[Prompt#111] Tamanni

tamanni
“Kecoa!”

Aku terperanjat. Sekitar sepuluh ekor kecoa mendekatiku. Segera saja kuayunkan kedua kakiku untuk berlari menjauh.

Hei, sepertinya ada yang salah. Sebelumnya aku tak pernah merasa jijik atau takut kepada kecoa. Jika ada kecoa muncul di hadapanku, aku akan langsung membunuhnya, dengan sendal jepit, sepatu, atau koran bekas yang kugulung.

Lantas mengapa sekarang tiba-tiba aku merasa sebaliknya? Tanyaku sambil berlari tanpa kumengerti jawabnya.

Tentu saja, lariku jauh lebih cepat daripada ayunan langkah para kecoa itu. Tak sampai satu menit, aku sudah berhasil lepas dari kejaran mereka.

Kuhentikan lariku. Sambil mengatur kembali napasku,  aku tak mengetahui di mana aku berada saat ini. Yang kulihat di sekelilingku adalah semacam arena pertarungan berbentuk lingkaran. Jumlahnya tak bisa kupastikan.

Di dalam setiap arena, terdapat dua kubu yang berbeda-beda. Ada tikus berhadapan dengan kucing, rusa berhadapan dengan singa, domba berhadapan dengan srigala, dan banyak lagi.

Yang aneh di dalam setiap arena pertarungan itu adalah, hewan yang lemah berhasil mengalahkan hewan yang kuat. Tikus mampu mengalahkan kucing hingga mati.  Begitu pula dengan rusa dan kambing. Keduanya berhasil mengalahkan singa dan srigala.

Setelah lawan masing-masing tak bernyawa, seketika, kesemua hewan itu langsung berubah menjadi tanah.

“Hai kamu!” tiba-tiba terdengar sebuah suara seperti memanggilku.

Kulemparkan pandanganku ke arah sumber suara. Kudapati sosok tinggi besar berdiri di depan pintu salah satu arena. Tangan kanannya melambai ke arahku. Sedikit ragu, kuberjalan mendekatinya.

“Arena pertarunganmu di sini!” katanya.

“Apa?” tanyaku kaget. “Aku akan bertarung juga?”

“Tentu saja!” jawabnya. “Semua yang ada di sini akan bertarung dengan lawan masing-masing yang pernah kau hadapi sebelumnya.”

“Aku tidak mau!”

“Kamu tidak bisa menolak!” dia tertawa dengan kerasnya hingga membuat gendang telingaku terasa sakit.

“Pokoknya aku tidak mau!”

“Mengapa kamu tidak mau?”

“Sebab jika kalah atau menang, aku akan menjadi tanah seperti mereka!” jawabku sambil menunjuk ke arena pertarungan yang lain.

“Tidak. Tidak,” dia kembali tertawa. “Kamu tak mungkin menjadi tanah. Mereka yang menjadi tanah hanyalah hewan-hewan yang tak memiliki akal. Sementara dirimu adalah manusia yang memiliki akal dan mampu menggunakannya.”

“Lantas apa yang akan terjadi pada diriku selanjutnya?” tanyaku penasaran.

“Apa yang pernah kamu lakukan sama seperti hewan-hewan itu lakukan. Bahkan, perbuatanmu jauh lebih kejam daripada mereka. Kamu akan masuk ke dalam neraka untuk menerima balasan siksa selamanya!”

“Jangan… jangan masukkan aku ke neraka! Jadikan saja aku tanah seperti hewan-hewan itu!” pintaku.

“Permintaanmu itu, hanyalah sebuah tamanni!” jawabnya sambil menyeret tubuhku yang langsung tak berdaya.

*****

Prompt#111 : Dunia yang Sebaliknya

dalam kaidah bahasa arab ada dua jeni kalimat pengharapan.

tarajji ==> harapan yang mungkin diwujudkan. di dalam ayat al-quran biasanya diawali dengan kata “la’alla” seperti : la’allakum tattaquun (agar kamu menjadi oang bertaqwa), la’allahum yarsyudun (agar mereka mendapat petunjuk) dan sebagainya. harapan tersebut masih bisa dan mungkin diwujudkan. insya Allah.

Sedangkan tamanni adalah kalimat pengharapan yang sia-sia karena mustahil diwujudkan. di al-quran biasanya diawali dengan kata “yaa layta”. contohnya “yaa laytanii kuntu turaabaa” (seandainya aku dulu berupa tanah) dalam surat An-Naba ayat 40. kalimat itu diucapkan oleh orang kafir ketika mendapat kenyataan bahwa mereka akan mendapat siksa di neraka karena tidak mau menerima agama Allah. mereka berharap menjadi tanah ketika di dunia, karena tanah tidak disiksa, sedang mereka disiksa. Wallahu a’lam.


Baca Juga Prompt Lainnya :

14 thoughts on “[Prompt#111] Tamanni

  1. damarojat April 17, 2016 / 18:29

    lagi-lagi sebuah sindiran yang indah. kirain tamanni itu bahasa Hindi.

    cuma saya belum paham yang dimaksud arena itu apa.

    • jampang April 17, 2016 / 20:20

      Saya blm baca tafsir surat an-naba ayat 40 yg lengkap seh, mbak. Cuma pernah dengar tentang gambaran kondisi hewan di akhirat nanti. Misal domba atau ayam di dunia ini berkelahi lalu ada yg menang dan kalah, di akhirat nanti mereka meminta keadilan berupa pembalasan. Lalu yg dahulu kalah jadi menang. Setelah menang, merasa puas, mereka menjadi tanah. Nah… Tempat perkelahian itu yang saya gambarkan sebagai arena di cerita di atas

  2. aqied April 17, 2016 / 20:13

    Dulu di pelajaran Nahwu pernah belajar kata kata kaya layta dan kawan kawannya

    • jampang April 17, 2016 / 20:17

      Iya, mbak. Kata layta dan la’alla memang sepertinya pernah dibahas di ilmu nahwu😀

  3. Dyah Sujiati April 18, 2016 / 04:50

    Tulisan ini intoleran! Pake nyebut2 kata kafir?! Emang yakin situ yang paling bener? *komeng ala liberalis*😛

    • jampang April 18, 2016 / 07:44

      Lah…. situ kafir, bukan?😛

      *gitu aja balasnya yah?*

  4. ndu.t.yke April 18, 2016 / 13:39

    tamanni….. makasih vocabulary barunya🙂 tp geli membayangkan kecoanya😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s