Istri yang Dapat Diwariskan

bayangan sebuah keluarga

Sal, dahulu aku pernah memiliki beberapa kaset nasyid. Aku hapal beberapa lirik nasyid di kaset tersebut bahkan sering mendendangkannya. Terkadang aku berdendang mengiringi ketika nasyid tersebut kuputar. Terkadang aku mendendangkannya secara spontan. Salah satu nasyid yang sering kunyanyikan berjudul “Istri Sholehah”.  Mungkin kapan-kapan aku akan mendendangkannya di hadapanmu. Tentu saja jika kau berkenan mendengarkan suaraku yang sumbang.

Sementara ini, aku hanya akan memberitahukanmu bagaimana lirik nasyid tersebut.

isteri cerdik yang solehah
penyejuk mata penawar hati penajam fikiran
di rumah dia istri di jalanan kawan
di waktu kita buntu
dia penunjuk jalan

pandangan kita diperteguhkan
menjadikan kita tetap pendirian
ilmu yang diberi dapat disimpan
kita lupa dia mengingatkan

nasihat kita dijadikan pakaian
silap kita dia betulkan
penghibur diwaktu kesunyian
terasa ramai bila bersamanya

dia umpama tongkat sibuta
bila tiada satu kehilangan
dia ibarat simpanan ilmu
semoga kekal untuk diwariskan

(sumber : http://liriknasyid.com)

Liriknya indah bukan? Setidaknya menurutku. Lirik nasyid tersebut mewakili harapan-harapanku tentang bagaimana sosok seorang istri yang kudambakan. Sosok yang  ada di dalam dirimu.  Sebab hanya dirimu, perempuan yang kupilih untuk kujadikan seorang istri. Pendamping hidupku.

Hanya saja, aku masih merasa bingung dengan kalimat terakhir di bait terakhir dari lirik nasyid di atas, Sal. “Semoga kekal untuk diwariskan”, begitu bunyinya.

Lirik tersebut membuatku menebak-nebak tentang apa makna di baliknya. Mungkinkah karena seorang istri adalah perhiasan terindah yang bisa dimiliki oleh seorang lelaki? Lalu karena perhiasan ia masuk ke dalam kelompok harta? Dan harta dapat diwariskan? Lantas, jika ahli warisku kelak adalah anak-anak yang lahir dari rahimmu, apakah mereka bisa memilikimu seperti aku memilikimu? Kuyakin bukan itu maksud dari lirik tersebut.

Kuyakin ada jawaban yang lain yang tepat.

Mungkin begini…

Sal, ketika aku menjatuhkan pilihan untuk menjadikanmu sebagai seorang istri, sejatinya,  aku tidak melakukannya untuk kepentinganku dan kebutuhanku sendiri. Aku memilihmu juga untuk kepentingan dan kebutuhan anak-anakku yang kelak  akan kau lahirkan. Insya Allah. Harapanku, kau akan menjadi istri yang sholehah dan juga ibu yang sholehah bagi anak-anak kita. Bukankah kita menikah untuk menjadi pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya?

Sal, aku tidak mungkin membersamaimu sepanjang waktu. Masalah umur tidak ada yang tahu. Semasa hidup, aku pun tak selalu berada di sampingmu. Lima hari seminggu, aku akan pergi mencari nafkah dan meninggalkanmu di rumah. Mungkin di saat aku tidak ada di rumah dan ketika aku benar-benar pergi meninggalkanmu selamanya, saat itulah dirimu berperan menjadi harta yang dapat diwariskan. Harta itu  berupa ilmu dan akhlak yang kau miliki.

Ketika kita bersama, kau sering mengingatkan diriku jika ada kesalahan yang kulakukan. Lalu kamu memberikan solusi untuk memperbaikinya.

Ketika aku merasa gembira luar biasa, kau mengingatkan agar diriku harus bersyukur bahwa kegembiraan itu merupakan rezeki dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehingga aku tak lupa diri dan lupa daratan.

Ketika aku merasa gundah dan gelisah karena tertimpa musibah, kau memberikanku semangat untuk segera bangkit kembali, mengingatkan bahwa apa yang terjadi atas kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan merenung tentang hikmah apa di balik apa yang terjadi, sehingga aku tidak berputus asa dan mengutuk diri.

Semua yang ada di dalam dirimu itulah yang bisa kuwariskan kepada anak-anak kita. Kau bisa membimbing mereka dalam melangkah, mengingatkan mereka ketika salah, memberi semangat mereka lelah, dan segala hal yang pernah kamu lakukan untukku.

Sal, dahulu aku pernah menyampaikan tentang perihal diriku, kamu, dan seorang ibu, kini aku akan menyampaikan hal yang mungkin serupa. Jika suatu ketika dirimu marah dan kesal akan sikapku, cukuplah kau melimpahkan kemarahan dan kekesalanmu itu kepada diriku seorang. Janganlah kamu melampiaskan kemarahan dan kekesalanmu itu kepada anak-anak kita yang tidak tahu tentang apa yang terjadi di antara kita berdua.

Sal, mungkin aku sering melakukan kesalahan hingga membuatmu marah dan kesal. Karenanya, segeralah ingatkan diriku akan hal itu agar aku bisa segera memperbaikinya. Janganlah kamu menyimpan kemarahan dan kekesalanmu itu lalu mengumbarnya kepada anak-anak kita. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dan bagaimana sikap anak-anak kita jika dirimu melakukan hal tersebut. Semoga saja semua itu tidak terjadi. Dan hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita meminta pertolongan.


Seri Samara Lainnya :

21 thoughts on “Istri yang Dapat Diwariskan

  1. Uchi Januari 5, 2016 / 10:09

    Menyentuh sangat. Dan… sy sebelumnya sempet sering marah sm anak krn kesel sm suami. Sekarang alhamdulillaaah ga mau marah2 lagi karena hati udah adem🙂

  2. Gara Januari 5, 2016 / 11:06

    Bagus lirik lagunya Mas :hehe, seorang istri memang adalah mitra bagi seorang pria supaya bisa menjadi orang yang lebih baik dan melahirkan keturunan yang juga baik dan berbakti :hehe. Soal yang diwariskan itu pun saya sependapat, yang diwariskan adalah ilmu dan akhlak, kan baris sebelumnya menyebut ‘simpanan ilmu’… eh ini menurut saya doang sih :hehe. Mudah-mudahan kita selalu jadi orang yang baik ya Mas :amin.

    • jampang Januari 5, 2016 / 13:35

      itu lagu lama, gar. lagu yang dipopulerkan orang malaysia

      aamiin

      • Gara Januari 6, 2016 / 16:01

        Lagu-lagu nasyid dari negeri jiran memang khas-khas ya, Mas :)).

      • jampang Januari 6, 2016 / 16:10

        iya. dan nasyid pertama yang saya dengarkan memang dari sana, gar

      • Gara Januari 6, 2016 / 18:02

        Sip Mas :)).

      • jampang Januari 6, 2016 / 20:52

        😀

  3. Alris Januari 5, 2016 / 13:39

    Orang tua saya dulu mengajarkan kalau marah cepatlah berwudhu. Mungkin Beliau berpesan kalau api itu kudu dipadamkan sama air,🙂

    • jampang Januari 5, 2016 / 13:46

      yang seperti itu memang ada anjurannya, mas. ada haditsnya.

      Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu. (HR. Ahmad 17985 dan Abu Daud 4784)

    • jampang Januari 6, 2016 / 08:13

      samara adalah nama ketagori tulisan di blog ini dengan genre seperti di atas mbak😀

  4. Wien Januari 6, 2016 / 00:13

    Wuih romantis sekali!

    • jampang Januari 6, 2016 / 08:12

      kalo di serial ini, isinya memang fiksi yang romantis, mbak😀

      • Wien Januari 6, 2016 / 11:34

        Hahahaha.. Mosok nyatanya engga seromantis itu juga si mas?😀

      • jampang Januari 6, 2016 / 11:35

        kalau yang tahu jawabannya seh ya istri saya sendiri…. kalau saya bilang romantis…. nanti takutnya cuma pengakuan sepihak😀

      • Wien Januari 6, 2016 / 15:29

        Hahaha.. Supaya engga subjektif ya mas😀

      • jampang Januari 6, 2016 / 16:10

        iya, mbak😀

  5. dyazafryan Januari 6, 2016 / 14:13

    semoga di berkahi calon istri yang baik… aminnn….
    aminn😀

    • jampang Januari 6, 2016 / 16:13

      aamiin yaa rabbal ‘aalamiin

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s