[Prompt#79] Tepat Waktu

sumber

“Sudah waktunya, Zein!”

“Apakah tidak bisa diundur beberapa menit saja? Aku hanya ingin berpamitan dengan istri dan anak-anakku,” pinta Zein kepada lawan bicaranya yang datang untuk menjemput dirinya.

“Maaf, tidak bisa. Aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu.”

“Mengapa tidak bisa?” Zein kembali bertanya.

“Kamu pasti sudah tahu alasannya, Zein. Jadwal keberangkatanmu tidak bisa diatur lagi. Tidak bisa dimajukan. Apalagi diundur. Bukankah waktu keberangkatanmu kali ini sudah terjadwal sebelum dirimu menyusun dan menetapkan jadwal-jadwal yang lain?”

Zein menghela napas mendengar jawab tersebut.

“Tidak bisakah jadwal ini diatur sedemikian rupa sehingga aku bisa menyampaikan beberapa pesan dan memberikan ucapan selamat tinggal kepada istri dan anak-anakku?” Zein mencoba bernegosiasi. “Tolonglah! Semenit saja!”

“Zein, aku datang ke hadapanmu hanya untuk menjemputmu. Bukan untuk melakukan negosiasi macam-macam denganmu. Kamu juga pasti sudah tahu bahwa aku tak pernah melakukan kesalahan sekalipun di saat menjalankan setiap tugas yang diberikan kepadaku.”

Wajah Zein tertunduk pasrah. Dirinya sudah mengetahui bahwa apa yang dikatakan oleh lawan bicaranya adalah sebuah kebenaran. Dia harus menerima semua kebenaran tersebut.

Sesaat sebelum melangkah, kilas balik kehidupannya seolah-olah terpampang di depan matanya. Zein melihat peristiwa pertama kali berjumpa dengan perempuan yang kemudian menjadi istri yang sangat dicintainya. Lalu nampak pula peristiwa ketika istrinya melahirkan kedua buah hati mereka. Terpampang jelas di mata Zein tentang kehhidupan rumah tangga yang telah dijalaninya selama kurang lebih lima belas tahun.

“Zein, kamu tak perlu mengkhawatirkan mereka! Kalian pasti akan berjumpa kembali.”

“Maksudmu?” tanya Zein keheranan karena lawan bicaranya seperti mengetahui lintasan peristiwa yang barus saja diliihatnya.

“Jika mereka mengikuti apa yang kamu lakukan dan kamu ajarkan, kalian akan bersama-sama lagi.”

“Benarkah?”

“Benar.”

Meski singkat, jawaban tersebut cukup memberikan kelapangan di rongga dada Zein yang akan segera meninggalkan istrinya, anak-anaknya, bumi tempat tinggalnya, dan juga jasadnya yang sudah terbujur kaku.

Untuk meramaikan Prompt#79 : Welcome to Euroworld


Baca Juga Monday Flash Fiction Lainnya :

22 thoughts on “[Prompt#79] Tepat Waktu

  1. zizadesita Juni 7, 2015 / 21:57

    Dan kepadaNya lah kita semua akan kembali.

    • jampang Juni 8, 2015 / 07:42

      innaalillaahi wa innaa ilayhi raaji’uun

  2. zilko Juni 8, 2015 / 03:36

    Kalau sudah waktunya ya memang sudah waktunya ya 😦

  3. Iwan Yuliyanto Juni 8, 2015 / 04:28

    “Jika mereka mengikuti apa yang kamu lakukan dan kamu ajarkan, kalian akan bersama-sama lagi.”

    Aamiin.
    Sungguh pengingat yang baik.

    • jampang Juni 8, 2015 / 07:40

      semoga yang kita lakukan dan ajarkan kepada keluarga kita adalah kebaikan dan kebaikan ya, pak.

  4. capung2 Juni 8, 2015 / 10:10

    Ketika waktu itu sdh datang, tak ada lgi yg bs menghalanginya.

  5. Gara Juni 8, 2015 / 16:17

    Aih,mengharukan. Kalau sudah saatnya, tak ada satu orang pun yang kuasa mengelak. Setelahnya, selamat datang di dunia baru. Nuansa perpisahan-pertemuannya terasa sekali, Mas. Hari-hari hidup di dunia ini sejatinya memang menunggu yang satu itu untuk tiba, ya.

    • jampang Juni 8, 2015 / 16:31

      ada pertemuan ada perpisahan
      ada kedatangan ada kepergian
      begitulahh hidup

      iya, gar. menunggu dalam misteri karena tak ada yang tahu kapan kedatangannya

      • Gara Juni 9, 2015 / 16:31

        Iya Mas :)).

      • jampang Juni 10, 2015 / 07:54

        😀

  6. Attar Arya Juni 9, 2015 / 11:48

    Ada beberapa bagian kalimat yang boros. Terutama di bagian Zein berusaha menegosiasikan ‘keberangkatannya’. Paragraf pada bagian itu panjang-panjang dan berulang.

    • jampang Juni 9, 2015 / 12:37

      hmm…
      maksud hati seh ingin menggambarkan bahwa manusia itu nggak siap mati dan berusaha untuk menghindari mati, jadi ya.. gitu deh

      • Attar Arya Juni 9, 2015 / 14:31

        Mungkin sebaiknya dengan kalimat pendek saja, seperti :
        “Tolong, sebentar saja.”
        “Tidak bisa. Sudah tugasku.”

        🙂

      • jampang Juni 9, 2015 / 15:10

        sip… sip… terima kasih sarannya, bang

  7. Ummu Zukhrufa Juni 9, 2015 / 14:30

    Keep writing ya Pak, setiap baca tulisanmu, selalu maknyess di hatiku 🙂

    • jampang Juni 9, 2015 / 15:10

      *uhuk*

      terima kasih supportnya, mbak

  8. Dyah Sujiati Juni 9, 2015 / 19:07

    Nasihat paling indah memang tentang kematian

    • jampang Juni 10, 2015 / 07:53

      makanya dibilang cukuplah kematian sebagai nasihat… begitu yah?

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s