Mencoba Membuat Materi Stand Up Comedy

stand up comedy

Beberapa waktu yang lalu, gue pernah mencoba membuat materi stand up comedy. Rencananya, gue akan beraksi dengan materi tersebut dan merekamnya. Tujuan gue adalah untuk mengikuti sebuah give away yang mencoba mengangkat bakat para blogger di bidang stand up comedy.

Awalnya gue nggak begitu minat buat ngikutin give away tersebut. Penyebabnya apalagi kalau karena gue nggak punya bakat untuk ngomong atau bergaya yang bisa menghibur orang lain dan membuat mereka tertawa. Tetapi setelah melihat aksi para peserta yang sudah mendaftar, semangat gue jadi terpicu untuk ikutan juga. Maka gue coba buatlah sebuah materi meski waktu dead line semakin dekat dan dengan kondisi yang kurang sehat.

Setelah berhasil menyelesaikan sebuah materi, gue kasih lihat istri untuk melakukan penilaian apakah materi itu lucu atau nggak. Dari gelagatnya, istri gue kurang percaya jika nantinya materi yang gua sampaikan bakalan lucu. Sebab di mata istri, gue ini bukan orang yang petakilan. Menurut pendapat istri, materi yang biasa aja tapi disampaikan oleh orang yang petakilan, bisa jadi lucu. Sementara gue, orangnya cenderung serius. Tapi istri gue tetep mempersilahkan gue untuk mencoba.

Di malam terakhir, gue udah berniat untuk beraksi di depan kamera meskipun badan belum begitu fit. Di saat gue mau mulai beraksi, tiba-tiba terdengar suara seseorang mengucapkan salam dari pengeras suara masjid yang kemudian diikuti dengan pembacaan shalawat dan diteruskan dengan pengajian. Suara tersebut terdengar jelas dari rumah. Seandainya gue paksain juga buat ngerekam video gue melakukan stand up comedy, maka suara dari pengeras masjid akan masuk juga mengiringi suara gue.

Akhirnya, waktu pendaftaran pun terlewat. Gue nggak jadi ikutan. Nasib.

Daripada dibuang, ya udah, gue publish di sini aja. Tapi bukan aksi gue di depan kamera, melainkan materinya aja. So, selamat membaca. Semoga terhibur.

DISCLAIMER : cerita di bawah ini hanyalah fiktif belaka. Kesamaan tokoh, tempat kejadian, dan cerita di dalamnya hanyalah sebuah kebetulan belaka.

*****

Perkenalkan nama gue rifki. Ini adalah kali pertama gue stand up comedy dan bisa juga jadi yang terakhir. Sebab nggak mudah bagi diri gue melakukan stand up comedy.  Semua prosesnya sulit.  Mulai dari mencari bahan yang lucu, yang menghibur, dan nggak garing itu aja udah susah apalagi membawakannya di depan umum. Untung aja ini cuma di depan kamera, jadi gue berani coba.

Stand up comedy. Stand up… comedy… menurut pemahaman sederhana gue, kata stand up comedy itu terdiri dari kata stand up yang artinya berdiri dan comedy yang artinya lucu. Jadi untuk bisa melakukan stand up comedy itu ada dua syarat. Pertama dilakukan dengan cara berdiri. Kedua bisa menyampaikan sesuatu yang lucu sehingga orang yang mendengar atau melihat tertawa.

Nah, sekarang gue sedang berdiri. Itu artinya gue udah mampu memenuhi 50% persen  dari persyaratan yang ada. Tepuk tangan dulu bue gue!😀 Sementara 50% lagi, gue nggak yakin bisa. Tapi  tetep gue coba.

Gue orang yang sederhana. Terlahir dari keluarga sederhana. Ingin menjalani hidup dengan sederhana. Bahkan keinginan dan cita-cita gue juga sederhana.

Gue bercita-cita punya motor yang sederhana. Punya mobil yang sederhana. Punya rumah yang sederhana, bukan rumah yang besar. Jadi kalau digambarkan itu,  rumah yang ada ruang tamunya, ada satu kamar tidur, satu kamar mandi, dan satu dapur. Sederhana, kan? Nah rumah seperti itu yang gue mau. Sederhana. Tapi BANYAK!

Seperti salah seorang tetangga gue yang punya rumah sederhana banget tapi jumlahnya puluhan. Jadi tiap bulan dia datangin rumahnya itu satu per satu buat narikin uang sewa. Ketuk pintu dapat duit. Jalan. Ketuk pintu… Dapat duit. Sederhana banget kan hidup kayak gitu.

Nah, gue sedang merintis ke arah sana. Sebagai batu loncatan pertama, sekarang gue bekerja sebagai apoteker di sebuah apotek. Mungkin hampir sama dengan pekerjaan atau profesi lainnya di mana ada aja kejadian yang seru atau lucu, apoteker juga begitu.

Misalnya di suatu hari saat hujan turun, datang seorang ibu-ibu membawa resep. Setelah gue terima resepnya, gue siapin  obatnya. Setelah siap gue panggillah ibu itu.

“Ibu Mawar!”

“Iyah.”

Gue jelasin ke ibu itu perihal obat yang dia beli dan aturan minumnya.

“Ini obatnya, bu. Yang ini antibiotik, diminum 3 kali sehari sesuah makan, harus dihabiskan ya, Bu.”

“Iya.”

“Yang ini ibu minum kalau panas aja, yah.”

“Kalau panas aja ya, mas?”

“Iya.”

“Berarti kalau sekarang saya nggak boleh minum ini?”

“Kenapa begitu, Bu?”

“Kan sekarang lagi hujan, Mas!”

“$&$%@-$&362&#6$&”

Lain waktu datang seorang mahasiswi.

“Mas, saya kan mau ujian semesteran nih,  jadi saya butuh suplemen untuk penguat daya ingat supaya apa yg saya hapalkan tetap nempel di otak. Jadi saya bisa jawab semua pertanyaan ujian. Jual suplemen yang seperti itu nggak Mas?”

“Oh ada, Mbak. Ini! Cerebknalpot! Dijamin daya ingat Mbak akan semakin kuat!”

“Oke, saya beli satu, Mas!”

Beberapa hari kemudian, mahasiswi itu datang lagi. Wajahnya kelihatan sedih gitu. Perasaan gue jadi nggak enak. Jangan-jangan dia mau komplain soal suplemen yang dia beli beberapa hari yang lalu.

“Mas, aku mau komplain!”

Tuh bener, kan, dugaan gue.

“Komplain apa, Mbak?”

“Ini suplemennya bikin masalah baru!”

Waduh gawat nih.

“Masalah apa? Apa daya ingat Mbak jadi nggak kuat setelah minum ini?”

“Suplemen ini bekerja, mas. Daya ingat saya jadi lebih kuat!”

“Bagus dong kalau begitu!”

“Enggak!”

“Koq nggak?”

“Soalnya aku jadi ingat lagi sama rasa disakiti mantan yang ninggalin  aku!”

“Haduuuuuh mbak seh minumnya over dosis!”

Ada kejadian lain yang cukup menegangkan yang pernah gue alamin, yaitu ketika ada orang yang mengira apotek itu menyediakan juga yang namanya obat-obat terlarang. Jadi ada anak muda yang sepertinya sedang sakaw alias sakit karena putaw datang.

“Bang, ada putaw nggak?”

“Maaf ya bang, di sini nggak jual putaw!”

“Bener nggak ada?”

“Iya, bener. Jadi mending abang keluar aja yah!”

Dia keluar.

Tapi beberapa saat kemudian, dia balik lagi. Nyari putaw lagi.

“Bang, ada putaw nggak?”

“Kan tadi gue udah bilang, di sini nggak jual putaw!”

“Ada kali, bang. Jangan bohong! Bohong dosa lho!”

Lah… dia ngomongin dosa!

“Gue bilang nggak ada ya nggak ada. Loe keluar nggak dari sini. Jangan sampe gue keluarin golok dan ngebacok loe nih!”

“iye, bang… Iye, bang!”

Akhirnya dia keluar.

Eh, besoknya dia datang lagi dalam kondisi yang sama seperti hari sebelumnya. Sebelum dia tanya, gue tanya duluan. “Loe mau nyari putaw yah?”

“Oh nggak, Bang. Nggak!”

Ah, tenang gue rasanya.

“Jadi loe mau nyari apa?”

“Golok ada, bang?”

Waduh ini orang bener-bener mabok nih.

“ini apotek bukan toko senjata tajam! Nggak ada!”

“Oh… Jadi nggak ada golok ya, bang?”

“iya!”

“kalau golok nggak ada, putaw ada nggak, bang!”

“$&$%@-$&362&#6$&”

Sekian…. Terima Kasih!


Tulisan Terkait Lainnya :

24 thoughts on “Mencoba Membuat Materi Stand Up Comedy

      • titintitan April 14, 2016 / 08:31

        lumayan lucuu😀

      • jampang April 14, 2016 / 08:48

        kalau yang bawain saya mungkin jadi nggak lucu, mbak😀

  1. zilko April 13, 2016 / 17:46

    Hahaha, itu si mahasiswinya minum obat sebanyak apa ya?😛

    • jampang April 13, 2016 / 19:55

      Tadinya memang buat bahan ikutan lomba video stand up comedy, mbak. Tapi nggak jadi karena alasan di atas

    • jampang April 14, 2016 / 08:11

      Mbak nggak biasa loe gue loe gue?

      • jampang April 14, 2016 / 14:35

        ya gpp. kan bukan sesuatu yang diharuskan😀

    • jampang April 14, 2016 / 08:47

      udah hilang niat ngerekamnya, mas😀

      • wisnuwidiarta April 14, 2016 / 08:48

        Live aja kalau gitu wkwkwk

      • jampang April 14, 2016 / 08:49

        apalagi begitu ….. nyerah deh

  2. Annisa Reswara April 14, 2016 / 10:27

    seperti skenario ya bang model tulisannya… hmmm baru tau sayanya 😀

    • jampang April 14, 2016 / 10:50

      saya malah belum tahu bentuk skenario itu seperti apa, mbak

      • Annisa Reswara April 14, 2016 / 11:02

        saya pernah lihat dikit, ya kaya percakapan gitu bang jampang…

      • jampang April 14, 2016 / 11:07

        Ooooo….
        Yg di atas saya cuma ngetik model gitu aja mbak.😀

      • Annisa Reswara April 14, 2016 / 11:17

        hehehe, eh tapi itu bagus lho materinya.. coba divideokan… kalo ngetop lumayan bangg.. 😀😀😀

      • jampang April 14, 2016 / 11:39

        😀
        sementara nggak dulu deh, mbak.

  3. ndu.t.yke April 18, 2016 / 13:51

    “kalau golok nggak ada, putaw ada nggak, bang!”

    >> jwb aja: “Ada, wani piro?” hehehe

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s