Bahtera yang Hancur – II

Cerita di episode sebelum-sebelumnya…

“Lelaki pengecut!” Umpat Zul. “Katakan kepadanya, kalau dia mengaku sebagai lelaki, bicara padaku!”

“Dia tidak mau. Kamu jangan memaksanya!” Pinta Mira.

“Jika lelaki itu benar-benar mencintaimu dan menyayangimu lebih baik daripada diriku dan ingin memilikimu datanglah kepadaku. Sampaikan keinginannya itu langsung kepadaku. Aku akan menyerahkamu baik-baik kepadanya!”

Lain di mulut, lain pula di hati dan pikiran Zul. Menyerahkan baik-baik? Mana ada suami seperti itu. Ini hanya bagian awal dari rencanaku!

selangkapnya bisa dibaca di sini.

cover PK - small

Telapak tangan Zul mengepal. Giginya gemeretak mengeluarkan bunyi. Matanya tajam menatap lelaki di depannya.

Tanpa pikir panjang, Zul meluncurkan bogem mentah tangan kanannya ke wajah lelaki itu. Tak puas, kaki kanan Zul melayang ke arah perutnya. Lelaki itu terjungkal. Dia meringkuk memegang perutnya. Dengan cepat Zul mengayunkan langkah mendekatinya, lalu menarik rambut ikal hitam lelaki itu dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanan, Zul tarik ke belakang dengan telapak mengepal bersiap menghujamkan pukulan yang kedua di wajah lelaki yang sudah dihiasi cairan merah yang mengalir dari salah satu lubang hidungnya.

Bukkkk!

Begitulah rencana Zul ketika menyambut kedatangan lelaki yang telah mengganggu rumah tangganya.

Sekali lagi Zul meneguk air putih yang masih tersisa di dalam gelas bening yang terletak di atas meja kecil di sampingnya. Selama beberapa saat Zul menunggu hasil pembicaraan Mira dengan leleki itu melalui telepon.

“Dia tidak mau datang!” Ucap Mira.

“Kenapa?” Tanya Zul penasaran.

“Dia tidak memberikan alasan apa-apa. Dia cuma mengatakan tidak mau datang untuk menemuimu.”

“Dasar pengecut!,” umpat Zul. “Dengan sikapnya seperti ini, apa kamu masih memilih dia dibandingkan diriku?”

“Aku tetap memilihnya. Aku telah menemukan pada dirinya apa yang tidak pernah kudapatkan darimu. Dia pun berjanji akan segera menikahiku setelah diriku lepas darimu.” Jawab Mira dengan begitu mantap

“Kau percaya dengan semua ucapannya sementara kau belum begitu mengenalnya?” Tanya Zul lagi.

“Aku yakin sudah cukup mengenalnya.”

“Apa kau yakin dan percaya begitu saja dengan janjinya itu sementara untuk datang menemuiku saja dia tidak mau? Apa kau sudah lupa dengan sebuah kisah tentang seorang perempuan yang tertipu oleh lelaki di dunia maya hingga dia rela meminta cerai kepada suaminya namun akhirnya perempuan itu menemukan bahwa lelai itu hanya mempermainkan dirinya?” Tanya Zul.

“Aku masih ingat.”

“Lalu?”

“Aku juga sudah menceritakan kisah itu kepadanya. Dia berjanji tidak akan seperti itu.”

“Apakah kau yakin, bahwa dirimu akan bahagia jika bersamanya?”

Mira diam sejenak.

“Apakah kau yakin, kehidupanmu akan lebih baik dibanding hidup bersamaku?” Tanya Zul kembali.

“Aku belum yakin. Tapi setidaknya aku punya kesempatan untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Tidak seperti sekarang!” Jawab Mira tegas.

“Sepertinya, saat ini aku sudah tidak berharga lagi di matamu. Sekarang, terserah dirimu! Apa yang akan kau lakukan, lakukan sekehendakmu!” Ucap Zul pasrah karena merasa dirinya tidak adalagi artinya di hati Mira. Hanya lelaki itu dan cuma lelaki itu.

—–ooo0ooo—–

“Kenapa harus ada tuntutan seperti ini? Kalian berdua pasangan yang serasi. Yang suami ganteng, yang istri cantik,” ucap sang hakim setelah membaca berkas permohonan gugatan Mira.

“Sudah tidak ada kecocokan, Pak Hakim!” Jawab Mira.

“Yang namanya berumah tangga itu pasti ada yang namanya sedikit ketidakcocokan, perselisihan, atau pertengkaran kecil. Wajar-wajar saja. Jadi dicabut saja tuntutannya yah!” Pinta Pak Hakim.

“Sudah tidak bisa lagi dipertahankan, Pak!” Kembali Mira menjawab dengan tegas.

“Iya, Pak. Seperti yang tertulis di dalam surat gugatan itu,” jawab Zul ketika Pak Hakim mengajukan pertanyaan yang sama yang ditujukan kepadanya.

—– BERSAMBUNG —–


Baca Bab Sebelumnya :

12 thoughts on “Bahtera yang Hancur – II

  1. capung2 Juli 2, 2015 / 15:46

    Untungnya tdk datang ya, kekasih si Mira yg bru..

    • jampang Juli 2, 2015 / 19:00

      kalau datang bisa terjadi pertumpahan darah, mas😀

    • jampang Juli 3, 2015 / 07:41

      ya… dibumbui tayangan sinetron…… kalau perceraian kan banyak terjadi juga, mpok

  2. Gara Juli 2, 2015 / 20:06

    Ah, sungguh sayang kalau bahtera pernikahan mereka harus berakhir, tapi mungkin memang benar kalau di antara mereka sudah tidak lagi ada kecocokan sehingga jalur perceraian harus ditempuh. Lanjutan cerita ini akan sangat dinanti. Apa di antara mereka sudah tidak ada lagi harapan, Mas? *penasaran*.

    • jampang Juli 3, 2015 / 07:40

      mungkin itu menjadi pilihan terakhir, Gar

      tunggu saja lanjutannya😀

      • Gara Juli 3, 2015 / 16:08

        Ya, kalau itu jadi pilihan terakhir maka kita sebagai orang luar tak bisa apa-apa lagi. Baiklah, saya tunggu :hehe.

      • jampang Juli 3, 2015 / 20:48

        jadi bersabarlah😛

      • Gara Juli 4, 2015 / 09:47

        Syiaaap.

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s