[Prompt#87] Dunia Tanpa Warna-warni Pelangi

sumber

Kontras. Sangat kontras. Begitulah suasana yang kulihat ketika berdiri di salah satu lorong galeri lukisan yang sepi pengunjung ini.

Di dinding sebelah kananku, tergantung sebuah lukisan pelangi di atas padang rumput luas yang begitu memesona dengan titik-titik hujan yang tersisa di ujung-ujung rumput hijau. Ia menghadirkan keceriaan yang begitu nyata. Keceriaan yang mampu masuk ke dalam relung jiwaku hingga aku terlarut di dalamnya.

Sementara di sebelah kiriku, tergantung sebuah lukisan seorang lelaki tua yang sedang memetik gitar berusia tak jauh berbeda dengan dirinya. Nada-nada yang mengalun dari setiap senar yang dipetik lelaki tua itu terdengar pilu di telingaku. Nada-nada tersebut seolah mengabarkan kepadaku tentang kesedihan dan kepiluan hati lelaki tua yang duduk bersandar pada dinding berwarna kelam.

“Apa kau memgetahui perihal lelaki tua itu?” tanyaku kepada lukisan pelangi.

“Tidak,” jawabnya. “Aku sama sekali tidak mengetahui tentang lelaki tua itu. Aku hanya tahu bahwa dia selalu memainkan nada-nada kesedihan dengan gitar di tanganya.”

“Apa mungkin karena dirinya dikelilingi oleh tembok berwarna kelam?”

“Mungkin saja. Sebab aku pernah mendengar bahwa suasana hati seseorang dapat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi sekitarnya.”

“Kalau begitu, apakah dirimu berkenan berbagi warna indahmu kepada lelaki tua itu?” tanyaku lagi. “Agar suasana hatinya menjadi ceria sehingga nada-nada yang mengalun dari gitarnya tak lagi tentang kesedihan.”

“Tapi bagaimana caranya?” tanyanya ragu.

“Aku hanya membutuhkan sebuah kuas yang akan mengambil warna-warnimu. Lalu kuas dengan warna-warnimu itu akan aku goreskan ke dinding tempat lelaki tua itu bersandar. Dengan begitu, kuharap nada-nada sedih dari petikan gitarnya akan berganti dengan nada-nada ceria.

“Baiklah, aku setuju!”

Siang ini, aku kembali ke galeri untuk melihat apakah usahaku semalam membuahkan hasil.

Kusapa lukisan pelangi yang selalu ceria sebelum kuhampiri lukisan lelaki tua denga gitarnya.

“Sepertinya usahamu tak membuahkan hasil!” ucap lukisan pelangi.

“Benarkah?”

“Tidakkah kau mendengar alunan nada-nada seperti yang kau dengar kemarin?”

Ternyata benar. Lelaki tua itu masih memainkan nada-nada sedih seperti kemarin. Penasaran, kudekati lukisan lelaki tua itu untuk bertanya langsung kepadanya.

“Kek,” sapaku. “Mengapa gitar di tangan kakek selalu mengeluarkan nada-nada sedih?”

Mendengar pertanyaanku, lelaki tua itu langsung menghentikan permainan gitarnya.

“Karena hanya ada kesedihan di duniaku, Nak. Sejak kecil, aku tidak bisa menemukan keceriaan di mataku. Orang-orang mengatakan bahwa warna pelangi itu indah. Ceria. Tapi aku tidak bisa melihat keindahan warna pelangi itu. Aku hanya menemukan warna-warna kelam seperti tembok di sekelilingku ini.”

“Tapi Kek, warna tembok di sekeliling Kakek tak lagi kelam. Aku telah mengecat ulang dengan warna-warni pelangi yang indah.”

“Mengapa kau melakukannya, Nak?”

“Aku ingin suasana hati kakek bisa ceria sehingga kakek bisa memainkan nada-nada yang ceria pula dengan gitar Kakek.”

Lelaki tua itu memandang tembok di sekelilingnya sebelum kembali menatapku.

“Terima kasih, Nak. Namun usahamu sia-sia. Kakek tidak bisa melihat warna-warni pelangi itu di tembok ini. Hanya warna kelam. Sebab, Aku buta warna, Nak!”

 


Baca Juga Monday Flash Fiction Lainnya :

18 thoughts on “[Prompt#87] Dunia Tanpa Warna-warni Pelangi

  1. Orin September 12, 2015 / 23:22

    yahhh…ternyata kakek buta warna..

    • jampang September 14, 2015 / 14:19

      lagian nggak ditanya seh😀

  2. dani September 13, 2015 / 06:11

    ealaaah…. :-))

  3. lovelyristin September 13, 2015 / 06:23

    Harusnya jangan kasih warna pelangi mas.. tapi kasih lagu2 ceria hahaha…

    • lovelyristin September 13, 2015 / 06:26

      oiya.. klo mau mampir, aku dah pindah ya mas.. ke lovelyristin.com hehehe..

      • jampang September 14, 2015 / 14:18

        wuih… sudah punya domain sendiri… mantap, mbak

    • jampang September 14, 2015 / 14:19

      iya… harusnya begitu😀

  4. jiah al jafara September 13, 2015 / 20:13

    Aku hanya menemukan warna-warna kelam seperti tembok di sekelilingku ini.

    Dr sini aku dah nebak klo buta warna. Tp kerennn

    • jampang September 14, 2015 / 14:15

      senagja dibuat clue *alasan*

      terima kasih, mbak

  5. Onix September 17, 2015 / 16:35

    Kok Pelanginya gatau ya si kakek buta warna? ah ga peka wkwk😀

    anw, tulisan diatas banyak kekurangan huruf “n” :
    “…lelaki tua denga gitarnya.”
    “…nada-nada kesedihan dengan gitar di tanganya.”

    kehabisan stok ya, mas?😀

    • jampang September 21, 2015 / 08:12

      maklum ngetiknya di HP dan nggak dicek lagi begitu mau upload😀

  6. Riga September 17, 2015 / 17:20

    Bilang dari awal dong, kek! :p

    • jampang September 21, 2015 / 08:12

      nggak ada yang nanya seh

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s