[Prompt#110] Surga yang Tak Dirasa

sungai yang mengalir“Berhentilah menangis, Nak!” pinta ayahku. “Jika kamu terus menangis, Ibumu pasti akan bersedih di surga.”

“Aku ingin bertemu Ibu, Pak!” pintaku di tengah tangsiku.

Tangan kanan ayah mengusap-usap kepalaku untuk menenangkanku.

“Berhentilah menangis dan tidurlah! Mungkin nanti kita bisa bertemu dengan Ibumu.”

“Benarkah?” tanyaku.

Ayah menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Sesaat kemudian, Ayah mengangkat tubuhku dan menggendongku ke kamar.

Sebenarnya, aku belum bisa meyakini apa yang ayah katakan. Usiaku baru empat tahun. Tetapi, kalimat ayah begitu menyejukkan. Perlahan, tangisku berhenti dan kantuk menghampiriku.

Ayah membaringkan tubuhku di atas tempat tidur. Tak lama kemudian, ayah membaringkan tubuhnya di sampingku.

“Ayah, kita ada di mana?” tanyaku yang berada di dalam gendongan ayah.

“Surga!” jawab ayah.

“Benarkah?” tanyaku tak percaya.

“Coba lihatlah sekelilingmu!”

Kuperhatikan sekelilingku. Sebuah pemandangan indah yang belum pernah kulihat sebelumnya terbentang luas. Kutemukan pepohonan dengan buah yang lebat. Sungai Madu dan Sungai Susu berada di sisi kanan dan kiriku. Hatiku melompat gembira.

“Kalau begitu, kita bisa bertemu Ibu?” tanyaku lagi.

“Bisa!” jawab ayah.

“Ayo cepat, Yah! Aku tak sabar ingin bertemu ibu.”

Di depan sebuah pintu gerbang, ayah berhenti. Ayah menurunkanku dari gendongannya dan membuka pintu gerbang tersebut.

“Ibu!” teriakku sambil berlari menghampiri seorang perempuan yang berdiri di depanku.

“Irgy!” ibu menyambutku dengan sebuah pelukan hangat.

“Aku kangen ibu!” ucapku. “Ibu bahagia di surga?” tanyaku.

Ibu tersenyum dan mengangguk. Ibu kemudian mengajakku duduk di tepi Sungai Madu. Tangan kirinya memain-mainkan madu yang mengalir lambat.

“Apa aku boleh mencicipinya, Bu?”

“Tidak, Irgy. Semua yang ada di surga ini hanyak untuk para penghuninya. Sementara kamu dan ayah hanyalah pengunjung di sini.”

“Jadi ibu bisa menikmati semuanya setiap hari?”

“Tidak juga,” jawaban ibu terdengar lemah. Wajahnya berubah sedih.

“Mengapa?”

Ibu tak menjawab. Pandangannya tertuju kepada ayah.

Kulihat wajah ayah juga berubah sedih. Sambil tertunduk, ayah berkata, “Maafkan Ayah, Bu! Ayah belum bisa melunasi hutang-hutangmu.”

*****

Prompt #110 – Liburan Bersama Ayah

“Jiwa seorang mukmin masing bergantung dengan utangnya hingga dia melunasinya.” [HR. Tirmidzi No. 1078]

“Barang siapa yang ruhnya terpisah dari jasadnya dan dia terbebas dari tiga hal : sombong, khianat, dan utang, maka dia akan masuk surga.” [HR. Ibnu Majah No. 2412]

“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa, di dalamnya ada suang-sungai dari air yang tiada berubah, dan sunga-sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, dan sunga-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi para peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang telah tersaring. Dan mereka memperoleh di dalamnya segala buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka, sama dengan dia yang kekak dalam neraka dan mereka diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong usus mereka.” [QS. Muhammad : 15]


Baca Prompt Lainnya :

14 thoughts on “[Prompt#110] Surga yang Tak Dirasa

  1. Gara April 7, 2016 / 17:23

    Hoo… ternyata jika masih berutang, seseorang tidak bisa mencicipi air sungai itu, ya. Hm… informasi baru yang saya peroleh hari ini. Terima kasih :hehe.

    • jampang April 7, 2016 / 21:48

      Itu gambaran fiksi karangan saya aja, gar. Kalau melihat dalil hadits yg ada di bawah cerita, malahan belum bisa masuk surga atau kebaikan yg dimilikinya dijadikan sebagai alat pembayar untuk melunasi utangnya.

  2. winnymarlina April 7, 2016 / 20:46

    pantas saja ya bg kalau ada meninggal maka kewajiban dari ahli waris untuk melunasi hutangnya

    • jampang April 7, 2016 / 21:40

      Iya, mbak. Betul. Maka sebaiknya jika berhutang dicatat dan dibicarakan dengan anggota keluarga yang lain supaya ketika nggak mampu bayar dan keburu meninggal, ahli waris tahu apa kewajibannya

    • jampang April 7, 2016 / 22:51

      iya, mas. perintahnya memang begitu di ayat terpanjang dalam al-quran

  3. damarojat April 8, 2016 / 11:52

    Adaaa aja idenya bang rifki ini.

    Tapi mas, surga belum dibuka kan ya meski seseorang sudah meninggal. Hanya jendela suega terbuka di kuburnya.

    • jampang April 8, 2016 / 13:15

      sepengetahuan saya begitu, mbak. surga itu alam akhirat. sebelum menuju ke sana, ruh manusia yang meninggal menetap di alam barzakh, hingga hari kiamat. baik atau tidaknya kondisi yang bersangkutan di alam akhirat dicerminkan kondisinya di alam kubur seperti hadits yang saya sertakan di bawah cerita…. eh bukan cerita yang di sini…. di FFKamis yang judulnya sambutan warga baru

  4. kakaakin April 10, 2016 / 02:09

    Kesian… gegara utang, jadinya masih ‘nyangkut’.

    • jampang April 10, 2016 / 05:14

      Iya, mbak. Makanya Nabi mengajarkan kita doa agar tidak terlilit hutang

  5. Grant April 10, 2016 / 19:10

    sedih ya… kasihan ibunya, semoga ayahnya bisa dapat rezeki yg banyak agar hutangnya cepat lunas

    • jampang April 10, 2016 / 19:34

      Iya, mbak. Semoga demikian

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s