Jarum dan Air

Cerita di bawah iniu hanyalah fiksi belaka. Kesamaan nama tokoh, tempat, serta waktu kejadian, hanyalah sebuah kebetulan saja dan memang disengaja.

jarum dan air

Di Minggu pagi yang cerah, Abi mengajak Syaikhan ke teras rumah.

“Syaikhan, ayo ikut Abi!” Abi mengajak Syaikhan yang sedang duduk asyik menyaksikan televisi sambil memperlihatkan tangan kanannya yang membawa segelas air dan telapak tangan kirinya yang menggenggam sesuatu.

Syaikhan langsung bangkit dari tempat duduknya dan langsung melangkah mengikuti Abi.

“Abi, mau ngapain?” tanya Syaikhan ketika Abi meletakkan baskom berisi air ke atas lantai.

“Abi mau melakukan pertunjukan ilmu pengetahuan! Mirip sulap!” jawab Abi sambil tersenyum.

“Wah, asyiiiik!” Syaikhan teriak kegirangan. “Sulap apa, Bi?”

“Syaikhan tahu ini benda apa?” tanya Abi sambil memperlihatkan sebuah benda kecil di atas telapak tangan Abi yang terbuka.

“Jarum?” Syaikhan menjawab dengan nada sedikit ragu.

“Iya. Ini jarum yang Abi gunakan untuk menjahit baju yang robek atau memasang kancing kemeja yang lepas.”

“Itu buat sulap, Bi?”

“Iya.”

“Sulapnya bagaimana, Bi?” tanya Syaikhan dengan penuh penasaran.

“Coba Syaikhan pegang jarum ini dan letakkan di atas air di dalam gelas itu!” pinta Abi.

Syaikhan lalu mengambil jarum yang berada di tangan Abi lalu meletakkannya di atas air di dalam gelas. Jarum pun tenggelam.

“Jarumnya tenggelam, BI!” ucap Syaikhan.

Abi mengambil jarum yang tenggelam di dasar gelas. Lalu meminta Syaikhan melakukan sesuatu. “Nah sekarang coba Syaikhan tutup mata. Jangan dibuka sebelum Abi minta. OK?”

“OK, Bi!”

Abi meletakkan jarum tersebut di atas permukaan air.

“Syaikhan, sekarang buka mata!” pinta Abi.

Syaikhan membuka kedua matanya dan menemukan bahwa jarum yang sebelumnya tenggelam kini mengapung di atas air.

“Wah, kok bisa, Bi?” tanya Syaikhan keheranan. “Bagaimana caranya?”

“Sebelum Abi beritahu, Abi tanya Syaikhan dahulu.”

“Tanya apa, Bi?”

“Kalau ujung jarum ini ditusukkan ke kulit Syaikhan, rasanya bagaimana?”

“Sakit, Bi!”

“Kalau Abi meletakkan jarum ini mendatar di atas kulit Syaikhan seperti ini, rasanya bagaimana?” tanya Abi sambil meletakkan jarum dengan posisis mendatar di atas telapak tangan Syaikhan.

“Tidak sakit, Bi!” jawab Syaikhan.

“Nah sama seperti air. Kalau jarum ini dimasukkan ke dalam air dengan posisi seperti menusuk ke kulits Syaikhan, jarumnya akan tenggelam. Tetapi kalau diletakkan secara mendatar dan pelan-pelan, jarum akan mengambang di atas air.”

“Ohhhh….” Syaikhan menyimak penjelasan Abi. “Jadi air juga punya kulit ya, Bi?” tanya Syaikhan selanjutnya.

“Bukan kulit seperti kulit kita. Tetapi ada sebuah gaya yang bekerja di air yang seolah-olah membentuk lapisan kulit di atas permukaan air. Nanti, jika Syaikhan sudah sekolah, Syaikhan akan tahu lebih jelas mengenai apa nama dan cara kerja gaya tersebut.”

Syaikhan hanya mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali.

“Syaikhan mau coba lagi?” tanya Abi.

“Mau, Bi.”

Syaikhan mengambil kembali jarum yang sudah dikeluarkan Abi dari dalam gelas. Syaikhan mengikuti langkah-langkah yang disebutkan Abi. Secara perlahan, Syaikhan meletakkan jarum dengan posisi mendatar atau sejajar dengan permukaan air. Begitu dilepaskan, jarum tersebut mengambang di atas permukaan air.

“Hore! Aku berhasil, Bi!”


Cerita Terkait Lainnya :

11 thoughts on “Jarum dan Air

  1. Jejak Parmantos Agustus 3, 2015 / 17:38

    Oh emang bisa ngambang ya? belum pernah nyoba sih…🙂

    • jampang Agustus 4, 2015 / 07:19

      bisa, mas. dicoba aja😀

  2. Gara Agustus 3, 2015 / 20:40

    Saya berhasil juga, barusan saya sudah coba, Mas! Eh ini juga tepat banget diterapkan di kehidupan bermasyarakat ya Mas. Kalau kita mendekati orang dengan pendekatan vertikal, menganggap diri lebih tinggi dan memaksakan kehendak, seperti jarum yang menghujam, maka yang tinggal pasti sakit dan luka, tapi kalau kita setara dan sejajar dengan masyarakat tempat kita tinggal, maka jadinya pasti kita bisa diterima dengan baik.

    • -n- Agustus 4, 2015 / 01:16

      Setuju sama Gara🙂

      • jampang Agustus 4, 2015 / 07:17

        idem, mbak😀

    • jampang Agustus 4, 2015 / 07:18

      duh, saya malah nggak mikir ke arah situ, gar😀
      keren… terima kasih atas tambahannya

      • Gara Agustus 4, 2015 / 19:00

        Sama-sama Mas :)).

    • jampang Agustus 4, 2015 / 07:17

      ilmiah dasar, soalnya buat anak kecil yang belum sekolah😀

  3. zilko Agustus 4, 2015 / 17:14

    Hehehe, mengajarkan IPA sedari kecil ya. Caranya kreatif sehingga bisa membuat Syaikhan tertarik😀

    • jampang Agustus 5, 2015 / 07:40

      belum dipraktekin langsung, mas. ini baru dalam khayalan saya aja

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s