Aku Adalah Pakaianmu, Kamu Adalah Pakaianku

pakaian_bajuZul, kamu pernah membuat sebuah puisi yang menggambarkan tentang peranan seorang suami atau istri yang menjadi pakaian bagi pasangannya. Pakaian yang berfungsi untuk melindungi segala kekurangan, kelemahan, dan aib pasangannya agar tidak diketahui oleh orang lain. Berikut aku tuliskan kembali puisimu nan indah itu.

jika kesalahan itu begitu nyata
samarkan dengan cinta
tutupi dengan rasa sayang yang ada

jika kekurangan itu begitu jelas
samarkan agar tak menetas
tutupi agar tak meluas

jika aib itu begitu besar
samarkan agar tak melebar
tutupi agar tak menyebar

Kini, izinkan aku untuk mengingatkanmu tentang fungsi dari pakaian yang dikenakan seseorang yang lain. Selain untuk menutuo aurat, pakaian juga berfungsi untuk melindungi tubuh dari sengatan panas matahari, gigitan serangga, juga dari debu-debu agar tak mengenai tubuh si pengguna. Jika fungsi tersebut dikaitkan dengan peranan seorang suami dan istri, maka seorang suami sejatinya mampu melindungi sang istri dari hal-hal yang mungkin melukai hati, pikiran, dan perasaaannya. Begitu pula sebaliknya. Apakah kamu setuju, Zul?

Zul, aku teringat dengan pengalaman seorang temanku. Dia berkisah kepadaku ketika dirinya hamil muda dan mengalami masa ngidam yang cukup memberatkan. Ketika dirinya sulit untuk bisa menikmati makanan, sampailah ke telinganya sebuah kalimat yang mengusik pikirannya dan melukai hatinya, “Kalau kamu sayang sama bayi di dalam kandunganmu, makanlah!”

“Ibu mana yang tidak sayang dengan janin yang ada di dalam perutnya? Ibu mana yang tidak sayang dengan calon bayi yang kehadirannya sangat ditunggu-tunggu?” pertanyaan itu ia lontarkan kepadaku. Sebuah pertanyaan yang tidak memerlukan jawabanku. Semua orang pasti sudah tahu. “Bukannya aku tidak sayang kepada calon bayiku. Bukannya aku tidak mau menikmati segala masakan yang tersedia untukku. Tapi tubuhku tidak bisa menerima semua itu. Jika aku memaksakan diri, aku malah mual dan muntah!” sambungnya.

Zul, aku meminta kepadamu untuk menjalankan fungsi pakaian sebagai pelindungku. Lindungilah telingaku dari kalimat-kalimat seperti itu. Akan lebih baik terdengar di telingaku dan akan lebih nyaman di hatiku jika kalimat yang ditujukan kepadaku di masa-masa ngidamku berupa “Cobalah dimakan! Dirasakan dahulu! Jika tidak enak karena kurang bumbu ini dan itu, nanti dibuatkan lagi atau dibelikan di tempat lain.”

Zul, ada lagi pengalaman temanku yang lain ketika menjalani masa-masa menyusui. Sang buah hatinya tidak gemuk. Tidak seperti bayi-bayi para tetangganya yang kebanyakan bertubuh gemuk. Sebagian bayi-bayi itu, selain diberikan ASI juga mendapatkan tambahan susu formula. Lalu terlontarlah sebuah komentar yang disampaikan langsung kepada temanku itu. “Kok anaknya nggak gemuk seperti si A. Coba aja ditambahin susu!”

Tentu saja kalimat tersebut akan membuat semangatnya untuk memberikan ASI ekslusif untuk bayinya menjadi jatuh. Jika dirinya tak mampu bertahan dan tidak mendapatkan sebuah tiang kokoh sebagai sandaran, mungkin tekad bulatnya itu akan pudar. Dirinya bisa jadi membatalkan pemberian ASI ekslusif untuk bayinya.

Zul, aku tak ingin mengalami hal-hal seperti kedua temanku tadi. Karenanya, kumohon, jadilah pelindung pikiran, perasaan, dan hatiku! Bukankah itu adalah fungsi seorang suami? Aku juga tidak menafikan bahwa yang demikian itu juga menjadi fungsi seorang suami.

Sebagai penutup, kucoba untuk menuliskan sebuah puisi yang mungkin tidak seindah rangkaian kata di dalam puisimu, Zul.

jika kalimat yang terlontar
terdengar kasar
dengan cinta yang kau genggam
lindungi hatiku agar tak ada luka yang terhunjam

jika kata-kata yang terangkai
akan mengusik jiwaku hingga lunglai
dengan sayang yang kau miliki
lindungi jiwaku agar tak tercederai

jika ucapan yang mengalir
mengganggu pikir
dengan kasih yang kau punya
lindungi rasaku agar tak timbul lara


Seri Samara Lainnya :

12 thoughts on “Aku Adalah Pakaianmu, Kamu Adalah Pakaianku

  1. titintitan Desember 2, 2015 / 10:08

    baru bikin tulisan serupa. gak ding gak serupa, hanya pake kalimat itu 😀

      • titintitan Desember 2, 2015 / 10:21

        heu.. belum. :D.

      • jampang Desember 2, 2015 / 11:09

        oooo…. ditunggu aja deh 😀

  2. eda Desember 2, 2015 / 10:43

    iya betuuull.. suami-istri harus saling ‘menjaga’ kan yaa.. ga buleh mengumbar-umbar sembarangan 😀

    • jampang Desember 2, 2015 / 11:09

      iya, mbak…. betul banget

  3. Uwien Budi Desember 2, 2015 / 20:18

    Lama gak kesini. Makasih, Mas sudah mengingatkan. 🙂

  4. Film HD Januari 27, 2016 / 15:25

    artikel nya sangat bagus thanks udh share

    • jampang Januari 27, 2016 / 15:32

      terima kasih. sama-sama 😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s