Dua Zul – Part 2

Cerita Sebelumnya….

“Sal!” Ucap Zul. “Sekarang kau sudah tahu status dan kondisiku yang sebenarnya. Besar harapanku kau mau menerimaku sebagai pendamping hidupmu. Tetapi aku juga harus sadar diri siapa diriku sekarang. Jika beberapa waktu yang lalu kau bertanya apakah kesempatan itu masih ada, jawabanku adalah jelas masih ada. Tetapi untuk mengambil kesempatan itu atau tidak, semuanya terserah dirimu. Apa pun yang langkah yang kau ambil, kuharap itu yang terbaik untukmu.”

“Aku perlu waktu, Zul. Boleh?” Pinta Sali.

“Tentu saja boleh, Sal. Aku tidak ingin kau mengambil keputusan, apapun itu, dengan tergesa-gesa. Karena berdasarkan pengalamanku, sesuatu yang tergesa-gesa akan mendatangkan hasil yang tidak baik.”

Selengkapnya bisa dibaca di sini.

 

ayah dan anak

Sabtu dan Minggu adalah hari ayah dan anak bagi Zul. Setelah lima hari kerja, Zul hanya bertemu dengan Zul kecil hanya di malam hari. Di dua hari tersebut Zul bisa puaskan bermain bersama Zul kecil yang terkadang membuatnya kewalahan. Apalagi setelah Zul berpisah dengan sang istri, Mira, hari-hari bersama Zul kecil menjadi berkurang karena keduanya berbagi waktu pengasuhan.

Setelah hari Sabtu kemarin, Zul mengajak Zul kecil ke arena permainan dan bertemu dengan Sali, maka di hari minggu ini, Zul akan mengajak Zul kecil untuk bersama-sama melaksanakan beberapa aktifitas seperti membawa motor ke bengkel dan mencucinya di tempat pencucian motor.

Sekitar pukul sembilan pagi, Zul dan Zul kecil pergi ke bengkel motor yang letaknya tak jauh dari rumah. Tiba di bengkel, motor Zul langsung ditangani. Mungkin karena hari masih pagi sehingga Zul menjadi pelanggan pertama yang datang di bengkel tersebut.

Ketika keduanya menunggu motor diperiksa dan diservis oleh montir, Zul melihat pandangan mata Zul kecil langsung tertuju pada pedagang mainan yang sedang mangkal di depan bengkel. Zul menawarkan untuk ke sana, Zul kecil pun mengangguk.

Setelah dekat, Zul menanyakan mainan apa yang Zul kecil mau. Pertama, mainan balon yang diisi air, yang memainkannya hanya dengan menggoyang-goyangkannya sehingga balon tersebut naik turun, persis dengan permainan yoyo. Zul kecil tidak tertarik. Zul alihkan pilihan kepada mainan kedua, sama-sama berupa balon yang berisi air, hanya saja memainkannya dengan menusuk balon hingga air di dalamnya keluar. Mainan sekali pakai, kali ini Zul yang tak berminat. Di jenis mainan ketiga yang berupa buble atau gelembung sabun, barulah keduanya sepakat. Zul pun membelikan mainan tersebut untuk Zul kecil.

Awalnya, Zul kecil kesulitan untuk memainkan buble tersebut. Namun setelah Zul memberitahukan bagaimana cara memainkannya, Zul kecil pun langsung asyik bermain sendiri.

Ketika motor Zul sudah selesai diservis serta ganti oli, maka tiba waktunya untuk segera pergi ke tempat pencucian motor. Zul kecil yang masih asyik bermain-main tidak mau diajak pergi. Untunglah Zul berhasil membujuknya dengan memberitahukan bahwa nanti bisa main lagi di tempat pencucian motor.

Tak lama kemudian, keduanya tiba di tempat pencucian motor. Sambil menunggu motor dibersihkan, kembali Zul mengajak Zul kecil bermain buble sesuai janjinya. Dengan senang hati Zul kecil asyik meniup buble sambil tertawa ceria. Ada rasa bahagia menyeruak di hati Zul menyaksikan anaknya begitu senang dengan permainannya.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, sepeda motor Zul selesai dicuci. Kembali Zul harus membujuk Zul kecil untuk menghentikan mainnya sementara waktu. Kali ini Zul kecil langsung menurut. Keduanya segera menaiki motor, melaju di atasnya hingga tiba di rumah beberapa waktu kemudian.

 —–ooo0ooo—–

Tiba-tiba Zul merasakan ada seseorang mendekat. Tubuh Zul digoyang-goyangkan. Mata Zul masih terpejam. Lamat-lamat telinga Zul mendengar suara adzan. Lalu sebuah ciuman mendarat di pipi kanan nya.

“Yah, angun! Owah di majid!” suara Zul kecil membangunkan Zul dan mengingatkannya untuk shalat di masjid.

Zul pun segera bangkit dan berwudhu.

“Yah, ikut!” pinta Zul kecil agar diajak shalat di masjid.

Tanpa pikir lagi, Zul pun meminta Zul kecil segera mengenakan sendalnya. Lalu keduanya berangkat ke masjid.

Jarak dari rumah ke masjid tidaklah jauh, mungkin hanya sekitar lima puluh meter saja, namun untuk menuju ke sana harus melewati beberapa kali pertigaan jalan kecil. Di setiap kali pertigaan, Zul kecil selalu mengajukan pertanyaan yang sama.

“Yah, lewat ana?”

“Ke kanan!”

“O… ini ya, Yah?”

“Iyah.”

Empat kali pertigaan, empat kali juga pertanyaan tersebut Zul kecil ajukan kepada ayahnya. Tetapi ketika jalannya lurus, Zul kecil langsung berlari-lari kecil di depan sambil berkata, “Tinggal Ayaaah!” sambil tertawa.

Tiba di masjid, melihat banyak orang yang wudhu, Zul kecil langsung minta wudhu juga.

“Langsung shalat aja yah!” Perintah Zul.

Namun Zul kecil tidak mau dan tetap meminta untuk berwudhu. Maka Zul pun menunggu orang-orang antri berwudhu. Setelah agak sepi, barulah Zul mendekatkan Zul kecil ke kran.

“Tapak tangan! Muka! Tangan! Kepala! Kaki!” begitulah Zul memberi komando yang langsung diikuti Zul kecil semampunya.

Begitu selesai wudhu, keduanya langsung masuk ke dalam masjid dan masuk dalam barisan jama’ah. Rakaat pertama, Zul kecil mengikuti semua gerakan shalat, bahkan sesekali dari mulutnya keluar lafaz takbir sekenanya. Namun di rakaat kedua, dia sudah tidak konsentrasi lagi. Tubuhnya berputar ke kiri dan ke kanan memperhatikan jama’ah anak-anak lain.

Selepas melaksanakan shalat, Zul dam Zul kecil melangkah menaiki tangga masjid. Lalu Keduanya duduk di salah satu anak tangga dengan wajah menghadap ke arah timur, di mana terlihat langit berwarna biru cerah. Keduanya merasakan kesejukan ketika sesekali angin bertiup cukup kencang menyapa wajah dan tubuh masing-masing.

Zul mengulang sebuah pertanyaan yang pernah diajukannya kepada Zul kecil beberapa waktu yang lalu. “Apakah Ayah pernah menyakitimu, Zul?”

Tak perlu lama bagi Zul untuk mendapatkan sebuah jawaban keluar dari mulut mungil itu. “Nda!”

Meskipun demikian, sebuah permohonan maaf tetap Zul ucapkan.

Lalu Zul mengajukan pertanyaan lain. Pertanyaan yang baru pertama kali diajukan sejak tanggal di mana sebuah peristiwa besar terjadi dalam perjalanan hidup mereka berdua. Meski ada sangsi apakah lelaki kecil itu akan mengerti atau tidak, tapi pertanyaan tersebut tetap diajukan juga.

“Zul marah nggak karena Ayah dan Bunda berpisah?” Dengan berat hati Zul bertanya demikian.

Zul kecil mengucapkan kata “Nda” sebagai suatu jawaban. Suaranya pelan.

“Zul sedih?” Itulah pertanyaan Zul selanjutnya.

“Sedih!” Kata itu yang terdengar, begitu pelan.

Mendengar jawaban itu, sedih pula yang menyelimuti hati Zul. Siapakah yang tak bersedih? Mungkin hanya orang-orang yang tak berhati dan berperasaan. Tapi itulah kenyataan yang harus dijalani kedua Zul.

Namun ada rasa haru yang merasuk ke dalam jiwa Zul, ketika lelaki kecilnya mengatakan bahwa kesedihannya tidak ada lagi jika keduanya bersama-sama. Zul mengerti bahwa jiwa suci yang masih murni itu tak kan perna berniat menghibur semata, apalagi berdusta atas semua jawaban dan cerita polosnya.

Selepas pembicaraan dari hati ke hati itu, Zul kecil merajuk agar diajak ke tempat bermain dan makan ayam yang ada garing-garingnya, sebutan Zul kecil untuk ayam goreng (fried chicken). Zul pun menyanggupi.

Tiba di ITC Permata Hijau, Bapak dan anak tersebut segera menuju sebuah restoran cepat saji. Di depan kasir, Zul menanyakan menu apa yang diinnginkan anaknya.

“Ayam, nasi, ama kentang.” Jawab Zul kecil.

“Minumnya apa?”

“Susu cokat.”

Selesai transaski di kasih, Zul mengajak Zul kecil duduk dan selanjutnya menyantap menu yang sudah tersedia di atas meja.

Sekitar setengah jam kemudian, makan siang keduanya pun selesai. Selanjutnya, Zul mencari arena bermain untuk Zul kecil. Zul lebih senang mengajak anaknya ke istana balon, karena biasanya ramai dengan anak-anak dan Zul kecil bisa aktif serta sedikit bersosialisasi. Tapi hari itu tak ada istana balon di lantai dasar. Akhirnya Zul jatuhkan pilihan ke arena bermain yang pernah juga disinggahi Zul kecil. Tapi, jika main di tempat tersebut, Zul kecil hanya fokus pada satu mainan saja, yaitu mobil-mobilan. Dan hari itu pun demikian.

[Bersambung]


Baca Bab Sebelumnya :

20 thoughts on “Dua Zul – Part 2

  1. Syifna April 14, 2015 / 17:37

    Jadi endingnya gmn yaaa hehehe …

    • jampang April 15, 2015 / 07:43

      tunggu aja lanjutannya😀

  2. capung2 April 14, 2015 / 17:50

    Beberapa mainan yg dibeli Zul kecil, legend bnget itu.

  3. Rahmat_98 April 15, 2015 / 08:52

    Masih tetap setia nunggu kelanjutan ceritanya bang.
    Semakin penasaran😀

  4. Ryan April 15, 2015 / 16:39

    Masih bersambung lagi. Kirain dah ada jawaban.

    • jampang April 16, 2015 / 13:58

      kalau bisa diperpanjang episodenya biar bisa tayang lebih lama😀

      • Ryan April 16, 2015 / 13:59

        Hahahahaha. Jadi diperpanjang nih. Jangan sampai ada session 6 ya mas.

      • jampang April 16, 2015 / 14:18

        😀
        tergantung idenya… mungkinkah akan ada season ramadhan juga?

      • Ryan April 16, 2015 / 14:20

        Hahaha. Bisa bisa.

      • jampang April 16, 2015 / 15:42

        😀

  5. gegekrisopras April 16, 2015 / 12:53

    Mas ini awal mula ceritanya yg mana ya kok saya ga ngikutin dr awal hmmm:/
    Anyway penasaran sm kelanjutannya hehehe

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s