Dua Zul – Part 3

Cerita Sebelumnya….

“Zul marah nggak karena Ayah dan Bunda berpisah?” Dengan berat hati Zul bertanya demikian.

Zul kecil mengucapkan kata “Nda” sebagai suatu jawaban. Suaranya pelan.

“Zul sedih?” Itulah pertanyaan Zul selanjutnya.

“Sedih!” Kata itu yang terdengar, begitu pelan.

Mendengar jawaban itu, sedih pula yang menyelimuti hati Zul. Siapakah yang tak bersedih? Mungkin hanya orang-orang yang tak berhati dan berperasaan. Tapi itulah kenyataan yang harus dijalani kedua Zul.

Selengkapnya bisa dibaca di sini.

******

Zul baringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memutar file video Zul kecil di hari pertama bersamanya minggu lalu melalui handphonenya.

Terlihat Zul kecil bermain dengan memanjat satu per satu anak tangga yang terbuat dari besi itu bersama beberapa anak lainnya. Ketika pertama kali turun setelah menaiki tangga tersebut, Zul kecil sempat terpeleset. Tapi hal tersebut tidak membuatnya kapok untuk bermain lagi.

Dalam video yang berdurasi hampir dua menit tersebut, Zul kecil hanya terekam bermain dua kali naik dan turun. Adegan di mana Zul kecil mengecup bibir sang ayah menjadi penutup video tersebut. Namun setelah itu, kembali bermain hingga entah berapa kali Zul kecil menaiki dan menuruni anak tangga itu.

Video tersebut kembali Zul putar karena terlintas ingatan dalam pikirannya tentang beberapa kejadian bersama Zul kecil minggu lalu yang membuatnya sedikit bertanya-tanya. “Ada apa dengan Zul kecil?”

Kejadian pertama adalah ketika Zul membawa hadiah kompor gas atas pembelian sebuah mesin cuci di sebuah mall pada hari minggu, hari kedua bersama Zul kecil. Saat itu Zul menggendong Zul kecil di lengan kiri, sementara lengan kanannya membawa kompor gas dengan cara seolah-olah seperti menggendongnya.

“Ini Zul!” ucap Zul kecil sambil menunjuk ke arahnya sendiri. “Ini bayi!” Sambungnya sambil menunjuk ke arah kompor.

“Apakah Zul kecil teringat dengan tetangga rumah eyangnya yang menurut ceritanya memiliki seorang bayi? Atau Zul kecil menginkan seorang adik?” Pertanyaan itu muncul di dalam pikiran Zul.

Jika kondisi pertama yang menjadi penyebabnya, tentunya Zul tak ambil pusing. Tetapi jika kondisi pertama yang menjadi penyebabnya, Zul pasti sedih. Bukan karena kondisi dirinya sekarang yang tanpa pendamping, tetapi teringat kejadian suatu hari di mana dirinya menangis karena keinginan untuk memiliki banyak anak, atau minimal tiga saja sudah tidak bisa. Mira, Istri Zul, hanya menginginkan satu anak saja.

Rezeki yang menjadi faktor kekhawatiran sang istri. Padahal dalam pandangan Zul, setiap anak membawa rezeki masing-masing. Dengan rezeki yang ada, Zul yakin bisa dibagi dengan bertambahnya jumlah anggota keluarga. Ibu dan ayahnya saja, yang tanpa pendidikan tinggi bisa menghidupi kelima anaknya dan mencetak empat sarjana, apalagi dirinya yang mungkin berada dalam kondisi lebih baik. Zul berharap sikapnya yang demikian bukanlah sebuah kesombongan, melainkan sebuah optimisme.

Dengan hati sedih dan linangan air mata, Zul menerima keputusan itu. Kehadiran Zul kecil harus tetap disyukuri, karena masih banyak pasangan yang belum dikaruniakan seorang anak pun.

Kejadian kedua adalah ketika adik Zul datang bersama istrinya untuk menginap. Zul kecil yang biasanya lengket dengan dirinya, langsung menjauh dan memilih bermain dengan om dan tantenya. Bahkan Zul kecil memilih duduk di antara keduanya. Jika tidak ada ruang karena keduanya duduk rapat, Zul kecil akan memaksakan tubuh kecilnya agar bisa duduk di antara keduanya.

Kembali Zul bertanya-tanya, “Ada apa dengan Zul kecil?”

Kejadian ketiga adalah ketika Zul kecil melihat-lihat album fotonya bersama sang Nenek. Menurut cerita Nenek, Zul kecil begitu antusias dengan foto-fotonya itu.

“Nek, ini Zul umur berapa?” Tanya Zul kecil sambil menunjuk salah satu foto.

“Dua tahun,” Jawab Nenek.

Zul kembali membolak-balik lembar album foto tersbut hingga ke bagian foto di mana di tengah-tengah adalah fotonya sendiri dengan memegang bola, sementara di sekeliling foto itu ada foto dirinya dengan sang ayah, berduaan dengan berbagai pose.

“Nek, Nenek berdoa dong supaya Ayah kaya gini lagi,” pinta Zul kecil sambil menunjuk foto dirinya bersama Zul, sang Ayah. “Zul nggak senang kaya gini,” Zul berkata lagi sambil menunjuk fotonya yang hanya seorang diri.

Ibu Zul menangis di akhir ceritanya.

Sementara Zul bertanya-tanya kembali di dalam hati. “Mungkinkah Zul kecil merindukan suasana bersama ayah dan bundanya kembali?”

******

 rindu itu
kadang mengalir
seperti air
kadang berdesir
seperti suara angin semilir
kadang diam
seperti sunyi langit malam
kadang bergejolak
seperti terjangan ombak
kadang menggelegar
seperti sahutan halilintar
kadang memberangus
seperti gunung meletus


Baca Bab Lainnya :

12 thoughts on “Dua Zul – Part 3

  1. Syifna April 21, 2015 / 16:15

    Merinding baca puisi nya om jampang xixixi …

    • jampang April 21, 2015 / 16:36

      tapi masih bisa ketawa😀

    • jampang April 22, 2015 / 08:01

      mudah2an happy ending

  2. capung2 April 21, 2015 / 19:24

    Banyak anak (sholeh) tentu bnyk yang mendoakan kt sbg ortunya.

    • jampang April 22, 2015 / 08:02

      salah satu manfaat punya banyak anak itu, mas

  3. Gara April 21, 2015 / 22:19

    Haduh, puisinya :huhu.
    Kasihan Zul kecil. Semoga ayah dan bundanya bisa bersatu lagi. Dia benar-benar jujur, dengan caranya :)).

      • Gara April 25, 2015 / 17:59

        Anak kecil memang jujur :)).

      • jampang April 26, 2015 / 05:13

        yup. betul

  4. Ryan April 22, 2015 / 18:56

    Tuh Zul kecil merindu seorang bunda.

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s