Kesempatan dan Jawaban – Part 2

Cerita Sebelumnya…

Beberapa saat setelah terbangun dari tidurnya, Sali mencoba berpikir tentang tiga kali pertemuan dengan Zul di dalam mimpinya. Muncul sebuah pertanyaan di dalam benak Sali, adakah sesuatu yang tersirat dari mimpi-mimpinya tersebut. Mengingat mimpi-mimpi tersebut hadir ketika Sali mencoba memohon jawaban kepada Allah melalui doa-doanya atas masalah yang sedang dihadapinya.

Cerita selengkapnya bisa dibaca di sini.

—oOo—

kesempatan dan jawaban

Siang itu matahari tidak seperkasa biasanya. Sebuah gumpalan awan menjadi penghalang sinarnya ke bumi. Namun demikian, langit tidaklah mendung. Warna biru terlihat di belahan langit mana pun. Hanya di sekeliling matahari saja gumpalan awan tersebut berada seolah-olah ingin mengahangatkan dirinya.

Suasana yang teduh tersebut sangat dinikmati para pegawai yang sedang menyantap makan siang di warung kaki lima di samping Gedung Kembar, termasuk Sali dan ketiga sahabatnya.

“Mungkin itu pertanda baik buat lo, Sal!” Laras mencoba menyimpulkan apa yang baru diceritakan oleh Sali tentang mimpi yang dialaminyua sebanyak tiga kali.

“Pertanda baik? Maksudmu?” Sali balik bertanya.

“Mungkin saja, mimpi lo itu mengisyaratkan bahwa diri lo masih punya kesempatan untuk bersama Zul. Dalam mimpi itu, lo lihat Zul sendiri kan? Tidak sedang bersama dengan seorang perempuan. Bisa jadi itu artinya Zul masih available,” jawab Laras.

“Jika demikian kondisinya, apa yang akan kamu lakukan, Sal?” Tanya Dewi.

“Entahlah, Aku masih bingung.”

“Jangan terlalu lama mikirnya, nanti bisa-bisa kamu keduluan. Nangis darah deh!” Goda Dewi sambil tertawa.

Sali tidak menjawab. Hanya mimik wajahnya yang berubah.

“Maaf, Sal! Aku cuma bercanda kok!” Sambung Dewi lagi mencoba menetralisir keadaan.

“Apa kamu perlu bantuan kami, Sal?” Tanya Lia mencoba menawarkan bantuan.

“Sementara ini Aku belum tahu melakukan apa dan bagaimana. Kalian doakan saja supaya Aku bisa menemukan cara dan waktu yang pas,” pinta Sali.

“Kalau itu sih enggak usah diminta, doa terbaik selalu untukmu, Sal!” Jelas Lia.

 *****

Masjid Al-Muflihun yang menjadi tempat shalat berjama’ah bagi semua pegawai perusahaan yang berkantor di Gedung Kembar, mulai ditinggalkan jama’ah. Mereka akan melanjutkan pekerjaan di kantor masing-masing, atau mungkin mengisi waktu istirahat mereka dengan makan siang.

Di antara para jama’ah yang keluar dari masjid Al-Muflihun terlihat seorang seorang perempuan dengan jilbab polos berwarna hijau, berbaju putih, dan mengenakan rok berwarna hijau gelap yang sedang berdiri di depan anak tangga yang menghubungkan lantai dasar dengan lantai dua masjid tempat dia baru saja melaksanakan shalat zhuhur berjama’ah beberapa saat yang lalu.

Sosok perempuan itu, Sali, terlihat agak gelisah. Sesekali pandangan matanya tertuju pada pintu utama masjid yang menjadi tempat masuk dan keluar jama’ah. Sepertinya, Sali sedang menunggu seseorang.

“Mudah-mudahan hari ini aku bisa bertemu dan bicara langsung dengan Zul,” Sali berharap dalam hati.

Tak beberapa lama kemudia, Sali melihat Zul keluar dari dalam masjid. Ketika Zul bermaksud menuruni anak tangga yang berada di depan masjid untuk mengenakan sandalnya, Sali memanggil.

“Zul!”

Zul menghentikan langkahnya kemudian menengok ke arah sumber suara. Didapatinya seorang perempuan melangkah mendekatinya dengan agak tergesa-gesa.

“Kamu, Sal. Ada apa? Kok sepertinya penting sekali,” ucap Zul ketika Sali sudah berada di hadapannya.

“Kamu ada waktu, Zul? Ada yang ingin aku bicarakan.” Jawab Sali.

“Sekarang?” Zul balik bertanya.

“Iya, sekarang. Bisa?” Tanya Sali penuh harap.

“Bisa,” jawab Zul singkat.

Dalam kebingungan untuk memulai pembicaraan, akhirnya Sali mulai dengan mengajukan pertanyaan, “Gimana, sudah dapat calon?”

“Oh, soal itu,” Zul tersenyum. “Sejak pembicaraan terakhir denganmu waktu itu, Aku belum lagi menemukan perempuan yang kurasa cocok untuk menjadi pendamping hidupku. Jadi, belum dapat,” sambung Zul.

Mendengar jawaban tersebut, hati Sali gembira bukan kepalang. “Mungkin masih ada kesempatan untukku,” pikirnya.

Lalu Sali melanjutkan pertanyaanya. “Mengenai permintaanmu beberapa waktu yang lalu, apakah masih berlaku, Zul?”

“Permintaan yang mana, Sal?” Tanya Zul balik.

Pertanyaan Zul tersebut membuat Sali berpikir apakah Zul sudah melupakan kejadian beberapa waktu yang lalu atau ada maksud lain.

“Permintaan tentang…,” kalimat Sali terputus sesaat. “Dirimu yang memintaku untuk menjadi pendampingmu, menjadi istrimu.”

Kalimat yang dirasa sangat berat bagi Sali untuk mengucapkannya langsung di hadapan Zul akhirnya keluar juga. Lega sudah rongga di dadanya yang sempat menyempit sejak dirinya mengetahui bahwa muadzin yang dicari-carinya adalah Zul, lelaki yang kini berdiri di hadapannya.

“Kenapa? Kamu berubah pikiran?” Zul kembali balik bertanya. “Bukannya waktu itu kamu bilang kalau dirimu sudah memiliki calon?” Zul menyambung pertanyaannya.

“Iya, tapi sekarang …” Kembali kalimat Sali terputus.

“Apa karena calonmu itu tidak sesuai dengan kriteriamu atau sebaliknya?” Zul memotong kalimat yang keluar dari mulut Sali.

“Kamu marah, Zul?”

“Mungkin kau bisa tahu bagaimana rasanya jika dijadikan hanya sebagai cadangan. Tapi Aku bisa memaklumi apa yang kau lakukan. Aku menyadari sepenuhnya tentang siapa dan bagaimana kondisi diriku saat ini. Ada hal yang mungkin kamu belum tahu tentang diriku, Sal, sehingga aku bisa menerima perlakuanmu tersebut dan tidak menjadikan kemarahan sebagai respon yang kuberikan. Karena kemarahan pun tidak menjadikan kondisi lebih baik. Bukankah begitu?”

“Maafkan Aku, Zul! Jika saat itu aku menolak permintaanmu dan kini aku bertanya kembali tentang kesempatan tersebut apakah masih berlaku untukku. Aku memilih bertanya kembali kepadamu meski aku harus menjilat ludahku sendiri, karena sebenarnya…,” kalimat Sali terpotong seperti ada sesuatu yang menghalangi kata-kata yang akan keluar dari mulutnya.

“Kenapa, Sal?” Tanya Zul setelah menunggu beberapa saat Sali tidak melanjutkan kalimatnya.

“Sebenarnya, sosok lelaki yang saat itu telah mengisi ruang di hatiku adalah dirimu, Zul,” ungkap Sali.

“Hah! Kok bisa?” Zul tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya ketika mendengar jawaban dari Sali tersebut.

“Sebelum dirimu mengajukan permintaan di hari itu, Aku pernah mendengar suara adzan yang bagiku adalah adzan yang paling indah dan merdu yang pernah kudengar seumur hidupku. Tanpa kusengaja, aku telah jatuh cinta pada pendengaran pertama. Sejak saat itu aku selalu berharap bisa bertemu dengan sosok muadzin itu. Aku juga berharap bisa hidup bersama dengannya sebagai sepasang suami-istri.”

“Tapi sayang, aku tidak pernah lagi mendengar suara adzan tersebut. Sosok muadzin itu seolah-olah lenyap ditelan bumi. Bahkan teman-temanku mengira bahwa aku saja yang berlebihan ketika mendengar suara adzan tersebut yang menurut mereka biasa-biasa saja. Namun demikian, sosok muadzin itu telah mengisi ruang di hatiku,” sambung Sali.

“Karenanya, ketika kau mengajukan pertanyaan apakah aku bersedia untuk menjadi pendampingmu, aku langsung menolak.”

“Lalu kenapa tiba-tiba hari ini Kau berubah pikiran?” Tanya Zul.

“Hingga suatu hari, Aku kembali mendengar suara adzan yang sama persis dengan yang kudengar sebelumnya. Rasa penasaran mendorongku untuk mengetahui siapa laki-laki yang menjadi muadzin tersebut. Aku sangat terkejut ketika mendapati bawah dirimulah yang menjadi muadzin saat itu. Aku baru menyadari bahwa sosok muadzin yang kucari, ternyata adalah dirimu, Zul. Itulah sebabnya kenapa hari ini Aku memberanikan diri bertanya langsung kepadamu tentang permintaanmu beberapa waktu yang lalu. Jadi, masih adakahan kesempatan itu untuk diriku, Zul?” Tanya Sali di akhir cerita.

Zul menarik napas panjang sebelum menjawab pertannyaa Sali.

“Jika yang kau tanyakan adalah kesempatan, maka kesempatan itu masih ada, Sal.” Jawab Zul.

Sali tersenyum kecil ketika mendengar jawaban Zul tersebut.

“Tapi…” Lanjut Zul.

“Tapi apa, Zul?”

“Aku ragu apakah Kamu akan tetap menjadikan diriku sebagai lelaki pilihanmu jika kelak Kau mengetahui bagaimana kondisi diriku saat ini. Apa yang kau tahu tentang diriku sekarang hanyalah apa yang telah kau dengar bahwa diriku memiliki lantunan adzan yang menurutmu merdu dan apa yang kau lihat bahwa diriku bekerja di sebuah kantor yang berada dalam satu komplek perkantoran dengan tempatmu bekerja. Padahal, di balik itu semua, masih banyak hal-hal yang belu kau ketahui tentang diriku.” Zul mengehentikan kalimatnya sejenak.

“Apakah kau yakin tidak akan berubah pandangan dan pilihan?” Zul menutup kalimatnya dengan sebuah pertanyaan.

Sali terdiam. Sebuah pelajaran untuk tidak memberikan jawaban yang tergesa-gesa yang diterimanya beberapa waktu lalu sangat membekas di dalam dirinya. Dia tidak mau mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya.

“Kamu ragu, Sal?” Tanya Zul lagi sehingga memecah kesunyian.

“Aku hanya tidak mau gegabah untuk memberikan jawaban sebelum aku mengetahui benar-benar apa yang kau maksud dalam kalimat yang kau ucapkan tadi,” jawab Sali.

Zul tersenyum. “Aku tidak akan menceritakan semuanya di sini. Waktunya tidak cukup. Sebentar lagi jam istirahat sudah selesai. Jika kau ingin mengetahui di balik kalimatku tadi aku minta kau datang ke suatu tempat yang nanti akan kukabarkan kepadamu. Jika kau bersedia, aku akan menceritakan semuanya di sana.”

“Baiklah. Aku akan menunggu kabar darimu,” jawab Sali.

Waktu telah menunjukkan pukul tiga belas tepat. Suasana masjid sudah benar-benar sepi dari jama’ah. Yang tersisa hanyalah seorang petugas masjid yang menjalankan tugasnya menjaga dan memelihara kebersihan masjid.

Zul dan Sali bangkit dari tempat duduk. Lalu keduanya melangkah dan berpisah menuju kantor masing-masing yang hanya terpisah oleh sebuah taman yang ditengahnya terdapat kolam dengan beberapa air mancur.

tanyakan tentang rasa
tanyakan tentang ruang di hati
akan ada jawab yang diterima
walau bukan yang diharap yang kan terjadi

akan ada lega yang dirasa
dibanding menyimpan tanpa batas masa
sesal karena gagal setelah mencoba
akan lebih ringan dibanding sesal tanpa usaha


Baca Episode Lainnya :

25 thoughts on “Kesempatan dan Jawaban – Part 2

  1. dianryan Maret 25, 2015 / 15:53

    jadi, apakah Sali dan Zul akhirnya bersama?! Tunggu Episode selanjutnya hanya di blog ini😀

    *akh…kapan endingnya ini kan penasaran*

    • jampang Maret 25, 2015 / 16:45

      perjalanan masih panjang😀

  2. Rahmat_98 Maret 25, 2015 / 16:22

    “Baiklah. Aku akan menunggu kelanjutan ceritanya….”

    jadi makin penasaran…😀

  3. Gara Maret 25, 2015 / 17:06

    Syukurlah Sali bisa jujur, Mas :)).
    Setuju, sesal setelah mencoba lebih ringan daripada sesal karena tidak tahu bagaimana mencoba.
    Semoga semua berakhir baik untuk mereka berdua ya :amin.

  4. Ryan Maret 25, 2015 / 19:17

    Menantikan kelanjutannya kembali *simpan popcorn*

      • Ryan Maret 26, 2015 / 08:44

        Jgn kelamaan mas. Ntar pop cornnya basi. Hahahahaha

      • jampang Maret 26, 2015 / 10:06

        beli lagi dong😀

  5. kurniawanrzky Maret 25, 2015 / 20:47

    sebenarnya akulah direktur utama perusahaan ini, ungkap zul😀

    • jampang Maret 26, 2015 / 08:43

      tapi di bab-bab sebelumnya sudah ada penjelasan kalau zul itu ya baru pegawai😀

      • kurniawanrzky Maret 26, 2015 / 13:24

        diakan nyamar mas, biar keliatan membumi😀

        harus baca bab-bab sebelumnya nih >,<

      • jampang Maret 26, 2015 / 14:56

        😀

  6. rhey Maret 26, 2015 / 02:28

    Jgn lama2 lanjutannya heheheh

  7. Syifna Maret 26, 2015 / 06:25

    Ini sama dgn pengalaman pribadi ku aaaaaaaa…. Om Jampang.
    tapi sy tetap menunggu endingnya hihihi

    • jampang Maret 26, 2015 / 08:46

      hm… harus konsultasi dulu neh buat bikin lanjutannya😀

      • Syifna Maret 27, 2015 / 06:48

        Konsultasi kemane om😀
        Ending syifna jg blm tau hehehe, tp bener tulisannya 99% mirip, dimana dulu syifna pernah menolak L*****N krn dulu udh ada Komitmen dgn si Mr SRK, dan skrg sy pun mempertanyakan ttg yg dulu kepada sosok pria B itu hihihi .. dan skrg endingnya blm tau …🙂

      • jampang Maret 27, 2015 / 07:34

        jadi saya nerusinnya nunggu pengalaman hidup mbak atau gimana nih?😀

  8. Syifna Maret 29, 2015 / 11:36

    Tanyakan pada hatimu dong om😀

      • Syifna Maret 29, 2015 / 18:35

        Di tunggu endingnya😀

      • jampang Maret 30, 2015 / 05:20

        insya Allah

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s