Belajar dari Bangku Rusak

bangku rusak

Sal, kau masih ingat dengan foto ini? Foto dua buah bangku plastik berwarna merah dan biru. Keduanya tak lagi baru. Bahkan sudah rusak. Ada bagian dari kedua bangku itu yang rusak.

Sal, apa kau masih ingat kapan dan di mana foto itu kuambil? Aku mengambil foto dua bangku rusak itu dengan kamera handphoneku beberapa hari yang lalu ketika kita berbelanja di sebuah mini market. Saat aku melihat kondisi kedua bangku tersebut, terlintas di dalam pikiranku tentang sebuah pelajaran yang mungkin bisa kita ambil untuk bekal kehidupan rumah tangga kita.

Sal, cobalah kau perhatikan kedua bangku plastik itu dengan seksama! Bagaimana pandanganmu tentang keadaan keduanya di foto itu?

Aku melihat dengan jelas bahwa bangku plastik yang berwarna merah itu kondisinya sudah tidak bagus. Ada bagian yang pecah. Jika seseorang duduk di atasnya, aku yakin, bangku plastik yang berwarna merah itu pasti akan bertambah rusak dan akan mengakibatkan orang yang mendudukinya terjatuh dan mungkin terluka.

Aku juga melihat hal yang serupa terjadi pada bangku plastik yang berwarna biru. Ada bagian yang pecah sehingga bangku tersebut tidak bisa lagi menjalankan fungsinya dengan baik lagi sempurna.

Tapi, ketika kedua bangku rusak itu ditumpuk dan disatukan, keduanya memiliki kekuatan baru. Seseorang bisa duduk di atas keduanya dengan nyaman tanpa takut akan terjatuh atau terluka. Bahkan, jika seseorang ingin menginjak atau berdiri di atas keduanya, kedua bangku tersebut masih kuat untuk menahan beban orang tersebut. Bukankah dirimu melihat bahwa salah satu pegawai mini market menjadikan kedua bangku rusak yang ditumpuk itu sebagai pijakan ketika menata barang-barang dagangan di bagian rak yang tinggi?

Aku dan dirimu, mungkin tak jauh berbeda dengan kondisi kedua bangku plastik tersebut. Sebagai manusia, kita berdua bukanlah makhluk sempurna. Aku memiliki kekurangan sebagaimana dirimu memiliki kelemahan.

Aku tak kuasa menjalani kehidupan berumah tangga seorang diri, sebagaimana dirimu juga tak mampu melakukannya. Dan pada kenyataannya, kehidupan berumah tangga tak mungkin dijalani seorang diri. Harus berpasangan. Harus ada laki-laki dan harus ada perempuan. Seorang suami menguatkan istrinya. Seorang istri menopang suaminya. Keduanya harus bersatu tanpa harus menonjolkan kelebihan dan kehebatan masing-masing. Sebab masing-masing punya tugas khusus yang tidak mungkin diemban oleh pasangannya.

Sal, aku lemah. Kamu pun lemah. Tapi kita bisa saling menguatkan untuk tetap melangkah maju dan menyongsong masa depan kita, seperti bangku merah dan biru itu yang saling menguatkan satu sama lain.


Tulisan Terkait Lainnya :

30 respons untuk β€˜Belajar dari Bangku Rusak’

  1. Febriyan Lukito April 30, 2015 / 23:20

    Duh ini Sal masih blm kasih keputusan sejak kemarin. Ke manakah dia?

    • jampang Mei 2, 2015 / 04:28

      πŸ˜€
      kalau di cerita yang tipenya seperti ini… udah beda kondisinya, mas. keputusan itu sudah lama berlalu

    • Gara Mei 1, 2015 / 07:36

      Ndenger kata sinergi kok saya malah ingat yang agak membuat merinding ya Mbak di hari libur yang permai ini :haha.

      • zizadesita Mei 2, 2015 / 06:31

        Salam utk Sal yaa

      • jampang Mei 2, 2015 / 21:51

        saya bingung nyampeinnya… soalnya Sal kan tokoh fiksi πŸ˜€

      • zizadesita Mei 2, 2015 / 21:56

        😁😁😁

      • jampang Mei 3, 2015 / 05:12

        πŸ˜€

    • jampang Mei 2, 2015 / 04:26

      πŸ˜€
      banyak lagi donk Sal… saing lainnya

  2. Gara Mei 1, 2015 / 07:37

    Bersama kita menjadi kuat :)).
    Semoga pasangan Sal dan suaminya itu (si Zul kan yak?) bisa terus jadi sepasang bangku yang mesti rusak namun tetap menguatkan :)).

    • jampang Mei 2, 2015 / 04:26

      aamiin… dan juga pasangan lain yang seperti zul dan sali di dunia nyata πŸ˜€

      • Gara Mei 7, 2015 / 01:21

        Amin amin amin!!

  3. Firman Mei 1, 2015 / 10:00

    pelajaran memang bisa datang dari mana saja, termasuk sepasang bangku rusak itu..

  4. dani Mei 1, 2015 / 13:17

    Dalem Bang. Memang seharusnya seperti itu ya Bang. Saling menguatkan.. πŸ˜€

    • jampang Mei 2, 2015 / 04:24

      iya, mas. kurang lebih seperti itu

  5. zilko Mei 1, 2015 / 15:51

    Dalam refleksinya πŸ™‚ . Memang benar ya, setiap orang itu lemah tetapi kalau bersama-sama bisa menjadi kuat πŸ™‚

    • jampang Mei 2, 2015 / 04:22

      yup. begitulah kira-kira πŸ˜€

  6. alrisblog Mei 1, 2015 / 18:24

    Mantap bang. Saling menguatkan itu bagus.

    • jampang Mei 2, 2015 / 04:22

      iya, mas. seharusnya memang seperti itu

  7. museliem Mei 2, 2015 / 00:47

    Hehehe semaca sapu lidi yah mas…

    • jampang Mei 2, 2015 / 04:21

      bisa juga seperti itu, muse… cuma kalau itu kan jumlahnya banyak πŸ˜€

  8. arip Mei 2, 2015 / 21:40

    Berarti boleh jika pasangan kita rusak atau kitanya yg rusak kalau dianalogikan seperti bangku itu?

    • jampang Mei 2, 2015 / 22:00

      bangku itu rusak makanya tidka sempurna…. sementara manusia kan dari awalnya udah nggak sempurna.

      bisa juga, ketika pasangan kita salah, ditopang dengan cara mengingatinya agar tidak melakukan kesalahan lagi.

      kurang lebih begitu

  9. capung2 Mei 25, 2015 / 09:55

    Dengan berpasangan tentunya ada yg mengingatkan dan inilah nntinya yg semakin kuat spt halnya analogi bngku diatas.

    • jampang Mei 25, 2015 / 10:08

      betul. insya Allah begitu, mas

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s