[ODGJ] Yahya!

patung
Sosok lelaki itu berdiri tegak di tepi jalan di salah satu titik Jembatan Semanggi. Wajah, rambut, dan tubuhnya terlihat kumal. Begitu juga dengan sebuah celana pendek yang menjadi satu-satunya pakaian yang melekat di badannya.

Pandangan kedua matanya menghadap ke arah jalan di hadapannya di mana ratusan kendaraan baik roda dua maupun roda empat berjalan perlahan di tengah kemacetan. Pandangan yang seperti menyimpan kepongahan dan seolah-olah berkata kepada para pengendara, “Selamat menikmati kemacetan Jakarta, Kawan!” sementara dirinya berdiri dan menertawakan apa yang terjadi.

Secara fisik, menurut pengamatan saya secara sekilas, tubuh lelaki itu sangat sehat. Tubuhnya lebih atletis dibanding tubuh saya. Perutnya jauh lebih rata dibandingkan dengan perut saya. Tanpa baju atau jaket, tubuhnya sanggup melawan hawa dingin pagi. Sementara saya, dinginnya udara pagi masih bisa menyentuh kulit di balik jaket yang saya kenakan.

Namun secara kejiwaan, saya yakin, sosok lelaki itu mengalami gangguan. Sebab tak mungkin seseorang yang normal mau berdiri mematung di pinggir jalan selama sekian lama dengan hanya mengenakan celana pendek saja.

Hampir setiap hari saya melihat sosok lelaki atau orang dengan gangguan jiwa –sebutan yang lebih bijak dibandingkan dengan sebutan orang gila— itu berdiri di titik yang sama dan melakukan hal yang sama pula ketika saya dalam perjalanan menuju kantor. Namun, sejak dilakukannya pembangunan jalan layang kuningan yang menyebabkan kemacetan, saya memilih jalur lain dan tentu saja tidak lagi melihat sosok lelaki itu. Entah dia masih bisa ditemukan “di pangkalannya” atau tidak.

Jika sosok lelaki yang mengalami gangguan jiwa di atas tidak bersinggungan langsung dengan kehidupan saya, maka beda dengan sosok yang akan saya ceritakan berikut. Sosok lelaki bernama Yahya.

*****

“Ada Yahya!” teriak seorang anak yang berdiri tak jauh dari saya. Saat itu, kami sedang bermain bersama beberapa anak lainnya.

Mendengar teriakan tersebut, teman-teman saya yang sedang bermain langsung berlarian meninggalkan tempat permainan. Ada rasa takut yang yang tersirat di wajah mereka. Seperti tertular, rasa takut itu kemudian menyelimuti tubuh saya. Seolah mendapat komando, saya pun ikut berlari menyusul teman-teman di depan saya.

Siapa itu Yahya? Kenapa anak-anak itu takut kepadanya?

Yahya, nama lelaki bertubuh kurus itu. Jalannya agak sedikit membungkuk. Rambutnya tipis. Pandangan matanya selalu sayu. Bertepuk tangan dan menggigit punggung tangannya adalah kebiasaan yang dilakukannya saat berjalan atau berbicara. Bicaranya juga tidak jelas sehingga sulit untuk dimengerti, apalagi oleh saya yang masih anak-anak saat itu.

Penampilan unik lainnya adalah, selain mengenakan kemeja dan celana pendek, Yahya selalu mengenakan kaos kaki panjang setinggi lutut yang dengan hiasan beberapa karet gelang beraneka warna sebagai pengikatnya. Sandal jepit adalah alas yang selalu digunakannya, ke mana pun dia pergi.

Rokok adalah satu-satunya benda yang diminta kepada orang dewasa yang ditemuinya, tentu saja dengan bahasa isyarat, bukan bahasa lisan. Sebagian orang dewasa ada yang kemudian memberikan rokok kepada Yahya, namun ada pula yang tidak bersedia meski Yahya terus meminta.

Di masa kecil, Yahya menjadi semacam momok menakutkan bagi saya dan teman-teman sepermainan. Bahkan ada pula orang tua yang kerap membawa-bawa sosok Yahya sebagai alat untuk menakut-nakuti anak mereka supaya mau makan, mandi, atau segera pulang ke rumah setelah bermain cukup lama. Padahal, Yahya tak tahu apa-apa dan tak mengerti apa-apa.

Mungkin karena terpengaruh dengan cerita dari teman-teman sepermainan yang memberi kesan bahwa Yahya itu jahat, ditambah lagi dengan penampilan Yahya yang nyentrik, saya menjadi takut bertemu atau berpapasan dengannya di jalan. Jika dari kejauhan mata saya menangkap sosoknya, maka saya akan menghindar dengan memilih jalan lain. Jika saya sedang bermain kemudian di datang, maka saya akan pergi dari tempat permainan tersebut.

Selama beberapa waktu, saya melakukan hal seperti itu. Hingga suatu hari, pertemuan dengan Yahya tidak bisa dihindari. Kami berpapasan di jalan.

Ketika jarak kami sudah semakin dekat, Yahya mengucapkan sesuatu yang tidak bisa saya mengerti. Tapi dari gelagatnya, saya mengira Yahya bertanya saya akan ke mana atau dari mana.

“Mau ke sana!” jawab saya sekenanya.

Mendengar jawaban saya itu, Yahya tertawa, bertepuk tangan, kemudian menggigit punggung tanganya yang terlihat sudah menghitam. Lalu memberikan isyarat yang mungkin berarti mempersilahkan saya melakukan perjalanan.

Rupanya, Yahya tidak sejahat dan tidak menakutkan seperti yang ada di dalam pikiran saya. Orangnya cukup ramah. Hanya saja keterbatasan komunikasi serta gangguan jiwa yang dialaminya membuat dirinya begitu ditakuti oleh anak-anak, termasuk saya.

Pada akhirnya, pertemuan di hari itu menghapus ketakutan saya terhadap Yahya.


Tulisan Terkait Lainnya :

10 thoughts on “[ODGJ] Yahya!

  1. capung2 Februari 16, 2016 / 10:17

    Biasanya ODGJ udah dewasa agak membuat seseorang menjadi sngt waspada terhadapnya.

    • jampang Februari 16, 2016 / 14:43

      bisa jadi, mas.
      tapi kalau nggak diganggu…. nggak akan diganggu balik yah…😀

      *dalam beberapa kasus*

  2. akhmad muhaimin azzet Februari 17, 2016 / 09:55

    ODGJ itu bila kita mendekat dengan hati yang penuh kasih biasanya ia juga merasa kok. Ini pengalaman saya.

    • jampang Februari 17, 2016 / 13:27

      sepertinya memang begitu, pak

  3. adelinatampubolon Februari 18, 2016 / 14:40

    aku tetap takut loh mas ketemu ODGJ soalnya pernah beberapa kali hampir kena batu yang dia lempar. tapi sejujurnya aku sangat kasihan sama mereka, karena keluargaku juga ada yang menderita ODGJ.

    • jampang Februari 18, 2016 / 19:55

      Iya mbak. Rasa takut pasti ada. Apalagi punya pengalaman buruk.
      Keluarga mbak itu apa masih ada harapan untuk sembuh?

      • adelinatampubolon Februari 18, 2016 / 19:58

        Kita cuma berusaha mengurangi dampaknya saja. Nga busa total sembuh.

      • jampang Februari 18, 2016 / 21:29

        Oooo begitu. Semoga dimudahkan, ya mbak

  4. boemisayekti Februari 23, 2016 / 08:59

    sama ya, ODGJ menjadi cerita ketika kecil🙂

    • jampang Februari 23, 2016 / 11:43

      mungkin karena sekarang udah jarang banget yang ODJG berkeliaran…. meskipun ada. kondisi lingkungan juga sudah berbeda

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s