Dua Zul – Part 1

Cerita Sebelumnya…

“Kamu ragu, Sal?” Tanya Zul lagi sehingga memecah kesunyian.

“Aku hanya tidak mau gegabah untuk memberikan jawaban sebelum aku mengetahui benar-benar apa yang kau maksud dalam kalimat yang kau ucapkan tadi,” jawab Sali.

Zul tersenyum. “Aku tidak akan menceritakan semuanya di sini. Waktunya tidak cukup. Sebentar lagi jam istirahat sudah selesai. Jika kau ingin mengetahui di balik kalimatku tadi aku minta kau datang ke suatu tempat yang nanti akan kukabarkan kepadamu. Jika kau bersedia, aku akan menceritakan semuanya di sana.”

“Baiklah. Aku akan menunggu kabar darimu,” jawab Sali.

Selengkapnya bisa dibaca di sini.

 

*****

ayah dan anak

Siang itu matahari bersinar cukup terik. Udara terasa panas. Mungkin cuaca seperti itulah yang membuat orang-orang malas untuk pergi keluar rumah meski hari itu adalah akhir pekan, hari Sabtu, sehingga lalu-lintas lumayan lancar. Setidaknya gambaran seperti itu yang dilihat oleh Sali selama perjalanan dari rumahnya di daerah Tanah Abang ke tempat yang dipilih oleh Zul untuk dijadikan tempat pertemuan mereka berdua. Pertemuan itu adalah sebagai tindak lanjut dari pertemuan terakhir keduanya di Masjid Al-Muflihun beberapa hari yang lalu.

Dengan mengendarai sepeda motor, Sali menyusuri jalur jalan yang dilalui oleh Mikrolet 09 jurusan Tanah Abang – Kebayoran Lama. Jalur yang sebenarnya sudah sering dia lalui dahulu ketika masih tinggal di salah satu jalan yang terletak di salah satu sisi Jalan Kebayoran Lama. Mungkin sekitar sepuluh tahun Sali tinggal di daerah tersebut sebelum akhirnya pindah mengikuti kedua orang tuanya di Tanah Abang. Maka wajar, jika Sali sudah mengenal seluk-beluk jalan yang dilaluinya.

Sekitar pukul tiga belas siang, Sali tiba di sebuah pusat perbelanjaan di daerah Permata Hijau. Setelah memarkirkan motornya, Sali mengeluarkan handphone dari dalam tasnya, lalu menelpon Zul.

“Assalaamu ‘alaikum,” ucap Sali ketika telepon sudah tersambung dengan Zul.

“Wa ‘alaikumus salaam,” jawab Zul dari seberang telepon.

“Aku sudah sampai, Zul. Kamu ada di mana?”

“Aku ada di lower ground. Kamu cari aja elevator untuk turun. Kemudian belok kanan. Aku ada di ujung, di tempat arena bermain anak-anak.”

“Oke. Aku ke sana. Assalaamu ‘alaikum.”

“Wa ‘alaikumus salaam.”

Sali menutup handphone dan kemudian memasukkannya kembali ke dalam tas. Selanjutnya, Sali melangkah masuk ke dalam pusat perbelanjaan tersebut. Tidak seperti di jalan-jalan yang baru saja dilaluinya, pusat perbelanjaan tersebut cukup ramai dengan para pengunjung. Beberapa orang terlihat membawa troli yang penuh dengan barang-barang kebutuhan sehari-hari. Beberapa orang lainnya memenuhi sebuah restoran cepat saji untuk menikmati makan siang. Sedang lainnya, sibuk melihat-lihat barang yang dijajakan di setiap toko atau kios.

Khawatir tersesat dan butuh waktu lama jika mencari sendiri, akhirnya Sali memutuskan untuk bertanya kepada salah seorang satpam. Setelah mendapat jawaban, Sali langsung menuju ke arah yang diinformasikan oleh satpam tersebut. Beberapa saat kemudian, Sali sudah berada di atas sebuah elevator yang bergerak turun menuju lower ground.

Sesuai dengan informasi yang diberikan oleh Zul, dari elevator tersebut, Sali melangkahkan kakinya ke arah kanan. Rupanya di lower ground inilah tempat orang-orang belanja kenutuhan sehari-harinya. Begitu pikir Sali ketika melihat ke sisi kanan di mana para pengunjung sedang mengantri di depan para kasir. Sementara di sebelah kiri, Sali melihat beberapa kios kecil yang menjajakan aneka jajajan seperti donat kentang, somay, roti, dan sebagainya.

Sali masih terus melangkahkan kakinya sambil memperhatikan keadaan sekelilingnya sambil mencari petunjuk di mana lokasi arena permainan untuk anak-anak.

Akhirnya Sali menemukan sebuah papan berisi tulisan lokasi arena permainan anak-anak. Tulisan tersebut memberikan petunjuk bahwa dia harus berjalan lurus terus. Sali pun mengikuti petunjuk tersebut. Rupanya sudah tidak jauh. Hanya sekitar dua puluh meter dari papan petunjuk tersebut, Sali sudah menemukan arena permainan untuk anak-anak.

“Di mana Zul?” Tanya Sali dalam hati ketika tidak menemukan sosok Zul di bagian depan arena permainan.

Sali terus melangkahkan kakinya untuk lebih masuk lagi ke dalam arena permainan tersebut. Tak lama kemudian, Sali menemukan Zul yang sedang duduk di salah satu kursi yang bersebelahan dengan arena permainan yang bernama Ocean Playland. Zul duduk dengan wajahnya mengarah ke sekumpulan anak yang sedang bermain di dalam arena permainan tersebut. Sali segera mendekati Zul.

“Assalaamu ‘alaikum, Zul!” Ucap Sali ketika sudah berada di samping Zul.

“Wa ‘alaikumus salaam,” jawab Zul. “Silahkan duduk, Sal!” Sambung Zul.

“Terima kasih.”

“Di jalan lancar?”

“Alhamdulillah, lumayan lancar. Mungkin karena hari libur dan cuaca cukup terik, jadi banyak orang yang memilih untuk tidak keluar rumah.”

“Maaf ya, Sal. Kamu harus datang ke tempat yang jauh dari rumahmu.”

“Nggak apa-apa, Zul. Sekalian nostalgia, dulu aku kan pernah tinggal di daerah dekat sini.”

“Oh, iya. Aku lupa. Sudah shalat dan makan?”

“Sudah. Tadi sebelum ke sini aku sudah shalat dan makan di rumah.”

Keduanya kemudian terdiam. Pandangan Zul kembali tertuju pada sekelompok anak yang sedang bermain di dalam Ocean Playland. Sali pun mengarahkan pandangannya mengikuti Zul tanpa mengerti maksud dan tujuan Zul melakukan hal tersebut.

“Sal, aku akan menjelaskan apa yang belum sempat aku sampaikan di pertemuan kita terakhir beberapa waktu lalu. Setelah aku menyampaikan semuanya, aku serahkan kembali jawaban kepadamu, apakah kau bersedia atau tidak untuk memenuhi keinginanku menjadikanmu sebagai pendampingku, menjadi istriku.” Zul membuka pembicaraan kemudian mengajukan sebuah pertanyaan sebelum melanjutkan kalimatnya, “Kau sudah siap untuk mendengar penjelasanku?”

“Aku siap, Zul!” Jawab Sali dengan cepat meski masih ada kebingungan dalam dirinya untuk menerka apa yang akan dijelaskan Zul kepadanya.

“Adalah ibuku yang berkeinginan keras untuk melihat aku menikah lagi. Ibu memintaku untuk segera mencari istri. Ibu pernah berpesan agar aku tidak terjebak dengan penampilan luar perempuan semata. Tak salah jika memilih perempuan yang cantik, asalkan kecantikan wajahnya diiringi dengan kecantikan hatinya. Pesan itulah yang mendorong diriku untuk memintamu menjadi pengganti sayapku yang telah patah. Kujatuhkan pilihan kepadamu karena aku pernah mengenalmu meski cuma sekilas ketika kita masih sama-sama duduk di SMA dulu.” Zul memulai penjelasannya.

“Menikah lagi? Jadi Zul sudah menikah?” Sali bertanya-tanya dalam.hati ketika mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh Zul. Namun Sali tidak ingin memotong cerita Zul.

“Kau tahu, Sal? Adalah penampilanmu yang telah berubah dibandingkan dahulu yang telah membuatku jatuh hati. Aku berpikir dan berharap dirimu adalah perempuan yang lebih baik dibandingkan perempuan yang pernah berada di sisiku. Aku pastikan kalau dirimu bukan perempuan yang pertama yang mengisi di ruang hatiku, tapi aku akan berusaha semampuku untuk menjadikanmu perempuan terakhir yang akan mengisi di hatiku dan menemani perjalanan hidupku.” Ungkap Zul.

“Jadi kamu sudah menikah, Zul?” Kali ini Sali memberanikan diri bertanya di sela cerita Zul.

“Sudah pernah menikah, mungkin itu tepatnya,” jawab Zul.

“Maksudmu, bercerai?” Tanya Sali lagi.

“Kau ingat ucapanku ketika memintamu menjadi pendampingku?” Zul balik bertanya.

“Tentang sayap yang patah?” Jawab Sali dengan tak yakin.

“Iya. Saat itu kukatakan bahwa aku pernah mempunyai dua sayap dan salah satu sayapku kemudian patah. Aku pernah menikah dan kemudian bercerai.”

Sali terdiam sejenak. Ada sedikit keraguan dalam dirinya untuk menanyakan penyebab perceraian Zul. Itu hal yang sangat sensitif, menurutnya. Namun akhirnya Sali memberanikan diri untuk bertanya, “Kalau kau merasa tidak keberatan, boleh aku tahu alasan kenapa sampai bisa terjadi perceraian tersebut?”

Zul tidak langsung menjawab. Ia terdiam beberapa saat.

“Ketika itu ada suatu masalah yang terjadi di keluargaku. Sering terjadi konflik antara diriku dan istri.  Kalau masing-masing dari kami bisa berpikir jernih, sebenarnya pemicunya bukanlah sesuatu yang besar. Namun karena terus-menerus bertumpuk, maka masalah tersebut menjadi kian membesar dan melebar. Aku tidak bisa cerita secara mendetil kepadamu, Sal. Jika aku menceritakan semuanya, itu sama saja membuka aib orang lain. Aku tidak bisa.” Jawab Zul kemudian.

“Pada akhirnya, dia memilih jalan yang berbeda denganku. Jika aku masih mau berusaha untuk mempertahankan pernikahan yang telah kami jalani karena itu merupakan komitmen bagiku, tapi tidak dengan dia. Dia memilih untuk pergi.”

“Aku tidak bisa menyalahkan istriku sepenuhnya ketika dia memilih arah yang berbeda denganku. Dia memilih jalan tersebut untuk mencari sesuatu yang lebih baik. Sesuatu yang mungkin tidak bisa dia dapatkan selama berada di sampingku.”

“Itu adalah penyebab pertama yang menimbulkan keraguan di hatiku ketika kau bertanya apakah kesempatan yang pernah kutawarkan kepadamu sebelumnya masih berlaku atau tidak. Aku adalah seorang duda.” Tambah Zul.

Sali hanya bisa diam ketika Zul menceritakan pengalaman pahit di masa lalunya.

“Ayaaah!”

Tiba-tiba terdengan suara anak kecil memanggil. Sali mencoba mencari sumber suara tersebut. Sementara Zul berdiri dari kursinya dan segera melangkah mendekati pagar arena permainan anak-anak.

Sali melihat seorang anak laki-laki dengan usia sekitar tiga tahun berlari sambil tertawa mendekati Zul yang sudah berdiri di dekat pagar.

“Sudah mainnya?” Tanya Zul kepada anak Zul.

“Udah,” jawab anak lelaki tersebut.

Zul kemudian mengangkat anak lelaki tersebut, mencium kedua pipinya, dan menggendongnya. Lalu dia melangkah kembali ke tempat duduk semula. Zul melihat wajah Sali yang menggambarkan kebingungan.

“Ini adalah penyebab kedua, Sal.” Ucap Zul mencoba memberikan jawaban atas kebingungan Sali.

“Ini?” Tanya Sali tanpa bisa menyembunyikan kebingungan di wajahnya.

“Ini anakku, Ahmad Zulkfikar.” Jawab Zul teriring senyuman. “Dia adalah buah hatiku dengan mantan istriku. Usianya sekarang tiga tahun lima bulan.”

“Pantas saja,” ucap Sali pelan.

“Pantas saja? Maksudmu?” Zul balik bertanya.

“Eeee… Pantas saja aku pernah memimpikanmu berada di arena permainan anak-anak, Zul.”

“Jadi kamu pernah memimpikanku, Sal?” Tanya Zul diiringi dengan tawa.

“Kok malah tertawa?”

“Aku merasa aneh saja sekaligus tersanjung karena kau memimpikanku.” Jawaban Zul masih diringi dengan tawanya.

“Sal!” Ucap Zul. “Sekarang kau sudah tahu status dan kondisiku yang sebenarnya. Besar harapanku kau mau menerimaku sebagai pendamping hidupmu. Tetapi aku juga harus sadar diri siapa diriku sekarang. Jika beberapa waktu yang lalu kau bertanya apakah kesempatan itu masih ada, jawabanku adalah jelas masih ada. Tetapi untuk mengambil kesempatan itu atau tidak, semuanya terserah dirimu. Apa pun yang langkah yang kau ambil, kuharap itu yang terbaik untukmu.”

“Aku perlu waktu, Zul. Boleh?” Pinta Sali.

“Tentu saja boleh, Sal. Aku tidak ingin kau mengambil keputusan, apapun itu, dengan tergesa-gesa. Karena berdasarkan pengalamanku, sesuatu yang tergesa-gesa akan mendatangkan hasil yang tidak baik.”

“Ayah, ke umah yuk!” ucap Zul kecil di sela-sela pembicaraan Zul dan Sali.

“Mau pulang yah?” Tanya Zul kepada anaknya.

“Iya. Cape!” jawab Zul kecil.

“Sal, sepertinya aku harus pulang. Anakku sudah cape dan memang sudah waktunya tidur siang. Terima kasih karena kamu sudah mau datang ke tempat ini dan mendengarkan semua ceritaku,” ucap Zul.

“Sama-sama, Zul. Aku juga mau pulang.”

Lalu keduanya bangkit dari tempat duduk masing-masing secara bersamaan. Zul melangkah sambil menggendong Zul kecil di pundak sebelah kirinya, sementara Sali mengiringi langkahnya di sisi kanan Zul.

Setelah bersama-sama menaiki elevator menuju lantai dasar, Zul dan Sali berpisah. Keduanya berjalan ke arah yang berbeda karena ketika datang, keduanya memarkir motor masing-masing di tempat parkir yang berbeda.


Baca Bab Sebelumnya :

23 thoughts on “Dua Zul – Part 1

  1. gegekrisopras April 2, 2015 / 13:40

    pernah juga diajak nikah sm seorang duda beranak dua, tp ya gitu deh…
    *curhatz*

    • jampang April 3, 2015 / 21:07

      ditolak yah? 😀

      apakah cerita di atas akan berakhir begitu juga?

      • gegekrisopras April 4, 2015 / 01:33

        Yah kalo cerita diatas mah suka2 mas Jampang endingnya mo gimana 😄
        Saya bilang ga bisa sm dia krn banyak pemikiran sih, mikirnya lama juga smpe kematangan hahaha lol

      • jampang April 4, 2015 / 05:33

        iya yah. kan saya yang bikin cerita😀

  2. Ria Angelina April 2, 2015 / 15:50

    ‘walaikumus oh yang benar itu aku kira walaikum salam.

    lanjut lagi ceritanya..

    • jampang April 3, 2015 / 21:10

      kalau di tulisan bahasa arabnya bacanya memang begitu mbak… wa’alaikumus salaam

      tunggu aja lanjutannya…. insya Allah

      • Ria Angelina April 5, 2015 / 17:05

        Makasiiih ini ilmu buat aku.

      • jampang April 5, 2015 / 20:33

        sama-sama, mbak

  3. Rahmat_98 April 2, 2015 / 16:08

    Hmm… masih sabar menunggu kelanjutan ceritanya bang.

    • jampang April 3, 2015 / 21:10

      orang sabar disayang Allah, bang😀

      • jampang April 5, 2015 / 20:27

        aamiin😀

  4. Attar Arya April 2, 2015 / 21:29

    moga segera jadi buku, yah, Rif🙂

    • jampang April 3, 2015 / 21:11

      sebenarnya sudah jadi…cuma nggak diproduksi lagi… yang diposting ini versi revisinya

      • Attar Arya April 6, 2015 / 07:40

        oooh.. dari buku dijadiin cerbung. ya ya ya…🙂

      • jampang April 6, 2015 / 08:03

        mungkin nanti mau diterbitkan ulang karena awal dan akhirnya ada perbedaan

      • Attar Arya April 6, 2015 / 09:04

        Semoga lancar urusannya..🙂

      • jampang April 6, 2015 / 09:27

        aamiin. terima kasih, bang

  5. alrisblog April 4, 2015 / 01:29

    ditunggu lanjutannya.
    kalo ada bukunya boleh juga tuh bang, hehe…

    • jampang April 4, 2015 / 05:31

      insya Allah, mas
      ada cuma buat koleksi pribadi. tapi mungkin nanti ada rencana cetak ulang

  6. Ryan April 4, 2015 / 10:19

    Kok kayak baca kisah seseorang ya Mas. Hehehehe.
    Ditunggu lanjutannya.

    • jampang April 5, 2015 / 20:27

      kisah banyak orang…. bisa jadi😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s