Kisah Sukses Seorang Wirausaha Konfeksi

mesin jahit
Yang saya pahami selama ini, wirusaha adalah seseorang yang melakukan pekerjaan untuk kepentingan dirinya, menerima hasil jerih payah juga untuk dirinya, dan memungkinkan untuk berbagi kepada orang lain. Jadi wirausaha bukanlah seseorang yang memiliki atasan dalam melakukan pekerjaannya. Dia bekerja atas kehendak dan kemauannya sendiri. Tanpa diperinta atau dipaksa oleh orang lain. Bahkan, dialah yang menjadi atasan dan memiliki bawahan. Sementara seseorang seperti saya, yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, tidak bisa dikatakan sebuah seorang wirausaha.

Jika saya melihat kerabat-kerabat saya baik dari garis ayah maupun ibu, kebanyakan di antara mereka berprofesi sebagai wirausaha. Bukan wirausaha dengan skala yang besar, tapi cukuplah memenuhi kriteria yang saya sebutkan sebelumnya. Mereka memiliki usaha sendiri dan bekerja sendiri tanpa bantuan anak buah. Namun ada pula yang memperkerjakan beberapa orang sebagai anak buah. Umumnya bidang usaha yang dijalani terkait dengan tanaman hias dan konfeksi.

Ayah dan ibu saya juga sempat melakukan wirausaha. Ayah berjualan bunga yang beliau beli di Pasar Kembang Rawa Belong dan menjualnya kepada para pelanggan tetap. Sementara ibu saya memaksimalkan keahlian di bidang masak-memasak dengan membuat aneka kue serta nasi uduk untuk kemudian dijajakan di depan rumah.

Yang tersukses di antara kerabat-kerabat saya di atas adalah salah seorang paman saya, adik dari ibu. Namanya Khotib. Saya memanggil beliau dengan sebutan Cing Khotib. Beliau menjalankan usaha di bidang konfeksi. Khususnya celana anak-anak. Konfeksi adalah pakaian yang dibuat secara massal yang dijual dalam keadaan jadi, tidak diukur menurut pesanan, tetapi menurut ukuran yang sudah ditentukan sebelumnya.

Yang saya ingat, ketika saya masih anak-anak, Cing Khotib sudah memiliki banyak anak buah yang bekerja di rumah orang tua beliau yang juga adalah nenek saya. Namun perjuangan menjalankan usaha tersebut dimulai di tahun-tahun sebelum saya dilahirkan. Saya mendapatkan kisah perjuangan Cing Khotib dari ibu dan tante saya.

Cing Khotib mulai mengenal dunia konfeksi sejak masa remaja. Awalnya, beliau bekerja pada seorang bos konfeksi di sekitar tempat tinggal beliau. Sebagai anak buah, beliau harus menjahit celana dengan menggunakan mesin jahit manual yang digerakkan dengan kaki. Padahal, di saat itu, tubuh beliau masih terbilang kecil jika dibandingkan dengan ukuran mesin jahit yang digunakan. Beliau harus berdiri selama menjahit. Bukan duduk. Akibatnya, selesai menjahit, beliau merasakan seluruh tubuhnya sakit dan pegal-pegal.

Namun Cing Khatib tidak menyerah apalagi putus asa dengan kondisi tersebut. Dengan tekad dan kemauan yang kuat Cing Khatib terus bekerja sambil mempelajari tentang bagaimana usaha konfeksi dibangun dan dijalankan.

Dengan bekal yang didapat di tempat bekerja, ditambah dengan kemampuan melihat dan menilai kesempatan bisnis, Cing Khatib memaksimalkan kemampuan yang dimiliki dan sumber daya yang ada di sekelilingnya untuk kemudian diolah, serta mau mengambil resiko, Cing Khatib akhirnya memutuksan untuk membangun usaha konfeksi sendiri.

Ketika saya masih anak-anak, saya sering menginap di rumah nenek saya yang juga ditempati oleh Cing Khatib. Di rumah tersebut, saya melihat bagaimana anak buah Khatib bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing. Ada yang bertugas memotong bahan sesuai dengan pola yang sudah dibuat, ada yang bertugas dengan mesin obras, ada yang bekerja dengan mesin jahit, ada pula yang bertugas melipat dan mengepak celana-celana yang sudah selesai dijahit.

Para anak buah Cing Khatib mendapat gaji mingguan. Saya masih ingat, di setiap malam minggu, selepas maghrib atau isya, para tukang jahit tersebut berkumpul di rumah, menunggu nama-nama mereka dipanggil oleh Cing Khatib yang akan memberikan gaji mereka masing-masing.

Alhamdulillah, atas kerja keras dan penuh semangat, usaha konfeksi Cing Khatib mulai berkembang. Dari usaha tersebut, beliau bisa memberangkatkan ibu beliau, nenek saya, ke tanah suci. Selain itu, beliau juga bisa memperbaiki rumah yang beliau tempati. Bahkan kini, beliau sudah memiliki beberapa rumah dan tanah.

Bercermin dari kesuksesan yang diraih oleh Cing Khatib, saya mendapatak beberapa hal penting yang perlu diperhatikan oleh para wirausaha atau yang akan mencoba menjadi seorang wirausaha. Apa saja hal penting tersebut?

  1. Mampu Berkreasi

Seorang wirausaha harus memiliki daya kreasi yang tinggi. Inovatif. Dengan sepasang mata dan telinga, seorang wirausaha mampu membaca segala situasi dan menangkap segala bentuk kesempatan atau peluang usaha sekecil apapun. Ide-ide orisinil yang lahir dari daya pikirnya mampu menciptakan sesuatu yang unik. Andaipun ide yang terbersit di dalam benaknya bukanlah ide orisinil, dia mampu melakukan ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi). Mengamati ide yang sudah ada, lalu menirunya, kemudian memodifikasinya sehingga apa yang dihasilkan terlihat berbeda dengan yang sudah pernah ada. Keunikan dan perbedaan dengan yang lain itulah yang kemudian dijadikan sebagai daya tarik yang akan mendatangkan calon pelanggan. Itulah yang dilakukan Cing Khatib dengan bisnis konfeksinya.

  1. Berani Mengambil Resiko

Wirausaha bukanlah sesuatu yang selalu aman-aman saja ketika dilakukan. Ada resiko yang terselip di dalamnya. Usaha yang dibangun tidak mungkin selalu berjalan mulus. Pasti ada kendala dan hambatan. Ada kerugian yang selalu membayangi. Itulah resiko. Jika resiko tak dihadapi, maka tak mungkin sebuah usaha dibangun. Seorang wirausaha harus berani mengambil resiko tersebut. Bisa jadi, di awal menjalankan usahanya, kerugian yang diterima. Namun jika sudah ada kesiapan akan datangnya resiko kerugian tersebut dan sudah mempersiapkan perencanaan untuk menghadapinya, bukan mustahil, pelan tapi pasti usaha yang dibangun akan bangkit dan berdiri dengan kokoh.

Cing Khatib mungkin tak mengenal ungkapan “no pain no gain” tetapi di dalam menjalankan usahanya, beliau menerapkan ungkapan tersebut.

Saya pernah mendegar bahwa beliau berhutang kepada orang lain untuk menambah modal usaha meski saat itu kondisi usaha beliau sudah stabil. Apa yang dilakukan oleh Cing Khatib tersebut tidak diamini oleh saudara-saudara beliau. Lalu beliau memberikan jawaban bahwa jika dirinya tidak berhutang, otaknya tidak bisa berpikir. Ide-ide tidak keluar. Karenanya beliau berani menambil resiko berhutang agar ada hal yang memaksa dirinya untuk terus berpikir dan mencari ide-ide baru untuk memajukan usahanya.

  1. Bersemangat Tinggi

Bagi saya, sejarah perjalanan Cing Khatib dalam membangun usaha konfeksi telah memberikan gambaran betapa tinggginya semangat yang beliau miliki. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, Cing Khatib memulai usahanya dengan bekerja dan belajar kepada orang yang sudah berpengalaman di bidangnya. Ketika beliau tidak mampu mengoperasikan mesin jahit dengan posisi duduk karena tubuhnya masih terlalu kecil, beliau tetap semangat bekerja meski harus dengan posisi berdiri. Meski resiko sakit dan pegal-pegal harus beliau rasakan setiap harinya. Nyatanya, semangat itu pula yang mengantarkan kesuksesan beliau di masa-masa berikutnya.

  1. Berjiwa Pemimpin

Seorang wirausaha bekerja sendirian atau bersama bawahan. Karenanya dia harus bisa mengatur dirinya sendiri dan juga para bawahannya. Bukan hanya sumber daya manusia yang diatur, sumber daya lainnya pun harus diatur juga. Hanya seseorang yang memiliki jiwa pemimpin yang bisa melakukan hal demikian.

Cing Khatib telah berhasil mengatur alur bisnis usahanya. Beliau menentukan dari mana bahan mentah didapatkan, lalu mengatur siapa saja yang kemudian memproses dengan cara membagi tugas para tukang jahit bawahannya sesuai dengan kemampuan masing-masing, dan menentukan pula ke mana produk yang sudah jadi dipasarkan.

  1. Mampu Berbagi

Sorang wirausaha yang sukses, menurut saya, adalah yang mampu berbagi kepada sekelilingnya. Dia tak ingin maju sendirian. Untuk itu, dia merangkul orang lain di sekitarnya dengan menciptakan lapangan kerja. Dia juga tak ingin menikmati hasil jerih payahnya sendirian. Karenanya, dia juga berbagi kepada orang lain di sekitarnya.

Dalam menjalankan usahanya, Cing Khatib merekrut sadara atau teman-teman beliau yang memiliki keahlian di bidang menjahit untuk bekerja kepada beliau. Usaha konfeksi yang beliau jalankan telah mampu menciptakan lapangan kerja bagi orang-orang di sekitar beliau.

Ketika usahanya sudah stabil, Cing Khatib tak lupa untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim untuk menunaikan kewajiban membayar zakat dan membagikannya kepada kelompok yang berhak menerima. Sementara kepada para keponakannya seperti saya dan adik-adik saya, hadiah celana baru sering saya terima ketika menjelang hari raya.

Mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan tentang sosok yang saya anggap sebagai seorang wirausaha yang sukses di keluarga besar saya. Tentu saja, cerita di atas dilihat dari sudut pandang pribadi saya yang notabene adalah bukan seseorang yang memiliki dari wirausaha yang mengalir di dalam dirinya.

 


Tulisan Terkait Lainnya :

28 thoughts on “Kisah Sukses Seorang Wirausaha Konfeksi

  1. zilko Maret 16, 2016 / 01:47

    Semoga sukses (lagi) ya kontesnya🙂 .

    Begitulah, menjadi wirausaha memang tidak mudah. Ada tantangannya sendiri🙂 .

    • jampang Maret 16, 2016 / 08:14

      terima kasih, mas.
      iya… makanya saya sampai saat ini belum sanggup😀

    • jampang Maret 16, 2016 / 08:14

      iya, mbak. sore sudah setengah jalan, jadinya dilanjutin malamnya… seadanya

  2. wisnuwidiarta Maret 16, 2016 / 08:36

    Sempat jadi wirausahawan selama 3 th.. Eh jadi karyawan lagi..

    • jampang Maret 16, 2016 / 11:16

      bidang apa, mas? dan kenapa beralih jadi karyawan lagi?

      • wisnuwidiarta Maret 16, 2016 / 11:34

        Software house sudah bisa sewa ruko segala. Tapi setelah tiga tahun pada bosen pengen coba jadi karyawan lagi. Jadi semua bubar jadi pegawai kantoran lagi.

      • jampang Maret 16, 2016 / 11:37

        nggak bisa disambi yah? ngantor juga wirausaha juga?😀

      • wisnuwidiarta Maret 16, 2016 / 11:44

        Kalau ada yg minta tolong sih dibantu kalau harganya cocok.. Tapi gak full serius nyari customer karena hanya ketika Allah SWT menawarkan peluang rezeki saja..

      • jampang Maret 16, 2016 / 15:46

        mantaplah kalau begitu…😀

      • wisnuwidiarta Maret 16, 2016 / 15:50

        Pernah ngerjain project di luar kantor juga Mas?

      • jampang Maret 16, 2016 / 15:54

        pernah sekali. waktu itu diajak bapak mertua bikin aplikasi berbasis web

      • jampang Maret 16, 2016 / 16:09

        yang lama. yang baru yatim piatu sejak kecil

      • wisnuwidiarta Maret 16, 2016 / 16:15

        Semoga sakinah ma waddah wa rohmah.. Jodoh dunia akherat.. Kata orang Betawi, Encing istri saya, Panjang jodohnya.. Till Allah SWT summon back both of you..

      • jampang Maret 16, 2016 / 16:22

        aamiin yaa rabbal ‘aalamiin

  3. Gara Maret 16, 2016 / 13:54

    Banyak yang bisa diteladani ya Mas. Saya belajar kalau di hidup tak ada yang mudah jadi perjuangannya mesti maksimal, kita mesti kuat menghadapi apa pun yang Tuhan sediakan untuk mencapai itu. Tapi kudu pintar cari jalan juga ya, supaya jadi kreatif. Top pokoknya Cing Khotibmu ini Mas. Semoga berhasil juga buat lombanya ya :)).

    • jampang Maret 16, 2016 / 15:46

      betul, gar. semua yg ada di dunia ini diperuntukkan untuk manusia. tinggal manusia dengan akal dan hatinya memanfaatkan…. apakah secara baik atau tidak. yang jelas, semuanya akan kembali kepada diri sendiri.

      terima kasih, gar

      • Gara Maret 16, 2016 / 16:11

        Setuju, Mas.
        Sama-sama :)).

  4. rizzaumami Maret 17, 2016 / 01:33

    biasanya orang akan melihat sosoknya sekarang, tanpa peduli bagaimana usahanya dulu. orang cenderung melihat enaknya sekarang tanpa tahu seberat apa perjuangannya dalam mencapai posisi sekarang. itu yang bikin saya ketar-ketir manakala menginginkan posisi seseorang yang sukses, karena saya harus merintis dari bawah seperti mereka.

    • jampang Maret 17, 2016 / 06:15

      iya. biasanya yang dilihat adalah kondisi ketika sudah sukses dan tidak melihat bagaimana perjuangannya dahulu

  5. alrisblog Maret 17, 2016 / 21:02

    Point yang disebutkan diatas untuk jadi pengusaha seratus persen betul. Menurut teman, dan saya juga, yang lebih penting lagi adalah action,🙂

    Saya juga sedang merintis usaha disamping saat ini jadi orang gajian. Semoga sukses, mohon doa-nya.

    • jampang Maret 18, 2016 / 03:46

      Iya, mas. Harus segera dan berani berbuat. Sebab rencana tanpa aksi nggak akan mendatangkan hasil.

      Semogalancar dan sukses usahanya,mas

  6. noe Maret 28, 2016 / 17:12

    Hallo, terima kasih sdh ikut GA wirausaha. Salam sukses.

    • jampang Maret 29, 2016 / 08:27

      terima kasih kembali, mbak.

  7. suzieicus April 5, 2016 / 08:43

    wah keren nih encingnya…
    jadi pengen berguru langsung
    makasih ya udah ikutan GA nya:)

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s