[Prompt#107] Bisik-bisik Dompet Tetangga


“Ambil saja dompet itu!” sebuah suara berbisik di telinga kiriku.

“Selamatkan dompet itu! Jika orang yang tak bertanggung jawab yang mengambil, pasti uang di dalamnya akan digunakan untuk hal-hal tidak baik,” suara lain berbisik di telinga kananku.

Seperti mendapatkan pengesahan dari kedua suara itu, ditambah kondisi jalan yang sepi, kuambil dompet kulit berwarna hitam yang tergeletak di pinggir jalan. Di dalamnya kutemukan beberapa lembar uang seratus ribuan, lima puluh ribuan, dan beberapa lembar pecahan lebih kecil lainnya.

Mataku lalu tertuju pada KTP yang terselip di dalam dompet. Kukeluarkan KTP tersebut untuk melihat identitas pemiliknya.

Pak Haji Somad!

Rupanya dompet ini milik tetangga sebelah rumahku.

“Segera saja kau gunakan uang itu untuk membeli obat istrimu yang lumayan mahal dan susu untuk anakmu!” suara di telinga kiriku kembali terdengar. Sepertinya dia mengetahui kegalauanku. Uang yang ada di dompetku tak cukup untuk menebus obat di apotek dan membeli susu untuk anakku. Sementara uang di dompet Pak Haji Somad, lebih dari cukup.

“Jangan!” suara di telinga kananku terdengar lagi. “Uang itu bukan milikmu, kembalikan kepada pemiliknya.”

“Jika kau kembalikan kepada pemiliknya, apa yang akan kau dapat? Ucapan terima kasih? Itu tidak bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhanmu yang mendesak saat ini,” bantah suara di telinga kiriku.

Akhirnya kuputuskan untuk pergi ke apotek. Segera kuhentikan angkot yang lewat dan menaikinya. Aku duduk di pojok. Sendirian.

Tak lama kemudian, naik dua orang lelaki. Keduanya duduk di samping dan di hadapanku. Lelaki yang duduk disampingku langsung menodongkan sebilah pisau ke pinggangku.

“Diam atau kutusuk!” ancamnya sambil memeriksa saku celanaku. Aku tak berkutik.

Diambilnya dompetku dan dompet Pak Haji Somad, lalu membukanya.

Ketika lelaki itu membuka dompet Pak haji Somad, wajahnya memerah. Dia langsung memukul wajahku dengan gagang pisau yang dipegangnya.

“Berani-beraninya kamu beroperasi di daerah kekuasaanku!” lelaki itu langsung memukulku dan berteriak, “Copet! Copet!”


Baca Juga Prompt Lainnya :

7 thoughts on “[Prompt#107] Bisik-bisik Dompet Tetangga

  1. Gara Maret 20, 2016 / 15:01

    Ck ck ck. Keputusan yang salah. Sayang sekali.

  2. zilko Maret 20, 2016 / 18:25

    Sudah jatuh, tertimpa tangga (akibat tergoda bisikan setan) pula ya

    • jampang Maret 20, 2016 / 20:30

      Iya, mas. Kasihan. Sekarang jadi nggak punya uang sama sekali

  3. Akhmad Muhaimin Azzet Maret 21, 2016 / 08:59

    Dompet sendiri malah hilang, wajah dipukul, diteriaki copet lagi. Balasan beruntun yang tragis. Maka, memutuskan untuk memilih yang baik itu penting sekali.

    • jampang Maret 21, 2016 / 09:00

      setuju sekali, pak. terima kasih

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s