Untuk Apa Kau Menandai Waktu?

untuk apa kau menandai waktu
Rahasia | Laksana Tudung Rasa I Untuk Apa Kau Menandai Waktu? | Stanza [Episode 1] | Stanza [Episode 2] | Rahim |Petrichor Lain I |Petrichor Lain II | Skrip | Melodi Untuk ibu | Kereta Terakhir | Cerita Kereta | Salju Berdarah Leiden | Dongeng dan Nyanyian Rahim (I) | Dongeng dan Nyanyian Rahim (II)| Pulang | Teruntuk Sahabat Bulan | Remediasi

Itulah kedelapan belas judul cerita pendek yang pada akhirnya bisa saya selesaikan membacanya. Kesemua cerita tersebut berada di dalam buku kumpulan cerita berjudul “Untuk Apa Kau Menandai Waktu?” Bisa ditebak bahwa judul buku tersebut diambil dari salah satu judul cerita pendek di dalamnya.

Saya mendapatkan buku ini sebagai hadiah. Hadiah karena tulisan saya yang berjudul “Menandai Waktu” terpilih menjadi salah satu pemenang Giveaway Untuk Apa Kau Menandai Waktu.  Buku ini datang bersama satu buku lainnya berupa novel berjudul “Tentang Waktu”. Mudah-mudahan saya bisa menyelesaikan buku tersebut.

Dibandingkan membaca novel, sebenarnya saya lebih suka membaca cerita pendek. Alasannya sederhana saja. Pertama, karena untuk membaca sebuah cerita pendek saya tidak membutuhkan banyak waktu untuk meengetahui cerita dari awal hingga akhir. Kedua, karena tokoh, cerita, dan setting di dalam kumpulan cerita pastinya lebih beragam. Dan kumpulan cerita “Untuk Apa Kau Menandai Waktu?” ini memberikan sesuatu yang berbeda dibandingkan dengan buku kumpulan cerita lain yang pernah saya baca.

Saya menemukan sesuatu yang berbeda tersebut setelah mengikuti saran di kalimat terakhir pada halaman Ucapan Terima Kasih buku ini. Kalimat tersebut berbunyi “PS. Sebaiknya antologi cerita pendek ini dibaca secara berurutan. Selamat membaca!”

Di mana letak keunikan dari delapan belas cerita pendek yang tersaji dalam buku ini?

Keunikan tersebut berupada adanya semacam benang merah yang menghubungkan antara satu cerita dengan cerita sesudahnya. Entah berupa tokoh atau setting. Saya ambil contoh misalnya tokoh yang berprofesi sebagai perawat. Pada cerita berjudul “Stanza [Episode 1]” dan “Stanza [Episode 2]” Maya menjadi salah satu tokoh utama yang merawat seorang anak penderita savant syndrome. Di cerita berikutnya yang berjudul “Rahim”, tokoh Maya tersebut hadir juga sebagai figuran, kalau boleh dibilang begitu, sebab porsi kehadirannya sangat sedikit dan tanpa dialog. Berbeda dengan tokoh Jauhar yang pada cerita berjudul “Petrichor Lain II” hanya muncul di bagian akhir cerita dengan sebuah dialog, namun di cerita berikutnya yang berjudul “Skrip”, dirinya menjadi salah satu tokoh utama. Begitu juga halnya dengan tokoh Kelly dan Gandi, di mana di dalam cerita berjudul “Cerita Kereta” kedua nama itu hanya disebutkan saja, di cerita berikutnya, “Salju Berdarah Leiden”, keduanya menjadi tokoh utama.

Selain hubungan cerita yang diwakili dengan nama tokoh, ada pula bentuk hubungan cerita yang terwakili dengan nama tempat dan peristiwa. Saya pikir, hal tersebut merupakan sesuatu yang unik.

Akhir cerita yang mengejutkan alias twist hadir dalam setiap cerita di buku ini. Sayangnya, kebanyakan cerita berakhir dengan tragis. Hanya satu atau dua cerita yang berakhir dengan bahagia. Setidaknya menurut saya seperti itu.

Tema yang diangkat dalam kumpulan cerita ini juga cukup beragam. Mulai dari persahabatan, keluarga, pekerjaan, bahkan tentang LGBT. Meskipun saya pernah menulis bahwa “Saya Mendukung LGBT”, saya kurang suka membaca cerita bertema LGBT. Sebab LGBT versi saya berbeda dengan LGBT pada umumnya, termasuk di dalam salah satu cerita di buku ini.

Secara keseluruhan, saya cukup terhibur dengan delapan belas cerita di dalam buku ini yang ditulis oleh tiga penulis perempuan yaitu Rae Shella, Arum Effendi, dan Tyas Effendi.

— Untuk Apa Kau Menandai Waktu? —

 2015 | Penulis : Rae Shella, Arum Effendi, dan Tyas Effendi | Illustrator : Adrias Nur Oktavian | Perancang Sampul : Wendi Wiranata | Penata Letak : Lusvita Anggraini | Pracetak dan Produksi : Tim UB Press | ISBN : 978-602-203-691-3 | Cetakan Pertama | Halaman : xiv + 220 14 cm x 21 cm


Tulisan Terkait Lainnya :

28 thoughts on “Untuk Apa Kau Menandai Waktu?

  1. ayanapunya Juli 30, 2015 / 12:00

    wih sekarang mulai mereview buku juga ya, mas

    • jampang Juli 30, 2015 / 12:35

      lagi belajar, mbak 😀

  2. Febriyan Lukito Juli 30, 2015 / 13:51

    Asikkk. Review buku mas Jampang. Eh saya blm selesai juga soal Jejak. Hihi.
    Lg suka baca yang singkat nih mas. Jd sm spt mu. Cerpen lbh enak dibaca skrg ini.

    • jampang Juli 30, 2015 / 15:54

      baru nyoba bikin. soalnya baca buku juga jarang 😀

      • jampang Agustus 3, 2015 / 08:04

        pengen seh, tapi nggak janji 😀

  3. tipongtuktuk Juli 30, 2015 / 21:26

    dulu baca khopingho dan yang sejenisnya kuat, padahal bisa puluhan jilid … sekarang baca sedikit, ngantuk … 😀

    • jampang Agustus 3, 2015 / 08:04

      koq bisa begitu, kang?
      bukan gara-gara kambing soon kan? 😀

      • tipongtuktuk Agustus 4, 2015 / 09:43

        hi hi hi … kalau kambing soon mah malah jadi seger … 😀

      • jampang Agustus 4, 2015 / 09:50

        😀
        iya, kang. mantap itu

  4. Akhmad Muhaimin Azzet Juli 31, 2015 / 08:19

    Biasanya kalau kumpulan cerpen bisa dibaca secara acak atau melompat-lompat sesuai judul yang kita tertarik utnuk membaca duluan. Hal ini karena memang isinya memang tidak ada kaitan antara satu dengan yang lain. Bila dalam UAKMW ini antara judul yang satu dengan yang lain ada kaitan sehingga sebaiknya dibaca urut, tentu ini hal yang menarik. Saya jadi ingin membacanya secara langsung 🙂

    • jampang Agustus 3, 2015 / 08:03

      iya, pak. ada pesan untuk membacanya sesuai urutan supaya bisa menemukan hubungan antar ceritanya

  5. Gara Juli 31, 2015 / 13:13

    Mantap, Mas! Terima kasih buat review-nya atas kumpulan cerpen ini. Secara jejaring pesan pribadi sudah saya sampaikan kepada para penulis yang bisa saya kontak. Saya jadi malu juga sama mereka soalnya saya belum bikin reviewnya karena belum selesai dibaca :haha, cuma memang unik cerpen-cerpen yang dibaca secara berurutan itu :)).

    • jampang Agustus 3, 2015 / 08:02

      sama-sama, gar.
      cuma karena saya nggak biasa bikin review, jadinya ya gitu aja hasilnya

      • Gara Agustus 3, 2015 / 14:37

        Menurut saya ini sudah bagus kok Mas, sudah mewakili apa yang Mas rasa :hehe.

      • jampang Agustus 3, 2015 / 16:28

        terima kasih…. 😀

      • Gara Agustus 3, 2015 / 18:40

        Sama-sama :)).

  6. alrisblog Juli 31, 2015 / 14:27

    Asik juga kalo baca kumpulan puisi ini. Reviewnya oke juga.

    • jampang Agustus 3, 2015 / 08:01

      puisinya cuma ikut-ikutan, mas 😀

  7. eda Juli 31, 2015 / 14:40

    baca ini trus ngaplo, mikirin selemari buku yg udah dibaca dan JANJINYA mau diresensi, tapi sampe skrg blm ada 1 pun 😦

    • jampang Agustus 3, 2015 / 08:00

      kalau sudah dibaca seh mending, mbak. udah ada bahan 😀

  8. MENONE Agustus 1, 2015 / 07:28

    suka nulis ya mas……….

    • jampang Agustus 3, 2015 / 07:59

      yang jelas seh suka ngeblog 😀

  9. capung2 Agustus 3, 2015 / 14:03

    Nambah lagi berarti koleksi hadiahnya ya..

    • jampang Agustus 3, 2015 / 16:28

      alhamdulillah, mas 😀

  10. Arum Effendi Agustus 19, 2015 / 11:00

    Terima kasih untuk review-nya! Suka 🙂

    • jampang Agustus 20, 2015 / 07:57

      sama-sama, mbak.
      alhamdulillah…. soalnya saya nggak biasa bikin review 😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s