Pengalaman Menggelikan di Bandara Terbaik

Bandar Udara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan.
sumber http://www.sepinggan-airport.com/

Beberapa waktu yang lalu, untuk kali pertama, saya menginjakkan kaki di kota Balikpapan. Tempat yang pertama saya kunjungi, tentu saja adalah bandaranya. Bandara Sepinggan. Sebab saya datang dengan menumpang pesawat dari Jakarta.

Bandara Sepinggan yang bernama resmi Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan dengan akronim penanda BPN, ternyata merupakan bandara terbaik di Asia di dalam kelasnya. Yaitu, bandara yang melayani lima juta sampai lima belas juta penumpang dalam setahun.

Dari sumber berita yang saya baca di sini, disebutkan :

Bandara SAMS Sepinggan berkompetisi dengan 79 bandara di seluruh dunia yang berkategori jumlah penumpang lima juta hingga 15 juta orang per tahun. Di kelas lima sampai 15 juta penumpang itu, Bandara Sepinggan adalah yang terbaik layanannya di Asia, termasuk Asia Tenggara. Sepinggan lebih ramah dan lebih bersih dari pada Bandara Penang di Malaysia atau Bandara Chiang Mai, Thailand, Bandara Bengaluru, India, atau bahkan Bandara San Antonio di Texas, Nevada, Amerika Serikat.

Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan menempati posisi 16 terbaik dunia berdasarkan hasil survei 2014. Bandara terbaik di kategori atau kelas ini adalah Bandara Haikou Meilan, Cina. Sedangkan Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar mendapat urutan ke-38 dan peringkat ke-121 di daftar kesuluruhan.

Selain menempati urutan ke-16 dunia. Bandara SAMS Sepinggan kini berada di urutan ke-43 dalam urutan total 254 bandara dari seluruh kategori. Pada tahun 2012, Bandara Sepinggan berada di peringkat ke-221 dan di 2014 di urutan ke-191.

Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan juga sukses masuk posisi 12 di tingkat Asia, dan urutan nomor 1 bandara terbaik di Asia Tenggara untuk kategori yang sama.

Setelah peasawat yang saya tumpangi mendarat dengan sempurna, melalui jendela, saya melihat deretan garbarata yang dibangun rapi. Melalui garbarata itulah, saya dan penumpang lainnya memasuki gedung bandara.

Garbarata adalah adalah jembatan yang berdinding dan beratap yang menghubungkan ruang tunggu penumpang ke pintu pesawat terbang untuk memudahkan penumpang masuk ke dalam dan keluar dari pesawat. Garbarata diciptakan oleh Frank Der Yuen. Garbarata pertama kali digunakan pada tanggal 26 Juli 1959 di Bandar Udara Internasional San Francisco.

Memasuki gedung, saya mendapati ruangan yang luas, bersih, dan tertata dengan apik. Mungkin karena jumlah orang yang lalu-lalang tidak terlalu banyak saat itu, maka kesan ruangan yang luas semakin bertambah luas.

Selain bersih dan rapi, saya juga mendapatkan kesan tertib di Bandara Sepinggan. Hal itu saya dapatkan ketika akan memasuki pesawat untuk kembali ke Jakarta. Seorang petugas mengumumkan kepada penumpang dengan nomor kursi sekian sampai sekian untuk memasuki pesawat terlebih dahulu. Bila ada penumpang dengan nomor kursi di luar nomor yang diumumkan maka akan diminta menunggu terlebih dahulu.

Sepertinya, di beberapa penerbangan sebelumnya, saya tidak mendapatkan pengalaman demikian. Penumpang akan masuk pesawat sesuai dengan barisan. Akibatnya, di dalam pesawat akan terjadi hambatan ketika para penumpang akan melangkah menuju kursinya.

Lantas bagaimana pengalaman menggelikan seperti yang saya sebutkan di judul coretan ini?

Pertama, rencana berangkat sesuai dengan tiket yang di tangan adalah pukul 17.00. Di pagi hari keberangkatan, saya melakukan check in via web. Karena berangkat sore menjelang malam, jadi saya berpikir untuk apa duduk di kursi dekat jendela sebab tidak bisa melihat pemandangan, saya pun mengubah duduk kursi menjadi dekat lorong agar lebih mudah ketika keluar.

Setelah proses chek in selesai, muncullah notifikasi di layar laptop dan masuknya SMS ke handphone saya. Begitu saya baca, ternyata pesawat dengan jadwal pukul 17.00 tidak beroperasi dan jadwal dimajukan sekitar pukul tiga sore.

Hiks…. sayangnya saya sudah terlanjur pindah kursi dan akhirnya tidak bisa menikmati pemandangan di luar jendela pesawat. Tak apalah, akhirnya saya mengisi waktu di dalam pesawat dengan menonton film.

Kedua, pengalaman yang membuat saya tertawa sendiri adalah ketika akan pulang. Dari hotel, saya dan seorang rekan menggunakan taksi menuju bandara. Kami berhenti di depan pintu masuk. Kami langsung masuk dan berjalan lurus menuju tempat pemeriksaan pertama. Kepada petugas, kami memperlihatkan SMS bahwa kami sudah melakukan checkin melalui web.

“Maaf, Pak. Tidak bisa!” jawab petugas. “Harus dicetak dahulu!”

Apanya yang harus dicetak? Tanya saya dalam hati.

“Di badara Soekarno-Hatta bisa kok, Mbak!” protes saya.

“Tidak bisa, Pak. Harus dicetak agar bisa discan!” timpal petugas lagi.

Setelah dipikir-pikir, kami tersadar. Ternyata kami salah jalur masuk😀

Sebagai perbandingan, ketika saya masuk ke Bandara Soekarno-Hatta, saya cukup memperlihatkan SMS check in kepada petugas di pintu masuk pertama. Lalu saya masuk ke tempat pemeriksaan barang. Lalu menuju tempat check in untuk meminta boarding pass. Baru kemudian menuju ruang tunggu dengan melewati pintu pemeriksaan barang sekaligus pemeriksaan boarding pass.

Hal yang demikian tidak kami lakukan di Bandara Sepinggan. Seharusnya, setelah melewati pintu masuk, kami tidak berjalan lurus melainkan berjalan ke arah kiri ke tepat check in untuk meminta boarding pass. Barulah kemudian menuju tempat pemeriksaan barang yang sekaligus berfungsi untuk pengecekan boarding pass untuk selanjutnya menuju ruang tunggu.

Karena malu, akhirnya setelah mendapatkan boarding pass, kami masuk melalui pintu yang dijaga oleh petugas lain, bukan petugas yang melayani sebelumnya😀


Tulisan Terkait Lainnya :

16 thoughts on “Pengalaman Menggelikan di Bandara Terbaik

  1. dianryan September 21, 2015 / 12:24

    setuju mas aku juga suka sama bandara Sepinggan rapi dan bersih

    • jampang September 21, 2015 / 15:40

      iya, mbak. makanya tak heran jadi yang terbaik😀

  2. ayanapunya September 21, 2015 / 13:10

    saya baru tahu kalau belalai gajah itu namanya garbarata😀

    • jampang September 21, 2015 / 15:40

      keren kan namanya😀

    • jampang September 21, 2015 / 15:39

      iya, mbak. mungkin lebih spesifik jalurnya yang beda…. soalnya di sepinggan sepertinya lebih “terbuka” kepada para pengantar

  3. dani September 21, 2015 / 15:21

    Belom pernah euy ke Sepinggan. Saya kalo malem suka malah duduk di pinggir Bang. Hihihi. Seru aja lihatin gelap-gelap.

    • jampang September 21, 2015 / 15:37

      cuma kelap-kelip doank kurang seru, mas😀

  4. zilko September 21, 2015 / 15:41

    Hehehe, oleh sebab itulah aku masih kurang percaya untuk saat ini kita bisa paperless travelling di Indonesia😛 . Kalau di Eropa, setelah check-in online kita akan dikirimi boarding pass ke email. Boarding pass tersebut bisa kita unduh ke telepon genggamg sebagai file gambar yang memiliki barcode. Kemudian ketika dibutuhkan, kita tinggal menunjukkan gambar di telepon genggam itu untuk di-scan.

    Praktis! Dan hemat kertas!!😀 Plus gak harus pusing membuang sampah kertas karena nggak memakai kertas sama sekali!😀

    Ah, aku belum pernah nih ke Sepinggan. Kalau tidak salah memang terminalnya baru…🙂

    • jampang September 21, 2015 / 16:34

      sebenarnya boarding passnya bisa dikirim via email, tetapi masih perlu dicetak untuk discan. belum tahu kalau dari gambar atau file yang dibuka via HP bisa langsung discan atau nggak.

  5. yantist September 22, 2015 / 04:54

    Nomor kursi sekian dan sekian masuk lebih dulu sepertinya aturan baru, Mas. 2 bulan yg lalu sy dri Sepinggan ga ada aturan itu😀

    • jampang September 22, 2015 / 08:21

      iya kah?
      kalau tidak salah saya pernah denger si petugas bilang seperti itu, cuma penumpang yang masuk nggak ditahan dulu kalau nomornya blm seharusnya masuk

  6. pinkvnie September 22, 2015 / 12:52

    Kayaknya Bentuk bandaranya hampir sama dgn changi airport singapura, sistem antrian penumpang masuk pesawatnya jg sama…

    • jampang September 22, 2015 / 13:47

      wah, saya belum pernah ke sana😀

  7. alrisblog September 22, 2015 / 13:52

    Sewaktu saya mau ke Tenggarong terminal baru masih dalam pembangunan. Bagus juga sistem antrian masuk pesawat diatur menurut nomor, sehingga tidak bikin ribet dan desak-desakan. Perlu dicontoh bandara lain.

    • jampang September 22, 2015 / 18:30

      iya. kalau nggak begitu, penumpang saling dulu2an dan jadi desak2an

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s