Pernikahan yang Harmonis

marriage
Sal, kamu pernah mengutarakan harapanmu tentang pernikahan atau rumah tangga kita kelak. “Aku menginginkan rumah tangga kita menjadi rumah tangga yang harmonis,” begitu ucapmu. Tanpa menunggu jeda, aku langsung berkata, “Insya Allah kita bisa, Sal!”

Selanjutnya kamu bertanya tentang bagaimana gambaran sebuah pernikahan yang harmonis itu. Lalu kujawab dengan panjang lebar.

*****

Pernikahan yang harmonis itu…

… adalah pernikahan yang dibangun di atas pondasi taqwa. Sebab menikah adalah sebuah perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Ia merupakan ibadah. Bahkan aku menganggapnya sebagai ibadah terpanjang karena dijalankan sejak kalimat ijab-qabul terucap hingga ajal menjemput salah seorang dari pasangan suami-istri. Ketika perintah tersebut dilaksanakan, maka bisa dikatakan bahwa hal tersebut adalah salah satu perwujudan taqwa. Karena tak mungkin sebuah perintah ibadah dilakukan seseorang jika tanpa dasar ketaqwaan di dalam dirinya.

… adalah pernikahan yang dipagari dengan kesetiaan. Menikah dan membangun sebuah rumah tangga adalah sebuah janji setia. Memang bukan janji setia untuk sehidup semati, tetapi janji untuk tidak mengkhianati satu sama lain atau berslingkuh. Dengan kesetiaan itu, kepercayaan tercipta sehingga mampu menepis benih-benih curiga. Cinta yang begitu membara di awal-awal pernikahan, mungkin akan luntur dan lentur seiring perjalanan zaman. Kesetiaanlah yang tetap mengikat hati dua insan, ketika pesona diri tak lagi menawan.

… adalah pernikahan yang kesehariannya diwarnai dengan aneka komunikasi. Komunikasi tak selalu berbentuk kata-kata. Komunikasi bisa terjalin melalui sentuhan, senyuman, bahkan melalui tatapan. Kesemuanya bisa mengandung banyak makna. Ketika berjalan dengan baik, entah itu dari mulut ke telinga atau dari hati ke hati, komunikasi akan mampu membuka pintu pemahaman seorang suami akan istrinya dan begitu juga sebaliknya.

… adalah pernikahan di mana suami dan istri saling memberikan perhatian satu sama lain. Tidak cuek. Perhatian akan melahirkan kepekaan pasangan. Jika terjadi perubahan sekecil apapun dalam hal tingkah laku, suami atau istri bisa saling mendeteksi secara langsung untuk kemudian segera ditindaklanjuti. Jika perubahan tersebut bersumber dari masalah, maka dengan cepat akan dicarikan solusi. Jika perubahan tersebut bersumber dari anugerah, satu sama lain bisa mengingatkan untuk bersyukur dan berbagi.

… adalah pernikahan yang menjunjung tinggi sebuah kejujuran, bukan rumah tangga yang dipenuhi dengan kebohongan. Kejujuran akan membuat hati dan pikiran suami dan istri tenang saat bersama ataupun saat sendiri. Sementara kebohongan akan menjadikan hati dan pikiran selalu tegang. Sebuah kebohongan yang ditutupi dengan kebohongan-kebohongan lain akan menjadi sebuah bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Dan jika itu terjadi, maka akan ada hati yang terluka. Entah hati sang suami, hati sang istri, atau bahkan hati keduanya.

… adalah pernikahan yang dihiasi dengan keterbukaan. Suami maupun istri bukanlah seorang cenayang yang bisa membaca isi pikiran dan hati satu sama lain. Karenanya, ketika ada hal yang kurang baik dari pasangan dalam hal-hal yang mendasar, maka segera ungkapkan. Jangan hanya dipendam berlama-lama. Sebab bisa jadi, suami atau istri belum mengetahui atai menyadari bahwa dirinya melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh pasangannya. Gunakan lisan untuk mengungkapkan hal yang mengganjal di hati. Gunakan pula telinga untuk mendengarkan dengan seksama agar tak tergesa-gesa menghakimi.

… adalah pernikahan yang sesekali dikejutkan dengan percikan api cemburu. Jika pernikahan adalah sebuah masakan, maka api cemburu adalah bumbu penyedapnya. Yang namanya bumbu penyedap itu hanya secukupnya. Janganlah berlebihan sebab bisa mematikan rasa. Seperti itu juga kiranya api cemburu. Jangan terlalu besar, sebab bisa membakar dan menghanguskan semuanya. Cukuplah sekedar menciptakan bara agar suasana rumah tangga menghangat kembali seperti masa-masa selepas ijab-qabul dan resepsi.

*****

Sal, semoga, pernikahan kita adalah pernikahan yang harmonis seperti apa yang kamu harapkan. Sebab seperti itu pula yang aku inginkan. Aamiin.


Tulisan Terkait Lainnya :

9 thoughts on “Pernikahan yang Harmonis

  1. lovelyristin April 3, 2016 / 06:29

    Pernah aku nonton tv ceramah yg bahas ttg cemburu dlm pernikahan, katany ada cemburu buta dan cemburu melek.. cemburumelek yg dibutuhkan pasangan suami isrri hihihi…

    • jampang April 4, 2016 / 10:03

      😀
      kalau cemburu buta saya pernah denger istilahnya…. kalau cemburu melek itu saya baru denger, mbak

      • Dian farida Juni 1, 2016 / 02:07

        Cemburu melek itu kayaknya cemburu yang sweet2 gitu deh=D

      • jampang Juni 1, 2016 / 08:26

        bisa jadi 😀

  2. nazhalitsnaen April 3, 2016 / 21:35

    dah lama gak mampir dan meninggalkan jejak di postingan mas rifki nih… mumpung sdg blogwalking eh ada posting ini yang pas nih buat saya yang baru aja nikah… thanks for sharing and inspiring mas… 🙂

  3. cumilebay.com April 4, 2016 / 22:40

    Semoga setiap pernikahan selalu samawa sampai akhir hayat

    • jampang April 5, 2016 / 05:21

      Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s