Cinta Lelaki dan Gunung – II

Cerita sebelumnya ……

“Zul! Apakah kau masih mencintai mantan istrimu?” Tanya Sali.

Zul tersenyum mendengar pertanyaan Sali itu. “Tidak!” Jawabnya singkat.

“Kenapa?” Tanya Sali heran. “Bukankah dulu kau mencintainya?” Sambung Sali.

“Aku pernah mencintainya. Dulu. Tapi sekarang, Aku tidak lagi mencintainya.” Jawab Zul.

Zul mengalihkan pandangan matanya ke halaman masjid sebelum melanjutkan jawabannya.

“Cinta lelaki itu bisa diibaratkan gunung,” Ucap Zul. “Kau pernah dengar kalimat itu, Sal?” Zul melanjutkan kalimatnya dengan sebuah pertanyaan.

Selengkapnya bisa dibaca di sini.

—oo0oo—


“Cinta lelaki itu bisa diibaratkan gunung,” Ucap Zul. “Kau pernah dengar kalimat itu, Sal?” Zul melanjutkan kalimatnya dengan sebuah pertanyaan.

“Belum,” jawab Sali.

“Cinta lelaki kepada seorang perempuan itu sifatnya konstan, tetap. Dari waktu ke waktu tidak berubah.” Papar Zul

“Namun ketika hatinya dilukai oleh perempuan yang dicintai, maka rasa cinta lelaki itu akan keluar dari dalam hatinya seperti isi perut bumi yang keluar ketika sebuah gunung meletus. Setelah letusan itu terjadi, maka ada bagian yang hilang dari gunung tersebut. Bagian yang hilang itu tidak akan pernah bisa kembali lagi. Seperti itulah cintaku kepada Mira, mantan istriku. Cintaku kepadanya sudah tak lagi tersisa.”

“Jadi kecil kemungkinan jika kelak kau dan dia bersatu kembali?” Tanya Sali selanjutnya.

“Aku cenderung mengatakan kalau hal itu sudah tidak mungkin.” Jawab Zul tegas.

“Lalu bagaimana dengan Zul kecil, anakmu?”

“Sebagai ayahnya, aku berkewajiban untuk memberikan nafkah untuknya. Itu sudah aku lakukan hingga sekarang dan terus akan kulakukan selama aku mampu atau mungkin sampai Zul kecil sudah mandiri, sudah bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Untuk pengasuhannya, sekarang ini, aku dan ibunya secara bergiliran mengasuhnya. Kelak jika Zul kecil sudah besar dan bisa menentukan pilihan, maka terserah kepada Zul kecil di mana dia ingin tinggal.”

Suasana hening sejenak, sehening suasana perkantoran yang sudah ditinggalkan oleh hampir seluruh pegawainya. Hanya beberapa orang saja yang masih lalu-lalang. Itu pun kebanyakan adalah para petugas kebersihan dan satpam.

“Zul!”

Panggilan itu terdengar sangat pelan. Sali terdiam lagi sambil mengumpulkan kekuatan untuk mengucapkan kata-kata selanjutnya.

“Aku akan ambil kesempatan itu, Zul.” Ucap Sali.

“Maksudmu?” Zul meminta penjelasan lebih lanjut.

“Aku bersedia menggantikan sayapmu yang patah. Aku mau menjadi pendampingmu.” Jawab Sali.

“Benarkah?” Tanya Zul seperti tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Benar, Zul” Jawab Sali mantap.

“Kau bisa menerima kondisiku sekarang? Termasuk kehadiran Zul kecil?”

“Aku bisa menerima dirimu dengan kelebihan dan kekurangan yang kau miliki. Pada dasarnya, semua manusia tidak ada yang sempurna. Aku pun bisa menerima kehadiran Zul kecil sebagai salah satu anugerah manakala kita telah disatukan dalam sebuah biduk rumah tangga.”

“Alhamdulillah,” ucap Zul bahagia. Sebuah senyum lebar menghiasi wajahnya. “Jika kau setuju, minggu depan aku akan datang ke rumahmu untuk menemui kedua orang tuamu,” sambung Zul.

“Secepat itu?” Sali terkejut.

“Bukankah itu lebih baik?” Zul balik bertanya.

Mendengar pertanyaan itu, Sali hanya bisa tersenyum.

“Mas Zul!” Tiba-tiba terdengar seseorang memanggil Zul.

Zul mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Rupanya Anwar, salah seorang merbot masjid yang sudah dikenal Zul.

“Ada apa Mas Anwar?” Tanya Zul.

“Sudah masuk waktu maghrib, Mas aja yang adzan!” Pinta Anwar.

Zul menyanggupi permintaan tersebut.

“Sal, aku adzan dulu. Sekalian shalat maghrib di sini. Insya Allah nanti kita bicarakan lagi soal rencana selanjutnya. Assalaamu ‘alaikum.” Zul pamit kepada Sali.

“Silahkan. Wa ‘alaikumus salaam.” Jawab Sali.

Zul bangkit dari tempat duduknya kemudian melangkah masuk ke dalam masjid.

Pandangan Sali mengikuti sosok Zul yang melangkah meninggalkannya hingga hilang di balik dinding masjid. Sali tak beranjak dari tempat duduknya semula. Bukan tanpa tujuan Sali berdiam diri. Sali ingin mendengarkan lantunan adzan sekali lagi dari sosok muadzin yang didambakannya.

sebuah cita terangkai dalam kata
dari kisah dua anak manusia
perlahan sirna rasa sepi yang menyelimuti
berganti rindu yang kian menghantui
perlahan pudar kesunyian hati
berganti harum bunga-bunga di taman sanubari
 
langkah pertama telah dilakukan
namun selanjutnya takkan mudah ditaklukan
jika kemenangan sebuah takdir
syukurilah dengan kebahagiaan
jika kekalahan yang terukir
hadapilah dengan keikhlasan
 
betapapun kau bertindak
ada yang lebih berkehendak
atas usaha dan dirimu
betapa pun kau berusaha
ada yang lebih berkuasa
atas jiwa dan ragamu

….. BERSAMBUNG …..


Baca Bab Lainnya :

28 thoughts on “Cinta Lelaki dan Gunung – II

  1. Ria Angelina Januari 7, 2016 / 07:51

    Begitu ya, cinta seorang lelaki ibarat gunung, namun bila suatu jalan di pilih untuk sebuah kebaikan bersama tanpa ada rasa saling menyakiti akankah akan bersatu kembali ….?

    • jampang Januari 7, 2016 / 08:16

      kalau diibaratkan gunung yang kemudian meletus… sepertinya tidak bisa mbak. soalnya gunung yang meletus, berpuluh2 tahun kemudian akan membaik namun bentuknya sudah nggak sama seperti sebelumnya dan kehidupan di sekelilingnya juga sudah berbeda

      • Ria Angelina Januari 7, 2016 / 08:17

        Ibarat nya yang sudah terjadi tidak akan kembali seperti semula lagi..

      • jampang Januari 7, 2016 / 16:08

        ibarat gelas yang pecah…. meskipun bisa satukan kembali pecahannya dengan lem super hebat… tetap saja retaknya akan kelihatan

      • jampang Januari 7, 2016 / 16:16

        terima kasih, mbak 😀

  2. hobilari Januari 7, 2016 / 08:14

    menyimak dulu…. bagus blognya

    • jampang Januari 11, 2016 / 08:08

      silahkan…. terima kasih atas kunjungannya

  3. adelinatampubolon Januari 7, 2016 / 08:31

    Benarkah mas? Ini berlaku untuk semua pria kah. Habis ini langsung masuk ke ruang konsultasi hehehehe…

    • winnymarlina Januari 7, 2016 / 09:00

      pertanyaan yang sama adel bikin penasaran ya haha

      • jampang Januari 7, 2016 / 09:14

        sudah saya jawab ya, mbak 😀

      • jampang Januari 7, 2016 / 09:33

        sama-sama, mbak

    • jampang Januari 7, 2016 / 09:14

      😀
      yang namanya teori nggak bisa berlaku sama di dalam setiap keadaan.
      termasuk juga dengan teori cinta lelaki di atas…. 😀

      lawannya adalah, cinta perempuan itu seperti kuku. ketika dirinya disakiti… ibarat kuku yang digunting. namun kemudian kuku itu akan tumbuh kembali.

      nah… apakah cinta semacam itu berlaku untuk semua perempuan?

      • jampang Januari 7, 2016 / 09:23

        jadi ya…. begitulah. kondisi di atas mungkin berlaku untuk tokoh di atas…. alias zul. di dunia nyata, mungkin tidak semua laki-laki seperti Zul. kurang lebih begitu, mbak 😀

  4. hensamfamily Januari 7, 2016 / 10:27

    Sebenarnya saya ingin sekali mengetahui perspektif Zul kenapa ia memutuskan untuk bercerai dengan pertimbangan sudah memiliki anak. Apakah nanti diceritakan ? Sebab secara awam di dunia nyata…saya merasa pasti sulit sekali memutuskan bercerai dengan pertimbangan perkembangan anak nantinya.

    • jampang Januari 7, 2016 / 10:34

      ada di cerita di bagian2 sebelumnya, mas 😀

      bagian ini sudah cukup jauh

  5. Uchi Januari 7, 2016 / 10:41

    Sama seperti wanita bila sudah disakiti susah melupakan… 😦
    Hanya anak2 sebagai obat hati

    • jampang Januari 7, 2016 / 10:48

      tapi ada juga kan, mbak…. wanita yang mudah memaafkan?

      • Uchi Januari 7, 2016 / 11:03

        Dan aku ingin jadi wanita seperti itu….

      • jampang Januari 7, 2016 / 11:06

        yang terpenting adalah berdoa untuk tidak disakiti…. sepertinya itu lebih baik 😀

      • Uchi Januari 7, 2016 / 11:12

        He em… berdoa harus selalu 🙂

      • jampang Januari 7, 2016 / 11:36

        iya. betul, mbak

  6. Gara Januari 7, 2016 / 13:21

    Aduh, mudah-mudahan mereka langgeng selalu setelah naik ke pelaminan ya Mas :hehe. Saya dengar dari beberapa cerita katanya susah lho untuk menerima masa lalu seseorang. Jadi Sali ini wanita yang hebat sekali, menerima masa lalu Zul… ah saya tunggu cerita selanjutnya deh :hehe :peace.

    • jampang Januari 7, 2016 / 14:30

      mungkin susah karena nggak mau, gar 😀

      • Gara Januari 7, 2016 / 17:38

        Iya ya, mungkin juga :)).

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s