Bahtera yang Hancur – I

Cerita di episode sebelum-sebelumnya…

Zul memilih diam. Api tak mungkin dilawan dengan api, pikirnya. Padahal di dalam dadanya ada api yang menyala begitu dahsyat. Api amarah yang tersulut karena dirinya dibanding-bandingkan dengan sosok lelaki lain. Lelaki yang namanya sering dia dengar ketika Mira bercerita tentang masa lalunya, tentang cinta pertamanya.  Lelaki yang pertama kali singgah di hati Mira. Lelaki yang sketsa wajahnya pernah dia lihat ketika membuka salah satu buku milik Mira.

Zul merasa dirinya di puncak lelah, setelah berusaha sekian lama untuk menjadi lelaki yang diinginkan Mira, namun tak membuahkan hasil. Jiwanya letih, setelah menyadari bahwa apa yang diupayakannya tak ada artinya di mata Mira. Hatinya pun perih, karena selalu dibanding-bandingkan dengan sosok lelaki lain.

“Cinta pertama. Benarkah cinta pertama tidak pernah mati?” Tanya Zul dalam hati. Bukankah selama ini dirinya sudah berhasil membenamkan cinta pertamanya yang pernah hadir sebelum menjalani hidup berumah tangga bersama Mira.

selangkapnya bisa dibaca di sini.

cover pernikahan kedua

Di ruang kantornya, Zul terlihat sibuk dengan apa yang dilakukannya. Sambil berbicara dengan seseorang melalui telepon, jemarinya menari-nari di atas keyboard untuk mengetik sesuatu. Rupanya Zul sedang menangani permasalahan yang diadukan oleh si penelepon.

Dalam beberap menit, pembicaraan tersebut berakhir, sebagai pertanda bahwa permasalahan sudah terselesaikan. Zul tersebut kemudian bekerja kembali untuk menyelesaikan pembuatan laporan yang tinggal beberapa persen lagi.

Tiba-tiba handphonenya berbunyi sekali menandakan sebuah pesan singkat masuk. Hanya nomor saja yang tertera di layar handphone, yang artinya nomor si pengirim tidak temasuk dalam nomor yang sudah dikenalnya.

Rasa penasaran mengajaknya untuk membuka isi pesan tersebut. Begitu pesan terlihat, ternyata itu adalah SMS dari “Mama” yang minta dikirimkan pulsa.

“Masih ada aja yang ngirim SMS seperti ini!” Gerutunya dalam hati.

Zul langsung menghapus pesan tersebut dari inbox dan melanjutkan pekerjaannya.

Sekitar sepuluh menit kemudian, kembali sebuah SMS masuk ke dalam handphonenya. Nama yang tertera di layar adalah Mira, nama sang istri yang berada di rumah. Zul langsung membuka isi SMS tersebut.

“Don.” Zul terkejut membaca tiga huruf pertama dalam SMS Mira.

“Siapa itu Don?” Tanya Zul dalam hati. “Jangan… Jangan…..” Terlintas sesuatu yang buruk di dalam pikirannya.

Zul mencoba menepis pikiran buruknya dan melanjutkan membaca isi SMS seluruhnya.

“Sebagai bukti cintaku padamu, sudah beberapa bulan ini, aku sudah tidak mau melayani suamiku. Aku berharap, engkau pun melakukan yang sama untukku.”

 —–ooo0ooo—–

 “Mungkin saatnya kau melepaskanku!” Teriak Mira.

“Maksudmu?” Tanya Zul.

Ini adalah kali kesekian pertengkaran yang terjadi di antara Zul dan Mira. Semakin berulang, semakin tinggi emosi yang bermain di antara keduanya.

“Aku baru menyadari, bahwa selama ini aku berada di dalam sangkar emas. Meski semua kebutuhanku terpenuhi bahkan berlebih, tapi nyatanya aku terkekang,” jawab Mira.

“Terkekang?” Zul balik bertanya. “Bukankah semua ini dirimu yang menginginkan. Semua keperluan dan kebutuhan yang kau minta, kuberikan. Apa yang kau jalani sekarang adalah pilihanmu. Aku hanya mendukung. Aku yakin, bukan itu yang menjadi dasar permintaanmu. Pasti ada sebab lain!”

“Tidak ada!”, jawab Mira ketus. “Semua karena dirimu yang tidak lagi perhatian. Tidak lagi romantis. Tidak lagi menyayangi dan mencintaiku!”

“Kau yakin bukan karena ada lelaki lain?” Tanya Zul penuh selidik.

“Kenapa kau bertanya demikian? Kau menuduhku selingkuh?” Mira balik bertanya.

“Kenapa kau balik bertanya? Cukup kau jawab dengan satu kata, ya atau tidak. Itu saja!”

“Kau jangan mengalihkan pokok permasalahan dari dirimu ke orang lain!”

Zul mengeluarkan handphone dari saku celananya lalu membuka SMS salah alamat dari Mira yang diterimanya beberapa hari yang lalu.

“Coba kau baca SMS ini!” Pinta Zul sambil memperlihatkan layar handphonenya kepada Mira.

Mira hanya terdiam sejenak.

“Jangan kau salahkan dia! Dia lelaki baik!” Ucap Mira tiba-tiba.

“Lelaki baik?” Tanya Zul dengan senyum sinis. “Jika dia lelaki baik, maka tak mungkin mendekati dan merayu seorang perempuan yang sudah bersuami.”

“Setidaknya, dia lebih mengerti akan diriku. Lebih perhatian. Lebih paham akan suasana hatiku,” bantah Mira tak mau mengalah

Zul pun terdiam.

 —–ooo0ooo—–

 Zul baru saja tiba di rumah sepulang kerja dan langsung menuju kamar mencari istrinya. Begitu tiba di depan pintu kamar, Zul mendengar suara seseorang yang sedang bicara. Suara itu adalah suara Mira. Sepertinya dia sedang berbicara dengan seseorang melalui handphone. Zul tak langsung masuk. Dia berdiri sambil membuka telinganya lebar-lebar untuk mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh Mira. Zul menangkap suasana mesra dalam nada bicara Mira.

Namun Zul tak tahan berlama-lama mendengar pembicaraan tersebut. Dia langsung membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.

“Kau bicara dengan lelaki ittu?” Tanya Zul kepadanya. “Berikan teleponnya kepadaku, aku mau bicara dengannya!”

Mira menggeser tempat duduknya. Menjauh.

“Jangan! Kau tidak boleh bicara dengannya!” Tolak Mira

“Kenapa?” Tanya Zul.

“Kau pasti akan marah dan itu akan memperkeruh suasana.” Jawab Mira.

Zul mencoba menenangkan dirinya dengan mengatur irama napasnya.

“Baiklah, aku janji akan bicara baik-baik dengannya.” Bujuk Zul.

Mira langsung menyampaikan maksud Zul kepada lelaki di ujung telepon.

“Dia tidak mau bicara denganmu,” jawab Mira.

“Lelaki pengecut!” Umpat Zul. “Katakan kepadanya, kalau dia mengaku sebagai lelaki, bicara padaku!”

“Dia tidak mau. Kamu jangan memaksanya!” Pinta Mira.

“Jika lelaki itu benar-benar mencintaimu dan menyayangimu lebih baik daripada diriku dan ingin memilikimu datanglah kepadaku. Sampaikan keinginannya itu langsung kepadaku. Aku akan menyerahkamu baik-baik kepadanya!”

Lain di mulut, lain pula di hati dan pikiran Zul. Menyerahkan baik-baik? Mana ada suami seperti itu. Ini hanya bagian awal dari rencanaku!


Baca Bab Lainnya :

43 thoughts on “Bahtera yang Hancur – I

  1. titintitan Juni 10, 2015 / 13:50

    eh eh, ini udh dibukuin? ko AAH siapa ituh yg ngarangnya?😀

    • jampang Juni 10, 2015 / 14:01

      belum, mbak
      iya… yg ngarangnya 😀

      • titintitan Juni 10, 2015 / 14:06

        kepanjangane opo ituh? ahaha kepo

      • jampang Juni 10, 2015 / 14:06

        ada deeeeeeh😀

      • titintitan Juni 10, 2015 / 14:08

        hmm.. hmm… AHA!😀

      • jampang Juni 10, 2015 / 14:19

        sebenarnya bukan itu inisialnya. mungkin karena fontnya kali yah jadinya terbaca seperti itu.

        BTW covernya gimana? ada masukan atau saran?

      • titintitan Juni 10, 2015 / 14:23

        iyah kebacanya ituh. tapi ding RAH yaaah? tau kalo rah mah😀

        msh terlalu sederhana, asa monoton pink rada shocking itu.😀

      • jampang Juni 10, 2015 / 14:29

        😀

        belum sempet ide lain soalnya. miskin koleksi foto2😀

      • titintitan Juni 10, 2015 / 14:33

        mksdnya kn warnanya bisa ada gradasi nya. ga harus poto2 mbok😀

      • jampang Juni 10, 2015 / 14:36

        itu ada gradasinya😀

        kalau gambar sendiri saya nggak bisa. bisanya cuma edit2 foto doank

      • titintitan Juni 10, 2015 / 14:39

        😀

        nanti kn ada ahlinyaa

      • jampang Juni 10, 2015 / 14:43

        itu kalau nerbitin di major.
        kalau nerbitin indie ya bikin sendiri biar hemat biaya😀

      • titintitan Juni 10, 2015 / 14:55

        oh iya yah😀. tp yg kemaren aja tembus elexmedia kan yah… yg ini bisa laah😀

      • jampang Juni 10, 2015 / 15:08

        yang ini udah dicoba ke beberapa media.
        ke elex ditolak.
        ke bebeberapa lainnya menggantung sampe hampir setahun😀

      • jampang Juni 10, 2015 / 15:15

        bentang maksudnya?
        belum

      • titintitan Juni 10, 2015 / 15:18

        eh, iyah. typo yak. ga liat lagi. iyah, bentang atau gagasmedia mungkin.😀

      • jampang Juni 10, 2015 / 15:36

        kalau gagas sepertinya nggak masuk. genrenya beda banget sama yang biasa mereka terbitkan

      • titintitan Juni 10, 2015 / 16:12

        gagas lbh pop yah> anak muda pisan,😀

      • jampang Juni 10, 2015 / 16:59

        yup😀

  2. capung2 Juni 10, 2015 / 14:22

    Hadeuhh.. lagi ribut rupanya antara Zul dgn Mira.

  3. Gara Juni 10, 2015 / 17:44

    Menegangkan. Kalau ada permasalahan rumah tangga, di mana pun, yang kebetulan saya tahu, biasanya saya cuma diam dan membiarkan pihak yang bertengkar mengambil kesimpulannya sendiri. Jadi sekarang saya juga akan begitu, menunggu apa keputusan masing-masing pihak :hehe *sangat tidak membantu ini ya :hihi*.

    • jampang Juni 10, 2015 / 20:17

      ya kalau memang tidak diminta untuk turut campur ya nggak usah. dan pastikan kalau turut campur harus berikap adil, jangan berat sebelah

      • Gara Juni 11, 2015 / 22:00

        Itu yang susah Mas, jadi saya malah biasanya tidak ikut-ikut dulu :haha.

      • jampang Juni 12, 2015 / 07:41

        itu lebih aman buat semua😀

      • Gara Juni 12, 2015 / 19:25

        Ah, betul sekali, Mas :)).

  4. Syifna Juni 10, 2015 / 21:03

    Ini lanjutan dari cerita “Kesempatan dan Jawaban” bukan hehehe ? penasaran euy.. jadi kisah selanjutnya gmn ? apakah zul menikah dgn si .. si .. siapa itu om namanya heheeh lupa

    • jampang Juni 10, 2015 / 21:22

      iya… ceritanya masih bersambung terus koq😀

      sali namanya

      • Syifna Juni 10, 2015 / 21:24

        waaah kapan endingnya hihihi kudu sabar yaa.. iya salam buat sali😀

      • jampang Juni 10, 2015 / 21:29

        endingnya nanti dibaca di bukunya😀

        itu ilustrasi gambarnya baru bikin rancangan covernya

      • Syifna Juni 10, 2015 / 21:31

        Wuiih manteeebb hehehe

      • jampang Juni 10, 2015 / 21:50

        terima kasih😀

  5. rumahbukuiqro Juni 10, 2015 / 21:30

    Baru nimbruuung. Wiih seru uy.. jd penasaran. Mira dan zul lg bergejolak soalnya hihi. Bagus om.. smg segera terbit. Ga self publish aja??

    • jampang Juni 10, 2015 / 21:51

      terima kasih.
      ya mungkin keputusan akhir bisa jadi self publish

  6. Mas Djie Juni 11, 2015 / 07:53

    Setelah ‘Pernikahan Kedua’, mungkinkah ada pernikahan ketiga dan seterusnya?😀 hahaaa

  7. pinkvnie Juni 11, 2015 / 21:07

    Sdh mau terbit buku indienya lg nih??

    • jampang Juni 12, 2015 / 07:42

      belum seh. pengen nyusun beberapa naskah dulu biar terbit sekaligus… rencananya seh gitu

  8. Pamela Fitrah Juli 2, 2015 / 20:02

    nahh rassanya saya pengen ngejitak si Mira.😀

    • jampang Juli 3, 2015 / 07:40

      😀
      sabar… sabar…. mpok. jangan emosi

      • jampang Juli 3, 2015 / 20:46

        😀
        korban iklan nih

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s