Harapan dan Ketegasan – III

Cerita Sebelumnya …

“Seharusnya saat itu, sebagai suami, seharusnya Mas mengingatkanku saat itu.”

“Jangan katakan kalau Aku tidak pernah mengingatkanmu. Sebelum semuanya terjadi, aku sudah mengingatkanmu berulang kali. Tapi bukannya mendengarkan apa yang kukatakan, kau malah menutup telingamu rapat-rapat dan malah menyalahkanku sebagai suami yang tidak baik.”

“Itu karena Mas tidak memberikan solusi. Hanya memintaku untuk bersabar dan terus bersabar. Sampai kapan? Sampai aku mati dalam kesabaranku?” Nada bicara Mira mulai meninggi. Mungkin jika bukan di tempat umum, kemarahannya akan semakin menjadi.

Selengkapnya bisa dibaca di sini.

“Seperti yang aku katakan tadi, aku tidak menyalahkanmu sepenuhnya atas masalah yang terjadi. Karenanya, ketika kau mengajukan permintaaan untuk berpisah, aku hanya bisa pasrah. Ucapanmu saat itu mungkin benar adanya. Aku mungkin lelaki yang baik dan suami yang baik. Kau pun perempuan yang baik dan istri yang baik. Tapi, ketika kita bersama-sama, segala kebaikan itu menjadi hilang,” ucap Zul.

“Tapi kini aku menyadari kesalahanku, Mas. Aku perempuan yang selalu mendahulukan perasaan dibanding akal. Aku sangat berharap bisa kembali menjadi istrimu. Aku menyadari bahwa kamu adalah lelaki yang terbaik untukku. Kumohon, bukalah pintu maaf dan pintu hatimu untukku, Mas!” Pinta Mira dengan memelas.

“Jika kau katakan bahwa kau adalah perempuan yang selalu mementingkan perasaan dibanding akal, maka perasaan mana yang bisa kau jadikan pegangan, perasaanmu waktu itu, atau perasaanmu yang sekarang? Tapi jawabanku tidak akan berubah, Mir. Sekali aku bilang tidak, maka selamanya tetap tidak.” Jawab Zul dengan tegas.

Jawaban Zul tersebut membuat air mata Mira semakin deras mengalir. Kalimatnya yang keluar dari mulutnya menjadi terbata-bata.

Setelah kalimat tersebut terlontar dari mulutnya, Zul pun terdiam. Pandangan Zul menembus kaca jendela yang berada di sisi kanannya. Bayangan sebuah peristiwa di masa lalu berkelebat di hadapannya. Pertengkaran-pertengkaran yang terjadi antara dirinya dan Mira yang berujung pada proses persidangan perceraian.

“Mas!” Panggil Mira setelah mampu menguasai dirinya kembali.

Panggilan Mira tersebut membawa pikiran Zul kembali dari masa lalu. Zul tak menjawab. Dia hanya mengalihkan pandangannya ke wajah perempuan yang dahulu pernah dirinya nobatkan sebagai perempuan termanis di dunia, walau yang dipuji lebih senang dibilang cantik daripada manis.

“Kenapa sikap, Mas begitu? Apa Mas sudah punya calon penganti?”

“Soal calon, insya Allah ada.”

Jawaban Zul tersebut kembali membuat Mira menangis dan mengeluarkan air mata.

“Mas, Aku tidak kuat membayangkan jika Mas bersanding dengan wanita lain,” ucap Mira terbata-bata diiringi dengan tangisnya.

“Kalau begitu, tidak usah dibayangkan. Beres kan?”

“Mas kok tega?”

“Seharusnya, pertanyaan tersebut kau ajukan kepada dirimu sendiri. Apakah kau pernah berpikir tentang bagaimana perasaanku saat itu, membayangkan dirimu besama lelaki lain?”

“Jadi Mas mau balas dendam kepadaku dengan cara menikahi perempuan lain?” Tanya Mira di sela isak tangisnya.

“Tidak. Aku sama sekali tidak berniat untuk membalas dendam sakit hatiku kepadamu dengan cara menikahi perempuan lain. Aku melakukannya karena kemauanku sendiri untuk menggantikan sayapku yang patah, untuk menggenapkan agamaku yang telah hilang separuh saat kau tinggalkan.” Jawab Zul.

“Tapi, Mas. Aku melakukan hal itu dengan maksud agar kau kembali mencintaiku, menyayangiku, dan memperhatikanku lagi. Aku cuma main-main.”

“Apa?” Zul terkejut setengah mati mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Mira. “Kau anggap pernikahan dan berumah tangga itu cuma main-main? Kau sudah melakukan kesalahan besar, Mir. Bagiku, pernikahan dan berumah tangga bukan hanya soal cinta dan sayang, tapi juga komitmen dan kesetiaan.” Sambung Zul.

“Jika kau bilang semua yang kau lakukan itu cuma main-main, tapi tidak menurutku. Apa yang telah kau lakukan telah membahayakan kehidupan kita berdua di akhirat kelak. Kau rela dilaknat oleh malaikat setiap malam sebagaimana kau mengambil bau surga dari tubuh dan jiwaku. Itu bukan main-main namanya.” Ucap Zul dengan geram.

Zul terdiam sejenak sambil menarik napas panjang. Telapak tangannya mengepal. Kedua matanya terpejam. Zul mencoba menahan amarahnya.

“Mir, hari ini aku semakin tahu tentang siapa dirimu. Aku menjadi semakin yakin bahwa perpisahan ini adalah yang terbaik untuk kita. Biarlah kita jalani hidup kita masing-masing. Sebuah hidup yang baru. Semoga harapanmu dan juga harapanku bisa menjadi kenyataan. Kau bisa menemukan lelaki yang tak hanya baik saja, tapi yang super baik, sehingga bisa mencintaimu, menyayangimu, dan memperhatikanmu dengan cara yang kau inginkan. Begitu pula denganku. Semoga, kelak kita bisa bahagia dengan pasangan masing-masing tanpa mengurangi kasih-sayang kita kepada Zul kecil.” Zul menyampaikan apa yang menjadi harapannya kepada Mira.

Mira hanya terdiam dalam tangisnya. Tak mampu berkata apa-apa.

“Aku minta maaf jika selama menjadi suamimu, aku lebih sering membuatmu kecewa daripada membuatmu bahagia. Maafkan aku karena lebih sering membuatmu menangis daripada membuatmu tersenyum.” Ucap Zul sebelum dirinya pamit dari hadapan Mira.

“Aku pamit dulu, Assalaamu a’laikum.” Sambung Zul.

“Wa ‘alaikumus salaam,” jawab Mira pelan.

Zul kemudian berdiri dari kursinya dan melangkah meninggalkan Mira yang masih berusaha menguasai emosinya. Mata Mira hanya bisa menatap punggung Zul yang segera menghilang ketika langkah kaki Zul menuruni tangga.

*****

tak lagi ada empati
jika selalu menipu hati
tak lagi ada timbang rasa
jika hanya bisa berprasangka
tak lagi ada sayang
jika paksa yang selalu mengguncang
tak lagi ada cinta
jika cela semakin nyata

cukup!
hatiku terkatup

 

—BERSAMBUNG—


Baca Bab Lainnya :

5 thoughts on “Harapan dan Ketegasan – III

  1. ndu.t.yke Oktober 15, 2015 / 11:54

    Salut sama mantan suami yg bisa tegas.

  2. Alris Oktober 15, 2015 / 18:15

    puisi ketegasan itu mantap.

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s