As-Satru

doa ketika mendapat pujian
Pujian. Adakalanya seseorang memberikan sebuah pujian atas suatu kebaikan yang baru saja kita lakukan. Padahal seseorang tersebut masih asing dalam kehidupan kita atau kita belum terlalu mengenal dirinya. Begitupun juga sebaliknya.

Sejatinya, pujian tersebut bukanlah datang karena kebaikan yang kita lakukan atau kehebatan yang kita miliki. Melainkan ada sisi lain dari diri kita yang masih tertutup rapat sehingga mereka tidak mengetahuinya.

Sangkaan. Adakalanya, seorang teman berkata kepada kita bahwa betapa beruntungnya dan senangnya kita yang bekerja di sebuah perusahaan terkenal dengan gaji yang besar.

Sejatinya, sangkaan tersebut datang karena teman kita tersebut melihat apa yang tampak oleh kedua matanya. Sementara, apa yang kita rasakan dengan perusahaan tersebut nyaris membuat kita depresi.

Anggapan. Adakalanya seorang kawan menganggap bahwa kita memiliki sebuah keluarga yang romantis lagi harmonis yang dihiasi dengan rasa cinta, ketenangan, dan kasih sayang.

Hakikatnya, anggapan itu muncul karena di saat kita bertemu dengan kawan tersebut, kita sedang bersama seluruh anggota keluarga yang sedang menikmati liburan. Sementara, kesalahpahaman yang terjadi di rumah tangga kita, kekesalan terhadap tingkah laku anak kita, mereka tidak pernah tahu.

Pujian, sangkaan, dan anggapan itu hadir karena adanya sebuah ni’mat besar yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan kepada kita. Ni’mat itu adalah As-Satru.

As-Satru memiliki arti pelindung, penutup, atau penghalang.

Kita mendapatkan pujian, disangka senang dan bahagia dengan pekerjaan kita, atau dianggap memiliki keluarga harmonis, bukanlah karena kita benar-benar seperti pujian, sangkaan, dan anggapan tersebut. Melainkan karena keindahan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam melindungi, menutupi, dan segala aib, kelemahan, dan kekurangan yang kita miliki. Seandainya saja, aib, kelemahan, dan kekurangan tersebut terpampang jelasa di hadapan orang-orang di sekeliling kita, niscaya mereka tidak akan pernah memberikan pujian, sangkaan, dan anggapan tersebut. Bahkan sebaliknya, mereka akan menghina, mencaci, dan mencela diri kita.

Itulah yang dinamakan As-Satru.

Karenanya, ketika mendapat pujian, mendapatkan sangkaan yang positif, atau anggapan yang baik, hendaklah diri ini mengembalikannya kepada pemilik diri, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala, mengaminkannya, dan membaca kalimat doa berikut :

Allaahummaj’alnii khairan mimmaa yazhunnuun (Ya Allah, jadikan aku lebih baik daripada yang mereka duga).

Idealnya, kondisi diri kita sesuai dengan sangkaan mereka. Namun jika kita menyadari bahwa diri kita tak pantas mendapatkan perlakuan baik tersebut karena banyak kesalahan dan dosa yang pernah kita lakukan dan itu merupakan aib kita, janganlah kita membukanya dan menceritakannya kepada orang yang memuji kita, yang menyangka dan menganggap diri kita penuh dengan kebaikan. Sebab, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menutupi aib kita tersebut.

Sebagai mana kita dilarang untuk mengumbar aib orang lain, seperti halnya seorang suami atau istri diperintahkan untuk menjaga aib pasangannya sebagaimana fungsi mereka sebagai pakaian satu sama lain, maka kita juga harus melindungi aib kita dari orang lain sebagaimana Allah telah melakukannya untuk kita.

Untuk meindungi aib, kesalahan, kelemahan, dan kekurangan yang dimiliki, setiap orang hendaknya berhenti melakukan kesalahan yang akan merugikan diri sendiri, melindungi dan menjaga aib orang lain, serta menghindarkan diri dari kemunafikan.

Wallaahu a’lam.


Tulisan Terkait Lainnya :

16 thoughts on “As-Satru

  1. Ria Angelina Januari 21, 2016 / 00:21

    Kalau orang itu sendiri yang membongkar aib sendiri gimana mas…?

    • jampang Januari 21, 2016 / 06:08

      Mungkin yg bersangkutan nggak ngerti dg ni’mat as-satru itu, mbak. Jadi sebelum terlanjur jauh ya diingatkan. Dan kita yg sudah terlanjur dengar jangan menyebarluaskan

  2. abah shofi Januari 21, 2016 / 02:53

    Selama kita menutupi aib orang lain insya allah Allah akan menutup menutupi aib kita. Insya Allah…

    • jampang Januari 21, 2016 / 06:06

      Betul, pak. Begitu janji Rasulullah dalam sebuah hadits.

      • abah shofi Januari 21, 2016 / 13:07

        Iya bang jampang.

      • jampang Januari 21, 2016 / 15:03

        Terima kasih, pak

  3. Firsty Chrysant Januari 21, 2016 / 12:34

    keren…

    Jadi ingat kalimat, “kita yang dikira baik, itu karena Allah menututupi aib kita”

    • jampang Januari 21, 2016 / 15:05

      Itulah inti dari as-satru, uni

      • Firsty Chrysant Januari 25, 2016 / 21:10

        oooo… gitu… Makasih ilmunya…🙂

      • jampang Januari 26, 2016 / 01:33

        Sama-sama uni

  4. Orin Januari 21, 2016 / 12:45

    terima kasih remindernya bang..

    • jampang Januari 21, 2016 / 15:04

      Sama-sama, teh. Semoga bermanfaat.

  5. Aprillia Ekasari Januari 22, 2016 / 11:38

    Kadang org luar ngliatnya saya ma suami dgn anak2 kyk seneng terus, ya iyalah jarang curcol di sosmed kalau saya struggle jg sama anak2 hehe
    Yg penting kalau dipuji selalu inget kalau mungkin bagi org lain nilai saya 8, sementara saya nyadar nilai saya mungkin 6 lha, eh mungkin bisa jadi menurut Allah cuma 2 hohoho😛

    • jampang Januari 22, 2016 / 11:40

      nah seperti itulah contoh riilnya, makanya doa yang diajarkan itu seperti di atas…. mengharap kepada Allah kondisi kita lebih baik dari yang disangka orang…. baik pula di mata Allah.

  6. Revorma Januari 29, 2016 / 09:27

    Itulah kenapa kita dilarang ngrumpi ya, ngrumpi sih gapapa, cuman kalo sambil membicarakan keburukan/aib orang lain itu yang gak boleh. karena sejatinya kita juga gak mau kalo aib kita dibicarakan orang lain.

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s