FF1Paragraf

ff1paragraf
Setelah Kepergianmu

Kucoba mengejarmu sekuat tenaga. Namun aku kalah cepat. Nafasku nyaris putus dan tubuhku penuh keringat. Hanya ada penyesalan di dada. Mengapa kau pergi begitu cepat? Kepergianmu menyisakan sesak di dada dan nestapa di jiwa. Terbayang, potongan gajiku di akhir bulan. Kereta, mengapa kau tega meninggalkanku?

Di Bawah Jembatan

Aku pernah menetap di kolong jembatan ini. Namun setelah kutinggalkan selama setahun, segalanya berubah. Rumah-rumah kardus berganti dengan tempat duduk permanen dengan aneka warna. Tak kutemui lagi kawan-kawan pemulung dan gelandangan. Hanya ada kumpulan orang-orang muda dengan pakaian rapi di belakang susunan aksara bertuliskan “Taman Jomblo II”.

Rumah Baru

Akhirnya aku pindah rumah juga. Terpaksa. Perjalanan waktu yang memaksaku untuk pindah. Aku tak kuasa menolaknya. Kini kusadari, bahwa rumah ini tak layak dihuni. Karenanya tak banyak yang berminat pindah ke rumah ini. Wajar. Rumah ini sempit dan pengap. Hanya ada satu ruang tanpa sekat di mana tanah menjadi alas, dinding, dan juga atapnya. Ukurannya cuma dua kali satu meter.

Sepatu Merah

Aku suka sepatu baruku. Merah. Lembut. Aku sudah mencobanya di toko. Mama yang memilihkannya dan memakaikannya di kakiku. Tetapi ketika kucoba di rumah, terasa sempit. Tak nyaman. Bahkan ketika aku coba berjalan, aku langsung terjatuh. Mama langsung mendekatiku sambil berkata, “Adik, pakai sepatunya jangan terbalik ya!”

Jawaban Satu Kata

Belasan kali aku ditolak. Sebanyak itu pula aku patah hati. Semua itu membuatku tersadar. Aku melakukan kesalahan di awal. Salah membuat kalimat pertanyaan. Untuk perempuan selanjutnya, agar tak ada lagi penolakan, aku akan mengubah pertanyaanku menjadi, “Aku mau melamarmu. Jawablah dengan satu kata! ‘Ya’ atau ‘Tidak’. Kamu nggak nolak, kan?”

Bisik-bisik Tetangga

Tetangga. Di satu sisi, mereka bisa menjadi orang-orang yang paling menyenangkan. Namun di sisi lain, mereka bisa menjadi orang-orang yang menyebalkan. Seperti saat ini, ketika aku berbahagia dengan kelahiran putri pertamaku, mereka mengusikku dengan pertanyaan mengapa putriku lahir tidak prematur meski pernikahanku baru enam bulan yang lalu.

Potret Keluarga

“Saya nggak bisa, Bu Guru!” jawabku ketika Bu Guru melihat gambar potret keluarga buatanku. Aku tak akan bisa melaksanakan tugas dari Bu Guru untuk menggambar potret tentang kebahagiaan keluargaku. Mana mungkin aku bisa melakukannya jika hanya ada amarah dan tangis di antara ayah dan ibuku setiap hari.


Tulisan Terkait Lainnya :

17 thoughts on “FF1Paragraf

  1. Kakmoly Januari 20, 2016 / 06:43

    Mas, ini Flash Fiction yang di Monday FF itu kah?

    • jampang Januari 20, 2016 / 08:20

      Iya mbak. Saya ketinggalan ngikutinnya karena nggak dari awal. Sebab sudah diclose jdnya saya bikin dan posting di blog sekaliaj sama yang semoat ngikutin😀

  2. Ria Angelina Januari 20, 2016 / 09:53

    Aku sudah tersayat sayat baca yang pertama dah langsung drop ternyata untuk kereta hhahah

    • jampang Januari 20, 2016 / 10:01

      😀
      Gaji dipotong juga bikin tersayat, mbak

  3. Gara Januari 20, 2016 / 14:19

    Jadi fiksi satu paragraf ini langsung ke potret yang membawa klimaks ya Mas *hah istilahnya :haha*. Ketinggalan kereta, siap-siap dipotong… :hehe. Sekarang saya di kantor jadi petugas rekap absen jadi harus paham tentang potong-memotong absen :hehe. Kadang ada beberapa kejadian bikin nyesek dan kasihan banget… tapi peraturan kudu ditegakkan!

  4. jampang Januari 20, 2016 / 22:53

    Iya, gar. Sebenarnya adalagi FF yg lebih pendek lagi. Namanya FF mini. Cuma terdiri dari satu-dua kalimat aja.

    Kalau sudah by system kan lbu mudah buat ngawasin n negakkin peraturan gar

  5. Dyah Sujiati Januari 21, 2016 / 09:01

    Ini beberapa cerita digabung apa gimana?

    • jampang Januari 21, 2016 / 09:57

      Satu cerita satu paragraf. Jadi nggak nyambung sati dg lainnya

      • jampang Januari 21, 2016 / 09:58

        Iyah.. Begitu. Kan tokohnya juga beda2.

      • Dyah Sujiati Januari 21, 2016 / 09:59

        Yg paling akhir tu yg paling ngok banget

      • jampang Januari 21, 2016 / 10:03

        Ya… Sering kejadian di dunia nyata😦

    • jampang Januari 21, 2016 / 15:04

      Terima kasih, mbak. Itu adalah cerita pertama yg saya buat di antara cerita lainnya di atas😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s