Sehidup Semati

two hearths
“Ar-rahmaan. ‘Allamal qur’aan. Khalaqal insaan.”

Alunan ayat-ayat dari surat Ar-Rahman itu menggema di ruangan berdinding putih yang tidak begitu besar. Adalah seorang Emir yang melantunkannya. Suaranya bergetar. Namun jauh di relung dadanya, ada getaran yang lebih hebat dirasakannya.

Terlintas dalam ingatan Emir tentang kejadian malam pertama selepas dirinya dan Nada melakukan resepsi pernikahan. Saat itu, Nada meminta dirinya membacakan surat Ar-Rahman sebagai hadiah tambahan darinya. Emir pun membaca tujuh puluh delapan ayat dalam surat tersebut dengan baik dan sempurna. Nada tersenyum bahagia menerima pemberian tersebut.

Seperti itu pula apa yang dilakukan Emir sekarang. Hanya saja, kondisinya berbeda.

Emir teringat pula, ketika dirinya diminta kembali untuk membaca surat Ar-Rahman sebagai penghibur dan penawar rasa sakit yang diderita Nada. Setelah Emir menyelesaikan bacaannya, Nada tertidur lelap dengan wajah begitu tenang.

Seperti itu pula apa yang dilakukan Emir sekarang. Hanya saja, kondisinya serupa tapi tak sama.

Emir duduk di samping sebuah tempat tidur. Tangan kanannya memegang mushaf kecil. Sementara tangan kirinya menggenggam jemari Nada yang terbaring di atas tempat tidur dalam keadaan kritis selepas menjalankan operasi.

“Kak!”

Suara lirih Nada yang terjaga mengehntikan bacaan Emir.

“Iya, Sayang!” jawab Emir sambil memperbaiki posisi duduknya agar lebih dekat dengan Nada.

“Apakah kau masih menyayangiku, Kak?” tanya Nada.

“Tentu saja. Aku masih dan akan terus menyayangimu,” jawab Emir dengan suara bergetak.

“Kakak akan tetap setia pada diriku seandainya aku pergi jauh?” tanya Nada kembali.

“Jangan bicara seperti itu, Sayang!” Pinta Emir. Kedua matanya mulai terasa basah. “Kamu pasti akan sembuh. Kita akan terus hidup bersama!”

“Tolong jawab pertanyaanku, Kak!”

“Aku akan tetap setia kepadamu.”

“Jadi Kakak tidak akan menikah lagi jika aku meninggal terlebih dahulu?”

“Tidak, Sayang!”

“Aku bahagia mendengarnya, Kak.”

Sebuah senyum terlukis di wajah Nada. Emir pun ikut tersenyum. Senyum yang diharapkan bisa menguatkan dirinya dan menguatkan perjuangan Nada untuk sembuh.

“Kak!”

“Iya.”

“Aku ingin mendengarkan bacaan Kakak lagi!” pinta Nada.

Emir kembali membuka mushaf kecil dengan tangan kanannya. Sementara Nada menggenggam kuat tangan kiri Emir.

“Tabaarakasmu rabbika dzil jalaali wal ikraam.”

Selepas ayat terakhir Surat Ar-Rahman tersebut, Emir merasakan genggaman tangan Nada semakin melemah.

—o0o—

Empat belas bulan berlalu. Emir tetap menjalani kehidupannya. Sendiri. Rasa cinta yang sangat mendalam kepada mendiang istrinya membuat Emir sulit untuk melupakan sosok Nada dari hati dan pikirannya. Sementara keluarganya dan juga keluarga Nada berkeinginan agar dirinya menikah lagi.

“Nak Emir!” Panggil Layla, Ibunda Nada. “Bisa Ibu bicara?”

“Iya, Bu.”

“Apakah dirimu tidak ingin mencari pengganti Nada?”

“Tidak, Bu!” jawab Emir singkat.

“Kenapa?”

“Cinta saya hanya untuk Nada, Bu. Bukan untuk perempuan lain.”

“Tapi kamu masih muda, Nak. Kamu berhak untuk bahagia!”

Emir hanya terdiam.

“Ibu tahu, kamu sangat mencintai Nada. Tapi bukan berarti kamu harus menjalani hidup seorang diri selamanya, kan?”

Emir masih terdiam.

“Jika kamu berkenan, ada perempuan yang bersedia untuk menjadi istrimu.”

“Siapa, Bu?” Emir mulai bicara.

“Ayna. Adik iparmu.” Jawab Bu Layla.

“Saya…” Emir tak bisa melanjutkan kata-katanya.

“Kenapa, Nak?”

“Saya tak yakin bisa mencintai perempuan lain seperti diriku mencintai Nada, Bu.” Jawab Emir.

“Kamu takkan tahu jika kamu tidak mencobanya. Benarkan?”

–o0o–

Malam menjelang. Keramaian pesta pernikahan Emir dan Ayna kini berganti dengan sepi. Tinggal serangga saja yang masih bernyanyi di bawah siraman cahaya purnama dan kerlip bintang di langit malam.

“Hari ini, malam ini, aku merasa sangat bahagia, Mas.” Ucap Ayna. “Bagaimana dengan dirimu?”

Emir terdiam. Dirinya sulit untuk menjawab pertanyaan Ayna tersebut.

“Mas masih teringat dengan Mbak Nada?” tanya Ayna lagi.

Emir tak menjawab.

“Aku mengerti, Mas. Aku memang bukan Mbak Nada. Aku juga menyadari bahwa kehadiranku di dalam kehidupanmu tak akan bisa menggantikan sosok Mbak Nada. Tak mengapa. Aku memilih dan menikahimu karena aku mencintaimu. Aku ingin bahagia dan membahagiakanmu. Itu tekadku. Meski kuyakin, mewujudkannya adalah perkara yang tidak mudah.”

Emir masih terdiam. Dirinya merasakan sesuatu yang berbeda di dalam tubuhnya. Rasa hangat tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya yang kemudian berubah menjadi panas. Tubuh Emir berkeringat. Tenggorokannya terasa kering. Emir terbatuk.

“Mas Emir, kamu kenapa?” tanya Ayna panik.

“Ayna, tolong ambilkan aku air minum?” Pinta Emir.

“Baik, Mas. Aku ambilkan.” Jawab Ayna seraya melangkah keluar kamar menuju dapur.

Beberapa saat kemudian, Ayna kembali masuk kamar sambil membawa segelas air. Dilihatnya Emir sedang berbaring di atas tempat tidur.

“Mas!” panggil Ayna. “Ini minumnya!”

Emir tak menjawab.

“Mas Emir!” Ayna mencoba membangunkan Emir.

Tubuh Emir tetap tak bergerak.

“Mas Emir!”

Emir hanya terdiam. Terdiam untuk selamanya.


Baca Cerpen Lainnya :

8 thoughts on “Sehidup Semati

    • jampang Maret 12, 2016 / 07:52

      Koq gitu kenapa, mbak?

    • jampang Maret 12, 2016 / 11:39

      Itu dua cerita yg berbeda terus saya gabungin jadi satu, mbak

  1. Goiq Maret 12, 2016 / 16:44

    merasakan enosi cerita ini. jadi pegen baca lengkapnya

    • jampang Maret 12, 2016 / 16:50

      Ini udah lengkap, mas😀

  2. Hana Aina Maret 18, 2016 / 21:26

    Cinta sehidup semati. Hmmm ..

    Terimakasih sudah berpartisipasi🙂

    • jampang Maret 18, 2016 / 21:28

      iya mbak. terima kasih

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s