Jodoh – Part One

Cerita sebelumnya…

“Sal, aku adzan dulu. Sekalian shalat maghrib di sini. Insya Allah nanti kita bicarakan lagi soal rencana selanjutnya. Assalaamu ‘alaikum.” Zul pamit kepada Sali.

“Silahkan. Wa ‘alaikumus salaam.” Jawab Sali.

Zul bangkit dari tempat duduknya kemudian melangkah masuk ke dalam masjid.

Pandangan Sali mengikuti sosok Zul yang melangkah meninggalkannya hingga hilang di balik dinding masjid. Sali tak beranjak dari tempat duduknya semula. Bukan tanpa tujuan Sali berdiam diri. Sali ingin mendengarkan lantunan adzan sekali lagi dari sosok muadzin yang didambakannya.

Selengkapnya bisa dibaca di sini.

—o0o—

love-love

“Apa nggak ada lelaki lain, Sal?” Tanya Pak Syarif.

“Maksud, Bapak?” Sali balik bertanya.

“Maksud Bapak, apa nggak ada lelaki lain yang lebih tepat buat kamu jadikan suami?”

“Sebelumnya ada beberapa lelaki yang mencoba mendekati.”

“Terus?”

“Mereka nggak gentle!”

“Maksudmu?”

“Mereka mendekati Sali hanya untuk menjadikan Sali jadi pacar doang, bukan jadi istri. Sali tolak. Nah, beda dengan Zul. Dia lelaki yang gentle. Dia mendekati dan langsung meminta Sali untuk jadi pendamping hidupnya, jadi istrinya.” Jawab Sali. “Memangnya kenapa dengan Zul, Pak?” Sali melanjutkan kalimatnya dengan sebuah pertanyaan.

“Bapak berharap, lelaki yang akan menikahimu itu statusnya masih perjaka. Bukan lelaki dengan status duda, apalagi sudah punya satu anak.” Jawab Pak Syarif.

“Kalau menurut Ibu, bagaimana?” Sali melemparkan pertanyaan kepada ibunya, Bu Nurul.

“Intinya, Ibu sependapat dengan Bapak, Sal.” Jawab Bu Nurul.

“Pak! Bu! Masih ingat nggak kalau Bapak dan Ibu pernah bilang agar Sali mencari calon suami itu dengan mengutamakan yang agamanya baik?”

“Bapak ingat.” Jawab Pak Syarif. “Jadi menurut kamu, pengetahuan dan pengamalan agama Zul itu baik?” Kembali Pak Syarif bertanya.

“Ya, Bapak dan Ibu bisa membuktikan sendiri nanti waktu Zul datang ke sini.”

Pak Syarif terdiam. Dia kemudian melangkah meninggalkan ruang tengah menuju teras, kemudian duduk di salah satu bangku. Merenung. Pak Syarif menyadari bahwa dirinya tidak boleh salah dalam menentukan siapa yang akan menjadi suami dari anak perempuannya. Itu adalah kewajibannya sebagai orang tua terhadap anak perempuanya.

“Kapan si Zul mau datang ke sini, Sal?”

“Insya Allah secepatnya, Pak.” Jawab Sali dari ruang tengah dengan iringan senyum.

—–ooo0ooo—–

Siang itu tidak begitu terik. Sinar matahari sedikit terhalang dengan tebalnya awan. Cuaca yang cukup bersahabat bagi mereka yang ingin berjalan-jalan mencari angin di luar rumah. Sepertinya siang itu pun tidak akan disia-siakan oleh Zul.

Di dalam kamarnya, Zul sedang merapikan penampilan dirinya untuk bertemu dengan keluarga Sali. Setelah semua terlihat sempurna, Zul keluar kamar yang langsung disambut dengan pertanyaan penuh heran dari ibunya yang sedang asyik duduk-duduk di ruang keluarga sambil menyaksikan acara televisi.

“Mau ke mana, Zul?” Tanya sang ibu.

“Ibu ingat nggak dengan permintaan ibu beberapa waktu yang lalu?” Zul balik bertanya.

“Permintaan yang mana?” Wajah Ibu Zul terlihat kebingungan.

“Tentang Zul yang harus segera hijarh.”

“Oh, ibu ingat sekarang. Jadi sudah ada calon, Zul?”

Zul hanya tersenyum mendengar pertanyaan ibunya.

“Alhamdulillah! Kok kamu nggak cerita apa-apa sama Ibu?“

“Zul belum bisa cerita karena masih ada kekhawatiran akan gagal di tengah jalan seperti proses sebelumnya dengan Ayna, Bu.”

“siapa nama perempuan itu? Terus yang sekarang sudah sampai mana prosesnya?”

“Namanya Sali. Teman Zul ketika SMA. Pernah jadi tetangga kita sebelum orang tuanya pindah ke daerah Tanah Abang. Mungkin ibu akan inngat kalau melihat wajahnya atau wajah kedua orang tuanya. Sekarang Zul mau pergi ke rumah Sali untuk bertemu kedua orang tuanya.” jawab Zul. “Ibu bantu doa, yah!”

“Pasti. Ibu pasti bantu doa, Zul.” Jawab Ibu.

“Zul berangkat, Bu. Assalaamu ‘alaikum!” Zul pamit sambil mencium tangan ibunya.

“Wa’alaikumus salaam. Hati-hati di jalan, Zul!”

“Iya, Bu.”

Zul melangkah ke luar rumah, mendekati sepeda motor yang diparkir di depan rumah. Sebelum melaju di atas sepeda motornya, Zul mengeluarkan handphone dari saku celananya untuk menelepon seseorang.

“Assalaamu ‘alaikum!”

“Wa ‘alaikum salam,” jawab suara dari seberang.

“Sal, aku sudah mau berangkat ke rumahmu. Wassalaamu ‘alaikum.”

“Iya, Zul. Aku tunggu di rumah. Wa’alaikumus salam.”

….. BERSAMBUNG …..


Baca Bab Lainnya :

24 thoughts on “Jodoh – Part One

    • jampang April 6, 2016 / 08:49

      biasanya seh cuma sampai dua atau tiga, mbak. tapi ini adalah kelanjutan dari sekian bab sebelumnya kalau mbak ngikutin postingan saya yang saya kasih tag “pernikahan kedua” atau “draft novel”

  1. titantitin April 6, 2016 / 09:23

    mas, ini ada dimasukin pengalaman pribadi hanya genti sedikit alur gituh yah?

    *inget proses dijodohin sm minyu😀

    • jampang April 6, 2016 / 09:47

      iya, mbak. mungkin kalau jadi novelnya dikasih keterangan “based on true story”😀

      • titantitin April 6, 2016 / 09:54

        😀 berati ini ada sisipan dr sisi minyu nya yah?

        asik. ditunggu kelanjutannya.😀

      • jampang April 6, 2016 / 09:56

        hmm…. porsi Minyu di bagian akhir doank seh😀

      • titantitin April 6, 2016 / 10:02

        ini bukannya porsi minyu juga? *soktau😀

      • jampang April 6, 2016 / 10:11

        porsi yang saya maksud adalah kejadian/peristiwa yang saya jalani bersama Minyu yang saya angkat ke dalam draft novel ini.

        kalau kondisinya seh iyah…. kondisi saya saat bertemu Minyu sama seperti kondisi Zul saat bertemu Sali

      • titantitin April 6, 2016 / 10:14

        ooh i see.

        justru maksud titin prosesnya. ya, kaya cerita di atas ini😀

      • jampang April 6, 2016 / 10:28

        Beda. Cerita di atas nggak seperti yg proses saya dg minyu. Sama minyu kan saya diantar ibu😀

      • titantitin April 6, 2016 / 11:03

        iyah, itu yg tin mksd ada beda alur. titin inget yg kisah minyu hehe

        ah, maap deh sok tau😀

      • jampang April 6, 2016 / 11:14

        Oooo… Itu maksudnya😀

        Soalnya cerita ini selesai sebelum saya kenal Minyu, mbak. Kalau ada kemiripan peristiwa dan kejadian, itu hanya kebetulan belaka…. 😀

      • titantitin April 6, 2016 / 11:15

        wiiih kereen. ternyata bener yah, apa yg kita tulisa bisa jd ‘masa depan’ kita😀

      • jampang April 6, 2016 / 16:50

        ya mungkin. mungkin juga menjadi pemicu untuk mewujudkannya…. atau doa?

  2. kebomandi April 7, 2016 / 07:35

    bang jampang.. aku penasaraaan ~~~~ hehehe

    • jampang April 7, 2016 / 08:14

      tunggu kelanjutannya aja yah kalau gitu😀

      • kebomandi April 7, 2016 / 10:34

        siaaap bang😀

      • jampang April 7, 2016 / 10:59

        sipppp😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s