Ummat Bontot yang Sengke

ilalang

Ada yang anak bontot? Ayo angkat kaki! Eh, angkat tangan maksudnya😀

Saya sendiri bukan anak bontot atau anak bungsu, melainkan anak sulung. Sementara Minyu, istri saya, adalah anak bontot. Ada beberapa hal yang biasanya melekat dengan diri seorang anak bontot. Di antaranya mungkin paling disayang, cenderung manja, dan mendapat perhatian lebih banyak dari kedua orang tuanya.

Mungkin karena kondisi tersebut, seorang anak bontot kadang memiliki sifat “sengke” [huruf ‘e’ pertama dibaca seperti pada kata ‘kena’, sedangkan huruf ‘e’ kedua dibaca seperti pada kata ‘tape’]. “Sengke” merupakan salah satu kosa kata dalam Bahasa Betawi.

Di masa kecil, saya sering mendengar ornag-orang di sekitar saya mengucapkan kata tersebut. Di masa selanjutnya, saya tak lagi pernah mendengar kata tersebut hingga beberapa hari yang lalu ketika seorang penceramah menyebutkan kata tersebut.

Sepengetahuan saya, jika seorang anak menginginkan sesuatu atau akan melakukan sesuatu lalu diberitahukan kepadanya bahwa sesuatu itu belum bsia diperoleh atau diminta jangan melalukan sesuatu tersebut tetapi si anak tetap ngotot dengan keinginan dan kemauannya itu, maka anak itu memiliki sifat “sengke”.

—o0o—

Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam adalah penutup para nabi. Beliau adalah nabi terakhir. Tidak ada lagi nabi yang terlahir setelah beliau. Jika ada orang yang mengaku-aku sebagai nabi, maka orang tersebut adalah seorang pembual, pendusta, pembohong.

Kita terlahir sebagai ummat Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Itu artinya kita adalah ummat terakhir. Bisa juga kita dianggap sebagai ummat bontot. Maka tak heran, jika ummat Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam memiliki aura seperti aura yang dimiliki seorang anak bontot di dalam keluarga seperti disebutkan di atas.

Paling Disayang

Kita mungkin pernah mendengar bagaimana akhir dari kisah ummat Nabi Nuh atau Nabi Luth. Ummat kedua nabi tersebut membangkang terhadap ajaran-ajaran yang disampaikan oleh nabi mereka. Karena pembangakan tersebut, akhirnya mereka dibinasakan dan dimusnahkan. Ummat Nabi Nuh ditenggelamkan dalam banjir yang super dahsyat. Sementara Ummat Nabi Luth lenyap ditelan bumi karena sebuah gempa yang luar biasa.

Hal yang serupa tidak terjadi terhadap kaum Nabi Muhammad. Ketika ada ummat yang membangkang atau menghina risalah yang beliau sampaikan, ummat tersebut tidak serta merta langsung dimusnahkan. Mereka dibiarkan tetap hidup. Mereka diberikan kesempatan yang cukup panjang untuk mau menerima ajaran sang nabi. Meski demikian, pada akhir hayatnya, tidak semua di antara mereka mau menerima apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad.

Manja

Kita, ummat bontot ini mungkin adalah ummat yang terlemah dibandingkan ummat-ummat terdahulu. Hal itulah yang menyebabkan syariat yang ditetapkan ummat ini jauh lebih ringan dibandingkan ummat para nabi terdahulu.

Puasa yang diperintahkan kepada ummat Nabi Daud misalnya. Mereka diharuskan berpuasa sepanjang tahun secara selang-seling. Sehari puasa, sehari berbuka. Sementara ibadah puasa yang disyariatkan kepada kita, hanya satu bulan. Selebihnya, kita boleh berbuka.

Perintah shalat yang diterima oleh Nabi Muhammad dalam Isra’ Mi’raj, semula sebanyak lima puluh waktu dalam sehari semalam. Namun kemudian dikurangi hingga menjadi lima waktu saja.

Selain itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga memanjakan banyak fasilitas dan kemudahan kepada kita. Di bulan Ramadhan, misalnya. Ada satu malam di mana jika seseorang beribadah di malam tersebut disetarakan dengan ibadah selama seribu tahun. Dalam ibadah shalat, jika seseorang shalat satu kali di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, disetarakan dengan shalat ribuan kali di tempat lain. Dalam hal infaq, balasan diterima seseorang bisa mencapai tujuh ratus kali lipat.

Sengke

Mungkin sifat sengke itu ada juga di dalam diri kita sebagai ummat bontot saat ini. Dengan segala kemurahan, kebaikan, dan kasih sayang yang Allah Subahanahu Wa Ta’ala limpahkan, masih saja ada di antara kita yang membangkang. Masih ada di antara kita yang tidak mau mengerjakan perintah. Masih ada di antara kita yang melanggar apa yang dilarang.

Sebagian dari kita tidak mau tahu menahu tentang dampak dari perintah dan larangan tersebut. Yang kita mau hanyalah keinginan kita terlaksana meski harus meninggalkan perintah. Yang kita inginkan hanyalah nafsu kita terpuaskan meski harus melanggar larangan.

Semestinya, kita bisa menjadi ummat yang baik, seperti halnya seorang anak bontot yang menjadi kebanggan kedua orang tuanya, yang disayangi oleh kakak-kakaknya. Semoga saja kita bisa.

Wallaahu a’lam.


Tulisan Terkait Lainnya :

47 thoughts on “Ummat Bontot yang Sengke

  1. wiblackaholic Juni 25, 2015 / 13:57

    Sengke emang tuh bocah….🙂 kalimat yang dulu saat kecil saya sering denger dari tetangga..

    • jampang Juni 25, 2015 / 14:01

      nah… kira-kira begitu juga yang saya dengar. atau jangan-jangan dulu saya yang dibilang sengke😀

      • wiblackaholic Juni 26, 2015 / 09:11

        kemungkinan kita berdua emang pernah dibilang sengke bang :p

      • jampang Juni 26, 2015 / 09:15

        bisa jadi begitu😀

  2. ayanapunya Juni 25, 2015 / 13:58

    saya anak pertama tapi kata suami saya ini manja😀

    • jampang Juni 25, 2015 / 14:00

      ya kalau sudah ada suami buat apa kalau nggak dijadiin tempat manja-manjaan😀

  3. Mas Djie Juni 25, 2015 / 14:13

    Saya anak pertama, tapi sayang paling disayang sama orang tua, ,aklu, saya baru punya adik setelah usia 17 tahun😀

    • jampang Juni 25, 2015 / 15:47

      wah… selisihnya jauh banget yah
      yang penting bisa akur sama saudara😀

      • Mas Djie Juni 26, 2015 / 09:15

        Iyah,, alhamdulillah😀

      • jampang Juni 26, 2015 / 09:16

        siiiip lah

  4. Gara Juni 25, 2015 / 14:23

    Saya anak terakhir dan kayaknya saya memang manja :haha.

    • jampang Juni 25, 2015 / 15:46

      nah….. ada bukti hidup😀

      • Gara Juni 25, 2015 / 15:47

        :hehe :peace.

      • jampang Juni 26, 2015 / 07:47

        😀

  5. Ami Juni 25, 2015 / 15:01

    Saya udah menduga ini tentang umat Nabi Muhammad, tetapi sengke itu kosakata baru bagi saya.
    Semoga kita selalu bersyukur dan bukannya membangkang (setelah nikmat dan keringanan yang begitu banyak)

    • jampang Juni 25, 2015 / 15:46

      di betawi sudah jarang banget yang menggunakan kosa kata itu, mbak

      aamiin

  6. dani Juni 25, 2015 / 16:01

    Amiiiin. Makasih ya Bang. 🙂

  7. dianryan Juni 25, 2015 / 20:23

    Sengke = keras kepala bukan sih bang, dulu sering banget kalo lagi ngambek trus mau sesuatu harus diturutin aku diomelin begitu sama ibuku, tapi emang bener sekarang udah jarang dengernya..

    • jampang Juni 26, 2015 / 07:36

      ya kurang lebih begitulah mbak artinya.
      iya… banyak kosa kata betawi yang udah jarang banget digunain sehari-sehari

  8. Orin Juni 26, 2015 / 01:20

    Aamiin, semoga ya Bang. Aku baru tau kosakata sengke🙂

    • jampang Juni 26, 2015 / 07:35

      iya, teh. semoga kita bukan termasuk kalangan yang sengke😀

      kosa kata yang hampir punah penggunaannya di sekitar tempat saya tinggal

  9. Febriyan Lukito Juni 26, 2015 / 05:16

    Baru tahu kata sengke. Eh tapi sbg bontot aku gak gitu kokkk. Bnran deh mas.

    • jampang Juni 26, 2015 / 07:34

      ya mungkin nggak semuanya, mas.
      biasanya kan anggapan begitu berdasarkan statistik aja😀

  10. kebomandi Juni 26, 2015 / 06:31

    sengke. that’s really I am deh kayanya hehe😀

    Nice posting bang, dibaca di pagi hari ini🙂

    • jampang Juni 26, 2015 / 07:33

      iya kah?
      terima kasih, semoga bermanfaat, mbak

      • kebomandi Juni 26, 2015 / 12:03

        tapi, aku bukan anak bontot :p
        sama-sama bang ^^

      • jampang Juni 26, 2015 / 13:02

        ya gpp kalau bukan anak bontot juga😀

  11. -n- Juni 26, 2015 / 08:14

    Thx for sharing ya.

  12. ira nuraini Juni 26, 2015 / 09:43

    saya…saya….anak bontot, tapi kalo dibilang paling disayang ga juga…dan ga manja juga kok… *pembelaan*😀

    • jampang Juni 26, 2015 / 09:45

      😀
      iya…. gpp, mbak. bagus kalau nggak manja😀

      • ira nuraini Juni 26, 2015 / 09:48

        hahaha…kaya’nya tergantung gimana orangtua memperlakukan anaknya..buat pembelajaran juga ini mas buat saya dlm memperlakukan anak2..🙂

      • jampang Juni 26, 2015 / 10:50

        iya mbak. stp anak dan ortu pasti akan berbeda-beda. nggak bisa disamain satu sama lain

  13. rizzaumami Juni 26, 2015 / 09:55

    Saya baru denger istilah ini, bang.
    Bagus analoginya, terlihat sangat pas dan ngena di *sini*.

    • jampang Juni 26, 2015 / 10:50

      kata itu emang udah jarang digunakan juga.

      semoga bermanfaat

  14. Firsty Chrysant Juni 26, 2015 / 10:10

    ngena isinya…. Kita sebagai umat rasul yang udah dimanja tapi malah sengke…

  15. capung2 Juni 26, 2015 / 13:17

    Ada kesamaan rupanya, sya jga anak sulung dan dpt istri anak bungsu.😀

  16. Rivanlee Juli 12, 2015 / 18:42

    Ternyata bahasa sengke itu luas ya :))

    • jampang Juli 14, 2015 / 07:42

      kurang lebih begitu, mas😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s