Jodoh – Part Two

Cerita sebelumnya…

Zul melangkah ke luar rumah, mendekati sepeda motor yang diparkir di depan rumah. Sebelum melaju di atas sepeda motornya, Zul mengeluarkan handphone dari saku celananya untuk menelepon seseorang.

“Assalaamu ‘alaikum!”

“Wa ‘alaikum salam,” jawab suara dari seberang.

“Sal, aku sudah mau berangkat ke rumahmu. Wassalaamu ‘alaikum.”

“Iya, Zul. Aku tunggu di rumah. Wa’alaikumus salam.”

Cerita selengkapnya bisa dibaca di sini.

—ooo0ooo—

two hearths
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh lima menit, Zul tiba di rumah Sali. Setelah memarkirkan sepeda motornya, Zul langsung melangkah menuju teras rumah Sali.

“Assalaamu ‘alaikum,” ucap Zul tepat di depan teras.

“Wa ‘alaikumus salaam,” jawab suara seorang perempuan dari dalam rumah.

Sali keluar dari dalam rumah menyambut kedatangan Zul.

“Nggak nyasar kan, Zul” Tanya Sali.

“Nyasar sih nggak. Cuma sempat bingung dan tanya sana-sini beberapa kali.” Jawab Zul sambil tertawa.

“Silahkan duduk, Zul!” Sali mempersilahkan. “Aku ambil minum dulu, sekalian ngasih tahu Bapak dan Ibu kalau kamu sudah datang.”

“Iya, Sal.”

Sali segera kembali masuk ke dalam rumah. Tak lama waktu berselang, Pak Syarif dan Bu Nurul keluar dari dalam rumah.

“Assalaamu ‘alaikum.” ucap Pak Syarif kepada Zul.

Zul segera berdiri dan menjawab salam tersebut sambil.

“Zul?” Tanya Pak Syarif sambil mepersilahkan Syarif duduk kembali.

“Iya, Pak. Saya Zul. Muhammad Zulham.”

“Tinggal di mana, Zul?” Tanya Bu Nurul.

“Saya tinggal di Kebon Jeruk, Bu.”

“Ooo. Kami juga dulu pernah tinggal di Kebon Jeruk.”

“Iya, Bu. Malah bisa dibilang kita ini tetanggaan.”

“Oh ya?”

“Dulu semasa SMA, Sali sering datang ke rumah untuk pinjam buku catatan saya, Bu.”

“Jadi kalian sudah kenal lama?” Kali ini Pak Syarif yang bertanya kepada Zul.

“Saya dan Sali pernah satu sekolah, Pak. Waktu SMA. Kemudian baru bertemu lagi kira-kira tiga bulan yang lalu. Kami bekerja di gedung perkantoran yang sama, tapi di perusahaan yang berbeda.” Jawab Zul.

“Oooo… Begitu rupanya.” Pak Syarif terlihat mengangguk-anggukan kepalanya. “Bagaimana hubungan kalian berdua selama tiga bulan ini? Ada kecocokan?” Pak Syarif kembali bertanya.

Zul hanya tertawa kecil. Lidahnya terasa sedikit kaku untuk menjawab pertanyaan Pak Syarif kali ini.

“Kalo masalah kecocokan, mungkin kalian berdua yang lebih tahu.” Akhirnya ak Syarif yang angkat bicara lagi. “Tapi, saya dan ibu, sebagai orang tua Sali punya kewajiban untuk mencarikan dan memilih jodoh atau suami yang baik buat Sali. Kami tidak mau sembarangan. Selama ini kami sudah mendidik Sali dengan cara yang benar sesuai agama. Karenanya, kami baru mau nyerahin Sali kepada laki-laki yang memang layak dan pantas untuk dijadikan pemimpin keluarga, baik di dunia dan akhirat.”

Zul menyimak semua kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Pak Syarif dan Bu Nurul yang berisi petuah dan kriteria calon menantu yang ideal dalam pandangan keduanya.

Tak lama kemudian Sali keluar dari dalam rumah sambil membawa dua gelas teh manis dan sepiring pisang goreng.

“Itu aja pesan kami sebagai orang tua. Sekarang silahkan kalian ngoBrol. Kami berdua masuk dulu ke dalam.” Pak Syarif dan Bu Nurul pamit meninggalkan Zul dan Sali.

“Iya, Pak, Bu.” jawab Zul.

—ooo0ooo—

Adzan Ashar berkumandang dari masjid yang tak begitu jauh dari rumah Sali. Pak Syarif keluar dari kamarnya dengan mengenakan baju koko, kain sarung, dan peci.

“Sal, ke mana si Zul?” Tanya Pak Syarif ketika melihat Sali sendirian, tanpa Zul. Sementara sepeda motor Zul masih terparkir di halaman.

“Baru aja berangkat ke masjid, Pak.” Jawab Sali.

Pak Syarif tersenyum. “Sepertinya, kamu nggak salah pilih, Sal.”

“Maksud Bapak?”

“Seorang lelaki yang segera bangkit menuju masjid ketika muadzin mengumandangkan adzan, adalah salah satu ciri bahwa agamanya baik. Bapak merestui pilihanmu.” Jawab Pak Syarif.

Sali tersenyum mendengar apa yang diucapkan oleh Bapaknya.

“Untuk kamu ketahui, kakekmu melihat kondisi yang sama ketika Bapak bermaksud melamar Ibumu.” Sambung Pak Syarif.

—ooo0ooo—

Sore itu, Zul merasakan kebahagian yang luar biasa di hatinya.

“Alhamdulillah!” Kalimat pujian itu beberapa kali terlontar dari mulutnya.

Zul memacu sepeda motornya untuk segera tiba di rumahnya. Tak sabar dirinya untuk menyampaikan kabar gembira yang baru di dapatnya kepada kedua orang tuanya, terutama sang ibu. Kabar bahwa kedua orang tua Sali merestui hubungan mereka.


maharku nanti adalah bukti
karena aku tak pandai berjanji
pasang mata itu akan menjadi saksi
karena memang tak perlu ditutupi
sentuhanku kelak adalah tanda
di mataku engkau mulia

 

…BERSAMBUNG…


Baca Bab Lainnya :

3 thoughts on “Jodoh – Part Two

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s