Berisik, Antri, dan Rokok

sabiq dan batal leher

Berisik, antri, dan rokok adalah tiga hal yang membuat saya tidak nyaman.

Berisik

Dalam postingan saya berjudul “Suara” beberapa waktu yang lalu, saya bercerita tentang kondisi rumah yang saat ini saya tempati bersama Minyu dan Sabiq. Rumah tembok kanan dan depannya berbatasan langsung dengan jalan umum. Bukan jalan besar, hanya berupa gang. Namun gang yang hidup karena selalu dilewati banyak pengguna jalan, mulai pejalan kaki, pengendara sepeda motor, hingga pedagang kelilling dengan ciri khas suaranya masing-masing.

Sebelum kehadiran Minyu dan Sabiq, sebenarnya saya tidak merasa terganggu dengan suara orang, sepeda motor, dan teriakan pedagang yang lalu-lalang di depan rumah. Saya merasa nyaman-nyaman saja. Namun ketika Minyu hadir dan kemudian disusul oleh Sabiq, saya merasa terganggu dengan suara-suara itu. Kenyamanan saya berkurang.

Minyu tidak terbiasa dengan suasana berisik. Suasana rumah kami saat ini berbeda dengan tempat tinggalnya dahulu. Akibatnya, istirahat dan tidurnya terganggu. Mungkin karena sudah ada ikatan batin dengan Minyu, akhirnya, saya pun merasa tidak nyaman.

Suara berisik di luar rumah pun mengganggu Sabiq di jam-jam tidurnya. Sabiq yang baru tertidur kadang terbangun ketika sebuah sepeda motor melintas di depan rumah. Kedua mata Sabiq yang terpejam tiba-tiba kembali terbuka ketika mendengar teriakan atau suara pedagang keliling yang melewati jalan di depan rumah. Di lain waktu, Sabiq yang hampir pulas ketika disusui Umminya, langsung terjaga ketika segerombolan anak berlari dengan menghentak-hentakkan kakiknya sambil berteriak. Sabiq terganggu. Saya juga tidak merasa nyaman.

Antri

Suatu ketika saya berada di dalam antrian di depan ATM. Seorang perempuan di antrian paling depan masuk ke dalam bilik ATM dan mulai bertransaksi.

Waktu berlalu, perempuan di dalam bilik ATM belum juga menyelesaikan transaksinya. Rupanya, transaksinya banyak dan memerlukan waktu yang cukup lama.

Saat menunggu, saya mendengar seorang ibu di dalam barisan antrian berbicara kepada orang di depannya atau di sebelahnya. “Dari saya duduk terus saya berdiri di sini, belum selesai juga.” Kira-kira itu kalimat yang bisa saya tangkap. Mungkin tidak sama persis. Tapi saya tahu apa yang dimaksud oleh ibu itu dalam kalimatnya. Mungkin sudah lebih dari lima menit perempuan itu berada di dalam ATM. Aura gelisah nampak di wajah-wajah yang masih setia dalam barisan antrian. Termasuk saya.

Rokok

Saya bukan perokok. Tapi sering bertemu dan kadang berbicara dengan perokok. Ketika asap rokok bergerak perlahan ke hidung saya dan tanpa bisa saya hindari terhirup hidung, saya mulai merasa tidak nyaman. Sebab yang saya lakukan adalah memasukkan racun ke dalam tubuh saya. Namun hal tersebut sepertinya tidak dirasakan oleh si perokok yang tetap asyik menghembuskan asap rokoknya.

Ingin rasanya saya menegur para pengendara sepeda motor itu agar mematikan mesin sepeda motornya, menegur para pedagang tersebut agar tidak berteriak, menegur anak-anak itu agar tidak berisik ketika melintas di depan rumah. Ingin rasanya saya menegur perempuan itu agar jangan berlama-lama di dalam bilik ATM. Ingin rasanya saya menegur para perokok itu agar segera mematikan rokoknya atau bahkan berhenti merokok.

Sayangnya saya tidak bisa. Saya tidak mampu. Saya berpikir, mereka pasti punya alasan untuk tidak mengindahkan teguran saya. Dan itu membuat ketidaknyamanan yang saya rasakan bertambah.

*****

Tulisan ini diikutsertakan dalam Nadcissism 1st Giveaway


Tulisan Terkait Lainnya :

42 thoughts on “Berisik, Antri, dan Rokok

  1. susanti dewi April 30, 2015 / 11:41

    saya juga paling gak suka sama suara bising dan asap rokok

    • jampang April 30, 2015 / 20:54

      kalau aya… dari ketiganya, paling sering ya… yg nomor satu mbak.

  2. Adi Setiadi April 30, 2015 / 11:57

    membawa buah hati ke lingkungan perokok adalah saat saat yang membuat kami dan buah hati tidak nyaman. Semoga indonesia bisa lebih tertib

    • jampang April 30, 2015 / 13:30

      iya. aturan kan sudah ada. cuma masih banyak yang belum paham.

      • Adi Setiadi April 30, 2015 / 13:58

        betul betul betul..

      • jampang April 30, 2015 / 15:03

        😀

  3. wiblackaholic April 30, 2015 / 12:14

    Sama bang, waktu anak saya masih dibawah 1 tahun, acap kaget kalo ada suara nyaring, tapi lama kelamaan alhamdulillah terbiasa.
    Moga Sabiq dan bundanya nanti juga bisa beradaptasi ya bang.. syukur2 dianugerahkan tempat tinggal lain yang ga terlalu bising.

    • jampang April 30, 2015 / 13:31

      sementara ini ya berharap sabiq dan umminya terbiasa dengan kondisi seperti itu. mudah-mudahan ada rezeki untuk membeli rumah dengan kondisi lingkungan yang lebih nyaman

  4. Gara April 30, 2015 / 13:01

    Suka deh dengan deskripsinya Mas Jampang ini, sederhana tapi dalam dan bermakna banget!
    Saya juga paling kesal dengan bising. Apalagi dengan orang-orang yang tengah malam terus main mengegas motor gede mereka–itu menyebalkan sekali! Yah tapi saya mampunya tinggal di sana–jadi setiap malam menumpuk telinga dengan bantal saja :haha. Harus adaptasi :)).

    • jampang April 30, 2015 / 13:47

      terima kasih, Gar.

      iya, sementara ini karena mampunysa kami tinggal di situ jadi harus beradaptasi😀

  5. edwinlives4ever April 30, 2015 / 13:19

    When somebody use the ATM for so long with lots of other people in queue, I usually advised the person to cut it off and give the others the fair chance. It’s like using public phone, you know.

    I have no problem with noise, but I chose to buy a house in a quiet suburban area. It’s for the kids, and I’ll do whatever I can to keep the area a quiet one. Once a bunch of dirtbiker (about 70 of them) passed through the area with deafening noice in a convoy. So I came out of my house and asked them to turn back. They complied quietly, because I asked politely (although loudly); and maybe because they saw I carried a loaded gun.

    Smoking? I smoke a lot, but I never smoke in a no-smoking area, never smoke near children, never smoke near a woman without asking her permission. In my own quarter or office room, I smoke as I please.

    • jampang April 30, 2015 / 13:53

      saya belum bisa melakukan itu, mas. jadi sementara dinikmati dulu😀

      BTW, tantangan explaining-love-in-10-sentences-challenge itu harus 10 kalimat atau 10 paragraf, mas? yang mas edwin buat itu 10 paragraf yah?

      maaf belum ada ide nih

      • edwinlives4ever April 30, 2015 / 14:01

        The original rule says 10 sentences, and each sentence consists of 4 words. But I prefer 10 points like mine.

      • jampang April 30, 2015 / 15:03

        i see. thanks

  6. naniknara April 30, 2015 / 13:24

    saya juga nggak suka suara berisik, nggak bisa konsen kerja. Tapi kalau tidur sih nggak masalah, kalau sudah ngantuk, biarpun berisik tetep aja bisa pules

    • jampang April 30, 2015 / 13:54

      saya juga kalau sudah ngantuk dan tidur, nggak ngerasa keganggu😀

  7. Nadia Khaerunnisa April 30, 2015 / 14:40

    Huaah..kalo nomor 1 saya suka kesel juga, anak kebangun karena suara bising di luar padahal bikin dia tidur itu susah minta ampun😀 Bingung tp kesel sama siapa soalnya yg ribut pun gak ngeh ada yg keganggu dan kadang biasa aja sih memang haha

    • jampang April 30, 2015 / 15:05

      nah… begitulah mbak kira-kira. kadang timang2 bisa sampe setengah jama biar pules tidurnya… eh kebangun begitu ada motor ngegas… atau pedagang keliling tereak😀

      nah, nggak bisa marah juga… soalnya mereka nggak tahu… dan itu jalanan umum juga

    • Andik Taufiq Mei 2, 2015 / 09:12

      apalagi pas malam tahun baru yak… dar der dor dimana-mana… yg punya bayi pasti kesel… **pengalaman pribadi

      • Nadia Khaerunnisa Mei 2, 2015 / 09:21

        Iya dulu pas taun baru aku br plg dr rumah bersalin banget, bener2 ga bisa tidur smaleman hahaha

      • jampang Mei 2, 2015 / 21:56

        tahun baru kemarin, sabiq baru usia sebulan. untung nggak terlalu berpengaruh seh

      • jampang Mei 2, 2015 / 21:55

        sepanjang malam itu…. malah bersambung besok malamnya😦

  8. ira nuraini April 30, 2015 / 14:48

    yg no 3 bikin sesak napas mas….ampuuun kl urusan yg 1 ini aq…😦

    • jampang April 30, 2015 / 15:07

      kalau sesak napas, saya seh nggak sampe, mbak. tapi ya nggak enak aja jadinya nyium aroma dan menghirup asap beracun

  9. alrisblog April 30, 2015 / 15:15

    Yang paling sebel itu sama perokok gak tau aturan. Udah jelas2 ditulis gede2 dilarang merokok, eh, dengan santainya tetap merokok.

    • jampang April 30, 2015 / 16:42

      ya, begitulah… ada yang begitu, mas

    • jampang April 30, 2015 / 16:43

      apalagi ituuuu…. tapi cuma bisa ngedumel di dalam hati.😦

      • jampang Mei 2, 2015 / 04:30

        belum berani… kecuali dalam situasi tertentu kali yah

  10. zilko April 30, 2015 / 16:11

    Mudah-mudahan masalah rumah berisiknya segera teratasi ya🙂 .

    Untuk masalah mengantri, aku sih tidak masalah kalau harus mengantri. Masalahnya adalah kalau orang yang di depan kita lamaa banget gitu memakai (dalam kasus ini) mesin ATM-nya. Apa dia nggak sadar dia juga ditunggu banyak orang di belakangnya ya? Hahaha😆 .

    Untuk rokok, kalau aku sih bakal aku tegur kalau kejadiannya memang ada di tempat yang tidak diperbolehkan untuk merokok🙂 .

    • jampang April 30, 2015 / 16:45

      kalau antrinya tertib seh saya nggak masalah juga, mas.
      kan kalau kejadian di atas bisa masuk nggak tertib, karena lama banget makenya

      saya belum pernah negur orang yang merokok sembarangan😦

  11. GloryGrant April 30, 2015 / 17:30

    nomor 1 itu mas, suara bising. gimana ngatasinnya kalo pas malam tahun baru dan ada anak kecil. anak nggak bisa tidur karena bunyi petasan. aku setuju juga sama yg nomor 3. perokok pasif lebih rentan kena penyakit paru. apalagi untuk anak-anak.

    • jampang Mei 2, 2015 / 04:32

      kalau pas tahun baru… sepanjang malam, mbak. masangnya di mana, suaranya di mana.
      perokok itu nggak sayang sama dirinya sendiri yah

  12. mellyfeb0805 April 30, 2015 / 19:04

    Saya juga paling keganggu sm asap rokok. Apalagi udah ditegor sopan2 ah malah galak bener, serasa dunia miliknya. Klo bising Sabiq kasih penutup telinga aja bang, atau y oranye gtu. Cm saya lupa, itu untuk usia berapa🙂 Kasian klo kaget2 denger yang bising2

    • jampang Mei 2, 2015 / 04:30

      kalau tidurnya udah pulas banget seh udah nggak keganggu… ini kalau tidurnya masih merem melek gitu.

  13. dani Mei 1, 2015 / 15:32

    Rokok yang saya paling gak bisa toleransi. Kalo bising sama antri masih okelah. Soalnya dulu tumbuh di lingkungan bising. Hihihi. Kalo antri jadi biaa ngamatin orang lain gimana. 😀

    • jampang Mei 2, 2015 / 04:24

      kalau antrinya normal seh masih nggak masalah, mas. kalau kelamaan seperti cerita di atas… atau tiba-tiba ada yang nyelak… bisa lain ceritanya😀

  14. Ari Yudha Prasetyo Mei 3, 2015 / 14:18

    Suara berisik emang ngeganggu dan nggak nyaman. Soalnya bikin nggak konsen.
    Orang yang ngerokok juga nyebelin, enaknya sendiri tapi sakitnya bagi-bagi -_-

    • jampang Mei 3, 2015 / 15:05

      nah benerkan, semua itu nyebelin😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s