[Prompt#78] Nakbah

menikmati senja

Bagimu, menikmati senja kali ini di tempat ini, sama rasanya seperti menikmati senja kemarin. Serupa dengan rasa senja kemarin lusa. Tak berbeda dengan rasa senja minggu lalu atau bulan lalu. Bahkan nyaris menyerupai rasa senja-senja yang terlewat berpuluh-puluh tahun yang lalu. Hanya pedih yang tersisa. Cuma perih yang tertinggal.

Kedua matamu yang basah akibat menahan sakit dari luka yang kau derita menatap apa yang tersaji di atas mejamu. Hanya ada piring-piring kosong melompong, tak ada makanan yang tersisa yang bisa kau nikmati. Kecuali yang menempel di jari-jari tanganmu. Hanya ada gelas-gelas kering kerontang, tak ada air atau minuman yang bisa kau teguk. Kecuali di dalam gelas yang ada di dalam genggaman tanganmu. Semuanya sudah habis. Ludes tak tersisa. Hilang.

“Bukan hilang!” bantahmu. “Hanya berpindah tempat saja,” sambungmu kemudian.

Lalu kedua matamu menatap ke arah meja lain yang sisinya menyatu dengan mejamu. Matamu menemukan piring-piring yang di atasnya tersaji aneka makanan berbagai rupa. Kau juga melihat banyak gelas yang berisi aneka makanan dan minuman dengan berbagai warna dan rasa.

“Aku pernah merasakan semua makanan dan minuman itu!” ucapmu lirih. “Bahkan di masa sebelumnya, semua itu adalah milikku!”

Selepas mengucapkan kalimat tersebut, pandangan matamu langsung tertuju ke arahku.

“Kamu tak percaya?” tanyamu seakan bisa membaca apa yang sedang bergejolak di dalam pikiranku.

Kau tak langsung melanjutkan kalimatmu. Kau alihkan pandanganmu ke ufuk barat di mana senja sedang mengucapkan beberapa kalimat perpisahan kepada para penikmat dan pecintanya.

Sebuah tarikan napas panjang yang terdengar sangt berat mengawali kalimat-kalimat yang meluncur dari lidahmu.

“Dahulu, meja ini dan meja itu adalah satu meja besar. Di atasnya tersaji banyak makanan dan minuman. Semuanya milikku. Kemudian ada yang datang ke hadapanku dan secara pelan tapi pasti mengambil dengan terang-terangan apa yang menjadi milikku. Lantas mengakui semua itu menjadi miliknya.”

Kalimatmu terhenti. Pandangan matamu kini beralih ke diriku.

“Aku melawan!” lagi-lagi sebuah kalimat yang terlontar dari mulutmu menjawab pertanyaan di dalam benakku yang belum sempat kuutarakan. “Dan aku akan terus melawan sampai kapan pun. Dengan atau tanpa bantuanmu!”

Senja mulai meninggalkan semburatnya di langit yang kemudian hilang perlahan-lahan dan berganti dengan gulita di langit.

Wajah letihmu melukiskan sebuah senyuman. “Aku masih bisa menikmati senja hari ini, esok, maupun lusa. Bahkan aku bisa menikmati senja bertahun-tahun lagi. Kau tak usah khawatir. Aku tak akan hancur. Aku akan baik-baik saja!”

Tiba-tiba terdengar iringan musik yang bersumber dari sebuah televisi berlayar datar dan lebar yang menempel di salah satu dinding ruangan. Sebuah musik sebagai penanda hadirnya sebuah acara yang menyampaikan berita secara singkat singkat.

“Hari ini, 15 Mei 2015, rakyat Palestina mengenang Hari Nakbah, yaitu hari terjadinya pengusiran bangsa Palestina yang mendorong terbentuknya Israel pada tahun 1948. Sementara sehari sebelumnya, Israel merayakan hari kemerdekaan.”


Untuk Prompt #78 – Menikmati Senja

—o0o—

Hari Nakba (bahasa Arab: يوم النكبة ; Yawm an-Nakbah, berarti “hari kehancuran”) adalah hari peringatan tahunan untuk pengusiran bangsa Palestina yang mendorong terbentuknya Israel pada tahun 1948.[1] Hari ini diperingati pada 15 Mei, satu hari setelah tanggal Gregorian untuk hari kemerdekaan Israel (Yom Ha’atzmaut).

Di Israel, peringatan Hari Nakba oleh warga Arab diadakan bersamaan dengan Yom Ha’atzmaut (Hari Kemerdekaan Israel) yang dirayakan di Israel pada tanggal Ibrani (5 Iyar atau satu hari sebelum atau sesudahnya). Karena adanya perbedaan antara kalender Ibrani dan Gregorian, Hari Kemerdekaan dan tanggal resmi 15 Mei untuk Hari Nakba biasanya bertabrakan setiap 19 tahun.[2]

sumber : wikipedia


Baca Juga Monday Flash Fiction Lainnya :

16 thoughts on “[Prompt#78] Nakbah

  1. Firman Mei 17, 2015 / 21:44

    Generasi tua sudah meninggal dunia, generasi muda tidak melupakannya.

    • jampang Mei 18, 2015 / 07:51

      sampai kapanpun mungkin tidak akan pernah terlupakan

  2. dani Mei 17, 2015 / 23:57

    Makasih Bang sudah diingatkan

  3. damarojat Mei 18, 2015 / 10:35

    kamu dan aku itu berteman atau gimana mas? atau kamu itu sesuatu bukan seseorang ketika ia bisa menikmati senja lagi dan lagi?

    • jampang Mei 18, 2015 / 10:42

      aku dan kamu itu saya analogikan sebagai negara, mbak.

      Kamu = palestina
      Aku = Indonesia

      • damarojat Mei 18, 2015 / 22:36

        oalaah…gitu to. baru mudeng saya mas. makasih kisah nakbahnya.

      • jampang Mei 19, 2015 / 07:35

        ya mungkin emang membingungkan seh yah 😀 harap maklum

        sama-sama, mbak

  4. syifarah03 Mei 18, 2015 / 16:30

    Thanks mas udah mengingatkan, tetap pedih sampai kapanpun juga.

  5. Attar Arya Mei 20, 2015 / 07:54

    aku nggak ngeh sama analogi indonesia – palestina ini… 😦

    • jampang Mei 20, 2015 / 08:02

      gpp, bang. mungkin banyak yang kurang jadi malah bikin bingung sebagian orang

  6. Orin Mei 20, 2015 / 10:12

    owh…aku pikir analoginya Palestina-Israel, bang. salah ternyata..

    • jampang Mei 20, 2015 / 10:16

      israelnya seh tersirat aja teh… berupa meja yang penuh makanan itu

      sedang yang seperti berdialog indonesia dan atau negera-negara lain dengan palestina

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s