[Prompt#96] Kembalikan Api Cinta di Matamu!

api cinta

“Kang, apakah kamu masih mencintaiku?” tanyaku lirih.

“Tentu saja, Dik.”Kuhela sebuah nafas panjang setelah mendengar jawaban Kang maman.

“Tapi aku merasa sebaliknya, Kang.”

“Mengapa kau berpikir demikian?” Kang Maman balik bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop di atas pangkuannya.

“Buktinya, Akang menjawab pertanyaanku tanpa memandang ke arahku!” jawabku agak ketus.

“Oh, maaf!” Kang Maman buru-buru meletakkan laptopnya di atas tenpat tidur, lalu mendekati diriku dan menatap wajahku. “Aku mencintaimu, Dik!”

“Tapi, Kang…” kalimatku terputus.

“Tapi apa, Dik?”

“Aku merasa ucapanmu itu tidak berasal dari lubuk hatimu yang paling dalam. Cintamu hanya sebatas kata-kata di ujung lidah, Kang!”

“Aku mengatakan yang sebenarnya, Dik. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu,” Kang Maman mencoba meyakinkanku.

“Kang, lidahmu mungkin bisa berkata demikian, tetapi kedua matamu tidak mengatakan hal yang sama,” sanggahku.

“Memangnya bagaimana dengan kedua mataku?”

“Aku merasa kedua matamu tak lagi enak dipandang seperti awal-awal kita berumah tangga,” jawabku.

“Dahulu, setiap kali Akang bicara kepadaku, Akang selalu menatap wajahku. Di saat itu, aku bisa melihat api cinta yang menyala di kedua mata Akang. Pandangan mata Akang penuh dengan gairah. Tatapan mata Akang membuat diriku merasa sangat berharga bagi Akang. Tapi, akhir-akhir ini, semua itu hilang dari mata Akang.”

“Kamu jangan mengada-ada, Dik!” nada bicara Kang Maman agak meninggi.

“Tidak, Kang. Aku mengatakan apa yang aku rasakan sebagai seorang perempuan sekaligus istri Akang!”

“Dik, aku masih seperti yang dahulu. Kamu tak usah khawatir. Lagi pula, mana ada mata seperti yang kau katakan barusan!”

“Ada, Kang. Dahulu Akang pernah memilikinya,” aku berusaha meyakinkan Kang Maman.

“Aku tidak percaya. Aku baru bisa percaya jika kamu bisa mengantarkan aku menemui orang-orang yang memiliki mata seperti yang kau sebutkan tadi!”

Aku terdiam.

“Kamu tidak bisa, kan? Makanya tak usah berpikiran macam-macam, Dik!” pinta Kang Maman seraya mengambil kembali laptop, meletakkan kembali di pangkuannya, dan melanjutkan pekerjaannya.

*****

“Kang, kamu ingin kuantar menemui orang-orang yang matanya enak dipandang, bukan?” tanyaku. “Kamu memintanya minggu lalu. Masih ingat, kan?”

“Memangnya kamu sudah menemukan mereka?” tanya Kang Maman dengan wajah sedikit terkejut.

“Tidak, Kang!” jawabku pelan.

“Sudah kuduga. Omonganmu tentang mata yang enak dipandang waktu itu Cuma khayalanmu saja,” nada bicara Kang Maman begitu sinis terdengar di telingaku.

“Tapi, Kang…”

“Tapi apa, Dik?”

“Aku sudah menemukan penyebab mengapa kedua mata Akang tak lagi enak kupandang. Aku sudah menemukan penyebab mengapa api cinta dan gairah yang dahulu terpancar di kedua mata Akang kini hilang,” kujawab pertanyaan Kang Maman dengan nada bergetar. Bukan karena takut, tapi karena perasaan yang berkecamuk di dalam dada setelah aku menemukan apa yang tersimpan di dalam handphone Kang Maman.

“Maksudmu?” Kang Maman bertanya seolah tak percaya dengan apa yang kukatakan.

Perlahan, aku bangkit dari tempat dudukku mendekati Kang Maman. Tangan kananku gemetar ketika memperlihatkan layar hanphone milik Kang Maman. Kusentuh tombol play yang berada di tengah layar dengan ibu jariku untuk memutar salah satu film dari puluhan film yang tersimpan di dalam memori handphone Kang Maman. Film yang berisi seorang lelaki dan perempuan bule yang sedang melakukan hubungan suami-istri.


Baca Juga Monday Flash Fiction Lainnya :

6 thoughts on “[Prompt#96] Kembalikan Api Cinta di Matamu!

  1. junioranger Desember 24, 2015 / 23:56

    Jd si aku udah ga bs melakukan kewajibannya sbg istri karena suatu sebab? *semoga taksalah tangkep

    • jampang Desember 24, 2015 / 23:59

      Bukan…. Si istri punya intuisi bahwa ada yg salah dengan suaminya. Dan ternyata benar. Si suami suka melihat yg nggak2 sehingga api cinta di matanya nggak lagi dilihat oleh si istri.

  2. Dyah Sujiati Desember 25, 2015 / 04:51

    Sopan sekali bahasa tulisan akang jampang ini *salah fokus*

    • jampang Desember 25, 2015 / 05:15

      😀
      Mau pake istilah lain…. Ngerasa nggak sreg, mbak

  3. Akhmad Muhaimin Azzet Desember 25, 2015 / 08:27

    Tatapan matanya kini telah tak ada cahaya lagi. Karena mata itu digunakan untuk memandang kegelapan. Tentu, bukan hanya tatapan matanya, tapi juga telinganya, karena adegan itu juga bersuara. Oo, tentu juga bukan telinganya, tapi juga pikirannya, karena yang dilihat itu juga terekam dalam kepalanya. Tragisnya lagi, yang terpengaruh juga hatinya. Tapi, pengaruh yang seperti ini barangkali tidak banyak yg menyadari.

  4. Gara Desember 25, 2015 / 10:10

    Yah, suaminya suka melihat orang lain berhubungan… padahal dia sendiri sudah ada istri yang sah dinikahi, begitu kali ya mas kira-kira?

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s