[Prompt#94] Pohon di Surga

pohon di atas awan

Di hadapanku berdiri sebuah pohon. Pohon yang teramat besar. Pohon terbesar yang pernah kulihat. Batangnya berwarna keemasan. Cabangnya sangat banyak. Daun-daunnya yang tumbuh rapat seperti menjadi penaung bagi siapa pun yang berada di bawahnya.

“Nak, kamu tahu pohon itu?” tiba-tiba seorang lelaki menghampiriku dan bertanya dengan suara lembut.

Aku hanya menggeleng. Kedua mataku masih takjub dengan pemandangan di hadapanku. Lidahku pun masih kaku untuk melontarkan kata-kata.

“Itu pohon ajaib. Kamu bisa meminta apa saja yang kau inginkan. Kamu bisa meminta buah-buahan, pakaian, bahkan mainan kesukaanmu,” sambung lelaki itu.

Bagaimana mungkin aku bisa memetik buah di pohon itu. Cabangnya tinggi sekali. Sementara aku hanyalah seorang anak kecil bertubuh pendek. Setinggi apa pun aku melompat, tanganku tak bisa menggapainya.

“Cobalah!” pinta lelaki itu.

Aku belum bisa mempercayai omongan lelaki itu. Tapi tak ada salahnya jika aku mencoba, kan? Pikirku.

Lalu aku membayangkan buah pisang kesukaanku. Tiba-tiba, sebuah dahan yang semula tinggi bergerak turun mendekatiku. Tepat ketika berada di depan wajahku, ujung dahan tersebut mengeluarkan buah pisang sesuai dengan keinginanku.

Kualihkan pandanganku kepada lelaki di sampingku.

Lelaki itu tersenyum lalu berkata, “Petiklah dan makanlah!”

Tiba-tiba aku teringat dengan cerita ayah yang menjadi favoritku. Cerita tentang pohon di surga. Kata ayah, pohon di surga itu sangat tinggi dan besar. Untuk berjalan melintasi naungan dahannya dibutuhkan waktu 100 tahun. Pohon itu bisa memberikan apa yang diinginkan oleh penduduk surga.

Jangan-jangan, ini adalah salah satu pohon di surga. Kalau demikian

“Paman, apakah saat ini aku berada di surga?” tanyaku.

Lelaki tersebut kembali tersenyum. Lalu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

Aku melompat kegirangan.

“Ayah! Aku ada di surga!” teriakku.

Aku harus segera memberitahu ayahku. Aku akan mengajaknya ke tempat ini.

Aku kemudian berlari mencari ayahku. Aku terus berlari tanpa memperhatikan dan mempedulikan sekelilingku. Hingga di menit kesekian, ketika tenagaku hampir tak tersisa, ketika napasku terasa berat sekali, kulihat ayah di hadapanku.

“Ayah… aku… melihat… pohon… di surga!” kalimatku terputus-putus.

Ayah tak telihat senang mendengar kabar yang kusampaikan. Yang kulihat, kedua matanya berkaca-kaca.

“Ayah sayang Syifa. Tunggu ayah di surga, yah!” kalimat itu yang terlontar dari mulut ayah. Ayah lalu memelukku seraya mengucap kalimat istirja’(*) bersamaan dengan gelapnya pandanganku.

(*) Kalimat istirja’ berbunyi “innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un”. Kalimat tersebut mempunyai arti “Sesungguhnya kita milik Allah dan hanya kepada-Nya kita kembali”


Tulisan Terkait Lainnya :

29 thoughts on “[Prompt#94] Pohon di Surga

    • jampang November 19, 2015 / 13:19

      mudah2an si ayah bisa tabah.
      kalau nangis sih pasti…. sebab saya begitu waktu ngalami kehilangan anak yang baru lahir

      • ndu.t.yke November 19, 2015 / 14:32

        Aamiin smoga bs tabah.

      • jampang November 19, 2015 / 15:42

        aamiin

  1. Faris November 19, 2015 / 13:14

    Saya belum dapat membayangkan bagaimana perasaan seorang orang tua yang kehilangan anaknya sangat cepat begitu saja, Saya malahan sekarang berfikir tentang perasaan Bunda dari teman saya yang telah meninggal, dia kehilangan anak satu-satunya.😦

    • jampang November 19, 2015 / 13:18

      yang pasti sedihnya luar biasa, mas. sebagai lelaki, saya saja sampai nangis…. apalagi seorang perempuan atau ibu😦

  2. Kang Darsono November 19, 2015 / 14:19

    Saya pernah kehilangan anak kedua saya tuk slama2 nya 😦
    Hal yg sangat mengharukan adalah ketika membopongnya ke tanah makam….
    Harapan saya, semoga kelak ia menjadi bunga surga disana🙂

    • jampang November 19, 2015 / 15:43

      iya, mas. saya juga ngalamin😦

      aamiin. semoga menjadi “tabungan” di surga

      • Kang Darsono November 20, 2015 / 08:31

        amiinnn 🙂

      • jampang November 20, 2015 / 09:39

        aamiin yaa rabbal ‘aalamiin

  3. Grant November 19, 2015 / 14:34

    Sedih sekali ceritanya.😥

  4. dianryan November 19, 2015 / 14:58

    sedih, ngebayangin gimana orangtua yang kehilangan anaknya😦

    • jampang November 19, 2015 / 15:42

      versi kisah nyatanya ada di link di bagian akhir cerita, mbak

  5. eda November 19, 2015 / 15:17

    tisu mana tisu😦

    • jampang November 19, 2015 / 15:41

      di sini nggak ada, mbak

    • jampang November 20, 2015 / 08:17

      ya belumlah. itu gambaran yang diberikan saat sakaratul maut

  6. capung2 November 22, 2015 / 06:27

    Sngt berat pastinya buat sang ayah..

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s