Harapan dan Ketegasan – II

Cerita Sebelumnya…

“Harapanku, Zul bisa memberikan jawaban dan sikap yang tegas. Jika dia ragu, sepertinya aku pun akan begitu. Aku tidak menentang poligami. Siapa saja yang ingin melakukannya, silahkan, asal mereka dilakukan dengan baik dan benar, sesuai dengan kaidah yang berlaku. Tapi aku tidak sanggup jika harus menjalaninya,” ungkap Sali penuh harap.

“Kami semua mendoakan yang terbaik buat lo, Sal. Semoga harapan lo bisa terwujud dan itu semua yang terbaik dari Allah.” Ucap Laras.

“Terima kasih. Kalian benar-benar sahabat yang baik.” Timpal Sali.

“Dan jangan lupa, Sal, minta restu sama kedua orang tua. Sebab, bagaimana pun juga, doa dan restu kedua orang tua itu sangat penting. Di tangan keduanya ada ridho Allah. Di tangan keduanya pula ada murka Allah.” Sambung Laras.

“Iya. Aku akan segera membicarakan hal ini dengan kedua orang tuaku, segera.”

cerita  selengkapnya bisa dibaca di sini.

harapan dan ketegasan

Siang itu, Zul meninggalkan pekerjaan di kantornya untuk bertemu dengan Mira, mantan istrinya. Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hati, Zul sudah tidak lagi memiliki keinginan untuk bertemu secara khusus dengan Mira, kecuali ketika dia menjemput Zul kecil atau dalam pertemuan keluarga. Semua itu Zul lakukan semata-mata hanya ingin menyembuhkan luka di hatinya. Dia khawatir, jika pertemuan dan oBrolan yang terjadi akan membuka kembali lukanya. Namun, kali ini Zul tidak sanggup menolak permintaan Mira.

Sebuah restoran pizza yang yang terletak di pinggir Jalan Mampang akhirnya menjadi pilihan Zul sebagai tempat pertemuan mereka berdua. Sekitar pukul sebelas lewat dua puluh menit, Zul sudah tiba di depan bangunan berlantai tiga yang terletak tepat di sudut tikungan jalan. Setelah membaca SMS yang dikirim oleh Mira bahwa dia sudah berada di dalam, Zul pun segera memasuki restoran tersebut.

Seorang pelayan pria menyambut kedatangan Zul dengan ramah. Zul pun menyambut keramahan tersebut sambil menghadirkan sebuah ucapan terima kasih dan senyuman kepada pelayan tersebut. Di dalam ruangan, Zul mengalihkan pandangannnya ke sekeliling, mencari meja yang ditempati Mira. Agak sulit bagi Zul untuk menemukan Mira di antara orang-orang yang sedang menyantap makan siang yang hampir menempati seluruh meja yang tersedia. Setelah beberapa saat mencari dan tidak menemukan Mira, akhirnya Zul mengeluarkan handphonenya untuk menghubungi Mira.

“Assalaamu ‘alaikum. Mir, duduk di mana?” Tanya Zul begitu Mira menerima telepon di seberang sana.

“Wa ‘alaikumus salaam. Aku di lantai dua, Mas. Di sebelah pojok dekat jendela,” jawab Mira dari ujung telepon.

“Oke. Aku naik,” ucap Zul sebelum mennutup handphone dan menaiki tangga yang berada di sebelah kanan pintu masuk.

Tiba di lantai dua, Zul mendapati suasana yang lebih sepi dibandingkan dengan di lantai dasar. Tak banyak orang yang bersantap siang di sini. Mungkin mereka enggan memilih lantai dua ini karena harus menaiki tengga.

Kembali Zul mengalihkan pandangan matanya, namun kali ini cukup ke beberapa sudut ruangan saja, tidak perlu ke seluruh ruangan. Tanpa mengalami kesulitan Zul sudah menemukan Mira di salah satu meja yang berada di sudut kanan dari tangga. Zul langsung melangkahkan kakinya mendekati meja di mana Mira sedang menikmati sepotong pizza ukuran kecil dengan segelas ice lemon tea.

Mira yang melihat kedatangan Zul langsung mempersilahkan Zul duduk.

“Maaf, Mas. Aku makan duluan. Sudah lapar, nggak tahan,” ucap Mira ketika Zul sudah duduk di hadapannya. “Mas mau pesan apa?” Tanya Mira kemudian.

“Gampang itu. Nanti saja!” jawab Zul.

Mira menghentikan makannya. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sedih.

“Mas, maafkan kesalahanku!” Pinta Mira dengan nada lirih.

“Aku sudah sering mengatakan bahwa Aku sudah memaafkan kesalahanmu,” jawab Zul.

“Tapi Aku merasa Mas masih saja marah kepadaku.”

Forgiven not forgotten. Aku bisa memaafkan kesalahanmu, tetapi Aku belum bisa melupakan apa yang telah kau lakukan kepadaku.”

“Jadi, tidak ada kesempatan untuk kita bersama-sama lagi, Mas?”

“Tidak ada!”

“Meskipun itu demi anak kita? Kasihan Zul kecil, Mas!”

“Sekarang kau merasa kasihan kepada anak kita? Lantas kemana perasaanmu itu pergi ketika kau memilih untuk meninggalkanku. Seharusnya kau tanyakan hal itu kepada dirimu sendiri sebelum melakukan sesuatu yang membuat rumah tangga kita hancur berantakan! Sebelum menjadikan anak kita kehilangan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya secara bersamaan!”

“Mas menyalahkanku?”

“Aku tidak menyalahkanmu sepenuhnya. Aku sadar diri bahwa aku juga punya andil atas masalah yang menimpa keluarga kita. Hanya saja aku masih mencoba untuk bertahan, sedang dirimu tidak. Kamu ingat, berapa kali sudah jatuh talakku kepadamu? Tiga kali! Itu juga salah satu penyebab kita tidak bisa bersama-sama lagi.”

“Sekarang, aku menyesal, Mas.”

“Penyesalan memang selalu datang belakangan. Tapi sekarang, penyesalanmu sudah tidak ada gunanya lagi.”

Kedua mata Mira mulai basah. Tak lama kemudian, di kedua sudut matanya terbentuklah sungai kecil. Mira menangis.

“Seharusnya saat itu, sebagai suami, seharusnya Mas mengingatkanku saat itu.”

“Jangan katakan kalau Aku tidak pernah mengingatkanmu. Sebelum semuanya terjadi, aku sudah mengingatkanmu berulang kali. Tapi bukannya mendengarkan apa yang kukatakan, kau malah menutup telingamu rapat-rapat dan malah menyalahkanku sebagai suami yang tidak baik.”

“Itu karena Mas tidak memberikan solusi. Hanya memintaku untuk bersabar dan terus bersabar. Sampai kapan? Sampai aku mati dalam kesabaranku?” Nada bicara Mira mulai meninggi. Mungkin jika bukan di tempat umum, kemarahannya akan semakin menjadi.

— BERSAMBUNG —


Baca Bab Lainnya :

13 thoughts on “Harapan dan Ketegasan – II

  1. Alris September 15, 2015 / 21:14

    saling menyalahkan itu… hiks…

  2. Gara September 16, 2015 / 10:00

    Uuh, kalau saya jadi pengunjung restoran yang kala itu ada di lantai dua, mungkin saya sudah melipir dengan teratur, meski kadang tertarik juga sih kalau ada pasangan bertengkar demikian #eh *cekcok mah bukan hal yang baik buat dikupingin yak :haha*. Hm… dia meminta kembali, bagaimanakah kelanjutan kisahnya? Mari, kita tunggu… mudah-mudahan semua berakhir baik untuk mereka berdua, deh. Oh, bertiga, Sali juga termasuk :hehe.

    • jampang September 16, 2015 / 21:04

      kalau nguping deket2, nanti malah ikutan kena damprat, Gar😀

      • Gara September 16, 2015 / 21:53

        Betul sekali! Jadi mending didengarkan dari jauh dulu, nanti kalau mereka sudah selesai baru kita mendekat dan bertanya, seperti infotainmen… eh itu mah jadinya digampar juga ya Mas? :haha.

      • jampang September 17, 2015 / 05:27

        😀
        ya sama juga bohong itu, mah

  3. Dedi Setiawan September 16, 2015 / 13:23

    Aku tidak menentang poligami. Siapa saja yang ingin melakukannya, silahkan, asal mereka dilakukan dengan baik dan benar, sesuai dengan kaidah yang berlaku. Tapi aku tidak sanggup jika harus menjalaninya,

    hmmm, kalimat yang jujur… dan cerdas!😉

    • jampang September 16, 2015 / 21:07

      sebab pologami itu sesuai syariat. tetapi tidak berarti semua orang harus melakukannya

  4. Febriyan Lukito September 16, 2015 / 15:46

    Jadi… kesalahan apa sih sampai saling menyalahkan gitu? Hmmmm terus Sali gimana bang?

    • jampang September 16, 2015 / 20:53

      permasalahannya sudah diceritakan di episode-episode awal, mas. ya… tunggu ceritanya😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s