Ketika Kekhawatiranku Menjadi Kesenanganmu

khawatirku senangmu

Sal, sore itu aku pulang ke rumah ibumu. Sebab di pagi harinya, sebelum aku berangkat ke kantor, aku mengantarkanmu ke sana untuk bisa bermain-main dengan keponakanmu. Sayangnya, saat aku tiba, aku hanya bertemu ibumu. Sementara dirimu, keponakanmu, dan juga kakak iparmu tak ada di rumah.

Ibu mengatakan bahwa dirimu pergi untuk membeli sesuatu bersama keponakanmu dan kakak iparmu. Tak apa, aku akan menunggu. Sebab kupikir, tak lama lagi dirimu akan segera pulang.

Kucoba mengusir sepiku dengan membuka akun media sosial dan blogku melalui handphone. Namun setelah sekian banyak status dan jurnal yang kubaca, dirimu tak kunjung pulang juga.

Aku mulai khawatir. Segera kutelepon nomor kontakmu.

Tersambung. Nada tunggu terdengar. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Hingga kemudian berhenti sesaat sebuah suara perempuan menyatakan bahwa nomor yang kupanggil tidak menjawab.

Kulakukan hal yang sama sebanyak beberapa kali. Hasilnya sama. Panggilan teleponku tak kau jawab.

Langit senja mulai kehilangan terangnya. Adzan Maghrib berkumandang.

Kuputuskan untuk shalat Maghrib berjamaah di mushalla. Kuharap, selepas aku shalat dan kembali ke rumah ibumu, kudapatkan dirimu sudah berada di sana pula.

Namun ternyata dirimu belum pulang juga.

Kamu ke mana, Sal?

Kembali kuhubungi nomormu. Kali ini kulakukan sambil menyusuri jalan-jalan di sekeliling rumah ibumu. Sempat pula aku melihat ke teras rumah sahabatmu sejak kecil yang tak jauh dari rumah ibu. Kuharap bisa melihat sepasang sandal milikmu yang menandakan kamu sedang berada di rumah tersebut sehingga aku bisa menghapus kekhawatiranku yang kian memuncak.

Ternyata, tak kutemukan apa yang kucari di rumah sahabatmu itu.

Kembali kuhubungi nomor teleponmu sambil menyusuri jalan. Sekali. Dua kali. Entah berapa kali kuhubungi nomormu. Mungkin kamu bisa melihatnya nanti ketika melihat jumlah panggilan tak terjawab dariku di layar handphonemu.

Akhirnya, di menit ke sekian, kau mengangkat juga handphonemu.

“Maaf, baru dengar!” begitu penjelasannya setelah memberikan salam.

Sal, hatiku lega mendengar suaramu. Khawatirku yang semula menggunung langsung lenyap seketika.

Tak lama kemudian, aku melihat dirimu datang bersama keponakan dan kakak iparmu.

Hatiku memang sudah tak lagi khawatir, tetapi wajahku masih belum bisa menyembunyikan kekhawatiranku. Kau mungkin melihatnya. Sehingga kamu langsung memegang kedua pipiku, meminta maaf sambil tertawa.

“Kenapa nggak diangkat-angkat sih?” tanyaku dengan nada sedikit tinggi.

“Maaf, Zul. Tidak sempat. Soalnya tadi kami sedang makan dan handphoneku sedang silence mode,” begitu jawabmu. “Dimaafin, nggak?” kali ini suaramu terdengar manja.

“Iya,” jawabku.

Jika tidak memaafkanmu, maka apa lagi yang bisa kulakukan, Sal?

“Lain kali, jangan bikin aku khawatir seperti tadi yah!” pintaku dengan suara tegas selepas dirimu melaksanakan shalat Maghrib.

Kamu hanya tersenyum dan tersenyum. Lalu mendekatiku, “Kau tahu, Zul. Aku senang sekali mengetahui kalau dirimu khawatir!”

Sal, aku pasti akan bahagia jika bisa membuat dirimu senang. Tapi aku tak yakin sanggup jika harus bergelut dengan rasa khawatir seperti yang baru saja kualami.

aku tegang
ketika dirimu tak di sisi
namun kamu merasa senang
dengan apa yang baru saja kualami
jangan biarkan ini berulang
sebab bisa jadi kutak sanggup menguasai diri

 


Tulisan Terkait Lainnya :

8 thoughts on “Ketika Kekhawatiranku Menjadi Kesenanganmu

  1. capung2 Januari 29, 2016 / 17:12

    Ska jga mengalami hal spt ini (khawatir) menunggu kbr dr sang bidadari saat sdg pergi.

    • jampang Januari 29, 2016 / 20:09

      Kalau sang bidadari tahu masnya khawatir, pasti senang juga 😀

  2. sitinuraini012 Januari 30, 2016 / 09:44

    Ia sih, kalau dikhawatirkan itu jadi ngerasa spesial. Makanya senang 😀

    • jampang Januari 30, 2016 / 13:35

      Nah testimoni langsung dari yang sudah merasakan 😀

    • jampang Januari 30, 2016 / 13:34

      Kira2 begitulah 😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s