Sang Muadzin

Cerita Sebelumnya …

“Kalau gue jadi loe, sepertinya lebih memilih teman SMA-mu, Sal. Selain sosoknya sudah pasti ada, juga karena loe sudah mengenalnya di masa lalu. Sementara, si muadzin itu, loe baru dengar suaranya. Anggaplah sosoknya ada. Tapi apa loe yakin bahwa dia itu belum menikah? Jangan-jangan dia sudah menikah.” Larasa melanjutkan.

“Itulah yang kini sedang menggangguku. Saat aku memberikan jawaban kepadanya, Aku hanya memikirkan apa yang aku rasakan seperti apa yang pernah Aku ceritakan kepada kalian beberapa waktu yang lalu. Aku sudah jatuh hati pada pendengaran pertama. Sementara di kemudian hari, Aku justru berpikir seperti apa yang baru saja kau katakan, Ras.”

“Tapi jawabanku kemarin adalah sebuah keputusan. Aku tidak mungkin bisa mengubahnya. Yang masih menjadi harapaku adalah sosok muadzin tersebut. Semoga Allah punya cerita kehidupan yang baik untukku,” sambung Sali.

“Amin. Kami sebagai sahabat, akan selalu mendukung dan mendoakanmu yang terbaik,” ucap Lia.

Selengkapnya bisa dibaca di sini.

 —–ooo0ooo—–

masjid al-muflihun

Masjid Al-Muflihun yang cukup megah dan terdiri dari dua lantai itu sudah mulai didatangi oleh beberapa jama’ah. Di dalam ruang utama, di bawah naungan sebuah kubah besar, terlihat beberapa jama’ah melaksakan shalat sunnah tahiyyatul masjid. Sementara di dinding yang tepat berada di atas tempat imam, terlihat jam dengan penunjuk waktu shalat. Sekitar kurang dari satu menit lagi waktu zhuhur tiba.

Sementara di lantai atas yang menjadi tempat shalat khusus jama’ah perempuan, seorang perempuan dengan mukena putihnya terlihat duduk di atas sajadah hijaunya. Perempuan itu, Sali, sedang menunggu masuknya waktu shalat zhuhur.

Sudah menjadi kebiasaan Sali, duduk menunggu datangnya waktu shalat zhuhur atau ashar di dalam masjid. Kebiasaan itu bermula sejak pertama kali mendengar suara adzan yang menurutnya adalah adzan terindah yang pernah didengar oleh kedua telinganya beberapa waktu yang lalu. Tujuannya kala itu adalah untuk bisa melihat langsung sosok lelaki pemilik suara yang telah membuat hatinya jatuh hati. Dengan jantung yang berdebar-debar, Sali menjatuhkan pandangannya tepat ke arah mihrab, di depan mimbar, sambil memasang kedua telinganya lebar-lebar manakala seseorang mulai berjalan mendekati microphone yang terpasang di sana dan memulai menyeru orang-orang beriman untuk segera menunaikan shalat di awal waktu dan berjama’ah di masjid.

Tapi itu dulu. Kini Sali tidak lagi memperhatikan lagi siapa yang menjadi muadzin. Sali mencoba untuk memperbaiki niatnya, shalat di masjid sebagai pembuktian keimanan seorang hamba kepada Allah Sang Maha Pencipta. Sali ingat betul dengan kata-kata yang terucap dari salah seorang sahabatnya, Lia, bahwa apa yang dia alami ketika tidak menemukan sosok muadzin yang suaranya begitu membekas di hatinya karena ketidakmurnian niatnya. Sali pun mencoba untuk ikhlas. Datang dan shalat ke masjid semata-mata mengharap ridho dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan untuk hal-hal yang lain.

Tiba-tiba terdengar suara kepala mikrophone diketuk dengan jari. Sebuah pertanda awal bahwa waktu zhuhur sudah masuk dan muadzin siap mengumandangkan adzan.

Sali tetap duduk pada tempat semula. Tidak beranjak sedikit pun. Gema adzan lalu berkumandang.

 Allahu akbar Allahu akbar
Allahu akbar Allahu akbar
……

Tiba-tiba jantung Sali berdebar kencang. Darah di dalam tubuhnya seolah-seolah mengalir sangat cepat. Sali berusaha menenangkan dirinya.

“Suara itu!” Sali berteriak dalam hati.

Sali mencoba meyakini suara yang baru saja didengarnya. Dia mencoba membuka kembali memori yang tersimpan beberapa waktu lalu ketika pertama kali mendengar suara adzan tersebut. Kedua telinganya pun dibuka dengan seksama. Seiring dengan kalimat-kalimat adzan yang berkumandang di masjid itu, akhirnya Sali mendapatkan sebuah keyakinan.

“Itu adalah suara yang pernah kudengar beberapa waktu lalu. Itu adalah suara dari sosok muadzin yang selama ini kucari-cari,” ucap Sali dalam hati.

Sali segera bangkit dari tempat duduknya. Dia melangkah mendekati pagar pengaman di lantai dua. Dari sela-sela pagar, dia mencoba memperhatikan sosok sang muadzin.

Seorang lelaki berdiri tepat di depan mimbar. Lelaki itu mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru dengan motif garis-garis putih dan celana warna hitam. Dilihat dari pakaian yang dikenakannya, Sali menyimpulkan bahwa lelaki itu adalah seorang pegawai di salah satu kantor yang menempati Gedung Kembar.

“Siapakah lelaki itu?” Sali mencoba menjawab pertanyaan itu. Matanya tidak terlepas dari sosok lelaki sang muadzin itu.

Hingga akhirnya adzan pun selesai. Sang muadzin pun kemudian berbalik badan. Lalu melangkah pelan menjauhi mihrab dan mimbar. Tanpa sengaja, lelaki itu menengadahkan pandangannya ke atas, ke arah Sali.

Sali terkejut, kemudian menggeser posisi duduknya agak ke belakang sehingga tidak terlihat lagi oleh lelaki itu. Dia pun tak bisa lagi melihat sosok lelaki tersebut.

Namun dari peristiwa yang berlangsung sangat cepat tersebut, Sali merasa mengenal dengan wajah lelaki tersebut.

“Zul? Benarkah dia itu Zul? Jadi suara yang selama ini kucari-cari adalah suara Zul?” Sali bertanya sendiri dalam hatinya seolah-olah tidak mempercayai apa yang baru saja dilihatnya.

 —–ooo0ooo—–

Sali segera merapikan mukena dan sajadah yang baru saja digunakan untuk shalat. Setelah semuanya beres, Sali segera bangkit berdiri dan melangkah dengan cepat meninggalkan tempat shalat. Dia menuruni tangga masjid menuju lantai dasar.

Tiba di anak tangga terakhir, Sali berhenti. Dia arahkan pandangan matanya ke pintu utama masjid. Dengan serius dan teliti, dia mencari seorang lelaki yang mengenakan kemeja lengan panjang warna biru dengan garis-garis putih dan celana panjang warna hitam di antara para jama’ah yang keluar melewati pintu tersebut. Sali ingin memastikan apakah benar kalau sang muadzin itu adalah Zul.

Sali tidak perlu waktu lama untuk menunggu. Seorang lelaki dengan ciri-ciri yang sama persis dengan yang dicarinya terlihat melewati pintu tersebut. Meski sebelumnya sudah mengira bahwa itu adalah Zul, ibarat melihat hantu di siang bolong, Sali tidak bisa menutupi rasa kagetnya.

“Dia benar-benar, Zul!” Pekik Sali dalam hati.

langit terlihat mendung
bersama banyak pikir bergelantung
sementara kaki melangkah tersandung
karena kerikil bukan gunung

tak perlu ditanya
kenapa tiba-tiba
tak perlu juga dijawab
karena sudah pasti ada yang terjerembab
dari diri
oleh diri
kepada diri

sebuah masa yang telah hilang
percuma ditunggu karena tak kan kembali datang
hapuslah segala sesal meradang
sambutlah hikmah tak berbilang


Baca Episode Lainnya :

25 thoughts on “Sang Muadzin

    • jampang Maret 9, 2015 / 09:02

      😀
      iya begitu nyatanya

    • jampang Maret 9, 2015 / 10:04

      ya harusnya seh begitu, biar yg baca tambah penasaran

  1. nengwie Maret 9, 2015 / 09:50

    Latar belakang mesjidnya cantik ya kang *salah fokus*
    Dimana itu..??

    • jampang Maret 9, 2015 / 10:05

      😀
      itu masjid kantor saya, teh. cuma udah diedit sama teman saya dengan tambahan macem-macem.
      foto itu juga saya jadiin cover buku jejak-jejak yang terserak jilid 2 versi indie

      • nengwie Maret 9, 2015 / 10:08

        Achsoo… Soalnya teteh tertarik pengen cari Mesjid itu, soalnya seperti di LN dengan latar belakang pegunungan yg sedikit tertutup Salju 😊

      • jampang Maret 9, 2015 / 10:53

        ooo…. maaf teh, itu bukan foto asli, tapi hasil rekayasa

      • nengwie Maret 9, 2015 / 12:10

        Ngga apa-apa kang, hanya bayangin betapa indahnya dan bangganya teteh dengan Mesjid itu, krn pastinya berada di satu negara yg mayoritas penduduknya non muslim 😊

      • jampang Maret 9, 2015 / 13:40

        mungkin ada teh, cuma kita belum lihat itu masjid

      • nengwie Maret 9, 2015 / 13:54

        Tapi kalau di benua Eropa, teteh belum dapat infonya kang… krn pada umumnya Mesjid tidak boleh megah… apalagi menyuarakan Adzan😦

      • jampang Maret 9, 2015 / 14:44

        negara terkait memberlakukan aturan tersebut ya, teh

      • nengwie Maret 9, 2015 / 14:46

        Iya betul.. masih “takut” sama yg berbau Islam😦

      • jampang Maret 9, 2015 / 16:04

        mudah2an nggak akan lama lagi bisa melihat masjid megah di eropa ya teh

  2. Gara Maret 9, 2015 / 12:10

    Nahkaan. Nahkaaaan. Nahkaaaaaan.
    Sekarang maukah Zul menerima Sali? Penasaran lagi deh saya menunggu kelanjutannya :hehe.
    Kalau saja Sali sebelum menolak Zul memintanya untuk mengumandangkan azan, hanya untuk jaga-jaga kalau suaranya sama… #eh.

    • jampang Maret 9, 2015 / 13:40

      😀
      pas ditunggu2 Sali, si Zul lagi tugas ke luar kota seh

      • Gara Maret 9, 2015 / 13:43

        Wuaduh waktu yang sangat tidak tepat buat dinas ya Mas :hihi.

      • jampang Maret 9, 2015 / 13:54

        begitulah….😀

  3. mawardi Maret 9, 2015 / 17:00

    banyak hal dalam hidup kita ini kejadian yg tdk bisa ditebak,hmm… begitulah kira2 hikmah dari cerita diatas

  4. zaki19482 Maret 9, 2015 / 19:01

    Hehehehe….!!! Nunggu jadi novel aja deh. Keren

  5. Ryan Maret 10, 2015 / 05:33

    Tuh kan. Sali dikasih tahu gak percaya sih.
    Ini masih lanjut mas?

    • jampang Maret 10, 2015 / 07:32

      kalau masih ada kesempatan…. masih dibikin lanjutannya, mas

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s