Kesempatan dan Jawaban – Part 1

Cerita Bagian Sebelumnya …

Sali segera merapikan mukena dan sajadah yang baru saja digunakan untuk shalat. Setelah semuanya beres, Sali segera bangkit berdiri dan melangkah dengan cepat meninggalkan tempat shalat. Dia menuruni tangga masjid menuju lantai dasar.

Tiba di anak tangga terakhir, Sali berhenti. Dia arahkan pandangan matanya ke pintu utama masjid. Dengan serius dan teliti, dia mencari seorang lelaki yang mengenakan kemeja lengan panjang warna biru dengan garis-garis putih dan celana panjang warna hitam di antara para jama’ah yang keluar melewati pintu tersebut. Sali ingin memastikan apakah benar kalau sang muadzin itu adalah Zul.

Sali tidak perlu waktu lama untuk menunggu. Seorang lelaki dengan ciri-ciri yang sama persis dengan yang dicarinya terlihat melewati pintu tersebut. Meski sebelumnya sudah mengira bahwa itu adalah Zul, ibarat melihat hantu di siang bolong, Sali tidak bisa menutupi rasa kagetnya.

“Dia benar-benar, Zul!” Pekik Sali dalam hati.

Selengkapnya bisa dibaca di sini.

—o0o—

kesempatan dan jawaban

Entah perasaan apa lagi yang berkecamuk di dalam hati Sali selain penyesalan ketika mengetahui bahwa suara muadzin yang selama ini selalu tersimpan di hatinya adalah suara Zul. Adalah sosok Zul yang diharapkannya menjadi pendamping hidup. Namun sayang, sebelum mengetahui bahwa Zul adalah lelaki di balik suara adzan tersebut, Sali telah menolak permintaan Zul beberapa waktu lalu agar dirinya menjadi pendamping hidup Zul, menjadi istri Zul.

Kenapa saat itu aku langsung menjawab tidak? Seandainya saat itu aku meminta waktu kepada Zul, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Sesal Sali.

Apakah masih ada kesempatan bagiku untuk menarik jawabanku saat itu? Apakah itu berarti Aku harus menjilat ludahku sendiri? Apakah Zul mau menerima diriku setelah aku menolaknya?

Semua pertanyaan tersebut menghantui pikiran Sali.

*****

“Kesempatan itu masih ada!” Ucap Laras dengan tegas.

“Aku setuju dengan Laras,” timpal Dewi. “Selama Zul belum menemukan atau mempunyai calon lain, kesempatan itu masih ada. Tapi mungkin, kali ini bukan Zul yang aktif mendekatimu, karena dia sudah melakukan itu. Kamu yang harus aktif mendekatinya,” sambungnya lagi.

“Apa baik bagi seorang perempuan untuk mengejar seorang laki-laki?” Tanya Sali ragu.

“Bukannya cita-cita atau harapan itu harus dikejar? Selama hal tersebut adalah sesuatu yang mungkin dan wajar, nggak ada salahnya jika tetap diusahakan. Itu menurutku,” jawab Dewi.

“Setahuku, pernikahan yang terjadi antara Nabi Muhammad dengan Khadijah, diawali dari pendekatan dan penyelidikan Khadijah, kan? Beliau mencari jawaban tentang siapa dan bagaimana sosok pemuda yang bernama Muhammad kala itu melalui seorang pembantunya yang menemani Nabi berdagang. Betul tidak?” Lia angkat bicara.

Sali mengganguk tanda setuju.

“Itu salah satu cara. Kalau mau cara yang lebih sederhana, ya langsung tanya saja ke orangnya. Tanyakan apakah dia sudah punya calon lain atau belum. Tanyakan juga apakah tawarannya yang pernah dia ajukan kepadamu itu masih berlaku atau tidak. Itu sekedar saranku,” sambung Lia.

“Walaupun aku telah menolaknya beberapa waktu yang lalu?” Tanya Sali yang mengisyaratkan sebuah keraguan.

“Cobalah kau pikir masak-masak lebih dahulu. Kau bandingkan kondisimu saat ini yang menyesali atas kejadian yang telah lewat dengan kondisimu nanti jika kau tidak mau berusaha lagi untuk mewujudkan harapan dan keinginanmu untuk menjadikan sang muadzin tersebut sebagai pendamping hidupmu. Kukira, kekecewaan yang akan kau dapat ketika mendapatkan jawaban Zul yang tidak sesuai dengan keinginanmu, tidak akan sebesar penyesalanmu kelak jika kau menyadari bahwa memendam perasaanmu dan harapanmu adalah sebuah kesalahan,” ungkap Lia.

“Namun demikian kau jangan lupa bahwa kita semua adalahan manusia yang hanya mampu berusaha dan berdoa. Soal hasil ada di tangan Allah. Selagi kau berpikir segala sisi positif dan negatif atas pilihan yang kau tetapkan, libatkan Allah dalam setiap proses. Minta pentunjukNya. Insya Allah, di antara masalah yang kau hadapi, akan ada jalan yang terbaik,” sambung Lia lagi.

“Aku sependapat dengan Lia,” timpal Dewi.

Gue juga. Seandainya lo butuh bantuan, gue bersedia membantu. Dewi dan Lia juga pasti demikian,” Laras ikut memberikan pendapat dan saran.

*****

Setelah bertanya kepada seorang satpam mengenai di mana letak mushalla atau masjid di pusat perbelanjaan tersebut, akhirnya Sali dapat menemukan apa yang dicari. Sebuah bangunan mushalla yang tidak terlalu besar. Jika dikira-kirakan mungkin ruangannya berkuran tiga kali tiga meter. Letaknya cukup terpencil, di lantai empat, bersebelahan dengan tempat parkir mobil. Jika saja tidak diberi tulisan “Mushalla”, mungkin orang yang melihatnya tidak mengetahui bahwa sebenarnya bangunan atau ruangan tersebut adalah sebuah mushalla.

Setelah mengambil air wudhu, Sali segera memasuki ruangan mushalla dan mengambil tempat di barisan paling belakang.

Ketika sedang mempersiapkan diri untuk memulai shalat, tiba-tiba dari arah pintu, masuk seorang laki-laki dengan wajah, tangan, dan kaki dalam kondisi basah. Basah dengan air wudhu. Lelaki berkaos lengan panjang warna biru dan bercelana panjang waran hitam itu langsung mengambil posisi di pojok depan sebalah kanan. Terlihat dia menurunkan gulungan celana panjangnya serta membuka gulungan kaos lengan panjangnya.

Sesaat sebelum Zul memulai shalatnya, dia memalingkan wajahnya ke belakang. Mungkin Zul baru menyadari bahwa ada orang lain di mushalla tersebut.

“Ikut berjama’ah, Mbak?” Tanya Zul sambil tersenyum kepada Sali.

Tanpa berpikir panjang, Sali langsung mengganggukkan kepalanya tanda setuju. Tak lama kemudian, Sali mengikuti setiap gerakan shalat yang dilakukan oleh lelaki di hadapannya. Adalah kewajiban seorang ma’mum untuk mengikuti segala gerakan imam dalam shalat berjama’ah. Itulah yang dilakukan oleh Sali.

Empat rakaat shalat zhuhur telah berlalu dengan ucapan salam sang imam. Setelah berdoa dan berdzikir sebentar, Zul kemudian bangkit berdiri dan melangkah ke luar mushalla. Secara bersamaan, Sali yang sedang merapikan kembali mukena, mengalihkan pandangannya ke lelaki tersebut. Meski seklias, Sali sempat melihat wajah Zul yang ternyata sudah tak asing laginya baginya. Zul adalah Zul.

Sali terkejut dan kemudian berusaha bangkit dari duduknya, sesegera mungkin untuk mengejar Zul. Namun, bukannya berhasil mengejar Zul yang sudah berada di luar mushalla, Sali justru terbangun dari tidurnya.

Sali bermimpi lagi bertemu dengan Zul. Itu adalah kali ketiga Sali bermimpi bertemu dengan Zul.

Kali pertama, Sali bermimpi bertemu dengan Zul dalam situasi ketika keduanya berada di dalam sebuah bis yang sama. Sali menaiki bis yang sudah penuh dengan penumpang. Tak ada satu pun kursi yang tersisa. Sali menggeser tempat berdirinya hingga ke bagian tengah mobil, menghindari desakan penumpang yang menumpuk di dekat pintu masuk.

Tiba-tiba, seorang lelaki yang duduk tepat di hadapannya bangkit dari kursinya dan dengan sopan mempersilahkan Sali untuk duduk. Setelah mengucapkan terima kasih, Sali kemudian duduk.

Tak lama kemudian, lelaki yang mempersilahkan Sali duduk turun di sebuah halte. Pandangan Sali mengikuti sosok lelaki tersebut hingga turun dari bis. Ketika bis berjalan kembali, Sali menyadari bahwa lelaki tersebut adalah Zul.

Kali kedua, Sali bermimpi melihat Zul yang berada dalam sebuah arena bermain anak-anak. Sali yang habis membayar semua belanjaannya di kasir, melihat Zul yang sedang berdiri seolah-olah mengawasi anak-anak yang sedang asyik bermain.

Beberapa saat setelah terbangun dari tidurnya, Sali mencoba berpikir tentang tiga kali pertemuan dengan Zul di dalam mimpinya. Muncul sebuah pertanyaan di dalam benak Sali, adakah sesuatu yang tersirat dari mimpi-mimpinya tersebut. Mengingat mimpi-mimpi tersebut hadir ketika Sali mencoba memohon jawaban kepada Allah melalui doa-doanya atas masalah yang sedang dihadapinya.

….. bersambung …..


Baca Episode Lainnya :

13 thoughts on “Kesempatan dan Jawaban – Part 1

  1. dianryan Maret 24, 2015 / 11:50

    ya…ko bersambung bang😦 *pembaca penasaran*

    • jampang Maret 24, 2015 / 13:06

      😀
      sengaja, biar penasaran

  2. Alris Maret 24, 2015 / 13:02

    Gak apa2 juga kali cewek solehah mengejar laki soleh, hehe..

    • jampang Maret 24, 2015 / 13:31

      tapi ya tetap sesuaii fitrahnya lah.

      mawar itu indah, tapi kalau mawar yang “mengejar” kumbang sampai mencabut akarnya di tanah… mawar bakalan mati

  3. Ryan Maret 24, 2015 / 13:33

    Duh. Bersambung lagi.

    • jampang Maret 24, 2015 / 14:17

      😀
      sabar… sabar yah😀

  4. Gara Maret 24, 2015 / 19:06

    Hm… semoga Sali mendapat jawaban yang terbaik. Tapi Tuhan selalu punya jawaban terbaik, kok. Saya yakin :)).

  5. Syifna Maret 25, 2015 / 06:26

    Sudah beberapa minggu ini kalau sy berkunjung ke blog om Jampang, cerita yg di tuliskan hampir sama dgn jalan hidup saya yaa, entah itu fiksi atau real.. menohok sekali🙂

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s