Waktu yang Mencengkeram

waktu yang mencengkerm
“Maaf, Mas, perusahaan ini sudah tidak membuka lowongan lagi!” ucap kepala bagian personalia setelah melihat-lihat berkas lamaranku.

“Tapi, Pak, pengumuman di depan menyatakan bahwa perusahaan ini masih membutuhkan pegawai baru!” bantahku.

“Oh, itu? Kami lupa untuk mencopotnya. Mohon maaf!” balasnya. “Ini saya kembalikan berkas lamaran Anda!”

Kuterima kembali berkas lamaranku. Kubalikkan badanku. Dengan langkah gontai dan wajah lesu, kutinggalkan kantor perusahaan tersebut yang merupakan kantor kelima belas yang sudah kukunjungi. Semuanya berujung sama. Semua menolak lamaran pekerjaanku.

Kalau terus-terusan begini, bagaimana aku bisa membantu dan menjaga istri dan anakmu, Mul?

Kucoba untuk melepaskan lelahku setelah berjalan seharian dengan duduk di halte. Kutempelkan punggungku ke sandaran kursi halte. Tarikan napas panjangku mengiringi kilasan peristiwa lima tahun yang lalu berkelebat di hadapanku.

Aku memeluk tubuh sahabatku, Mulato, yang bergelut dengan kematian. Sebutir timah panas menembus dadanya. Dengan napas yang hampir putus, tangan kanannya memegang erat pundakku sambil berkata, “Jaga istri dan anakku!” Aku hanya bisa menganggukkan kepala sebagai jawaban. Selepas berkata, tubuh Mulato terdiam. Napasnya berakhir. Beberapa detik kemudian, mataku tak melihat apa-apa lagi. Hanya gelap yang pekat.

Beberapa hari yang lalu, aku menemui istri dan anak Mulato di sebuah rumah kontrakan kecil. Anaknya sudah masuk sekolah dasar. Sementara istrinya membuka usaha warung kecil di depan kontrakkan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Istri Mulato masih mengenalku sebagai sahabat mendiang suaminya.

Pesan Mulato itu bukanlah sekedar permintaan agar aku selalu mengawasi mereka, melainkan juga membantu mereka agar memiliki kehidupan yang layak. Namun aku belum bisa mewujudkan janjiku tersebut. Karenanya, aku tak bercerita kepada istri dan anak Mulato tentang pesan Mulato kepadaku.

Selepas bertemu mereka, aku bertekad untuk melaksanakan pesan Mulato kepadaku. Aku mulai mencari pekerjaan. Kudatangi kantor dan perusahaan untuk melamar pekerjaan. Jumlahnya sudah belasan. Semula aku disambut dengan cukup ramah oleh pegawai bagian personalia di setiap kantor dan perusahaan yang kudatangi. Namun setelah melihat-lihat berkas lamaranku, mereka langsung menolak lamaranku.

Aku jadi berpikir, mungkin sertifikat kelulusan pelatihan yang dikeluarkan oleh lapas tempat aku dibui selama lima tahun tak usah kulampirkan lagi. Cukuplah lima tahun itu sebagai waktu mencengkeram diriku dari dunia luar. Jangan sampai lima tahun itu mencengkeram pula masa depanku.

Pesta Fiksi #25Januari – Waktu yang Mencengkeram


Tulisan Terkait Lainnya :

18 thoughts on “Waktu yang Mencengkeram

    • jampang Januari 26, 2016 / 16:39

      😀 ini masuk kategori fiksi, mbak

      • winnymarlina Januari 27, 2016 / 08:56

        iya pas baca akhirnya rupanya fiksi jleb hahha

      • jampang Januari 27, 2016 / 09:13

        😀
        kalau kategorinya dalam jejak-aksara, isinya fiksi, mbak

  1. zilko Januari 26, 2016 / 17:31

    Hahaha, paragraf terakhirnya itu. Ya iya lah😛 .

    • jampang Januari 26, 2016 / 17:49

      😀

      Kalao pribahasa bilang…. Sekali lancung ke ujian seumur hidup orang tak percaya

      Eh bener nggak yah?

  2. abah shofi Januari 26, 2016 / 21:22

    ternyata fiksi…🙂 hehehe..

    mantap bang jampang

    • jampang Januari 27, 2016 / 08:10

      tulisan yang kategorinya jejak aksara isinya fiksi, pak😀

      • abah shofi Januari 27, 2016 / 13:36

        Ogt.. Siip.. Bagus fiksi nya mas..😀

      • jampang Januari 27, 2016 / 14:58

        terima kasih, pak😀

  3. damarojat Januari 27, 2016 / 04:24

    betul mas. nggak usah dilampirkan. eh, untung si Mulato pesannya jaga istri dan anaknya ya. gimana kalau, “Jaga blogku.” ehehe…

    • jampang Januari 27, 2016 / 08:09

      iya. lbh baik gitu.

      kalau blognya gratisan seh nggak usah dijagain, mbak. selama perusahaan penyedia platformnya masih berdiri masih bisa dilihat😀

  4. itsmearni Januari 27, 2016 / 05:01

    Keren
    Endingnya beneran tak terduga

  5. Ummu Zukhrufa Januari 27, 2016 / 08:14

    Mas, pertama, sebuah timah panas mungkin bisa diganti sebutir timah panas, kedua, kontrakan bukan kontrakkan, ketiga, Mulato itu kayak nama temanku, Mulat, hahaha *salahfokus
    Selebihnya aku suka ide humanis ini…khas Pak Je🙂

    • jampang Januari 27, 2016 / 09:11

      ah iya mbak…. timah panas itu kan peluru yah… cocoknya sebutih bukan sebuah.

      kontrakannya kelebihan huruf juga.

      nama tokoh itu emang saya ambil dari nama orang pegawi sini… kata terakhir dari nama lengkapnya😀

      terima kasih

  6. eksak Januari 30, 2016 / 08:38

    temen sesama dunia dunia hitam …🙂

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s