Tukang Cireng yang Baik Hati

Cireng (singkatan dari aci goreng, bahasa Sunda untuk ‘tepung kanji goreng’) adalah makanan ringan yang berasal dari daerah Sunda yang dibuat dengan cara menggoreng campuran adonan yang berbahan utama tepung kanji atau tapioka. Makanan ringan ini sangat populer di daerah Priangan, dan dijual dalam berbagai bentuk dan variasi rasa. Makanan ini cukup terkenal pada era 80-an. Bahan makanan ini antara lain terdiri dari tepung kanji, tepung terigu, air, merica bubuk, garam, bawang putih, kedelai, daun bawang dan minyak goreng.

Seiring dengan perkembangan zaman, cireng telah terinovasi hingga variasi rasa yang ada mencakup daging ayam, sapi, sosis, baso, hingga keju dan ayam teriyaki. Bahkan inovasi tidak hanya secara rasa namun bentuk, contohnya adalah cimol. Sekarang Cireng tidak hanya terdapat di Priangan saja, tetapi sudah menyebar ke hampir seluruh penjuru Nusantara. Cireng yang dulu pada umumnya dijual oleh pedagang yang menaiki sepeda dengan peralatan membuat Cireng di bagian belakang sepedanya, bahkan telah tersedia online cireng. (Wikipedia)

two hearths

Cireng merupakan salah satu jajajan saya ketika duduk di bangku sekolah dasar. Jika tak salah ingat, harganya sepotong cireng hanya dua puluh lima rupuah atau lima puluh rupiah. Banyak anak-anak yang belajar di sekolah yang sama dengan saya yang gemar dengan jajanan yang satu ini. Sebab pernah saya melihat beberapa anak sedang mengantri membeli cireng sementara cirengnya masih berada di dalam penggorengan.

Cireng saat itu bentuknya seperti roda atau lingakaran. Saya pernah melihat abang tukang cireng sedang memotong adonan cireng yang bentuknya bulat panjang dan kemudian memasukkannya ke dalam penggorengan berisi minyak panas. Setelah cireng matang, abang tukang cireng mengangkatnya kemudian menusukkan sepotong bambu pipih yang nantinya berfungsi sebagai sebagai pegangan ke cireng tersebut untuk kemudian ditiriskan minyaknya.

Jika saya membeli cireng, saya akan mencelupkan cireng tersebut ke dalam saus encer yang disediakan abang tukang cireng. Biasanya hanya setengah cireng saja yang saya celupkan. Lalu saya makan. Rasanya sungguh nikmat di lidah saya.

Selain cirengnya yang enak, abang tukang cireng juga baik hati. Sering berbagi. Dan seperti inilah ceritanya …..

Ketika duduk di kelas tiga atau empat atau lima, saya tak bisa mengingat pasti, saya dan teman-teman menempati ruang kelas di lantai dua. Di lantai tersebut ada semacam balkon yang menghadap ke jalan di mana para pedagang jajanan sekolah berjualan atau lewat ketika datang atau pulang.

Karena letak gedungnya berseberangan dengan ruang guru, saya dan teman-teman bisa melihat dari jauh bila ada guru sedang berjalan menuju kelas. Jadi, meski bel sudah berbunyi selepas jam istirahat, saya dan teman-teman tidak langsung masuk ke dalam kelas. Kami akan bermain di luar kelas, termasuk di balkon tersebut. Kami senang berada di balkon. Abang tukang cireng adalah penyebab mengapa kami senang berada di balkon.

Seusai jam istirahat, sebagai pedagang jajajan sekolah akan pulang. Salah satunya adalah abang tukang cireng. Saya dan teman-teman bisa melihat abang tukang cireng mendorong gerobaknya dari atas balkon. Ketika tepat berada di depan balkon atau di hadapan kami, abang tukang cireng akan melemparkan beberapa cireng yang belum sempat terjual ke arah kami. Dengan suka cita kami menangkap cireng tersebut. Satu orang tak mungkin dapat satu cireng, karenanya kami saling berbagi satu sama lain. Dan aktifitas seperti itu hampir setiap hari kami nanti dan kami lakukan.

Bentuk cireng yang dijual saat ini tentu saja tidak sama dengan bentuk cireng yang saya ceritakan di atas. Bahkan ada cireng yang di dalamnya berisi daging, telur, ayam, atau lainnya. Saya sendiri belum pernah membeli atau mencicipinya. Hanya saja pernah melihat gerobak penjualnya seperti siang tadi.

Saat saya sedang menjemur pakaian, sebuah gerobak bertuliskan “Cireng Isi” lewat di depan rumah. Tentu saja gerobak tersebut tidak berjalan sendiri, seorang lelaki yang sudah pasti pedagang cireng isi yang mendorongnya. Padahal gerobaknya tidak rusak, tapi kenapa didorong?

Tak lama kemudian, dua orang balita, mungkin berusia tiga hingga empat tahun berteriak, “Abang! Beli!”

Mendengar panggilan tersebut, abang tukang cireng menghentikan gerobaknya. Menunggu dua balita yang berjalan menghampirinya.

Begitu sudah berada di hadapan Abag tukang cireng, masing-masing dua balita itu menyerahkan dua keping uang pecahan lima ratus rupiah. Yang artinya masing-masing mereka menyerahkan uang sebesar seribu rupiah kepada Abang tukang cireng.

“Aduh! Satunya dua ribu!” ucap Abang tukang cireng. Namun abang tukang cireng tersebut tidak menolak uang pemberian kedua balita itu.

Saya yang mendengar ucapan dan melihat aksi   abang tukang cireng tersebut langsung menduga bahwa beliau merasa tidak tega atau kasihan jika mengatakan uang yang diserahkan kedua balita itu kurang. Saya berpikir abang tukang cireng tersebut akan memberikan satu buah cireng namun dibagi dua sebab dirinya tak mau rugi. Itu solusi yang tepat. Kedua balita mendapatkan cireng dan abang tukang cireng tidak rugi.

Ternyata saya salah!

Abang tukang cireng memberikan masing-masing satu cireng kepada kedua balita tersebut. Tentu saja, kedua balita tersebut menerima dengan senang hati. Keduanya tertawa. Abang tukang cireng pun melanjutkan perjalanannya. Sungguh, beliau adalah tukang cireng yang baik hati.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala melancarkan dan meluaskan rezeki untuk abang tukang cireng yang baik hati itu. Aamiin.


Tulisan Terkait Lainnya :

30 thoughts on “Tukang Cireng yang Baik Hati

  1. Ria Angelina Mei 31, 2015 / 21:18

    Wah itulagj indahnya saling berbagi,salut untuk abang penjual cireng.
    btw aku suka banget ma cireng tp maunya yg original ngak suka yg rasa aneh aneh.

    • jampang Juni 1, 2015 / 03:34

      saya sendiri belum ngerasain yang rasanya anahe2, mbak. tapi menuruts saya, cireng yang saya makan waktu sekolah dulu lebih enak dibanding cireng yang pernah saya coba akhir2 ini

  2. Ami Mei 31, 2015 / 21:29

    Aamiin…
    Ternyata dari cireng pun bisa jadi tulisan yang menggugah seperti ini.🙂

    • jampang Juni 1, 2015 / 03:33

      sebab cirengnya sudah menggugah selera, mbak😀

  3. zilko Mei 31, 2015 / 22:22

    Jadi ingat, sewaktu Ospek dulu harus membeli cireng. Karena bukan dari Bandung, bingung deh cireng itu apa, hehehe🙂 .

    Anyway, memang indahnya berbagi kebahagiaan ya🙂 . Niscaya rezeki abang cireng itu akan bertambah akibat kebaikan hatinya🙂 .

    • jampang Juni 1, 2015 / 03:32

      tapi akhirnya bisa bisa dapatin cirengnya, mas?

      aamiin.

  4. Gara Juni 1, 2015 / 09:00

    Abang cirengnya baik, mudah-mudahan rezekinya lancar, Mas :)). Saya yang baca ikutan senyum-senyum karena kebaikan si abang cireng :hehe.

  5. Febriyan Lukito Juni 1, 2015 / 11:33

    Abang Cirengnya baik banget mas. Moga dilapangkan rejekinya ya mas.

  6. Sarah Amalia Juni 1, 2015 / 16:55

    Pasti kedua balita itu senang sekali
    Salam kenal, ya!

    • jampang Juni 1, 2015 / 16:58

      iya mbak. salam kenal juga

  7. rinasetyawati Juni 1, 2015 / 19:30

    Pelajaran tentang berbagi bisa datang dari siapa saja ya termasuk tukang cireng

    • jampang Juni 2, 2015 / 05:21

      iya mbak. bisa dari siapa aja, di mana saja, dan kapan saja

  8. rizzaumami Juni 2, 2015 / 13:01

    semakin indah saja pemandangan di dunia ini🙂

    • jampang Juni 2, 2015 / 20:33

      alhamdulillah… indah karena banyak orang-orang baik

  9. ipah kholipah Juni 2, 2015 / 15:29

    amiiiin ….
    semoga mang cireng di kasih rezeki yang melimpah oleh alloh swt…

  10. Ni Made Sri Andani Juni 6, 2015 / 11:03

    Wah…baik hati banget tukang cireng itu,Pak.
    Saya baru pertama kali mencoba makan cireng beberapa bulan lalu..ternyata memang enak juga ya..

    • jampang Juni 6, 2015 / 17:48

      iya mbak. tukangnya baik hati.
      cireng memang enak… tapi saya belum nyoba cireng dengan isi

  11. febridwicahya Juni 13, 2015 / 07:35

    ngomongin cireng😀 aku penikmat cireng garis keras nih bang😀 sampai dikampus ada yang manggil aku ‘akang cireng’😀

    • jampang Juni 13, 2015 / 22:05

      penikmat cireng garis keras itu maksudnya… suka banget sama cireng? nggak makan cireng hidup terasa ada kurang begitu?

      • febridwicahya Juni 18, 2015 / 05:36

        Wahahah ultras penikmat cireng mas, udah sekte garis keras gitu ya😀
        Iya nggak terasa kurang juga sih mas kalau tanpa cireng😀 :p cuma nagih aja gitu😀

      • jampang Juni 18, 2015 / 07:46

        yang penting ada yang jual dan ada uang buat beli😀

      • febridwicahya Juni 19, 2015 / 09:56

        Ini bener banget😀 kalau gak ada dua-duanya, entah apa yang terjadi dengan dunia ini *lebay wkwkw

      • jampang Juni 19, 2015 / 10:02

        😀
        dunia tanpa cireng, bagaimana pula itu?

  12. capung2 Juli 6, 2015 / 15:43

    Jarang2 tk cireng spt itu ya.. smoga rezekinya berkah.

  13. Rika Verry Kurniawan Juli 8, 2015 / 09:06

    Sebaik-baiknya tukang cireng, asli saya belum pernah nyobain cireng, kalau disini lebih banyak penjual cimol

    • jampang Juli 8, 2015 / 20:58

      bahan asalnya sih sama yah… cuma beda pengolahannya aja…. dan rasanya juga beda.
      kapan-kapan bisa nyobain cireng😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s