Romantismu

love wallpaper

Zul, di mataku, kau adalah lelaki dan suami yang romantis. Meski dahulu di saat memperkenalkan diri melalui sepucuk surat, kau menyatakan dirimu sebagai sosok lelaki yang tak romantis, tidak demikian menurutku. Aku mulai berpikir, jangan-jangan kau menyebut dirimu demikian agar diriku tak menuntutmu untuk menjadi suami yang romantis. Mungkin itu caramu agar diriku tidak mengharapkan sesuatu yang lebih dari dirimu. Menurutku, tak ada yang salah dengan hal itu.

Zul, kau pernah merangkai kata-kata puitis dalam beberapa bait puisi. Itu romantismu dalam kata-kata. Kau sering mengatakan “aku sayang kamu” atau “I love you” kepadaku. Itu juga romantismu dalam kata-kata. Kau sering mencium dan memelukku. Itu romantismu dalam perbuatan.

Begitulah romantismu yang dahulu pernah kurasakan, Zul. Kini seiring perjalanan waktu dan kehadiran buah hati di tengah-tengah kita, romantismu mengalami perubahan.

Ucapan “aku sayang kamu” atau “I love you” kini jarang terlontar dari mulutmu. Atau jangan-jangan aku yang tak mendengar saat kau mengucapkannya, sebab indra pendengaranku tak bekerja maksimal di saat aku terlelap karena lelahku setelah seharian bersama buah hati kita. Aku juga tak merasakan manisnya kecupanmu dan hangatnya pelukanmu seperti dahulu. Atau jangan-jangan indra perasaku melewatkan momen-momen itu bersamaan dengan terpejamnya kedua mataku.

Zul, aku yakin, kau masih romantis. Mungkin romantismu tak sama seperti yang dahulu. Ada perubahan. Tak mengapa. Bagiku itu bukan masalah. Aku memakluminya. Lagi pula, yang terpenting bagiku adalah kau tetap melakukan sesuatu yang romantis.

Di saat mataku hampir terpejam karena rasa kantuk yang menyerang, kau segera mengambil buah hati kita dari gendonganku untuk kemudian menimang-nimangnya. Sementara diriku kau minta untuk segera tidur. Itu romantis, Zul.

Di saat aku sedang menyusui, kau menuangkan air minun ke gelasku lalu mendekatkan gelas tersebut dengan tangnmu ke mulutku agar aku bisa meminumnya. Itu sangat romantis, Zul.

Ketika aku sedang menikmati sarapan atau makan malam, lalu kutinggalkan karena buah hati kita menangis kehausan, kau langsung menyuapiku. Iru romantis, Zul.

Ketika di pagi hari, sebelum dirimu berangkat ke kantor, kau membantuku mencuci pakaian kotor buah hati kita, itu juga romantis, Zul.

Kau masih lelaki yang kukenal. Lelaki yang romantis. Meski bukan dengan kata-kata dan perbuatan yang sama. Itu tak masalah bagiku. Aku bisa memakluminya. Yang pasti, aku masih merasakan romantisme dari dirimu, Zul.


Baca Juga Seri Samara Lainnya :

16 thoughts on “Romantismu

  1. mas huda Mei 26, 2015 / 22:54

    Semoga aku selalu bisa romantis ke istriku

  2. zilko Mei 27, 2015 / 03:38

    Bentuk romantisme memang bisa bermacam-macam ya😀

    • jampang Mei 27, 2015 / 07:54

      betul, mas😀
      tergantung penilaian pribadi masing-masing

  3. heavendrive Mei 27, 2015 / 07:07

    aku Rama mas, bukan Zul….. #eh

  4. ipah kholipah Mei 27, 2015 / 10:09

    aku harus romantis juga engga yaaaah😀

  5. Susie Ncuss Mei 27, 2015 / 14:44

    skrg yang lebih romantis itu… malah suami saya, hehehehe

    • jampang Mei 27, 2015 / 16:00

      mungkin suami juga berpikir hal yang sama dengan diri mbak, jadi sama-sama romantis😀

  6. Gara Mei 27, 2015 / 17:43

    Romantis itu banyak macamnya, dan selalu bisa dimulai dari hal-hal kecil ya Mas :hehe.

    • jampang Mei 27, 2015 / 21:35

      kira-kira begitulah, gar😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s