Nikah Connecting People

nikah connecting people

Siang dan malam adalah bagian dari hari. Siang adalah bagian hari yang terang. Waktu ketika sebagian besar makhluk hidup di bumi ini melakukan aktifitas kehidupannya. Sementara malam adalah bagian hari yang gelap. Waktu ketika sebagian besar makhluk hidup di bumi ini beristirahat.

Siang dan malam adalah contoh pasangan yang sejati. Keduanya saling melengkapi satu sama lain. Keduanya dijalin dengan sebuah dua masa peralihan. Pagi yang mengantarkan malam kepada siang. Sementara sore mengantarkan siang kepada malam. Dengan sebab kehadiran pagi dan sore, perubahan malam menjadi siang atau siang menjadi malam tidaklah mengagetkan makhluk hidup yang merasakannya.

Seperti siang dan malam yang berpasangan, manusia pun diciptakan berpasangan. Lelaki dan perempuan. Jika siang dan malam diikat bersama oleh pagi dan sore hingga menjadi hari yang utuh, maka lelaki dan perempuan harus diikat oleh ijan dan qabul agar bisa bersatu dalam sebuah institusi bernama keluarga. Ijab dan qabul tersebut dilakukan dalam rangkaian sebuah proses yang disebut nikah.

Sesaat setelah ijab qabul terlaksana, status seorang lelaki dan seorang perempuan langsung berubah. Si lelaki menjadi seorang suami dan si perempuan menjadi seorang istri. Perjalanan keduanya mengaruhi bahtera rumah tangga pun dimulai. Maka sempurnalah keduanya. Yang semula sendiri menjadi berpasangan. Sesuai dengan fitrah penciptaan manusia. Berpasangan.

..:: Mengapa harus menikah? ::..

Menikah adalah sebuah ibadah. Bahkan bisa dikatakan bahwa menikah adalah ibadah terpanjang.  Karena sebuah ibadah, maka pelaksanaannya harus memiliki sebuah dalil yang kuat. Sebab hukum asal sebuah ibadah adalah terlarang atau haram kecuali jika ada dalil yang memerintahnya. Berikut adalah dua buah dalil yang bisa dijadikan dasar perintah menikah.

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [QS. An-Nuur : 32].

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).” [HR. Al-Bukhari]

Menikah adalah sunnah dari Rasulullah. Sebagai orang yang ingin masuk di dalam golongan beliau, maka kita harus mengikuti apa yang beliau contohkan. Hadits berikut menjadi dasarnya.

“Menikah adalah sunnahku. Barangsiapa yang enggan melaksanakan sunnahku, maka ia bukan dari golonganku. Menikahlah kalian! Karena sesungguhnya aku berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan seluruh ummat. Barangsiapa memiliki kemampuan (untuk menikah), maka menikahlah. Dan barangsiapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa karena puasa itu adalah perisai baginya (dari berbagai syahwat).” [HR. Ibnu Majah]

..:: Apa yang akan didapat seseorang setelah menikah? ::..

Ketenangan, Kasih, dan Sayang

Apakah Anda masih menyimpan sebuah surat undangan pernikahan dari kerabat atau sahabat Anda? Jika Anda masih menyimpannya, cobalah buka dan telitilah kembali setiap kalimat yang ada di setiap halamannya. Mungkin Anda akan menemukan terjemahan sebuah ayat tercantum di dalamnya. Sebuah ayat yang cukup populer.

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” [QS. Ar-Ruum : 21]

Dengan pemahaman saya yang dangkal, saya menarik sebuah kesimpulan dari ayat tersebut bahwa rasa ketentangan atau ketentraman, kasih, dan sayang itu muncul di dalam diri dan hati seorang lelaki dan perempuan ketika keduanya sudah menikah. Bukan ketika keduanya menjalin hubungan sebelum menikah apalagi di masa pacaran.

Lantas bagaimana dengan cinta?

Menurut Psikolog Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, cinta bukanlah pengikat pernikahan. Cinta hanyalah faktor yang bisa menarik seseorang untuk memutuskan berpasangan.

“Cinta paling lama bertahan tiga tahun, lalu hilang. Sisanya adalah komitmen, kesetiaan, dan tanggung jawab,” ungkap beliau.

Cinta muncul sebagai akibat dari ketertarikan secara fisik. Jika fisik memudar, maka cinta akan meluruh. Sepasang suami-istri yang mampu mempertahankan cintanya, maka keduanya akan mentransformasi cinta tersebut menjadi rasa yang lebih tinggi, yaitu sayang. Karenanya, saya suka dengan istilah jatuh cinta, sebab jatuh itu sakit. Saya lebih suka dengan istilah membangkitkan cinta.

Eksistensi

Manusia adalah makhluk hidup. Untuk mempertahankan eksistensinya, seluruh makhluk hidup termasuk manusia harus menunjukkan keberadaannya. Sayangnya, usia manusia tidaklah panjang. Karenanya, manusia membutuhkan generasi dari keturunannya untuk tetap menjaga eksistensi tersebut. Bukankah kita sering mendengar nama seseorang yang berjasa atau memiliki prestasi tinggi yang kemudian disebutkan siapa nama kedua orang tuanya? Orang tua orang tersebut bisa jadi sudah meninggal, tetapi namanya tetap eksis karena dibawa oleh anak-anakanya dan mungkin generasi selanjutnya.

Melalui pernikahan, sepasang suami-istri dapat memperoleh keturunan dengan cara yang halal dan sah. Dengan cara yang halal dan sah tersebut, diharapkan akan lahir generasi penerus yang baik dan mulia. Bukankah untuk menghasilkan sesuatu yang baik diperlukan bahan dan proses yang baik pula?

Pahala Sebesar Dosa Zina

Melanjutkan kalimat sebelumnya, menikah adalah cara halal untuk mendapatkan keturunan. Maka proses (berhubungan suami-istri) untuk mendapatkan hal tersebut juga menjadi halal. Sementara jika hubungan tersebut dilakukan sebelum menikah, disebut zina. Dosa melakukan perzinahan termasuk dalam salah satu kelompok dosa besar.

Logikanya, jika melakukan hubungan kepada pasangan yang tidak halal berdosa besar, maka berhubungan dengan pasangan yang sah akan mendapatkan pahala besar.

Bukankah itu adil namanya? Bukankah Allah itu Maha Adil? Saya meyakini pemikiran seperti itu, pemikiran bahwa dengan menikah dapat mendapatkan pahala sebesar dosa zina.

Dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, bahwa sejumlah Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah mendapatkan banyak pahala. Mereka melaksanakan shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, dan mereka dapat bershadaqah dengan kelebihan harta mereka.”

Beliau bersabda: “Bukankah Allah telah menjadikan untuk kalian apa yang dapat kalian shadaqahkan. Setiap tasbih adalah shadaqah, setiap takbir adalah shadaqah, setiap tahmid adalah shadaqah, setiap tahlil adalah shadaqah, menyuruh kepada yang ma’ruf adalah shadaqah, mencegah dari yang munkar adalah shadaqah, dan persetubuhan salah seorang dari kalian (dengan isterinya) adalah shadaqah.”

Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang dari kami yang melampiaskan syahwatnya akan mendapatkan pahala?”

Beliau bersabda: “Bagaimana pendapat kalian seandainya dia melampiaskan syahwatnya kepada hal yang haram, apakah dia mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika ia melampiaskannya kepada hal yang halal, maka dia mendapatkan pahala.” [HR. Muslim]

Kekayaan

Jika melihat ayat yang menjadi dalil perintah menikah di atas, tercantum sebuah kata “yughnihim”. Sekilas saya mengartikannya “menjadikan mereka kaya” sebab asal katanya serumpun dengan kata “ghaniyyun” yang artinya orang kaya. Namun kata tersebut diterjemahkan menjadi “memampukan mereka”. Para ahli yang menerjemahkan ayat tersebut tentunya lebih paham dibandingkan dengan saya yang tak memiliki kemampuan sedikitpun di bidang yang mereka kuasai. Jadi saya ikut saja. Sami’naa wa atha’naa.

Namun demikian, saya pernah membaca sebuah artikel yang memuat tentang hasil survey seputar pernikahan dan perceraian. Survey tersebut melibatkan 9.000 orang dan dilakukan pada rentang waktu 1985 hingga 2000. Hasilnya menunjukkan bahwa perceraian menurunkan kekayaan seseorang hingga 77 persen. Sebaliknya, pernikahan itu sendiri membuat seseorang lebih kaya daripada sekedar menggabungkan kekayaan kedua pasangan. Setiap orang yang menikah, rata-rata memperoleh jumlah kekayaan dua kali lipat. Pada tahun 1985, rata-rata usia pasangan yang disurvai antara 21 hingga 28 tahun.

Hanya dari faktor pernikahan, tanpa melibatkan faktor lain dalam perhitungan, seseorang meningkat kekayaannya sekitar 4 persen setiap tahun. Temuan tersebut dijelaskan dalam Journal of Sociology.

“Cerai menyebabkan menurunnya kekayaan jauh lebih besar daripada sekadar membagi rata harta gono-gini,” kata Jay Zagorsky dari Ohio State University.

“Jika Anda benar-benar ingin meningkatkan kekayaan, menikahlah dan pertahankan,” kata Zagorsky. Di lain pihak, lanjutnya, hindari perceraian karena akan menurunkan kekayaan.

Menurutnya, penelitian ini bukanlah sebagai pembenaran, tapi paling tidak ada alasan yang dapat menjelaskan. Penelitian lainnya menunjukkan bahwa hidup bersama membuat pasangan lebih efisien dan pengeluaran lebih murah ketika hidup serumah.

Sepertinya, saya pernah mengalami apa yang disimpulkan oleh hasi survey tersebut. Setelah lima tahun menikah, harta yang saya miliki bertambah. Yang paling terasa adalah saya memiliki sebuah rumah. Meskipun belum memilikinya secara utuh. Sebab masih ada utang yang harus saya lunasi.

Di awal pernikahan, saya tinggal di rumah kontrakkan. Setahun kemudian, saya bisa menempati sebuah rumah kecil dengan bantuan mertua. Di tahun kelima, rumah kecil tersebut bisa saya renovasi menjadi rumah yang lebih besar bahkan bertingkat. Sampai di situ, hasil survey tersebut cocok dengan kondisi saya.

Sayangnya, usia pernikahan saya juga berakhir di tahun kelima. Sebuah perceraian terjadi. Banyak dampak yang saya rasakan. Salah satunya adalah jumlah kekayaan saya merosot drastis. Rumah tersebut harus dijual. Uang yang bisa saya pegang dari hasil pernjualan rumah tersebut hanyalah sepertiganya. Saya pun harus tetap melanjutkan cicilan utang yang sebelumnya saya ambil untuk kebutuhan merenovasi rumah. Bisakah Anda membayangkan bagaimana rasanya melunasi utang atas nilai sebuah barang sementara barangnya itu sudah tidak ada lagi? Saya juga bingung menjawabnya. Apakah saya menjawabnya dengan mengatakan “Sakitnya tuh di sini!” sambil nunjuk ke hati atau dengan mengatakan “Di situ kadang saya merasa sedih.”

Hidup tetap harus berjalan. Saya harus bangkit. Alhamdulillah, di awal tahun 2014 saya mengakhiri kesendirian saya. Saya menikah untuk kedua kalinya.  Perlahan, saya mulai memiliki benda-benda yang sebelum tidak saya miliki. Televisi, kulkas, kompor gas, dan beberapa benda lainnya. Termasuk sebuah rumah yang sudah menjadi milik saya menjelang akhir tahun 2014 dan baru saya tempati awal bulan lalu.

Sepertinya, hasil survey itu benar adanya. Namun di atas itu, saya lebih meyakini ayat Al-quran di atas.

..:: Kapan harus menikah? ::..

Menikah adalah sesuatu yang baik. Ibadah. Maka disegerakan akan lebih baik. Tapi perlu diingat, segera itu jauh berbeda dengan tergesa-gesa. Tergesa-gesa itu tanpa perencanaan. Sementara segera itu dilakukan dengan perencanaan matang. Jadi, segera itu kapan? Bulan depan, tahun depan, atau lima tahun lagi? Masing-masing orang punya jawaban sendiri.

Yang pasti, menikah itu bukanlah sebuah perlombaan. Siapa yang lebih cepat maka dialah yang lebih baik dan menjadi pemenang. Tidak begitu. Jika di dalam sebuah perlombaan, garis start dan finishnya sudah sudah ditentukan sejak awal lomba, maka tidak demikian dengan menikah. Sebab untuk menikah, garis start-nya tidak ada yang sama dan garis finish-nya juga tidak ada yang tahu. Para pelakunya jika dianggap sebagai peserta, kondisinya pun tidak ada yang serupa. Jodoh itu seperti maut. Misteri. Rahasia Ilahi.

Segeralah menikah, sebab itu adalah hal yang baik. Namun bukan berarti pasangan yang menikah terlebih dahulu menjadi lebih baik daripada yang menikah belakangan. Bukan berarti pula yang sudah menikah memiliki hak untuk mem-bully para jomblo yang belum menikah.

Kepada para jomblo, mungkin Anda harus memilih salah satu di antara dua hal berikut. Bersyukur atau bersabar atas status Anda saat ini. Sebab apapun yang terjadi pada diri setiap orang mu’min, merupakan sesuatu yang baik. Termasuk menjomblo.

“Sungguh ajaib bagi seorang mu’min, semua perkara itu baik baginya, dan perkara itu tidak dimiliki oleh sesiapapun kecuali orang mu’min. Jika dia mendapat kesenangan dan dia bersyukur, itu adalah kebaikan baginya. Jika dia ditimpa musibah dan dia bersabar, itu juga kebaikan baginya.” (Al-Hadits)

Jika Anda menganggap status jomblo adalah sebuah kesenangan atau kebahagiaan, maka Anda harus bersyukur. Untuk apa? Tentunya agar ni’mat itu bertambah dan bertambah lagi. Tambahan ni’mat itu bisa hadir dalam bentuk pasangan hidup yang sholeh/sholehah. Dan ni’mat berpasangan dalam sebuah pernikahan adalah lebih besar daripada kesendirian. Tidak percaya? Coba tanyakan kepada mereka yang sudah menikah.

Jika Anda menganggap status jomblo itu menjadi sebuah musibah atau ujian, maka jalanilah dengan penuh kesabaran. Untuk apa? Tentunya agar ada peningkatan kwalitas diri. Bukankah dahulu kita sering menghadapi ujian di sekolah atau bangku kuliah sebagai proses untuk menuju kelas yang lebih tinggi?

Jika dalam kesendirian yang ada hanya menyesali nasib diri, sepertinya wajar-wajar saja jika status jomblo tak mau melepaskan diri. Cobalah jalani lika-likunya dengan kesabaran. Lalu ikhlas. Mungkin akan ada titik-titik terang menuju kondisi yang lebih baik. Kondisi ketika Anda dipertemukan dengan soulmate Anda. Insya Allah.

Memperbaiki diri. Mungkin itu yang harus dilakukan ketika menjalani masa kesendirian yang semoga tak berkepanjangan. Mungkin itu yang harus dilakukan selama masa penantian. Nikmati apa yang bisa dinikmati selama masa pencarian. Lakukan yang terbaik di setiap hal yang bisa dilakukan selama masa menunggu kehadiran sosok yang didamba. Ukir prestasi setinggi yang bisa diraih. Mudah-mudahan, semua itu bisa mengalihkan perhatian dari sebuah kejenuhan. Semoga semua itu bisa menghindarkan dari semua tekanan yang datang dari berbagai penjuru

Sekali lagi, jomblo atau kesendirian itu bukanlah hal yang tidak baik. Saat menjalaninya bisa menciptakan rasa syukur ataupun kesabaran. Keduanya adalah hal yang baik. Namun demikian, tetaplah berusaha dan berharap bahwa akan ada kondisi yang lebih baik yang akan ditemukan di masa depan. Jodoh. Pernikahan. Keluarga. Insya Allah.

Wallahu a’lam.

 


Tulisan Terkait Lainnya :

38 thoughts on “Nikah Connecting People

  1. dani Maret 12, 2015 / 15:23

    Bener memang Bang, nikah connecting people. Keinget pas saya ketemu temen setelah nikah, katanya saya jadi berubah tenang kayak sudah menemukan kepingan yang hilang gitu. Hihihi. Sukses ya Bang. 🙂

    • jampang Maret 12, 2015 / 16:04

      alhamdulillah…😀

      terima kasih, mas

  2. rianamaku Maret 12, 2015 / 15:27

    Menikah bukan hanya antara dua orang namun dua kelurga.
    gampang gampang susah.

    semoga menang GA nya ya mas.

    • jampang Maret 12, 2015 / 16:05

      iya mbak. betul,
      terima kasih, mbak

  3. ayanapunya Maret 12, 2015 / 15:33

    Semoga rencana nikah tahun ini bisa terealisasi🙂

    • jampang Maret 12, 2015 / 16:11

      aamiin yaa rabbal ‘aalamiin😀

  4. edwinlives4ever Maret 12, 2015 / 17:44

    Next, you’ll have to write about divorce as well. No offense, but some of us really don’t know much about Islamic views on divorce.

  5. riemikan Maret 12, 2015 / 20:21

    Aku setuju, pernikahan adalah baik karena menurutku pernikahan menyempurnakan pribadi kita. Saling mengasah dan berkompromi untuk satu tujuan yang baik.

    • jampang Maret 12, 2015 / 20:55

      iya mbak. perintah Tuhan pasti untuk kebaikan hamba-Nya

  6. Ryan Maret 12, 2015 / 22:02

    Judulnya mantap mas. Mengundang. Hahahaha. Moga menang ya mas.

    Soal rejeki, temen bilang, kalau dah nikah, istri bawa rejekinya sendiri anak pun demikian. Jadi jangan khawatir. Seperti itukah adanya mas?

    • jampang Maret 13, 2015 / 07:33

      terima kasih.
      iya. tinggal kita menafsirkan rezeki dengan segala bentuknya. apa terfokus sama yang berbentuk materi saja seperti uang, rumah, kendaraan atau diperluas seluas pengertian rezeki yang sebenarnya

  7. alrisblog Maret 13, 2015 / 00:12

    Ibadah paling nikmat, hingga ada yang sampai empat kali,hehe… Menikah menambah rejeki juga.

    • jampang Maret 13, 2015 / 07:37

      kalau mau nambah… harus bisa ukur kemampuan juga. jangan asal nambah. takutnya bukan tambah enak, malah muntah😀

  8. zizadesita Maret 13, 2015 / 02:49

    Segera bukan berarti terburu-buru👍👍👍
    Dan yang jomblo semoga segera mendapatkan soulmatenya yaa, bismillah..
    #Semoga menang GA nya!

    • jampang Maret 13, 2015 / 07:37

      aamiin yaa rabbal ‘aalamiin

      terima kasih, mbak

  9. -n- Maret 13, 2015 / 04:41

    Smoga menang GAnya ya. Oiya, aku pinjem fotonya, hehehe, yg plg atas.

    • jampang Maret 13, 2015 / 07:37

      terima kasih, mbak.

      boleh-boleh…. silahkan

  10. syifna Maret 13, 2015 / 07:14

    Dan hari ini pun aku suka tulisannya om jampang. berasa nyeeeesss tenang🙂 Semoga menang GA nya yaa om🙂

    • jampang Maret 13, 2015 / 07:39

      😀
      alhamdulillah jika tulisan saya bisa bikin tenang.

      terima kasih, mbak

  11. susanti dewi Maret 13, 2015 / 08:47

    waaah… lengkap dan komplit nih uraiannya. Bisa2 yg baca tulisan ini dan belum menikah, pengen langsung menikah nih… hehe…

    • jampang Maret 13, 2015 / 09:33

      asal mereka sudah siap dan sudah menemukan jodohnya, ya harus menikah😀

  12. wiblackaholic Maret 13, 2015 / 09:22

    panjang kali tulisannya bang.. tapi bagus isinya….dan memang betul kok apa yg bang Rifky tuliskan, udah serius2.. pas bagian sakitnya tuh disini, saya bingung mau tertawa apa sedih….

    • jampang Maret 13, 2015 / 10:10

      iya… nggak nyangka jadi 2000-an kata.
      😀

      itu selingan, mas

  13. edi padmono Maret 14, 2015 / 06:27

    He..he… saya nikah kecepetan kali ya… usia 20 tahun…kita sebaya kan bang….?

    • jampang Maret 15, 2015 / 05:45

      kalau sudah ketemu jodohnya mah nggak ada istilah kecepetan, mas😀
      hmmm…. mungkin. yang jelas mas edi nikahnya duluan

  14. fenny Maret 14, 2015 / 17:50

    Setuju …
    Buat yg msh jomblo mungkin Allah masih menyimpan pasangan yg terbaik dari yg baik2, gunakan wkt jomblo sebaik2nya untuk yg bermanfaat …😀

    • jampang Maret 15, 2015 / 05:52

      terima kasih. insya Allah demikian
      😀

  15. Gara Maret 15, 2015 / 00:41

    Dapat pencerahan baru soal pernikahan dalam tulisan yang sangat jujur dan mengalir. Menikah itu memang menjadikan pasangan saling mengisi, ya. Membuang hal negatif dan mengisi hal-hal yang positif.
    Good luck buat give awaynya!

    • jampang Maret 15, 2015 / 05:54

      semoga bermanfaat😀

      terima kasih

  16. yogisaputro Maret 15, 2015 / 15:35

    Panjang juga. Saya scrolling sambil manggut-manggut sampai akhirnya ke kolom komentar ini. Lumayan dapat garis besarnya. Saya suka penjelasan mas yang memadukan hukum Islam dan statistik yang mendukung. Alur berpikirnya jelas.

    Saya nyusul nikahnya🙂

    • jampang Maret 16, 2015 / 07:24

      terima kasih
      semoga disegerakan, aamiin😀

  17. gustyanita pratiwi Maret 16, 2015 / 09:37

    Wah baguss bingit ni pak, aku juga ikutan Ga nya.., jadi minder ehhhhh

    • jampang Maret 16, 2015 / 09:50

      terima kasih, mbak.
      nggak usah minder donk, masing-masing kan punya gaya sendiri

  18. Cumilebay MazToro Maret 16, 2015 / 10:32

    Itukan slogan nya nokia jaman jadul yaaaaa
    Wetssss mesti disegerakan yaaaa ??? hmmm mikir masih jomblo nich #kacau

    • jampang Maret 16, 2015 / 10:56

      iyah slogannya nokia

      ya semoga disegerakan

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s