Merealisasikan Kisah Lelaki dan Roti di Pagi Hari

roti

Di bulan April 2012, saya pernah membuat sebuah coretan yang merupakan sebuah khayalan atau keinginan untuk melakukan sebuah kebaikan. Coretan fiksi tersebut saya beri judul “Lelaki dan Roti di Pagi Hari“. Coretan tersebut saya publikasikan di Multiply, platform yang saya gunakan untuk ngeblog saat itu. Secara lengkap, isi coretan tersebut saya salin di bawah ini.

Lelaki itu terlihat begitu menikmati roti berlapis keju dan taburan coklat mesis yang disajikan oleh sang istri. Lalu diteguknya segelas teh manis hangat yang mengiringi bagian terakhir roti yang masuk ke mulutnya.

Selepas sarapan pagi bersama, sang istri segera membersihkan meja makan, sementara sang lelaki bangkit dari kursinya lalu melangkah mendekati meja dapur di mana terdapat beberapa potong roti tawar yang masih terbungkus plastik, semangkok mentega, sebungkus coklat mesis, serta beberapa lembar keju yang juga masih terbungkus plastik. Tak lama kemudian, lelaki itu mengolesi sepotong roti dengan mentega, melapisinya dengan keju, serta menaburinya dengan coklat mesis.

“Sedang apa, Mas?” Tanya sang istri sambil membersihkan piring dan gelas yang kotor.

“Sedang membuat roti seperti yang kau buat untuk sarapan kita tadi. Aku akan membawanya,” jawab sang lelaki.

“Belum kenyang ya, Mas?” tanya sang istri lagi.

“Sudah, kok,” jawab lelaki itu singkat.

“Untuk makan di kantor?” Agak ragu sang istri menanyakan hal itu karena untuk makan siang, kantor tempat suaminya menyediakan katering.

“Tidak juga,” jawab sang suami sambil mengaduk dua gelas teh manis dan kemudian menuangkannya ke dalam plastik.

“Lalu untuk apa, Mas?”

Lelaki itu sudah selesai dengan apa yang dilakukannya.

“Niatnya, roti dan teh manis ini akan aku berikan kepada dua orang penyapu jalanan yang selalu kutemui dalam perjalananku ke kantor. Aku berpikir, meski hanya berupa roti dan teh manis, bisa mengganjal perut mereka yang mungkin sudah bekerja sebelum kita sarapan tadi. Bisa jadi mereka belum sarapan. Apa kau keberatan, Sayang?” Tanya sang suami dengan iringan sebuah senyuman.

“Oh, tentu tidak, Mas. Mungkin besok, aku yang akan mempersiapkan roti dan teh manisnya, jadi Mas tinggal bawa,” jawab sang istri.

*****

Lelaki itu melaju di atas motornya untuk menempuh jarak sekitar tiga puluh kilo meter dari rumah menuju kantornya. Dalam hati, dirinya berharap agar tidak terlambat sehingga bisa bertemu dengan dua orang berseragam oranye yang sedang menyapu jalanan yang sering kali dilihatnya.

 

Hanya sebuah khayalan atau sebuah keinginan. Hanya itulah yang terjadi dalam kurun waktu dua atau tiga tahun setelah coretan tersebut saya buat dan saya publikasikan di blog. Saya belum memikirkan kapan dan bagaimana mewujudkan khayalan atau keinginan tersebut.

Hingga kemudian di suatu hari di tahun 2015 ini, pada akhirnya, saya bisa merealisasikan kisah atau cerita fiksi yang saya buat itu.

Bermula ketika saya menyampaikan keinginan memberikan roti sebagai sarapan untuk penyapu jalanan yang saya temui dalam perjalanan ke kantor kepada Minyu. Saya memilih hari Jum’at sebagai waktu untuk pelaksanaannya. Tanpa bertanya macam-macam, Minyu langsung setuju. Bahkan Minyu yang kemudian selalu mengingatkan saya untuk mempersiapkan segalanya seperti membeli roti, mentega, coklat mesis, dan kantong plastik. Pada akhirnya, Minyu pula yang memilihkan roti, mentega, coklat mesis, dan kantong plastik yang dibeli.

Singkat cerita, di suatu Jum’at pagi, semuanya sudah siap. Ketika Minyu mempersiapkan sarapan, saya mempersiapkan roti yang akan saya bawa, mulai dari mengolesi mentega, menaburkan mesis, hingga memasukkannya ke dalam kantok plastik. Total tiga kantong yang saya buat. Dua kantong saya niatkan untuk penyapu jalanan dan sekantong lagi untuk bekal makan siang saya di kantor. Setiap kantong terdiri dari empat lembar roti dan segelas air mineral.

Dalam perjalanan ke kantor, mata saya mencari-cari petugas penyapu jalanan berseragam oranye yang sedang melaksanakan pekerjaannya.

Petugas penyapu jalan pertama saya temui di daerah Senayan yang sedang bekerja di belakang barisan para joki three in one. Saya hentikan sepeda motor saya di depan petugas penyapu jalan tersebut, memanggilnya, dan memberikan salah satu kantong berisi roti yang sudah saya siapkan di dalam tas.

Alhamdulillah, satu kantong sudah berpindah tangan. Saya tinggal mencari satu target lagi.

Petugas penyapu jalan kedua saya lihat sedang bertugas di salah satu sisi Jalan Gatot Subroto. Saat itu muncul keraguan dalam hati saya, apakah saya akan berhenti untuk memberikan roti kepadanya atau tidak. Jika tidak, saya harus mencari petugas penyapu jalan lainnya.

Keraguan saya muncul karena arus lalu-lintas dari arah Semanggi menuju Kuningan sangat ramai. Padat merayap. Bahkan untuk para pengendara sepeda motor seperti saya tidak ada celah untuk mempercepat laju motor. Saat itu saya berpikir, jika saya berhenti untuk memberikan roti kepada petugas penyapu jalanan tersebut, bisa-bisa saya langsung diklakson oleh para pengendara di belakang saya. Akhirnya saya putuskan untuk tidak memberikan roti kepada petugas penyapu jalan yang saya temui. Saya memilih melanjutkan perjalanan yang tersendat sambil berharap akan melihat petugas penyapu jalan lagi sebelum tiba di kantor.

Alhamdulillah, setelah berputar balik di bawah fly over Kuningan menuju Semanggi, saya menemukan seorang petugas penyapu jalan lagi. Saya langsung menepi dan menghentikan sepeda motor saya. Saya panggi petugas tersebut dan memberikan sekantong roti kepadanya, lalu melanjutkan perjalanan menuju kantor.

Tiba di kantor, ternyata saya sudah terlambat beberapa menit😀 . Untunglah saya masih bisa hadir di waktu yang masih bisa ditolerir meski dengan konsekuensi saya harus pulang lebih lama dari waktu normal.

Pada akhirnya, saya bisa merealisasikan kisah fiksi yang pernah saya buat meskipun dengan kenyataan yang tidak sama. Saya tidak memberikan teh manis hangat sebagai pendamping roti. Saya menggantikannya dengan segelas air mineral.

Ada kebahagian yang menyelimuti hati saya ketika mendengar ucapan terima kasih dan senyuman dari dua orang petugas penyapu jalan di Jum’at pagi itu. Semoga saja, saya bisa mengulanginya lagi. Aamiin.

Tulisan ini diikutsertakan pada Monilando’s Giveaway : Spread The Good Story

Tulisan Terkait Lainnya :

23 thoughts on “Merealisasikan Kisah Lelaki dan Roti di Pagi Hari

  1. Febriyan Lukito Desember 10, 2015 / 09:32

    Wahh keren mas. Menyebarkan kebaikan dengan cara yang kita bisa. Inspiratif banget mas

  2. Monika Yulando Putri Desember 10, 2015 / 14:16

    Inspiratif mas. Melakukan kebaikan dari diri sendiri, dari apa yang bisa dilakukan. Makasih sudah berbagi mas🙂

    • jampang Desember 10, 2015 / 14:18

      Terima kasih juga, mbak.
      Sama-sama.

  3. Ria Angelina Desember 10, 2015 / 14:43

    Mantap bikin juga dong untuk wanita juga..

    Tapi ini dah jos n semoga menang GA nya..

    • jampang Desember 10, 2015 / 16:38

      maksudnya, mbak? cerita seperti di atas tetapi yang tokoh utamanya wanita?

      terima kasih.

      • Ria Angelina Desember 10, 2015 / 16:42

        Iya mas… 😜 bisa ngak ya..

      • jampang Desember 10, 2015 / 16:46

        belum ada ide, mbak😀
        bisa kasih masukan?

      • jampang Desember 10, 2015 / 19:40

        😀

  4. zilko Desember 10, 2015 / 16:50

    Berbagi itu rasanya memang enak ya🙂

  5. ndu.t.yke Desember 10, 2015 / 17:18

    Semoga istiqomah n dimudahkan melipir ke pinggir jalan🙂

    • jampang Desember 10, 2015 / 19:44

      Aamiin. Semoga bisa meski blm tahu kapan melakukannya lagi

      • ndu.t.yke Desember 10, 2015 / 21:13

        Coba dibawa aja pak tiap Jumat. Klopun ga nemu tukang sapu-nya, bs diberikan ke office boy di kantor🙂

      • jampang Desember 10, 2015 / 22:08

        Yang sulit itu mewujudkan niat, mbak. Ada aja yang terlintas di hati atau di pikiran yang menggiring saya untuk menunda atau malah membatalkan untuk merealisasikannya….

  6. Alris Desember 10, 2015 / 17:49

    Rasanya pasti plong lega, bahagia dan pengen lagi.
    Kebaikan yang mungkin tidak seberapa secara nilai rupiah tapi manfaat besar. Subhanallah. Semoga berlanjut.

    • jampang Desember 10, 2015 / 19:43

      Bisanya baru segitu, mas😀

  7. Gara Desember 10, 2015 / 18:25

    Namanya perbuatan baik memang mestinya tidak cuma ada dalam pikiran ya Mas. Salut dengan kebaikan yang Mas lakukan :)). Semoga menang giveaway-nya ya :hehe.

    • jampang Desember 10, 2015 / 19:41

      Sayangnya cuma sekali, gar😀

      Terima kasih

  8. ninda Desember 11, 2015 / 12:17

    wah salam kenal ya bang🙂

    • jampang Desember 11, 2015 / 13:08

      salam kenal juga, mbak

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s