Jangan Menyepelekan Hal-hal yang Kecil – IV

berbondong-bondong ke masjid
Adalah sikap yang kurang baik dan kurang bijaksana jika meremehkan perkara-perkara yang kecil seperti perbuatan baik, perbuatan buruk, dan doa. Tak ada seorang pun yang tahu perbuatan baik yang dinilai kecil namun bisa mendatangkan keridhaan Allah Subhnahu Wa Ta’ala. Tak ada yang tahu perbuatan buruk yang dipandang kecil ternyata sanggup menghadirkan kemurkaan Allah SWT. Tak ada pula yang tahu doa yang mana yang dipanjatkan oleh siapa untuk kita yang ternyata dikabulkan oleh Allah SWT.

Selain ketiga hal di atas, tidak menyepelekan hal-hal yang kecil atau sepele juga berlaku saat menilai seseorang. Don’t judge a book by its cover. Begitu ungkapan berbahasa Inggris yang pernah saya dengar. Jangan menilai sebuah buku hanya dengan melihat sampulnya saja. Jangan menilai seseorang dengan mengandalkan hanya penampilan fisiknya saja.

Bisa jadi, seseorang yang penampilannya tidak lebih baik dari diri kita bisa jadi ia rajin puasa sunnah Senin-Kamis. Mungkin saja, orang yang kondisi ekonominya di bawah kita, justru lebih rajin shalat berjama’ah di masjid. Bukan hal yang mustahil, jika seseorang yang pekerjaan atau profesi tidak lebih baik dari pekerjaan dan penghasilan yang kita punya justru lebih sering bangun di tengah malam untuk shalat tahajud. Dan ada kemungkinan lain yang menyebabkan seseorang itu lebih baik ibadahnya daripada diri kita. Sebab…

Allah SWT merahasiakan wali-Nya diantara hamba-hamba-Nya.

Apa yang terlintas di dalam benak pikiran kita ketika melihat seorang lelaki dengan kulit belang-belang putih karena penyakit Sopak yang dideritanya menggendong seekor anak sapi naik dan turun bukit setiap hari?

Mungkin orang itu sudah gila. Tidak waras.

Jika seperti itu penilaian kita, maka kita sama seperti orang-orang yang berada di sekeliling Uwais Al-Qarni, lelaki yang dimaksud di atas, semasa hidupnya.

Uwais Al-Qarni hidup di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Namun beliau tidak termasuk ketagori sebagai shahabat. Sebab ada kriteria yang tidak dimiliki oleh Uwais Al-Qarni untuk dimasukkan ke dalam golongan shahabat.

Ada tiga kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang sehingga dirinya bisa dikelompokkan ke dalam barisan shahabat Rasulullah SAW. Pertama, ia hidup sezaman dengan Rasulullah. Kedua, ia pernah bertemu atau bertatap muka dengan Rasulullah. Ketiga, ia mengimani dan mengikuti syariat Rasulullah. Dari ketiga kriteria itu, Uwais memenuhi dua kriteria, yaitu hidup sezaman dengan Rasulullah dan mengimani dan mengikuti ajaran Rasulullah. Tetapi beliau belum pernah bertemu dengan Rasulullah.

Uwais Al-Qarni pernah mendatangi kediaman Rasulullah. Namun, beliau tidak sempat bertemu dengan Rasulullah karena Rasulullah sedang pergi dalam sebuah peperangan. Uwais bermaksud menunggu kembalinya Rasulullah, namun karena beliau teringat pesan sang ibu agar tidak berlama-lama dan cepar pulang, beliau pun kembali ke rumah tanpa bertemu dengan Rasulullah.

Uwais adalah seorang anak yang sangat berbakti kepada sang ibu. Sang ibu yang tua, lumpuh, dan buta, memiliki keinginan besar untuk bisa menunaikan ibadah haji. Namun kondisi ekonomi menjadikan keinginan tersebut sepertinya sulit untuk terlaksana. Namun Uwais memiliki cara tersendiri untuk mewujudkan keinginan sang ibu.

Dibelinya seekor anak sapi lalu dibuatkanlah semacam kandang di atas bukit. Setiap pagi, Uwais menggendong anak sapi tersebut menuruni bukit untuk diberi makan. Di petang hari, anak sapi tersebut digendongnya menaiki bukit untuk dimasukkan ke dalam kandangnya. Begitu seterusnya hingga berbulan-bulan.

Yang dilakukan Uwais, yang dipandang gila oleh orang-orang di sekitarnya, ternyata adalah cara beliau untuk mewujudkan keinginan sang ibu. Setelah beberapa bulan, anak sapi itu sudah berubah menjadi seekor sapi yang gemuk. Sedangkan tubuh Uwais menjadi kekar dan berotot. Sapi tersebut dijual dan uangnya dibeilkan perbekalan untuk dirinya dan sang ibu pergi menunaikan haji. Sedangkan tubuh dan ototnya yang sudah terlatih menggendong anak sapi yang terus tumbuh selama berbulan-bulan dijadikannya sebagai kendaraan bagi sang ibu. Uwais menggendong sang ibu selama perjalalan menunaikan ibadah haji hingga kembali.

Karena baktinya tersebut, Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam menyebut Uwais Al-Qarni sebagai penghuni langit dan menyarankan kepada para shahabat beliau jika bertemu dengan Uwais, mintaa doa dan istighfar darinya.

Wallaahu a’lam.


Tulisan Terkait Lainnya :

4 thoughts on “Jangan Menyepelekan Hal-hal yang Kecil – IV

  1. alrisblog April 13, 2016 / 09:54

    Benar, kang. Kita jangan menilai hanya dari kulit luar saja.
    Mantap posting ini.

  2. titintitan April 13, 2016 / 10:52

    Pemuda bumi yang namanya harum di langit.

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s