Kebolehan melihat sebagian dari aurat wanita mahram, seperti kepala, rambut, tangan dan kaki.Sedangkan hubungan mahram yang selain itu adalah sekedar haram untuk dinikahi, tetapi tidak membuat halalnya berkhalwat, bepergian berdua atau melihat sebagian dari auratnya. Hubungan mahram ini adalah hubungan mahram yang bersifat sementara saja.

Allah SWT telah berfirman dalam surat An-Nisa :

Diharamkan atas kamu ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan ; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu ; anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu , maka tidak berdosa kamu mengawininya; isteri-isteri anak kandungmu ; dan menghimpunkan dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. An-Nisa : 23)

Dari ayat ini dapat kita rinci ada beberapa kriteria orang yang haram dinikahi. Dan sekaligus juga menjadi orang yang boleh melihat bagian aurat tertentu dari wanita. Mereka adalah :

  • Ibu kandung
  • Anak-anakmu yang perempuan
  • Saudara-saudaramu yang perempuan,
  • Saudara-saudara bapakmu yang perempuan
  • Saudara-saudara ibumu yang perempuan
  • Anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki
  • Anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan
  • Ibu-ibumu yang menyusui kamu
  • Saudara perempuan sepersusuan
  • Ibu-ibu isterimu
  • Anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri,
  • Isteri-isteri anak kandungmu

Tentang siapa saja yang menjadi mahram, para ulama membaginya menjadi dua klasifikasi besar. Pertama mahram yang bersifat abadi, yaitu keharaman yang tetap akan terus melekat selamanya antara laki-laki dan perempuan, apa pun yang terjadi antara keduanya. Kedua mahram yang bersifat sementara, yaitu kemahraman yang sewaktu-waktu berubah menjadi tidak mahram, tergantung tindakan-tindakan tertentu yang terkait dengan syariah yang terjadi.

 

Mahram Yang Bersifat Abadi

Para ulama membagi mahram yang bersifat abadi ini menjadi tiga kelompok berdasarkan penyebabnya. Yaitu karena sebab hubungan nasab, karena hubungan pernikahan (perbesanan dan karena hubungan akibat persusuan.

1. Mahram Karena Nasab
– Ibu kandung dan seterusnya keatas seperti nenek, ibunya nenek.
– Anak wanita dan seteresnya ke bawah seperti anak perempuannya anak perempuan.
– Saudara kandung wanita.
– `Ammat / Bibi (saudara wanita ayah).
– Khaalaat / Bibi (saudara wanita ibu).
– Banatul Akh / Anak wanita dari saudara laki-laki.
– Banatul Ukht / anak wnaita dari saudara wanita.

2. Mahram Karena Mushaharah (besanan/ipar) Atau Sebab Pernikahan
– Ibu dari istri (mertua wanita).
– Anak wanita dari istri (anak tiri).
– Istri dari anak laki-laki (menantu peremuan).
– Istri dari ayah (ibu tiri).

3. Mahram Karena Penyusuan
– Ibu yang menyusui.
– Ibu dari wanita yang menyusui (nenek).
– Ibu dari suami yang istrinya menyusuinya (nenek juga).
– Anak wanita dari ibu yang menyusui (saudara wanita sesusuan).
– Saudara wanita dari suami wanita yang menyusui.
– Saudara wanita dari ibu yang menyusui.

Mahram Yang Bersifat Sementara

Kemahraman ini bersifat sementara, bila terjadi sesuatu, laki-laki yang tadinya menikahi seorang wanita, menjadi boleh menikahinya. Diantara para wanita yang termasuk ke dalam kelompok haram dinikahi secara sementara waktu saja adalah :

  1. Istri orang lain, tidak boleh dinikahi tapi bila sudah diceraikan oleh suaminya, maka boleh dinikahi.
  2. Saudara ipar, atau saudara wanita dari istri. Tidak boleh dinikahi tapi juga tidak boleh khalwat atau melihat sebagian auratnya. Hal yang sama juga berlaku bagi bibi dari istri. Namun bila hubungan suami istri dengan saudara dari ipar itu sudah selesai, baik karena meninggal atau pun karena cerai, maka ipar yang tadinya haram dinikahi menjadi boleh dinikahi. Demikian juga dengan bibi dari istri.
  3. Wanita yang masih dalam masa Iddah, yaitu masa menunggu akibat dicerai suaminya atau ditinggal mati. Begitu selesai masa iddahnya, maka wanita itu halal dinikahi.
  4. Istri yang telah ditalak tiga, untuk sementara haram dinikahi kembali. Tetapi seandainya atas kehendak Allah dia menikah lagi dengan laki-laki lain dan kemudian diceraikan suami barunya itu, maka halal dinikahi kembali asalkan telah selesai iddahnya dan posisi suaminya bukan sebagai muhallil belaka.
  5. Menikah dalam keadaan Ihram, seorang yang sedang dalam keadaan berihram baik untuk haji atau umrah, dilarang menikah atau menikahkan orang lain. Begitu ibadah ihramnya selesai, maka boleh dinikahi.
  6. Menikahi wanita budak padahal mampu menikahi wanita merdeka. Namun ketika tidak mampu menikahi wanita merdeka, boleh menikahi budak.
  7. Menikahi wanita pezina. Dalam hal ini selama wanita itu masih aktif melakukan zina. Sebaliknya, ketika wanita itu sudah bertaubat dengan taubat nashuha, umumnya ulama membolehkannya.
  8. Menikahi istri yang telah dili`an, yaitu yang telah dicerai dengan cara dilaknat.
  9. Menikahi wanita non muslim yang bukan kitabiyah atau wanita musyrikah. Namun begitu wanita itu masuk Islam atau masuk agama ahli kitab, dihalalkan bagi laki-laki muslim untuk menikahinya.

Bentuk kemahraman yang ini semata-mata mengharamkan pernikahan saja, tapi tidak membuat seseorang boleh melihat aurat, berkhalwat dan bepergian bersama. Yaitu mahram yang bersifat muaqqat atau sementara. Yang membolehkan semua itu hanyalah bila wanita itu mahram yang bersifat abadi.

Keterangan mahram di atas dapat dituangkan ke dalam Skema Mahram di bawah ini :

mahram lelaki (shamfariz.blogspot.com)
mahram lelaki (shamfariz.blogspot.com)

Tulisan Terkait Lainnya :

28 thoughts on “Nikahi Mereka dan Jangan Nikahi Mereka

  1. winterwing Maret 9, 2015 / 16:29

    banyak juga jalurnya dan ada pembedaan-pembedaan. yang jelas nanti antar keluarga harus rembugan. jangan sampai ternyata keluarga dekat. nanti masuk mahram lagi.

    • jampang Maret 9, 2015 / 16:34

      sepupu itu keluarga dekat, tapi bukan mahram… dan boleh menikah koq

  2. edwinlives4ever Maret 9, 2015 / 16:34

    Thank you for this post. Believe it or not, many of us are not aware of this.

    • jampang Maret 9, 2015 / 16:47

      sama-sama, mas. semoga bermanfaat

  3. lazione budy Maret 9, 2015 / 16:53

    dari saya: mending menikahi orang jauh. Nambah saudara banyak, nambah petualang. Alhamdulillah jodoh saya orang rantau.

    • jampang Maret 9, 2015 / 17:04

      setiap pilihan ada plus minusnya 😀

  4. Orin Maret 9, 2015 / 16:55

    iya ya, kalo sepupuan gpp, saudara dekat yang tidak terlampau dekat *halah*

    • jampang Maret 9, 2015 / 17:04

      dekat tapi tidak sedekat itu

      *halahjuga*

  5. ayanapunya Maret 9, 2015 / 17:42

    Kyknya yg paling harus diwaspadai itu saudara sepersusuan. Soalnya sekarang kan ada donor asi gitu. Kali aja ada yang nggak kelacak asi nya ke mana

    • jampang Maret 10, 2015 / 07:24

      iya, mbak.
      dan kalau sudah menikah yang harus diwasapadi ya ipar 😀

  6. kekekenanga Maret 9, 2015 / 18:42

    Wahh makasih untuk pengetahuannya Mas,
    mmang yah yg sangat di takuti itu adanya saudara sepersusuan yang mungkin tidak diketahui oleh orangtua kita sendiri. Dan memang seharusnya ada rembugan atau informasi yang jelas dari keluarga mengenai silsilah keluarga besar yah Mas 🙂

    • jampang Maret 10, 2015 / 07:25

      sama-sama, mbak.
      iya mbak. jadi sebaiknya untuk yg donor dan penerima harus menjalin komunikasi agar tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan

  7. syifna Maret 9, 2015 / 20:30

    Wah, makasih om. Jadi nambah pengetahuan nih 🙂

  8. zizadesita Maret 9, 2015 / 20:37

    Bener ini, yg belum tau jadi tau, yg lupa jadi ingat. Alhamdulillah..
    Klo saya berkunjung ke rumah mertua insyaAllah tetep pake kerudung Bang, wlpn ayah mertua mahram ya, karena udah terbiasa gt sih.

    • jampang Maret 10, 2015 / 07:28

      iya mbak. mungkin lebih baik begitu, sebab bisa jadi di rumah mertua ada ipar, kan

      • zizadesita Maret 10, 2015 / 17:04

        Yep, semoga sih bisa terus gitu aja.

      • jampang Maret 10, 2015 / 20:26

        insya Allah. aamiin

  9. alrisblog Maret 9, 2015 / 22:19

    Nambah ilmu bang. Mengingat yang pernah dipelajari.

  10. Firman Maret 9, 2015 / 23:22

    sering2 kajian fiqihnya 🙂

    • jampang Maret 10, 2015 / 07:31

      😀
      ilmunya maish terbatas, mas.
      biasanya seh cuma nyelipin sedikit aja di dalam cerita fiksi

  11. nengwie Maret 10, 2015 / 03:55

    Hatur nuhun kang… bertambah ilmu lagi nih…

  12. dani Maret 10, 2015 / 17:37

    Saya nyimak Bang. Hal ini memang penting banget buat diketahui. Jangan sampai terjadi pernikahan yang tidak seharusnya..

    • jampang Maret 10, 2015 / 20:28

      silahkan, mas. semoga bermanfaat

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s