Harapan dan Ketegasan – I

Cerita Sebelumnya ……

Kenapa dirinya menangis? Bukankah ini yang sudah lama diinginkannya? Hati Zul bertanya-tanya.

Ah, sudah lah. Itu bukan urusanku lagi. Bukankah di antara kami sudah tidak ada hubungan lagi? Bantahan itu datang kemudian di dalam hati Zul.

Tak lama kemudian, kedua melangkah ke luar ruang sidang untuk kemudian berpisah, memilih jalan pulang masing-masing.

“Aku benci dengan orang yang berselingkuh kemudian menikah dengan selingkuhannya.”

Zul mash ingat dengan kalimat tersebut yang pernah diucapkan oleh Mira, mantan istrinya, sesaat setelah melihat tayangan infotainment tentang pernikahan pasangan selebriti di televisi.

cerita  selengkapnya bisa dibaca di sini.


Siang itu, kembali empat orang sahabat berkumpul untuk makan siang. Sali, Laras, Dewi, dan Lia menikmati pesanan makan siang mereka yang berbeda-beda. Sali memilih gado-gado lontong dengan jus jeruk. Laras terlihat menikmati sop iga dan es teh manis. Sementara Dewi, terlihat begitu lahap menyantap ketoprak dengan es kelapa. Sedangkan Lia, memilih soto ayam dan es teh manis untuk santap siangnya.

“Jadi Zul itu duda beranak satu?” Tanya Laras setelah mendengarkan cerita Sali.

“Iya. Anaknya laki-laki berumur tiga tahun,” jawab Sali.

“Tadi kau bilang Zul bercerai hidup, apa dia cerita apa yang menjadi penyebab perceraian itu, Sal?” giliran Dewi yang mengajukan pertanyaan.

“Nggak. Zul hanya cerita kalau ada masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh dia dan mantan istrinya. Sementara apa masalah tersebut Zul tidak mau menceritakannya karena mengganggap ada aib yang tidak layak untuk diceritakan.” jawab Sali.

“Aku kasih poin plus untuk Zul atas sikapnya tersebut,” timpal Lia.

“Dia memegang teguh rahasia keluarga. Kau tahu Sal, ketika seseorang laki-laki dan perempuan  telah menjadi sepasang suami istri, maka keduanya ibarat pakaian satu sama lain. Suami menjadi pakaian bagi istri dan sebaliknya, istri menjadi pakaian bagi suami. Keburukan atau kejelekan salah satu pihak harus ditutupi oleh yang lainnya, bukan dibeberkan kepada orang lain,” jelas Lia.

“Kau bilang kemarin dia bersama anaknya, bagaimana sikap Zul kepada anaknya?”

Sali mencoba mengingat-ingat kejadian kemarin ketika dia bertemu dengan Zul.

“Sepertinya Zul sangat menyayangi anaknya. Aku melihat Zul memeluk dan mencium anak lelakinya.”

“Kali ini aku yang kasih poin plus buat Zul. Menurut logikaku, kalau seorang ayah sangat menyayangi anaknya, pasti dia sangat menyayangi istrinya,” ungkap Dewi.

“Jadi menurutmu, dahulu Zul sangat menyayangi istrinya?” Tanya Sali.

“Iya. Dan kalau kau menjadi istrinya kelak, dia pun akan menyayangimu,” ucap Dewi

Mereka berempat kemudian tertawa bersama-sama.

“Jadi apa keputusan lo, Sal?” Tanya Laras.

“Aku belum mengambil keputusan. Aku minta waktu kepada Zul selama beberapa

“Ada hal yang mungkin kau harus pikirkan masak-masak, Sal!” Lia mengingatkan.

“Bagaimana sikap Zul terhadap mantan istrinya?”

“Saat ini memang Zul dan istrinya sudah bercerai. Tapi tidak ada yang tahu bagaimana di masa datang. Apakah ada kemungkinan Zul akan membuka pintu hatinya lagi untuk mantan istrinya itu? Loe harus pikirkan itu. Jika perlu lo tanya langsung kepada Zul. Jika Zul memberikan jawaban yang tegas bahwa dia tidak akan kembali kepada mantan istri baik atas kemauannya atau kemauan mantan istrinya, maka lo bisa tenang. Tetapi jika di dalam jawabannya ada keraguan, sementara lo tetap maju untuk mewujudkan rasa di hati lo, maka lo harus berani menghadapi resiko yang mungkin akan terjadi,” ungkap Laras. “Lo siap untuk diduakan?” tanyanya kemudian.

“Harapanku, Zul bisa memberikan jawaban dan sikap yang tegas. Jika dia ragu, sepertinya aku pun akan begitu. Aku tidak menentang poligami. Siapa saja yang ingin melakukannya, silahkan, asal mereka dilakukan dengan baik dan benar, sesuai dengan kaidah yang berlaku. Tapi aku tidak sanggup jika harus menjalaninya,” ungkap Sali penuh harap.

“Kami semua mendoakan yang terbaik buat lo, Sal. Semoga harapan lo bisa terwujud dan itu semua yang terbaik dari Allah.” Ucap Laras.

“Terima kasih. Kalian benar-benar sahabat yang baik.” Timpal Sali.

“Dan jangan lupa, Sal, minta restu sama kedua orang tua. Sebab, bagaimana pun juga, doa dan restu kedua orang tua itu sangat penting. Di tangan keduanya ada ridho Allah. Di tangan keduanya pula ada murka Allah.” Sambung Laras.

“Iya. Aku akan segera membicarakan hal ini dengan kedua orang tuaku, segera.”

— BERSAMBUNG —


Baca Bab Lainnya :

11 thoughts on “Harapan dan Ketegasan – I

    • jampang September 1, 2015 / 14:32

      😀
      terima kasih, mbak

  1. Gara September 1, 2015 / 15:42

    Semoga Sali mengambil keputusan yang tepat :hehe. Yah semua orang saya rasa punya masa lalu, tapi berhubung masa depan belum ada yang tahu, kayaknya agak kurang adil kalau cuma melihat masa lalu seseorang untuk mengambil keputusan masa depan :hehe. Meskipun masa lalu seseorang tetap tak bisa secara menyeluruh diabaikan begitu saja :)).

    • jampang September 2, 2015 / 07:58

      mudah2an, gar😀

      iya, jangan sampai terlalu saklek, tapi jangan juga terlalu mengabaikan

  2. dianryan September 1, 2015 / 17:15

    Pengen baca cerita lengkapnya sampe akhir

    • jampang September 2, 2015 / 07:57

      silahkan baca bukunya, mbak😀

    • jampang September 2, 2015 / 07:57

      iya… lanjutannya sedikit-sedikit😀

  3. alrisblog September 3, 2015 / 14:55

    Kalo dibukukan saya beli bang,🙂

    • jampang September 4, 2015 / 09:18

      insya Allah, mas. tapi kemungkinan besar self publishing

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s