All About Rifki

Tahun ini, bulan ini, hari ini, bahkan jam, menit, dan detik ini, akan berlalu. Ketika semuanya berlalu, maka saat itulah semuanya menjelma menjadi sejarah. Adakalanya sejarah di masa lalu itu begitu indah, sehingga ingin selalu dikenang. Adakalahnya sejarah itu begitu pahit, sehingga meski baru terlewati beberapa hari, minggu, atau bulan, ingin sekali untuk membuangnya dari ingatan.

Namun tak ada guna mengenang sejarah yang indah, jika hanya membuat diri terlena dan tak mau menerima kenyataan bahwa apa yang terjadi saat ini tak seindah masa lalu. Padahal, yang dibutuhkan saat ini bukanlah kenangan, tapi pilihan dan langkah nyata.

Tak penting juga untuk mengenang masa lalu yang pahit, jika kenangan pahit itu hanya membuat diri menjadi minder, tidak percaya diri, dan menyerah sebelum melangkah. Padahal yang dibutuhkan saat ini bukanlah berdiam dalam trauma, tapi bangkit berdiri dan berusaha kembali tuk masa depan yang lebih menjanjikan.

Sejarah, baik yang indah maupun yang pahit, menjadi sesuatu yang tak terpisahkan dari setiap individu. Sejarah itu akan terus melekat sepanjang hidup manusia di dunia. Bahkan setelah manusia tersebut pergi meninggalkan dunia ini, sejarahnya akan tetap mengikuti sebagai penentu masa depannya di alam yang tiada akhir.

Paragraf yang akan Anda baca selanjutnya, adalah beberapa cuplikan sejarah tentang diri saya. Ada yang indah namun ada pula yang pahit. Semoga saja, apa yang telah menjadi sejarah saya di masa lalu, dapat saya jadikan renungan dan pelajaran untuk masa depan. Aamiin.

love_jampang

..:: Perkenalan

pohon kecapi buahnya tinggi
dipetik jatuh ke dalam pengki
jika ingin tahu lelaki di balik blog ini
dialah lelaki bernama rifki

Yup, nama saya Rifki. Nama yang singkat karena hanya terdiri dari lima huruf. Diambil dari kata di dalam Bahasa Arab yang memiliki arti lembut atau sahabat. Seorang lelaki sejati yang menyukai perempuan, bukan penyuka sesama lelaki.

Saya dilahirkan dan dibesarkan di tanah Betawi. Beberapa orang rekan kerja ada yang mengira bahwa yang namanya orang Betawi pastilah tanahnya luas atau rumah kontrakkannya banyak. Memang ada orang Betawi yang demikian. Namun saya bukanlah di antaranya. Mungkin seperti ungkapan yang berbunyi “hartanya tidak habis dimakan tujuh turunan”, kedua orang tua saya adalah generasi kedelapan dari nenek moyang saya. Jadinya tidak mendapat banyak kekayaan. Begitu pula dengan saya 😀

Namun demikian, apa yang saya miliki saat ini tetaplah wajib disyukuri. Sebab semuanya adalah pemberian Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

..:: Keluarga

tanpa belajar tak raih ilmu
ilmu diamalkan tuk dapat pahala
tak akan ada anak tanpa ayah ibu
adik dan kakak penghibur suasana

Saya terlahir di keluarga yang sederhana. Ayah dan ibu saya bukanlah orang kaya dengan harta yang berlmpah. Namun seperti ayah dan ibu di seluruh dunia, jasa keduanya amat sangat besar sekali bagi saya. Jasa yang tidak mungkin bisa saya balas, sekeras apapun saya berusaha.

Ayah dan Ibu saya bukanlah orang memiliki tingkat pendidikan yang baik. Ayah saya tidak lulus sekolah dasar dan ibu tidak bisa menulis dan membaca aksara latin. Namun demikian, keduanya memiliki tekad yang kuat agar anak-anak memiliki pendidikan yang lebih baik. Ayah dan ibu rela melakukan apa saja untuk medapatkan uang yang halal demi memenuhi kebutuhan sekolah anak-anak mereka.

Ayah saya berjualan bunga yang dibeli dari Pasar Kembang Rawa Belong untuk kemudian diantar kepada para pelanggannya yang lokasinya bisa dibilang tidak dekat dengan menggunakan sepeda. Sepeda, bukan sepeda motor. Sementara ibu saya membantu ayah dengan cara tersendiri. Ibu saya pernah berjualan jamu keliling kampung, jajanan kue, hingga berjualan nasi uduk di depan rumah. Bahkan setelah saya lulus kuliah, saya mendengar cerita ibu bahwa untuk melunasi biaya pendaftaran sekolah saya, beliau rela berhutang kepada salah seorang tetangga.

Di keluarga, saya adalah anak tertua. Saya memiliki dua orang adik perempuan dan dua orang adik laki-laki. Hampir semuanya sudah berkeluarga dan tak lagi tinggal serumah dengan ayah dan ibu, seperti saya. Alhamdulillah, saya sudah memiliki rumah dengan lokasi yang dekat dengan rumah orang tua.

..:: Pendidikan

anak kancil makan talas
pohon kaktuk banyak duri
sejak kecil jangan bermalas-malas
agar kelak tak menyesal diri

Suatu ketika, Ibu pernah bercerita tentang apa yang menjadi cita-cita saya. Saat saya kecil, ketika ditanya orang saya ingin sekolah di mana, maka saya akan menjawab bahwa saya ingin sekolah di Al-falah (nama sebuah sekolah dasar), lalu Tsanawiyah, Aliyah, dan kuliah. Pada masanya, keinginan tersebut agak meleset. Saya tidak pernah bersekolah di Aliyah karena lebih memilih melanjutkan ke SMA.

Semasa SMA, ada satu mata pelajaran yang kurang bisa saya kuasai, meskipun tidak sampai mendapatkan nilai merah di buku raport. Nama mata pelajaran tersebut adalah Akuntansi.

Di setiap pelajaran Akuntnasi, saya hanya bisa mencatat apa yang disampaikan guru tanpa mampu memahaminya. Saya tak pernah bisa membuat jurnal-jurnal transaksi. Saya juga menyerah jika harus membuat neraca dan laporan laba-rugi. Namun ketika kuliah, saya diterima di Kampus STAN setelah gagal total di ujian masuk perguruan tinggi yang saat itu dikenal dengan sebutan UMPTN. Nama kampusnya saja STAN, otomatis mata kuliah yang dipelajari lebih banyak seputar akuntansi. Mau tidak mau saya harus lebih giat belajar akuntansi agar medapat nilai yang bagus sehingga terhindar dari Drop Out.

Alhamdulillah, saya bisa menyelesaikan program DIII di STAN. Setelah lulus dan bekerja beberapa tahun, saya melanjutkan kuliah S1 di sebuah universitas swasta dan lulus di tahun 2004.

..:: Pekerjaan

jika alis tumbuh di atas mata
maka rambut tumbuh di kepala
janganlah bekerja untuk mengejar materi semata
jadikan juga sebagai ladah pahala

Alhamdulillah, lulus dari STAN, saya langsung mendapat pekerjaan. Para lulus STAN memang dipersiapkan untuk pegawai negeri di Kementerian Keuangan. Setelah kurang lebih enam bulan melakukan Prakter Kerja Lapangan, saya mendapatkan kepastian unit kerja di mana saya akan mengabdi. Unit kerja itu bernama Kantor Jenderal Pajak.

Hingga kini, saya sudah mengabdi kurang lebih lima belas tahun. Di tahun kesepuluh, saya mendapatkan penghargaan berupa Satya Lencana. Semoga saja, saya bisa terus mengabdi dan memberikan yang terbaik untuk DJP yang mengemban tugas untuk mengumpulkan penerimaan negara.

Di DJP, saya bukanlah pegawai lapangan atau pegawai yang biasa bertemu langsung dengan Wajib Pajak. Saya tidak mempraktekkan teori-teori Akuntansi yang pernah saya pelajari di kampus dahulu. Pekerjaan saya saat ini berkutat dengan teknologi informasi, khususnya database dan aplikasi.

Tugas saya adalah membantu para pegawai DJP lain yang mengalami kesulitan atau masalah saat menggunakan aplikasi atau sistem informasi yang ada di DJP. Mirip-miriplah dengan service desk. Setiap hari saya akan berusaha memberikan solusi atas permasalahan yang ada melalui aplikasi yang juga digunakan oleh pegawai DJP lain saat menyampaikan permasalahan. Karenanya, saya tak bisa bekerja tanpa komputer dan jaringan. Jawaban dan solusi yang saya berikan, tercatat di dalam log data base yang bisa menjadi catatan sejarah tersendiri tentang apa yang saya lakukan di dalam menjalani tanggung jawab pekerjaan saya.

..:: Pernikahan

batu dilempar sekuat tenaga
menimpa kepala lukai dahi
lelaki sejati tidaklah menyukai pria
ia memilih perempuan untuk dinikahi

Alhamdulillah, saya sudah menikah. Bahkan dua kali. Tapi ini bukan prestasi untuk dibanggakan. Apalagi tidak terkait dengan praktek poligami.

Tahun 2010, pernikahan saya yang pertama berujung perceraian, setelah membina rumah tangga selama kurang lebih lima tahun. Sebuah perpisahan terjadi meski tak pernah direncanakan dan menjadi sebuah takdir yang sudah menjadi ketetapan Ilahi. Sebuah episode kehidupan yang harus saya jalani.

Dari pernikahan pertama tersebut, saya dikaruniai dua orang anak. Anak pertama saya seorang perempuan dan kemudian adiknya seorang laki-laki.

Anak perempuan saya tidak berumur panjang. Usianya hanya sekitar lima jam. Ia terlahir di tengah malam dan pergi selamanya kala menjelang pagi. Semoga ia menjadi bidadari cilik yang akan menolong kedua orang tuanya di akhirat nanti.

Dua tahun kemudian lahir seorang anak laki-laki. Alhamdulillah, ia sehat dan panjang umur. Namanya, Syaikhan. Catatan perkembangannya dan kebersamaan saya dengan Syaikhan memiliki catatan sejarah tersendiri yang juga saya abadikan dalam kategori di blog ini, yaitu “Catatan Akhir Pekan Bersama Syaikhan”, “My Dearest Syaikhan”, dan “Celoteh Syaikhan”.

Beberapa tahun setelah perceraian, ketika saya berhasil menata kembali hati yang hancur berkeping-keping, saya menetapkan untuk tak lagi menjalani hidup seorang diri. Saya membutuhkan seorang pendamping yang setia di sisi yang bersamanya, kebahagiaan yang dirasa bisa dibagi dan masalah yang datang bisa dihadapi. Apalagi, menjadi jomblo setelah menikah itu jauh lebih berat dibanding jombol sebelum menikah. Salah-salah, bisa tergelincir pada hal-hal yang setan inginkan. Di awal 2014, saya menikah lagi.

Kurang lebih setahun kemudian, saya dikaruniai seorang anak laki-laki. Saya memberinya nama Sabiq. Sabiq juga memiliki sejarahnya sendiri. Saya mencoba mengabadikan sejarahnya di blog ini dalam kumpulan cerita “Sabiq’s Diary”.

Semoga pernikahan kedua ini tidak bernasib seperti pernikahan pertama. Semoga rumah tangga sakinah, mawaddah, wa rahmah, bisa saya raih. Aamiin.

..:: Hobi Menulis

Saya lebih suka menulis dibanding membaca. Kesukaan menulis sepertinya bermula ketika saya duduk di bangkus SMA. Saat itu, saya senang merangkai kata dan membuat cukup banyak puisi. Puisi dengan tema yang beragam, mulai religi hingga tentang cinta.

Ketika saya mengenal blog, sekitar tahun 2004 atau 2005, saya mulai memindahkan puisi saya ke dalam blog. Hingga saat ini, saya masih sering membuat puisi di blog meski tidak sesering masa-masa di SMA. Di tahun 2012, puisi-puisi tersebut saya bukukan secara indie dengn judul “Rima Perjalanan Cinta” dan “Rima Perjalanan Jiwa”.

Saya menjadikan blog sebagai tempat untuk menumpahkan ide-ide dalam bentuk tulisan. Tak hanya puisi, saya juga membuat tulisan dalam bentuk lain. Umumnya berupa catatan keseharian seperti tentang apa yang saya lihat, dengar, dan rasakan.

Beberapa tahun ngeblog, saya sudah cukup banyak membuat tulisan yang dipandang bagus oleh beberapa teman sesasama blogger. Di tahun 2011, sebelum menerbitkan buku puisi, saya menerbitkan buku yang berisi tulisan-tulisan yang pernah saya buat di blog secara indie Buku-buku tersebut berjudul “Jejak-jejak yang Terserak” yang merupakan kumpulan curahan hati saya, “Lelaki dan …” yang berisi kumpulan cerita pendek, dan sebuah novel berjudul “Perempuan Berjilbab Kuning”.

Pada suatu ketika, ada sebuah penerbit major mengumumkan sedang mencari naskah buku islami. Saya kemudian bertanya apakah naskah buku yang sudah diterbitkan indie bisa diterima dan diterbitkan lagi. Ternyata bisa jika memang lolos review. Akhirnya saya mengedit kembali dan menggabungkan dua buah naskah buku “Jejak-jejak yang Terserak” dan mengajukannya ke penerbit.

Alhamdulillah,beberapa bulan kemudian saya mendapatkan kabar bahwa naskah yang saya ajukan lolos review dan akhirnya bisa diterbitkan oleh penerbit major. Buku saya pun bisa dibeli di toko buku Gramedia.

Saya bercita-cita, mudah-mudahan saya bisa menerbitkan buku lagi. Baik secara indie di mana saya mengedit, membuat lay out, membuat desain sampul, serta menjualnya dengan tenaga sendiri, terlebih lagi bisa terbit melalui penerbit major terkemuka. Aamiin.

Demikianlah sekelumit sejarah diri saya. Bagaimana dengan sejarah Anda?

..:: Kesan dan Pesan

Mengenai blog Mbak Ika Puspitasari yang mengadakan #Bundafinaufara1stGiveaway, berikut adalah kesan dan pesan saya :

Saya membuka blog Mbak Ika dengan dua alat, yaitu laptop dan handphone. Ketika saya membuka dengan laptop, tampilan blog dapat dilihat secara utuh-menyeluruh. Baik isi artikel maupun widget yang dipasang di sisi kanan. Sedangkan ketika saya buka dengan menggunakan smartphone tanpa melakukan setting apapun, isi artikel tetap terlihat seratus persen. Namun widget di sisi kanan blog tidak muncul. Hal ini dimungkinkan karena dasar template web yang Mbak Ika gunakan adalah blogspot yang menyediakan URL tersendiri secara otomatis jika blog dibuka dengan smartphone, yaitu dengan menambahkan “?m=1” di akhir URL. Intinya, tampilan blog cukup ramah jika dibuka dengan smartphone.

Selanjutnya mengenai widget yang dipilih. Mungkin ada baiknya Mbak Ika mempertimbangkan kembali mana widget yang memang diperlukan dan mana yang hanya berfungsi sebagai pemanis saja. Menggunakan banyak widget, akan berpengaruh pada kecepatan sebuah blog dapat dibuka sempurna oleh pengunjung. Jika terlalu dibuka (dan mungkin menyedot banyak kuota) bisa jadi para pengunjung blog akan sungkan untuk datang kembali.

Terakhir, saya melakukan pengetesan web Mbak Ika dengan menggunakan tool yang dikembangkan oleh Google, yaitu PageSpeed Insights yang bertujuan untuk memperbaiki sebuah web agar dapat dibukan dengan cepat melalui media apa pun. Untuk menggunakan tools ini, silahkan buka https://developers.google.com/speed/pagespeed/insights/ lalu memasukkan alamat web dan mengklik tombol Analyze.

Mengenai tes ini, ada satu hal yang mungkin mudah untuk dilihat dan dilakukan adalah dengan memilih dan mengatur gambar yang dijadikan ilustrasi artikel. Saya membuka salah satu artikel yang berjudul “Setahun Bertumbuh Bersama Gandjel Rel” yang menggunakan ilustrasi gambar lalu saya cek informasi gambar tersebut dan mendapatkan bahwa gambar laptop, sedangkir kopi, handphone, dan buku tersebut berdimensi 960px × 640px dengan ukuran 144 KB. Padahal, ukuran lebar bagian utama dari blog yang berisi artikel tersebut jauh lebih kecil.

Mungkin akan lebih baik jika ukuran gambar yang dijadikan ilustrasi disesuaikan dengan lebar bagian artikel. Dengan demikian, size file gambar akan menjadi lebih kecil. Efeknya, akan mengurangi jumlah space memori hadrdiks di hosting dan akan mempercepat halaman blog terbuka ketika diakses pengunjung.

Untuk penggunaan tools ini, Mbak Ika mungkin bisa mencoba dan melihat hasilnya sendiri agar bisa lebih banyak informasi yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan performa blog ini.

Terima kasih.

*****

Tulisan ini diikutkan dalam Bundafinaufara 1st Giveaway

 


Tulisan Terkait Lainnya :

42 thoughts on “All About Rifki

  1. zilko Maret 6, 2016 / 17:16

    Hehehe, suka sekali dengan gaya penulisannya! 😀

    Semoga sukses giveaway-nya! 🙂

    • jampang Maret 6, 2016 / 22:00

      Terima kasih, mas 😀

  2. namaewagiska Maret 6, 2016 / 17:19

    Wah keren.. tapi STAN yang sekarang dengan yang dulu apa masih sama-sama dipersiapkan untuk langsung dapat kerja ya ? hehe

    • jampang Maret 6, 2016 / 22:00

      Masih. Cuma ada bedanya. Kalau dahulu, sebelum lulus sudah diangkat jadi PNS. Tp itu udah lama banget. Kalau sekarang, lulus dulu batu diangkat jadi PNS

  3. Ika Puspitasari Maret 6, 2016 / 17:39

    Masya Allah…komplit sekali pengalaman hidup bang Rifki ya..ada manis, ada asam dan pahit. Semua menjadi pelajaran berharga tentunya. Saya juga dulu bercita-cita kuliah di STAN ttapi sayang saya nggak lolos, bang. Bahkan 2 kali saya ikut tes..*ini mah emang sayanya yg kurang ya. Tante dan om saya (suami istri) sama-sama lulusan STAN, sekarang tante bertugas di KPP Indramayu sedangkan om bertugas di Surabaya.
    Terima kasih sudah ikutan GA saya ya. Semoga beruntung, bang Rifki.
    Salam hangat dari Semmarang 🙂

    • jampang Maret 6, 2016 / 21:58

      Aamiin. Terima kasih, mbak.

      Kalau ke indramayu saya blm pernah. Tp kalau ke surabaya pernah bbrapa kali dapat tugas melakuian sosialisasi aplikasi, jangan-jangan pernah bertemu dengan omnya di surabaya 😀

      • Ika Puspitasari Maret 7, 2016 / 10:09

        Hehe..terima kasih tipsnya bang Rifki, insyaAllah akan saya pehatikan lagi agar blog saya bisa lebih baik. Oh ya, nama om saya Uding Islahudin..kalo mungkin bang Rifki kenal.. 🙂

      • jampang Maret 7, 2016 / 10:15

        sama-sama, mbak.
        ternyata saya belum kenal dengan beliau 😀

    • jampang Maret 6, 2016 / 21:55

      Ya.. Sepanjang umur saya… 😀

      Alhamdulillah

  4. boemisayekti Maret 6, 2016 / 17:56

    luar biasa….. salut saya! saya jadi kenal… 🙂

    sukses GAnya….selalu kreatif nulisnya, kali ini dibuka dengan pantun, orang Betawi euy 🙂

    • jampang Maret 6, 2016 / 21:55

      Terima kasih, mbak.
      Tadinya mau buat cerita versi puisi yg berima, ternyata malah ribet. Jadinya ya… Pakai pantun aja deh 😀

  5. Jejak Parmantos Maret 6, 2016 / 18:18

    Baca ini, berasa baru kenal… padahal udah sering mampir kesini.

    Good to know you bang Rifki 🙂

    • jampang Maret 6, 2016 / 21:53

      Terima kasih… Semoga nggak menyesal kenal saya 😀

  6. dani Maret 7, 2016 / 01:49

    Hihihi.. Masa sih Bang geneai ke delapan ortunya? 😀
    Sukses ya Bang Rifki ikutan giveawaynya! 😀

    • jampang Maret 7, 2016 / 08:04

      ya kira-kira begitulah, mas. soalnya waktu kakek hidup, tanahnya masih lumayan, tetapi habis setelah diwariskan 😀

      terima kasih, mas

  7. Dini Febia Maret 7, 2016 / 06:42

    Wah, jadi sedikit terbayang setelah diceritakan. Berarti adiknya ada 4 ya.. Banyak juga. 😀

    • jampang Maret 7, 2016 / 08:32

      iya mbak. orang-orang dulu anak-anaknya banyak jumlahnya, mbak 😀

      • Dini Febia Maret 7, 2016 / 09:25

        hhe.. beruntung jadi banyak saudara, ya. 😀

      • jampang Maret 7, 2016 / 09:34

        alhamdulillah

  8. Jauharry Maret 7, 2016 / 08:58

    Rawa Belong, berarti anak Kembangan kali nih yah ahahha… *(sok Tahu :-p)

    • jampang Maret 7, 2016 / 09:05

      sama-sama di jakarta barat seh…. tapi saya yg lebih deket ke jakarta selatan… saya di kebun jeruk

      • Jauharry Maret 7, 2016 / 09:13

        Kebon jeruk Meruya ???

      • jampang Maret 7, 2016 / 09:16

        sukabumi selatan

  9. Jauharry Maret 7, 2016 / 09:20

    Oh sukabumi selatan itu, Pospengumben yak. gak jauh jauh amat lah

      • Jauharry April 5, 2016 / 09:44

        Wah itu tempat mondar mandir, dulu sering k masjid Al Balag(klo gak salah)

      • jampang April 5, 2016 / 13:02

        yang di komplek bulog yah?

      • Jauharry April 5, 2016 / 13:55

        Iyah betul….

      • jampang April 5, 2016 / 14:53

        nggak jauhlah dari situ

      • Jauharry April 5, 2016 / 16:09

        Wah gak jauh? Mananya dah???

      • jampang April 5, 2016 / 16:11

        satu jalan setelah jalan pos pengumben. masjid al-makmur

  10. itsmearni Maret 10, 2016 / 20:36

    saya baru tahu ternyata syaikhan punya kakak perempuan
    semoga sukses GAnya ya mas

    • jampang Maret 11, 2016 / 08:45

      mungkin postingan yang dahulu terlewat, mbak.

      terima kasih, mbak

      • itsmearni Maret 11, 2016 / 11:27

        Iya kayaknya terlewat deh
        Selama ini saya taunya syaikhan aja sejak jaman di MP dulu

      • jampang Maret 11, 2016 / 14:47

        ya, paling banyak memang cerita tentang syaikhan

    • jampang Maret 17, 2016 / 09:47

      salam kenal juga, mbak

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s