Takut, Hawa Nafsu, dan Surga

macet

Takut :
[a] (1) merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yg dianggap akan mendatangkan bencana: anjing ini jinak, engkau tidak perlu –; (2) takwa; segan dan hormat: hendaklah kita — kpd Allah; (3) tidak berani (berbuat, menempuh, menderita, dsb): hari sudah malam, aku — pulang sendiri; (4) gelisah; khawatir (kalau …):

 

Lelaki itu akhirnya memutuskan untuk membelokkan sepeda motornya ke arah kiri dibanding harus menghadapi kemacetan di hadapannya. Harapan lelaki itu, dengan mengambil jalur lain dirinya akan tiba lebih cepat di kantor.

Nyatanya, rute jalan yang dipilih lelaki itu tidak selancar yang diperkirakannya. Bahkan kondisi lalu-lintas yang dilaluinya jauh lebih padat. Pada akhirnya, lelaki itu telat belasan menit ketika tiba di kantornya. Akibatnya, gajinya dipotong. Penghasilannya berkurang.

Karena takut kejadian serupa akan terulang kembali esok hari, lelaki itu mencoba mencari solusi. Berangkat lebih pagi, begitulah tekadnya demi menyelamatkan jati dirinya sebagai seorang pegawai di mata atasannya juga demi menyelamatkan penghasilan setiap bulannya agar tetap utuh.

Sesungguhnya, lelaki itu adalah suami yang beruntung. Sebab, untuk mewujudkan tekadnya, sang istri bersedia membantunya.

Di pagi hari, usai melaksanakan shalat shubuh dan membaca beberapa ayat Al-Quran, lelaki itu langsung melaksanakan tugas rumah tangganya membantu sang istri mencuci pakaian kotor. Sementara sang istri menyusui buah hati mereka. Dia lawan hawa nafsunya untuk bersantai-santai di depan laptop untuk memantau akunnya di beberapa media sosial seperti yang biasa dilakukannya setiap pagi.

“Mas, sudah siang. Kalau belum selesai, cuciannya ditinggal aja daripada nanti terlambat sampai kantor!” sang istri mengingatkan suaminya yang masih berkutat di samping mesin cuci.

Lelaki itu kemudian meninggalkan apa yang sedang dikerjakannya demi mewujudkan tekadnya serta keinginan dan harapan sang istri agar tidak terlambat tiba di kantor. Selanjutnya, setelah semua persiapannya rampung, dia pun berangkat belasan menit lebih awal dari sebelumnya.

Jalur yang dilaluinya tetap macet seperti hari sebelumnya. Terutama di sebuah ruas jalan yang mengalami penyempitan akibat sedang dilakukan pembangunan fly over. Namun karena waktu berangkat yang lebih pagi, lelaki itu sedikit lebih tenang. Masih ada cukup waktu untuk tiba di kantor sebelum meni terakhir.

Pada akhirnya, tekad dan keinginan lelaki itu terwujud. Dirinya bisa tiba jauh lebih awal dari hari-hari sebelumnya. Dia berhasil mengamankan penghasilannya di hari itu. Dan mungkin di hari-hari berikutnya jika dirina tetap konsisten dengan apa yang dilakukannya pagi itu.

Karena hadirnya rasa takut akan dipotong gaji jika terlambat tiba di kantor, lelaki itu rela berangkat lebih pagi daripada biasanya. Dirinya juga berusaha untuk mengekang hawa nafsunya untuk bersantai-santai sejenak dan lebih memilih untuk bersegera. Dia pun berhasil untuk menyelamatkan penghasilannya dengan tiba di kantor dengan tepat waktu.

Lelaki itu telah berhasil mewujudkan keinginanan duniawinya lantaran sebuah rasa takut dan mengekang hawa nafsunya. Jikalah demikian, tentunya rasa takut yang ada di dalam dirinya akan kebesaran Allah yang telah menciptakannya serta menahan diri dari keinginan hawa nafsu yang akan mencelakakan dirinya akan bisa membawanya masuk ke dalam surga sebagai tempat kembalinya di akhirat. Wallaahu a’lam.

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). [QS. An-Nazi’at ayat 40-41]

 

 


Tulisan Terkait Lainnya :

32 thoughts on “Takut, Hawa Nafsu, dan Surga

  1. dani Maret 11, 2015 / 21:15

    Makasih Bang diingatkan..🙂

  2. zizadesita Maret 11, 2015 / 21:40

    Saya sayangnya masih suka naik turun kadar ketakutan (ketakwaan) kepada Allah SWT, malah lebih banyak kadar takut dipotong gajinya..😖😖
    Jelek banget ya saya..
    Maturnuwun sudah mengingatkan, semoga saya segera membaik.

    • jampang Maret 12, 2015 / 07:37

      idem, mbak
      aamiin. semoga kita semua bisa menjadi lebih baik

  3. nengwie Maret 11, 2015 / 22:20

    “Ya Rabb kamj, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau. Karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)” [QS Ali Imran :8]

    • jampang Maret 12, 2015 / 07:37

      aamiin.
      terima kasih, teh

      • nengwie Maret 12, 2015 / 14:33

        Sama-sama Kang..
        Hatur nuhun juga sudah diingatkan..

      • jampang Maret 12, 2015 / 16:03

        iya, teh

  4. arip Maret 11, 2015 / 22:30

    Yang aneh, kenapa ya takut sama-Nya kadang sering dianggap sepele ketimbang sama makhluk ciptaan-Nya, yg padahal sama-sama manusia.

    • jampang Maret 12, 2015 / 07:38

      mungkin lebih takut sama yang kelihatan daripada yang ghaib

      mungkin takut sama yang efeknya langsung dibanding yang nanti

      dsbg

  5. syifna Maret 12, 2015 / 06:37

    sama, saya juga terkadang takut & khawatirnya lebih besar. padahal kita belum tau apa yg terjadi di depan sana. Suka kepikiran, takut dan khawatir gagal ini gagal itu. Terutama takut dlm hal hubungan relationship. Aku suka tulisannya, makasih ya om🙂

    • jampang Maret 12, 2015 / 07:40

      rasa takut dan khawatir itu manusiawi koq. tinggal memanagenya aja agar menjadikan kita lebih baik.

      terima kasih, mbak

  6. riemikan Maret 12, 2015 / 07:42

    Makasih remindernya, memang sering kali sebagai manusia get carried away dengan pressure duniawi.

    • jampang Maret 12, 2015 / 07:53

      sebab dunia juga diciptakan untuk kepentingan manusia. jadi harus pandai2 memanagenya

      • riemikan Maret 12, 2015 / 14:26

        Setuju sekali

      • jampang Maret 12, 2015 / 16:03

        terima kasih😀

  7. ipah kholipah Maret 12, 2015 / 08:44

    teimakasih infonya mas🙂

  8. wiblackaholic Maret 12, 2015 / 11:45

    takut dengan was-was beda ga bang, misalnya was2 kalo telat sampai kantor?

    • jampang Maret 12, 2015 / 15:59

      kurang tahu, mas. kalau surtat An-naas was-was di situ artinya bisikan syetan

      • wiblackaholic Maret 13, 2015 / 10:49

        atau jangan2 rasatakut itu timbul karena was-was ya bang… jadi perlu bener berusaha ga takut

      • jampang Maret 13, 2015 / 11:15

        kalau saya anggapnya was-wasnya selalu cenderung ke hal yang tidak baik, sebab sumbernya dari setan. sedangkan takut itu bermakna positif, sebab dengan rasa takut itu bisa memotivasi untuk melakukan sesuatu semaksimal mungkin

  9. rinasetyawati Maret 12, 2015 / 12:02

    iya yah kadang ketakutan kita sering mengalahkan ketakutan kita pada Allah

      • jampang Maret 12, 2015 / 16:02

        iya. umumnya kita begitu,, mbak

    • jampang Maret 12, 2015 / 16:03

      semoga kita bisa begitu. yang jelas rasa takut kepada yang lain juga wajar… asal sesuai kadarnya

  10. Ami Maret 12, 2015 / 21:39

    Makasih, Bang, sudah mengingatkan saya juga🙂

  11. Gara Maret 14, 2015 / 15:27

    Jadi ingat sebuah kalimat yang dilontarkan senior beberapa jam lalu di Bandara Frans Kaisiepo:
    “Karena bukankah kita diberi hidup di dunia selama sekian puluh tahun ini untuk mencari jalan menuju surga?”
    Dijelaskan lagi, bahwa kita sebagai manusia pasti bisa mencari jalan keluar dari semua masalah, sehingga dengan masalah terlambat dan pemotongan tunjangan pun kita bisa mencari jalan keluar. Maka dari itu, jangan menyerah menghadapi masalah hidup, dan tulisan ini salah satu jalan keluar yang sudah dengan sangat baiknya Mas bagikan kepada kami semua :hehe. Terima kasih :)).

    • jampang Maret 15, 2015 / 05:49

      tambahan yang lengkap sekali, gar. terima kasih juga😀

  12. resep masakan Maret 16, 2015 / 16:01

    terkadang seperti itu belom melakukannya sudah ketakutan duluan hehehe

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s